REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

WAKE UP You are not in a movie. This is life, get back to reality

WAKE UP
You are not in a movie. This is life, get back to reality

Seberapa sering kau berpikir tentang mengapa teman-temanmu datang dalam kehidupanmu? Apakah itu acak, diatur atau mungkin gabungan dari keduanya? Terlepas dari semua alasan, teman yang kau kenal setidaknya akan berada disisimu untuk sementara waktu. Lainnya, kau tidak akan begitu yakin akankah pertemanan berlaku selamanya.  Satu persatu teman, sahabat kelak menemui realitas masing-masing.  Realitas atau kenyataan dalam bahasa sehari-hari berarti hal yang nyata, benar-benar ada.

Pada bulan-bulan belakangan, Assosiasi Budjang Lapok telah kehilangan banyak energi, semangat, gelora mereka. Satu persatu anggotanya telah menikah, “kelapukan” yang senantiasa melekat pada masing-masing personil telah menghilang bersama angin

Kisah Assosiasi Budjang Lapok ini kembali ketika kabar bahwa salah satu anggotanya Mas Jaim juga akan segera menikah. Ia adalah  seseorang yang termasuk terakhir bergabung dalam ABL lama, sosok yang menjadi bulan-bulanan Assosiasi pada puncak kejayaan mereka. Ia memiliki ilmu ikhlas tingkat tinggi.

Beberapa bulan  ini Mas Jaim tidak pernah muncul di lepau nasi, muncul pertanyaan apakah dia sedang mengikuti adat pingit? Aduhai, jika benar maka ia terlalu rumit, jalan pikirannya melebihi calon pengantin perempuan.

Menurut penuturan Mister Big, ia bertemu dengan Mas Jaim dan bertanya mengapa tidak pernah muncul lagi di lepau nasi. Mas Jaim menjawab, “teman-teman masa bermain saya telah selesai. Saatnya menghadapi realitas kehidupan yaitu menikah. Untuk itu aku harus fokus mengumpulkan uang dan mengurangi pengeluaran.” Ternyata Mas Jaim selama ini tak terlihat di lepau nasi, bekerja keras mengejar realitas yang diimpikan.

Ia melewatkan banyak hal yang terjadi dalam Assosiasi Budjang Lapok, ia tahu bahwa Assosiasi telah menemukan beberapa personil angkatan baru yaitu Homer, Wan Velor dan Aak De misalnya. Namun ia belum dekat lagi dengan para junior sampai akhirnya pengumuman pernikahannya.

X

Bintang keberuntungan seolah tersenyum ramah kepada Barbarossa, penjaga gudang beras kerajaan ini sedang berjalan menuju puncak kejayaan. Baru-baru ini istrinya melahirkan seorang putra yang rupawan. Selain itu bersama seorang sahabat nama Om Zhen ia merintis usaha lepau nasi, yang diberi nama “Lepau Gorengan” dan syukur perniagaan itu berlangsung baik baginya dan rekan.

Ketika mendapat kabar akan pernikahan Mas Jaim, ia tersenyum girang. “Kawan aku itu sudah banyak berubah, ia semakin baik dari hari ke hari. Aku ingat, dulu dia pernah bercerita dekat dengan anak pejabat dan berpacaran melalui surat-suratan, ternyata dia ditipu dan pacarnya tersebut ujung-ujungnya malah minta pinjam uang.”

Barbarossa meludahkan sirih dari mulutnya, setelah memiliki anak dia telah mengurangi tembakau yang sebenarnya adalah kegemeran utamanya.

“Waktu itu dia sedang dalam krisis kepercayaan diri. Oh ya, aku dulu pernah mengajak dia ke rumah menyanyi, tapi dia diam saja. Tidak menyanyikan satu tembang pun.”

Ia tertawa terbahak, “ternyata dia takut diminta bayaran atas tembang yang dilagukan.”

“Kali ini aku berharap, kabar penikahan ini bukanlah berita palsu. Soalnya Mas Jaim berulang kali mengatakan akan menikah, tapi kenyataannya sampai sekarang dia belum menikah.”

Harapan Barbarossa pun terkabul, ketika undangan pernikahan Mas Jaim tiba.

X

“Yang dulu-dulu banyak yang negatifnya, maaf bukan tidak peduli. Tidak mungkin kalau kita kupas sisi negatifnya di hari Mas Jaim sedang happy.

