KAKI GAJAH BAGIAN DUA

Sambungan dari KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Seperti umumnya nostalgia, yang dulu banal pun jadi bagus, yang bersahaja jadi seperti seakan dalam, dan yang terancam punah seakan-akan jadi azimat. Kita tak peduli lagi bila yang dianggap pernah ada. Jangan-jangan hanyalah fantasi.

X

Kabong, suatu hari di bulan November 2004

Sebulan sebelum laut mengambil mereka, baru selesai STAN dan sedang magang di KPP Pratama Banda Aceh. Abu dipaksa mama pulang ke Kabong, bukanlah hal yang menyenangkan. Liburan singkat di Banda Aceh harus diisi pulang kampung yang harus melalui tiga gunung legendaris, Kulu, Parau dan Geuruete sangat berat (waktu itu). Abu sebenarnya tak mau, tapi mama memaksa, “Tolonglah Abu, mama takut kau tak akan melihat lagi Nek Nyang beliau sudah sangat tua.”

Saat itu masih terjadi konflik bersenjata antara GAM dan RI, kami harus melapor kedatangan ke semua pihak yang bertikai baik Polisi, TNI dan GAM (Betapa tidak menyenangkannya). Segala saudara menyambut, mereka berbaris. Kabong, tidak banyak perubahan di sana. Tapi manusia telah berubah anak-anak telah dewasa sedang yang tua semakin tua. Dan bangunan rumah kayu  pun makin rapuh.

Nek Nyang hampir mencapai usia 100, beliau telah buta. Ia merasa sedih, karena merasa menjadi beban. Ia tak bisa lagi ke sawah, Nek Juz disamping banyak diam. Mereka para perempuan kemudian bertangis-tangis, ada keharuan disana. Sebelum kami pulang Nek Nyang berpesan, ia merasa usianya tak akan lama lagi. Mengingat Aceh masih dalam keadaan perang, ia meminta kami tidak usah repot-repot pulang menguburkan jenazah beliau karena masih keadaan tak menentu, cukup saudara-saudara disana menemani. Nek Juz mengamini, mereka pasrah sekali. Mama hanya diam, Abu tahu mama bertekad akan pulang meskipun disana kelak terjadi perang nuklir sekalipun.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pegunungan. Matahari masih bersinar di langit, bayang-bayang panjang yang menjulur sampai Kabong, puing-puing kelabu yang jatuh ke dalam kegelapan. Ketika kami meninggalkan Kabong menggunakan L-300, hari itu.

Ternyata beliau benar, tsunami datang, dari seratusan saudara yang kami temui di November, wajah-wajah yang tersenyum melampai ketika kami pulang ke Banda Aceh itu, hanya belasan yang selamat. Kami tak pernah menemukan jasad mereka, dan akhirnya keinginan Nek Nyang terpenuhi, biarlah saudara-saudara disana yang menemani.

X

Suatu malam, November 2016

Kita tinggalkan sejenak Abu and wonderland, kembali ke realita. Dalam percakapan melalui telepon dengan istri di Batam. Jadi ceritanya begini, Dek Hayati dan tetangga sekomplek mendapat pembagian empat pil untuk mencegah penyakit kaki gajah dari seorang tetangga di rumah Batam yang berkerja di Puskesmas sana, dan jika Dek Hayati telat membalas BBM karena mual-mual (katanya efek samping pil tersebut) di minta Abu harap maklum.

Abu terkejut, di tahun 2016 ternyata penyakit itu belum punah, meski Abu di atas tahun 2000-an tidak pernah melihat lagi ada penyakit tersebut. Setelah menutup telepon, Abu berselancar sejenak tentang penyakit tersebut.

Penyakit kaki gajah adalah suatu golongan penyakit yang menular, yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk, dan setelah digigit nyamuk, parasit ketika sampai pada jaringan system limpa maka akan berkembanglah menjadi penyakit tersebut. Dan penyakit ini sifatnya menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap, berupa pembesaran pada kaki, lengan dan alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi penyakit kaki gajah bukanlah penyakit mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan sangat memalukan dapat menganggu aktifitas sehari-hari penyakit tersebut. (lebih lengkap di http://penyakitkakigajah.com/)

Kita tidak pernah tahu bagaimana masa kini menautkan diri dengan masa lalu, sebagaimana Dek Hayati bisa terkait dengan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya itu. Nek Nyang, Nek Juz dan sebagian besar keluarga mama di pesisir Barat telah tiada, diambil oleh pelukan cinta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam bentuk tsunami. Pohon-pohon besar ribuan tahun, sawah-sawah menguning itu tidak ada lagi. Kenangan dan cintalah yang menautkannya kembali dengan masa kini.

Abu teringat, Banda Aceh telah berubah menjadi besar. Telah diberbagai landmark baru, sesuatu yang baru terkadang harus dibangun atas yang lama. Perluasan Masjid Raya tentu memakan korban pohon-pohon kurma tempat Abu waktu SMP berteduh sepulang les di phibeta. Perluasan jalan di dekat Stadion Harapan Bangsa memakan korban pohon-pohon asam yang membutuhkan waktu ratusan tahun tumbuh. Tugu simpang lima baru tentu harus didirikan diatas yang lama, dimana Milanisti merayakan scudeto terakhir 2011. Atau pembagunan fly over di Simpang Surabaya wajib dengan jalan menghancurkan kedai-kedai kayu tempat Abu dan (alm) ayah pernah berkunjung.

Abu rindu suasana-suasana lalu, yang mungkin tak akan pernah terulang lagi. Ketika pulang kantor seraya bermotor Abu jadi berpikir, jangan-jangan dua puluh tahun ke depan ketika Banda Aceh semakin “membesar” Abu malah rindu suasana hari ini. Sejarah adalah jurus kaki gajah yang akan menimpa siapa saja, tak terelak, dan yang dapat kita lakukan mungkin hanya pasrah. Seraya menikmati hari ini, pada burung-burung berkicau di pagi hari, pada embun yang selalu hadir. Dengan syukur dan tafakur.

Tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi

Sebagai individu yang menghuni dunia ini, Abu bertanya dalam hati. Apakah masa depan akan lebih baik? Perusakan alam berlangsung terus, kemiskinan masih di alami dan intoleransi masih sering berjalan. Perang dan kebencian masih berlanjut. Namun dengan penyebaran informasi yang baik, hati nurani kita semua sering tersentuh. Setiap kali ada perang, gempa bumi, tsunami, banjir atau kekeringan yang menimpa banyak korban di tempat yang jaraknya sangat jauh. Ribuan orang menyisihkan uang, sarana, dan tenaga untuk memberikan bantuan. Kita gunakan itu sebagai bukti bahwa kita berhak mengharapkan masa depan yang lebih baik.

(SELESAI)

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s