PERMUFAKATAN PARA BURUNG

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada. Di waktu itu berhembuslah angin “kekayaan”, dan merendahlah langit ke bumi. Demi kelihatanlah padang sahara tandus, padang itu tiada sanggup menerima kedatangan “langit merah”, bagaimana sanggup menerima burung bumi?

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada.

Pada suatu hari berkumpullah burung-burung di rimba memperkatakan nasib dan keadaannya. Mereka merasa kecewa melihat kekecewaan dalam masyarakat burung, tiada pemimpin dan penganjur. Padahal tidak ada suatu umat di bawah kolong langit yang teratur masyarakatnya, kalau tidak mempunyai raja. Lalu bercakaplah pelatuk.

Pelatuk : “Aku mengalami pertukaran hari dan masa, dan aku mengenal kebiasaan manusia. Aku telah berusaha sekuat tenaga mencari hakikat kebenaran. Aku pernah berteman dengan Nabi Sulaiman. Tempat yang rendah telah kuturuni, yang tinggi telah kudaki, yang hampir telah kudatangi, yang jauh telah kujelang. Dalam perjalanan sejauh itu, aku telah tahu bahwasanya kita ini pada hakikatnya mencari raja, tetapi tidak ada upaya datang sendiri menjelang baginda. Kalau sekiranya kita berkerjasama tolong menolong, sangguplah kita sampai ke mahligai baginda itu. Nama raja kita adalah Simurag. Dan tempat baginda bersemayam ialah di balik bukit yang bernama Qaf. Tempat itu dekat dengan dia, tetapi jauh dari dia. Dia terlingkung dalam pagar larangan kebesarannya, tidak sanggup mulut menerangkan sifatnya dan disekelilingnya adalah 1000 dinding.

Pada mulanya maharaja burung Simurag itu adalah terbang malam hari di dalam gelap gulita lautan Cina. Maka jatuhlah sehelai bulu sayapnya. Tatkala sehelai bulu itu jatuh ke bumi, tercengang gegap gempitalah isi alam melihat keindahan warna bulu itu. Tidakkah saudara-saudara mendengar suatu hadist, “Tuntutlah olehmu ilmu, walau ke benua Cina sekalipun?” Kalau tidaklah menjelma sehelai bulu itu ke alam ini, tidaklah kita semua burung akan ada di dunia ini.

Mendengar kabar yang diterangkan pelatuk itu, semua burungpun timbul rindu hendak datang menghadap Maharaja Simurag. Ingin semuanya pergi mendapatkan baginda. Demi setelah dibicarakan panjang lebar, bahwasanya perjalanan menuju mahligai baginda itu sangat sulit dan banyak rintangan, banyak pulalah diantara burung-burung itu yang merasa lemah dan tak sanggup pergi.

Berkata Kenari: “Saya adalah Imamul Asikin, imamnya seluruh orang yang rindu dendam. Segala hati ingin mendengar nyanyianku. Maka bagaimanakah saya akan sanggup berpisah dengan kembang-kembang mekarku?”

Berkata Kakaktua: “Ambillah I’tibar pada nasibku. Seluruh insan terpedaya oleh bulu Simurag itu, lalu badanku mereka kurung. Maka penuhlah hidupku dengan kerinduan dan rawan sakit hati. Padahal terbang dibawah kipasan sayap Simurag itu sajapun aku tak sanggup”.

Berkata Merak : “Dahulu kala aku hidup bersama Adam dalam syurga, tetapi akhirnya akupun sama terusir dari sana, keinginanku ialah hendak pulang keasal tempat diamku itu. Sebab itu tidaklah ada keinginanku hendak mengembara mencari Maharaja Simurag”.

Berkata Itik : “Saya telah biasa hidup dalam kesucian, dan bisa berenang di air. Yang lain tidaklah kurindui lagi. Aku tak sanggup keluar dari dalam air, dan tidak biasa hidup ditempat kering”.