Laksamana Chen menolak berkomentar terhadap pernikahan Mas Jaim.“No Comment.” Laksamana Chen tidak mampu mengungkapkan masa lalu Mas Jaim, dengan mengeluarkan kata-kata tajam. Sangking tidak ingin merusak hari bahagia Mas Jaim, ia memilih tidak hadir pada acara tersebut.

X

Prof. Gahul tidak dapat hadir dalam pernikahan Mas Jaim, akan tetapi sebagai anggota Assosiasi yang paling cerdik pandai, ia sudah meminta izin untuk tidak dapat hadir pada acara sakral tersebut dikarenakan ada urusan mengajar.

“Menurut saya, Mas Jaim selama ini adalah korban. Ia selalu menjadi sasaran ejekan anggota ABL lain, mungkin terlalu banyak dan saya pikir di luar batas kemanusiaan. Sampai-sampai dia ngambek. Tapi mungkin yang lain lebih dapat memberikan referensi, karena saya tidak terlalu sering bergabung ketika ada kejadian-kejadian tersebut, karena seperti yang kalian ketahui, saya sibuk dengan profesi dan kegiatan-kegiatan akademisi.”

X

Mendung mengantung pagi itu di Bandar, awan hitam menyelemuti seantero kota. Mas Jaim terlihat gelisah, lima belas menit lagi di masjid kebanggaan masyarakat kota ini dia akan melangsungkan akad nikah. Mana teman-teman? Belum ada satu orang pun yang datang, pengantin perempuan pun sampai saat ini belum hadir.

Ia melihat ibunya mondar-mandir, pihak keluarga dan hanya sepuluh orang yang masih berhadir ke masjid. Bagaimana bisa Mas Jaim seorang legenda ABL ketika menikah hanya dihadiri jumlah orang segitu. Rasanya ia ingin teriak, marah dan protes tapi tidak tahu kemana harus menumpahkan perasaan tersebut. Perasaan muak memuncak, tapi siapakah yang harus disalahkan atas semua kejadian ini?

Sepuluh menit lagi akad nikah, akhirnya ia memutuskan untuk shalat sunnah guna menenangkan hatinya. Selesai salam, ia merasakan sedikit ketenangan. Apalagi ketika ia melihat Penyair sudah tersenyum disampingnya.

“Seumur hidup Mas Jaim, baru kali ini beta melihat engkau shalat.”

Kampet si Penyair pikir Mas Jaim. Ingin ia maki psikopat itu. Otot-otot tubuhnya menegang, dalam hitungan detik bahan kimia yang berfungsi sebagai neutrontransmitter yang bernama catecholamine dilepaskan, untung aliran marah tersebut terhenti sebelum ia menjadi tak terkontrol. Setidaknya Penyair sudah hadir.

Tak lama kemudian, gemuruh hujan pun turun menyapu bumi. Angin kencang menggoyang pelita masjid. Pada saat bersamaan detak jantung Mas Jaim meningkat, tekanan darah naik, dan dengan demikian juga laju pernafasan menjadi tidak teratur. Wajahnya menjadi kemerah-merahan, ia berteriak. “Maaak, mana pengantin perempuannya!”

Dari arah berlawanan ibu Mas Jaim menjawab tenang, “rombongan pengantin perempuan sudah sampai, mereka sedang di teras masjid.

Lima menit lagi menjelang upacara dimulai, pengantin perempuan baru datang? Adrenalin dan noradrenalin terlepas, ia panas.

“Jangan tegang kali Mas Jaim.”Penyair memijat pundaknya.Ia melihat pengantin perempuan sudah mengambil tempat diseberang, tubuhnya mulai rileks menuju posisi normal. Ia ditemani dengan Penyair maju menghadap tuan Kadi. Tapi bukankah yang seharusnya menjadi pendamping pernikahan adalah Tabib Pong? Dia belum kelihatan batang hidungnya, dan belum ada anggota ABL lain yang hadir, inisiatif Penyair menemaninya membuat ia sedikit tenang. Kakinya bergetar, mungkin ia marah tadi untuk menyembunyikan ketakutan.

Mas Jaim sempat kebingungan, menyebutkan kata “mahar” atau “mas kawin” ketika hendak melafadzkan akad, ia sempat gamang. Tiba-tiba ia merasakan bahunya ditinju dari belakang dan pantatnya disepak.  Alhamdulillah akhirnya ia mengucapkan kalimat ijab qabul dengan sempurna. Dalam kesenangan yang amat sangat ia sempat mendelik kepada Penyair.

