BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai, tapi membuat kita tahu : kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itulah sebabnya kata pertama yang menakjubkan itu, adalah “Bacalah!”

X

Assosiasi Budjang Lapok adalah sebuah “Organisasi Tanpa Bentuk” bisa dikatakan tanpa pakem sama sekali, menggabungkan unsur-unsur yang sebenarnya dalam teoritis tidak bisa bersatu, sebegitu plural sehingga masing-masing anggotanya tidak bisa di-sterotip-kan kepada golongan manapun. Adalah sebuah keajaiban, ABL dapat bertahan selama bertahun-tahun, tanpa Anggaran Dasar maupun Anggaran Rumah Tangga yang jamak ditemui pada setiap organisasi canggih manapun saat ini.

Satu anggota Assosiasi yang unik itu adalah Penyair, ia adalah salah satu anggota yang memiliki kegemaran membaca, dan walaupun kecil ia adalah satu-satunya anggota ABL yang memiliki perpustakaan pribadi, ada banyak kitab yang tak disangka ia kumpulkan, mungkin sekitar seribuan.

Dibalik itu, ada satu keunikan dari perpustakaan yang dibangun oleh Penyair. Yaitu ia tidak pernah mau meminjamkan koleksinya kepada Barbarossa, yang diketahui adalah satu-satunya anggota ABL yang memiliki kegemaran membaca kurang lebih sama dengan Penyair, padahal Sang Pemimpin berulang kali membujuk Penyair meminjamkan koleksi kitab tersebut, dengan berbagai cara namun tidak pernah berhasil.

Mungkin karena takut tersaingi? Itu pula yang terpikirkan oleh Tabib Pong. Ia adalah pengamat terkritis, terbaik dan tertajam yang dimiliki ABL. Tabib Pong berpikir, jika Barbarossa tidak diizinkan meminjam koleksi kitab Penyair, maka jangan harap yang lain akan meminjamkan pada yang lain. Hal ini menyebabkan perpustakaan Penyair selamat dari jamahan ABL. Bukan Tabib Pong jika ia tidak bertanya.

“Jadi Penyair, kenapa kamu tidak mau meminjamkan koleksi kitabmu kepada Barbarossa?”

“Aib”

“Apa ini? Kenapa aib.” Tabib Pong mengeluarkan jurus “tatapan membuat tidak enak” yang selalu membuat setiap orang jengah.

“Malas”

“Apa pula aib? Kemudian malas? Jawaban macam apa itu? Ini Barbarossa ada disini, kamu tinggal bilang.”

Barbarossa terbahak.

“Pasti dia pernah tidak mengembalikan kitab Penyair!” Tembak Amish Khan.

Penyair tersenyum.

“Ayolah Penyair beri jawaban, tidak mungkin kami menebak-nebak.”

“Mungkin Barbarossa bersedia menjawab?” Penyair mengalihkan.

Sekali lagi Barbarossa terbahak, kemudian mencoba mengingat, “sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa kamu tidak pernah meminjamkan kitab kepadaku. Kalau diingat-ingat padahal dulu ketika sekolah dulu kamu pernah meminjamkan kitab-kitab kepadaku.”

“Kau tidak ingat? Baiklah beta cerita. Beta sudah berteman dengan Barbarossa selama 18 tahun. Dalam berteman ada banyak suka dan duka, jadi benar kata Barbarossa di zaman sekolah beta sering meminjamkan kitab kepada dia. Itu berlangsung sampai dengan sepuluh tahun yang lalu.”

“Ada kejadian apa memangnya sepuluh tahun lalu?” Tanya Tabib Pong.

“Sepuluh tahun lalu Barbarossa meminjam dua buku dan sampai sekarang belum dikembalikan.”

“Yang betul? Aku tidak ingat lagi.” Barbarossa mencoba mengingat-ingat.

“Beta masih mengingat judul bukunya satu : Mengapa Babi Diharamkan dan dua : Bahaya Onani Bagi Generasi Muda.” Penyair menjawab dengan cemberut.

“Hah, Babi! Onani!” Amish Khan ketumpahan air tersedak. Yang lain tertawa terbahak.

“Tenang Penyair, nanti aku cari dirumah.” Barbarossa.

Percakapan ini terjadi dua tahun yang lalu, dan sampai sekarang Barbarossa belum menemukan (lagi) kitab Penyair yang dihilangkan. Pelajaran Moral : “Jangan pernah menghilangkan barang milik Penyair, selamanya dia mengingat.”

XX

Buku, di mana percakapan berkembang, memang memiliki sampul penutup, tapi buku yang sempurna tak akan pernah selesai ditulis.

XXX

Pesan Penyair : Mungkin Nyonya Barbarossa berkenan untuk membantu mencari kitab beta?

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: KRISIS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s