RIWAYAT SARUNG

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Wahai kaum sarungan se-Indonesia, bersatulah!!!

Semua cerita dimulai dengan “alkisah” atau dengan “pada zaman dahulu kala”. Tapi kapan itu zaman dahulu kala? Saat kamu masih kecil, waktu kamu masih merangkak? Kamu tidak ingat begitu juga ayah dan ibumu dulu juga kecil. Kakek dan nenekmu juga. Kakek dan nenek juga memiliki kakek dan nenek. Mereka juga mengatakan “pada zaman dahulu kala”, selalu ada ungkapan yang sama lagi.

Maka kisah ini dimulai dengan kalimat, pada zaman dahulu kala. Seorang jenius tidak dikenal menemukan benda yang sangat berharga : sarung. Bentuknya, seratus sentimeter persegi kain, bermacam corak, dua tepinya ditautkan memanjang. Orang Inggris menyebutnya sarong dan tentu meniru kata melayu, meskipun mereka enggan menggunakannya.

Orang Inggris menganggapnya busana yang tidak praktis. Tak mengapa, ukuran “praktis” Inggris memang lain dari kita. Bagi kita, sarung justru sebuah teknologi tepat buat segala manfaat. Kita bisa mengenakannya buat shalat ke masjid atau perlehatan, buat ke kakus, buat selimut penahan dingin, melindungi dari panas terik, bisa menjadi topeng. Dalam keadaan tidak sebagai busana, sarung bisa menjadi pembungkus baju atau buku, misalnya ketika kita pindah rumah.

Mungkin seorang jenius agaknya yang menemukan benda semacam itu. Atau mungkin, melalui proses yang panjang.

Tapi sesuatu telah terjadi pada sarung. Barangkali karena juga pengalaman suatu kebudayaan selalu memiliki kaitan sosial yang berubah. Sarung, yang sebenarnya bisa elegan dan sekaligus casual seperti desain Calvin Klein, kini surut menjadi benda yang sangat privat, hanya untuk kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang. Satu-satunya kesempatan ketika sarung muncul ke ranah publik, ialah ketika pergi ke masjid, di hari Jumat dan hari raya. Selebihnya, ia hanya ornamen yang merepotkan.

Maka, tak mengherankan bila sarung pun bisa jadi lambang sesuatu yang pribumi yang menyusut, sesuatu “rakyat” tapi terdesak, sesuatu yang cocok dengan lingkungan tapi terancam oleh arus modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga menjadi lambang kebersahajaan yang mandiri dalam menghadapi kementerengan palsu berkaki plastik.

Agak aneh juga memang riwayat sarung. Ada masanya ketika ia menjadi identitas sebuah lapisan dicemooh. Pada awal orde baru, ada slogan yang memperingatkan agar waspada terhadap “kaum sarungan”. Tak spesifik siapa, tapi dengan segera ungkapan itu menjadi jelas.

Waktu itu, ketegangan terasa, namun jarang diucapkan, antara kaum ningrat dan priyayi yang abangan, dengan kaum pinggiran yang santri di satu pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itu untuk waktu lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah “udik”.

Waktu tentu mengubah sengketa. Mungkin hal-hal “udik” kini ditimbang kembali dan oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan dihargai. Namun, (selaku pembaca yang tekun), saya tak pernah lupa kisah si Doel di hari lebaran dalam buku Aman Dt Modjoindo, anak betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi. Tapi engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Doel kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Roman ini dikarang pada zaman penjajahan Belanda. Kita tahu dimana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai oleh Departeman O.K&W itu (dipaksa) berpihak. Terlihat jelas Pemerintah Kolonial Belanda “membenci” sarung.

Di dunia ketiga yang sebagian besar adalah bangsa terjajah, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk memodernisasi bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala banyak orang. Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia, sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan. Ia pun suatu titik konflik.

Kita bisa melihatnya, justru karena sifatnya yang serbaguna, sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan juga masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa menjadi snob yang mencemoohnya sebagai barang yang disakralkan. Tapi kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi, sekedar agar tak disamakan dengan para orang kaya yang glamor.

Karena itu kita mencintai sarung, perkakas yang selalu ada di rumah penguasa, atau rakyat jelata.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s