“Yang Beta pukul dan tendang itu bukan engkau Mas Jaim, tapi segala syaitan yang coba menganggu akad nikah kau.”Kata Penyair dengan wajah tanpa rasa bersalah. Bagaimana bisa dia dalam kondisi bersila ditengah suasana syahdu tersebut sempat memukul dan menendang aku pikirnya. Ia berjanji, jika kelak menikah lagi tidak akan memilih orang gila ini sebagai pendamping lagi.

Tapi Mas Jaim punya niat menikah lagi?

Suasana tegang sekejab menjadi ceria, apalagi dikejauhan ia melihat Barbarossa, Mister Big, Amish Khan dan Aak De udah berhadir juga di masjid, dengan kondisi basah kuyup. Ia langsung mendekati Barbarossa dan berbisik senang, “Nikah juga aku bro!” Ia tertawa lepas, lepas sekali.

X

Sebaliknya, bintang keberuntungan seolah sedang menjauhi Tabib pong. Segala apa yang dia rencanakan belakangan ini selalu gagal. Ditambah lagi, dengan menikahnya Mas Jaim maka ia menjadi satu-satunya anggota ABL versi Beta 2.0 yang belum menikah.

Pada malam sebelum Mas Jaim akan menikah ia meminta penyair untuk mengirimkan merpati guna membangunkan dia, ia memiliki penyakit khas pangeran mana pun, yaitu susah bangun tidur di pagi hari. Penyair sendiri sudah mengirimkan merpati pos ke Tabib pong, tapi diketahui tewas karena menganggu sang pengeran tidur. Ketika tersadar di tengah hari Tabib Pong bertanya dalam hati, apakah merpati pos yang tewas berdarah-darah disampingnya adalah kiriman Penyair. Lalu ia menangis dalam luka dalam (Ini adalah pengakuan Tabib Pong yang sangat diragukan kebenarannya).

Sekarang dia menghadapi dua masalah baru, pertama ia telah membunuh merpati pos milik Penyair yang efisien, ia membayangkan Penyair akan marah ketika asetnya telah dimusnahkan walaupun tanpa sengaja oleh Tabib Pong. Akan tetapi masalah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan masalah kedua yaitu, ia telah berjanji menjadi pendamping Mas Jaim dan ia telah melewatkan acara sakral itu. Itu baru namanya masalah besar!

Otaknya berpikir keras, bagaimana cara meredakan amarah Mas Jaim. Terlintas olehnya bahwa Mas Jaim memiliki kearifan tingkat dewa, dan sebagaimana dewa kuno manapun di dunia harus diredakan dalam bentuk sesaji.

Ia bergegas menuju rumah Mas Jaim, awalnya Mas Jaim menolak menemuinya. Setelah dengan segala bujuk rayu Tabib Pong akhirnya ia dimaafkan, dengan syarat tentunya. Tabib Pong mengajak Mas Jaim makan malam bersama di “Rumah Makan Ikan” yang dikelola oleh Amish Khan.

Kita ceritakan sedikit, baru-baru ini Amish Khan dipercaya oleh seorang Tabib kaya untuk mengelola sebuah rumah makan, bernama R.M Ikan. Sebenarnya di R.M Ikan itu tidak hanya menyediakan ikan, malah sangat sedikit. Menu unggulan mereka adalah berbagai macam olahan susu, dan daging. Namun Amish Khan sangat mencintai ikan oleh karena itu rumah makan itu dinamakan R.M Ikan.

Mungkin para pembaca tidak tahu, bahwa Mas Jaim adalah anggota Assosiasi Budjang Lapok terkuat. Ia adalah titisan Viking abad ini. Oh, kekuatan Mas Jaim itu bukan dalam hal adu pancho atau mengampak. Tapi dalam skill yang paling purba, yaitu makan. Diperlukan dua gentong besar susu, satu paha kambing dan sepotong roti untuk membuat Mas Jaim memaafkan Tabib Pong.

Selesai makan besar Mas Jaim pun pamit pulang, sebelum pergi ia berkata kepada Tabib Pong. “Sebelum kemari tadi aku sudah makan, jadi belum benar-benar puas. Besok kamu harus mengundang aku lagi.”

Amish Khan yang kebetulan berada disitu memandang Mas Jaim dengan mulut ternganga.Tabib Pong mengeluarkan beberapa keping koin dan membayar. Wajahnya mencoba bertingkah setenang mungkin. Tapi ia menjadi cemberut ketika Amish Khan berbisik, “Selamat ya, sekarang kamu punya berhala yang harus diberikan sesajen.”

Amish Khan tertawa terbahak-tahak, dan Tabib Pong dengan kepala miring meninggalkan R.M. Ikan.