Berkata Rajawali : “Saya sudah biasa hidup di gunung, disanalah aku berdiam. Bagaimana aku kan sanggup meninggalkan tempatku?”

Berkata Gelatik : “Saya hanya seekor burung kecil dan lemah. Bagaimana akan sanggup burung sekecil aku mengembara sejauh itu?”

Berkata Elang : “Saudara-saudara tahu bagaimana kedudukanku disisi raja-raja. Maka tidaklah aku sanggup meninggalkan tempat semulia itu”.

Mendengar semua percakapan itu berkata pulalah Pelatuk : “Saya tidak akan lalai menyampaikan nasehatku kepada saudara semua. Maksudku adalah suci. Apatah sebabnya saudaraku semuanya mencari dalih dari kebiasaan hidup? Dan saudara tinggalkan cita-cita yang suci dan murni karena diikat kesenangan? Azam yang kuat dan hati yang teguh dan sabar, akan memudahkan segala kesulitan dan mendekatkan segala yang jauh”.

Maka bertanyalah seekor diantara burung-burung itu : “Dengan cara bagaimana dan jalan apa supaya kita sampai ketempat yang jauh dan sulit itu? Dengan alat perkakas apakah akan sampai kesana, menghadap Maharaja yang Maha Besar itu?”

Maka banyaklah pertanyaan.

Pelatuk : “Apakah artinya banyak pertanyaan ini? Apakah artinya kelemahan semangat ini? Mengapa maju mundur melangkah mengatasi kesulitan? Bersiap-lengkaplah dengan alat perbekalan, yaitu himmah yang tinggi, azzam yang kuat dan tabah hati. Adapun perhubungan di antara segala burung dengan Maharaja Simurag sudahlah jelas dan nyata laksana matahari dibelakang awan, telah jatuh ke bumi beribu cahaya dari celah awan itu. Kamulah semuanya, wahai saudaraku cahaya dari Simurag itu. Kamulah! Sebab kerinduan itu apabila benar-benar timbul dari hati yang tulus, akan mudahlah bagi yang asyik melalui jalan itu bagaimanapu sulitnya, segala pagar akan dilompatinya karena ingin bertemu dengan kekasihnya”.

Setelah mengemukakan beberapa perbandingan akal dan missal, sehingga timbul kembali kerinduan burung-burung itu hendak berjumpa dengan Simurag. Maka putuslah mufakat bahwa mereka semuanya akan jadi juga melanjutkan pengembaraan mencari Simurag. Satu kafilah mesti disusun, dan kepala kafilah mesti dipilih. Maka jatuhlah pilihan kepada pelatuk. Diatas kepalanya diletakkan mahkota alamat kebesaran, dan majulah ia kemuka. Merekapun terbang menuju tujuan.

Lama penerbangan jauh itu. Belum juga nampak ranah yang dituju. Maka bertanyalah seekor burung : “Mengapa perjalanan ini kian lama kian sepi, lenggang dan menakutkan, wahai pemimpin kami?”

Pelatuk si Raja burung menjawab : “Memang banyak tidak berani melalui jalan ini karena takut. Padahal ada keindahan dalam malam yang sunyi? Padahal begini indah? Ketahuilah Maharaja tidak memberi izin semua orang buat lalu di jalan ini. Kebesaran kita kadang-kadang membuat jauh orang yang mengharap karunia dari pintu kita”.

Penerbangan itu diteruskan juga. Demi kelihatan suatu di jalan, tetapi tujuannya tak tampak. Terasa sakit penderitaan, tetapi obatnya tidak ada. Di waktu itu berhembuslah angin “kekayaan”, dan merendahlah langit ke bumi. Demi kelihatanlah padang sahara tandus, padang itu tiada sanggup menerima kedatangan “langit merah”, bagaimana sanggup menerima burung bumi?