X

“Happy wedding Mas Jaim”~ Homer, anggota baru ABL. Seorang pendongeng piawai nan tajir, berniat dan berencana menikah dua tahun lagi. Dia tidak hadir pada akad nikah Mas jaim. Mas Jaim menanggapi ucapannya dengan dingin, “Homer cuma pandai ngomong, beda dengan Tabib Pong.”

X

Sang Penyair adalah pendamping dadakan ketika Mas Jaim menikah, maka ia pun diwawancarai oleh tim reportase pernikahan Mas Jaim. Ia terlihat santun, tenang dan nyaris tanpa ekspresi ketika ditanyai kesan dan pesan tentang sahabatnya tersebut.

“Jika saja seluruh intelejensi anggota Assosiasi Budjang Lapok ditambahkan, kemudian dibagi dalam bentuk rata-rata. Maka dari penjumlahan tersebut yang menyumbang terkecil adalah Mas Jaim.”

Ia tersenyum, sedang Aak De yang berada di sampingnya terdiam hening. Bulu kuduk tim reportase berdiri, sumpah kami sangat ketakutan berhadapan dengan orang ini. Wajar, Mas Jaim menyebutkan sebelumnya hati-hatilah dengan orang ini, dia seorang psikopat.

“Psikopat? Beta hanya dingin.” Ia tersenyum manis, dan anggota tim reportase buru-buru meninggalkan orang tersebut.

X

Mewakili anggota ABL generasi baru, Wan Valor angkat bicara.

“Baiklah mas brow. By the way, Mas Jaim emang luar biasah kali progress perkembangannya. Yang pasti tu bukan efek dari kekinian.”Wan Velor tertawa terbahak.

“Singkat ajah yah brow. Kalo akuh seh jarang bertemu Mas Jaim dibandingkan yang lain. Jadi sangat sedikit yang akuh tau kronologis perjalanan hidup Mas Jaim beberapa taon kebelakang. Walau pun akuh udah kenal sejak sekolah sama Mas Jaim.”

“Tapih, eh tapih. Akuh pernah dengar  sebelum menemukan istrinya yang sekarang, dia pernah memiliki hubungan bertepuk sebelah tangan.Dia hanyah dimanfaatkan ajah untuk antar jemput sajah.”

Wan Velor semakin bersemangat, “kayaknyah ituh semuah dapat terjadi karenah Mas Jaim belum ada kerjah tetap waktu itu, dan harapan ortu pacarnya agak tinggi.”

Wan Velor menjadi teringat sesuatu, “Nanti kita lanjutkan ya mas brow. Akuh ada janji sama dekgem (Dedek Gemez) nih.”

Percayalah bahwa Assosiasi Budjang Lapok telah menemukan satu lagi orator ulung, ahli retorika yang bernama Wan Velor.

X

“Sampai saat ini aku masih tidak menyangka telah menikah, ini semua terjadi seakan dalam mimpi. Ternyata setelah aku merenung kembali ini adalah realitas. Terima kasih teman-teman ABL yang telah mendukung aku selama ini. Istilahnya, ini semua terjadi karena kalian.” ~ Mas Jaim

X

Tak susah melukiskan Assosiasi Budjang Lapok, karena mereka adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan Budjang, sekelompok senewan yang ingin (segera) kawin, semua biasa saja. Akan tetapi ketika alam semesta membuat sesuatu terjadi, menempatkan sekelompok orang yang berbeda karakter bersama-sama, mereka mencari jalan keluar dengan segala lebih dan kurang. Menjalani hidup di bumi, pada titik ini cerita ini berhubungan dengan perasaan mereka bagaikan fenomena unik dan bersifat pribadi.

Maka, Assosiasi Budjang Lapok layak mengucapkan terima kasih kepada Mas Jaim. Ketika kita telah melupakan keajaiban, di hidup yang biasa saja. Kami melihat Mas Jaim telah mengalami berbagai kekalahan, penghinaan namun tak pernah hancur. Dimana banyak orang ketika mereka hancur tak pernah kembali seperti semula. Tapi Mas Jaim bisa sembuh dan semakin kuat dari hari ke hari. Kami berharap dapat begitu seterusnya.

X

“Bagaimana ya cara mengatakannya? Saya segan. Mmmm, Mas Jaim dalam pernikahan itu tolong menjaga emosi ya. Pernikahan itu bukan uji emosi. Apalagi istri, nanti jangan ditampar-tampar ya Mas Jaim.” ~ Mister Big

X

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: KRISIS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s