Maka berkatalah seekor burung : “Hai Pelatuk Raja kami! Engkau telah membawa kami terbang tinggi, dan memang engkau telah biasa terbang jauh. Tetapi banyaklah sekarang yang merasa khawatir di hati kami. Berhentilah kita sebentar dan naiklah ke mimbar. Berikan kami fatwa untuk menghilangkan beberapa keraguan yang telah timbul di hati kami selama perjalanan sulit ini”.

Permintaan itu dikabulkan oleh pelatuk, mereka berhenti seketika. Tetapi sebelum dia memberikan nasehatnya, Kenari telah lebih dahulu naik ke mimbar, dia berjanji dengan merdu suaranya itu hilanglah segala kepayahan dan keraguan tadi. Seluruh burungpun bernyanyi pulalah mengikuti Kenari. Lantaran itu perjalananpun diteruskan kembali.

Di tengah perjalanan bertanyalah seekor burung : “Tuan Pelatuk imam kami! Saya heran mengapalah tuan lebih utama daripada kami. Mengapa martabat kita berbeda-beda?”

Pelatuk menjawab : “Keutamaanku ini adalah anugerah dari Maharaja sendiri. Inilah kekuasaan besar anugerah baginda, yang baginda berikan karena limpah kurnia pandangan baginda semata-mata. Kelebihan ini tidaklah dicapai karena semata-mata taat. Iblis dahulunya seseorang yang taat. Sungguhpun demikian perkara bukanlah saya memandang perkara taat suatu soal kecil. Tetapi janganlah itu juga dipandang penting, dan jangan meminta upah. Kerjakan segala perintah dengan patuh, dan jangan mengharapkan apa-apa. Harapan kepada apa-apa itulah yang menjatuhkan harga kepatuhan. Itulah sebabnya maka Sulaiman menjatuhkan pandangnya atas diriku”.

Banyaklah soal yang didatangkan mereka. Dan semua soal dijawab oleh Pelatuk dengan seksama. Soal yang kesembilan belas begini bunyinya : “Apakah hadiah yang layak kita sembahkan kepada Maharaja yang akan kita jelang itu?”

Pelatuk menjawab : “Jangan membawa apa-apa, karena disana tidaklah kekurangan apa-apa. Tidak ada yang lebih utama hanyalah dua perkara, rindu dan taat”.

“Berapa farsachkah lama perjalanan ini? Apakah yang akan kita temui di jalan?”

Pelatuk menjawab : “Dihadapan kita terbentang tujuh lurah, tetapi lebar seluruh lurah tidaklah kita ketahui. Sebab belum ada yang kembali dari sana, yang mengabarkan berapa luasnya. Tujuh lurah itu ialah : Keinginan (thalab), kerinduan (‘Isjg), ma’rifat, kepuasan (istiqhna’), tauhid, kagum (heran), fakir dan fana.”

Setiap lurah itu diterangkan oleh pelatuk sifatnya dengan segala macam isinya. Sampai diketika menerangkan sifat lurah yang ketujuh dia berkata : “Wahai saudaraku semuanya! Inilah lurah yang dasyat, bisu mulut karena tidak dapat menerangkan. Tuli telinga dan habislah daya. Ribuan bayangan hilang belaka oleh karena cahaya matahari. Bilamana ombak lautan telah bergelora, bagaimana lagi akan tinggal suatu garis di kulit air? Tetapi barangsiapa yang telah hilang dirinya dalam lurah ini, sampailah dia kedalam ketentraman yang abadi”.

Lalu dikemukannya pula suatu amsal :

“Pada suatu malam berkumpullah rama-rama dalam gelap, dan semuanya ingin mendapatkan cahata lilin. Maka dipilihlah beberapa supaya terbang menuju lilin terlebih dahulu, supaya melihat dan mengetahui sifatnya. Seekor rama-rama terbang ke mahligai tempat lilin memancar. Setelah kelihatan olehnya, diapun mengabarkan kepada teman-temannya. Maka berkatalah seekor rama-rama berpengalaman : “Kalau begitu engkau belumlah kenal kepada lilin”, lalu disuruhnya pula seekor lagi. Dia pun pergi. Didekatinya lilin itu, dan didekatinya lagi, sampai terasa olehnya panas api. Dia pun pulang mengabarkan penglihatannya dan perasaannya. Rama-rama yang banyak pengalaman itupun berkata : “Yang engkau ceritakan tidaklah lebih dari apa yang diceritakan temanmu tadi”. Maka terbanglah seekor lagi, terbang menari dalam kegembiraan dan kerinduan. Dia pergi ke lilin itu, dilihatnya dan didekatinya, lalu dihempaskannya dirinya kepada lilin dan hangus terbakar seluruh badannya. Dalam keadaan terbakar itulah dia pulang kepada teman yang mengutusnya. Maka berkatalah rama-rama tua tadi : “Engkaulah yang tahu apa artinya lilin. Karena tidaklah kita akan mengenal sesuatu yang kita cintai melainkan dengan memfanakan diri kepadanya”.

Mendengar kisah pelatuk itu, seluruh burung merasa takut. Semuanya merasa tidaklah akan sampai perjalanan sejauh itu. Maka adalah yang mati ditengah perjalanan itu, dengan putus ada. Yang tinggal meneruskan juga perjalanannya, dan bertemu mara bahaya, dan banyak yang gugur dan mati. Mati kehausan di puncak bukit, atau mati karena tidak tahan cahaya terik matahari, dan setengahnya mati karena terlalu payah. Setengahnya lagi tercengang-cengang melihat keganjilan yang dilalui, lalu terhenti dan tidak sanggup meneruskan perjalanan lagi. Setelah bertemu olehnya apa yang merintang hatinya, maka timbullah malasnya melanjutkan jalan. Yang lain ditimpali pula oleh kalangan lain.

Beribu banyaknya anggota pemberangkatan itu, sebagian besar telah binasa. Hanya tigapuluh ekor yang dapat melanjutkan perjalanan, tigapuluh ekor dalam bahasa Persia ialah Simurag. Akhirnya dari beribu hanya 30 ekor yang sampai! Sesudah menempuh berbagai gelora dan kesulitan, hampir binasa karena sulitnya.

Apakah yang mereka dapati setelah sampai pada yang dituju? Mereka dapatilah perkara yang tidak dapat diceritakan dengan mulut, heran dan termangu akal melihatnya. Memancarlah kilat kebesaran, terbakar ratusan alam dalam sekejap mata. Beribu-ribu matahari dan bintang dalam keadaan bingung setengah : “Wahai payahnya perjalanan kita. Disinilah kita melihat ratusan falak hanya laksana tanah pasir kecil belaka. Apakah artinya udjud kita dan apa artinya adam kita dihadapan Hadhrat ini”.

Dengan penuh perasaan kagum, mengeluh dan kepayahan mereka menunggu! Tiba-tiba keluarlah Hadjib, pengawal istana kebesaran itu lalu menegur : “Hai orang-orang yang tengah kebingungan! Dari mana datang kamu? Apa maksud datang kemari? Siapa namamu? Apa yang kamu dengar tentang tempat ini, sehingga kamu tertarik datang kemari? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwasanya sejemput kecil bulu dan tulang berupa kamu ini sanggup terbang sejauh ini?”

Burung-burung : “Kami datang kemari karena hendak menjunjung tinggi Simurag, raja kami. Lamalah sudah perjalanan kami ini. Dahulu kami beribu banyaknya, tetapi yang sampai kemari hanya 30 burung. Kami datang dari tempat yang sangat jauh, mengharap diberi izin menghadap Hadhrat Maharaja Simurag. Kami datang supaya Maharaja ridha kepada kami dan sudi memandang kami”.

Hadjib : “Hai orang-orang yang bingung! Apakah keadaanmu? Apakah artinya udjudmu dan apakah artinya ‘adammu dihadapan Hadhrat Maharaja yang mutlak dan yang baqa? Ribuan ‘Alam ini tidaklah setimbangan sehelai rambut dihadapan pintu ini. Pulang sajalah kembali, pulanglah hai kalian yang sengsara!”

Burung-burung : “Kehinaan yang kami peroleh dimuka pintu ini, adalah kemulian bagi kami. Kami akan tinggal disini selamanya, sampai kami hangus terbakar, laksana rama-rama dihadapan api. Kami tidak akan putus asa dari rahmat Maharaja”.

Mendengar pertengkaran diantara burung-burung dengan Hadjib itu, tiba-tiba keluarlah Hadjibur Rahmat dari dalam. Disuruh mereka berdiri. Lalu dibukalah kelambu hijab penutup itu, satu demi satu, yang beratus banyaknya. Maka memancarlah sinar, dan terbentanglah sifat tadjalli, dan dipersilahkan burung-burung itu duduk di dekat Hadhrat Rububijah. Setiap burung diberi sepucuk surat. Disanalah mereka terbaca segala amal perbuatan yang telah mereka dikerjakan. Maka pingsanlah semuanya karena malu, karena wajah itu tiada tertentang. Maka terhapuslah segala yang tertulis itu dan lupa semuanya. Maka terhapuslah segala yang tertulis itu dan lupa semuanya. Sehingga burung-burung itu tidak ingat apa-apa lagi. Itulah Fana!

Maka memancar sinar matahari kehampiran. Terbakarlah segala nyawa. Demi kelihatan oleh mereka Simurag yang mereka rindui dan jelang itu.

Heran dan ajaib! Setiap mereka melihat Simurag itu, kelihatan oleh mereka tigapuluh ekor burung, dan apabila mereka melihat tigapuluh ekor burung, kelihatanlah Simurag. Dan bila mereka melihat diri mereka sendiri dan melihat Simurag itu, kelihatanlah keduanya satu adanya. Mereka heran dan tercengang, lalu mereka bertanya apakah rahasianya jadi begini. Maka datanglah jawaban : “Hadrat ini adalah cermin, siapa yang datang kemari, tidaklah akan melihat selain dirinya sendiri. Tuan datang tigapuluh (Simurag), tentu yang tuan lihat ialah Simurag (tigapuluh). Yah, betapa penglihatan bisa melihat kami? Bagaimana mata rangit dapat mengukur bintang Suraija? Perkara ini bukanlah sebagaimana yang kamu lihat dan kamu ketahui. Bukanlah sebagaimana yang kamu katakan atau kamu dengar. Tetapi kamu telah keluar dari dalam dirimu sendiri. Sekarang tahulah kamu bahwasanya tempat kamu yang sebenarnya ialah disini”.

Maka hilang lenyaplah mereka semuanya. Hilanglah sinaran segala cahaya, kembali ke dalam matahari.

Demi setelah berlalu ratus ribuan tahun, yaitu gurun-gurun yang tidak diikat perhitungan zaman dan tempat, kembalilah burung-burung itu kepada dirinya. Demi setelah mereka kembali kepada dirinya dari selain dirinya, maka kembalilah mereka kedalam baqa sesudah fana.

Terinspirasi oleh Percakapan Margasatwa (Manthik uth-thair) karya Fariduddin al-‘Aththaar

Referensi : Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad karya Hamka, cetakan pertama tahun 1952, penerbit Pustaka Islam Jakarta.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to PERMUFAKATAN PARA BURUNG

  1. anda itu seharusnya udah menerbitkan buku… ceritanya sudah mengalir dan enak dibaca, namun membaca yg panjang panjang itu sangat lebih nyaman dalam bentuk buku

    • tengkuputeh says:

      Terima kasih Mas Icang, harapan saya seperti itu. Menerbitkan buku perlu konsistensi, saya kurang memiliki itu. Saya menulis hanya mengikuti suara hati. Semoga ke depan pelan-pelan ada semangat itu, 😀

  2. Jon Slow says:

    Karya yang patut diketahui banyak orang nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s