EL HADID MENCARI MAKNA

Lanjutan kisah El Hadid of Equal River

Barangsiapa yang ingin berjaya, tentu harus berani memulainya. Setiap diri tentu perlu mengatasi segala masalah-masalah sendiri dahulu.

Barangsiapa yang ingin berjaya, tentu harus berani memulainya. Setiap diri tentu perlu mengatasi segala masalah-masalah sendiri dahulu.

El Hadid dalam episode “Mencari Makna”

Setelah mengendarai Azraq  sekitar delapan mil, El Hadid melihat sekelompok orang sedang berdiri di tepi jalan. Mereka enam orang sedang mengelilingi sesuatu. Ia yakin bahwa ada suatu peristiwa akan segera dialaminya. Ia mulai meniru sikap para Ksatria dari buku-buku yang pernah ia baca dalam menghadapi musuh-musuhnya. Azraq diberhentikan, siwah dipegang erat-erat. Ia mengira mereka adalah sebangsa pengelana.

“Hendaknya setiap orang memberikan pengakuan bahwa di seluruh jagad raya ini tidak ada yang lebih cantik dari puteri Zahrat al Amira yang maha cantik.” Tepat ketika mereka berpapasan.

Orang-orang tersebut berhenti, mendengar seruan tersebut. Mereka menatap El Hadid, di pandang dari segi penampilan dan ucapannya, mereka berpendapat bahwa si pembicara telah kehilangan akal sehat.

“Tuan Ksatria, kami belum pernah mendengar atau melihat puteri yang baru saja anda sebutkan tadi.” Kata salah seorang diantara mereka. Sedang yang masih sibuk memandangi sesosok binatang tutul-tutul gepeng, baru terlindas oleh mobil, mungkin belum lama.

“Andaikata ia kutunjukkan kepada kalian, pasti kalian akan mengakui. Tetapi meski begitu, kalian semua harus mempercayainya, seyakin-yakinnya. Jika tidak kalian semua harus bertempur denganku.”

Lalu ia memandangi bangkai tersebut, “ternyata kalian adalah pembunuh bayaran, kalian telah membunuh seekor harimau yang harusnya dilindungi. Ayo kalian semua bisa maju satu persatu, sebagaimana lazimnya aturan pertempuran ksatria. Aku siap menghadapi kalian semua.”

Tapi orang-orang tersebut tidak ada maksud untuk berkelahi.

“Tuan Ksatria,” kata salah seorang diantara mereka dengan harapan menenangkan El Hadid. “Hewan ini bukanlah harimau, melainkan macan pohon. Kami menyaksikan sekitar sepuluh menit lalu, ia dilindas sebuah mobil Fortuner. Sedangkan, tunjukkanlah kepada kami foto gadis tersebut. Aku yakin bahwa kami sudah sama-sama sependapat dengan anda, meskipun misalnya toh mata gadis itu buta sebelah, kami tetap akan mengatakan seperti apa yang anda inginkan, sekedar untuk melegakan hati anda.”

Tapi El Hadid memang tak punya foto Almira. “Bangsat, tak ada cacat pada mata gadis itu!” Sang Ksatria naik pitam. “Ia benar-benar sempurna dalam segala hal! Kau akan menerima hukuman karena telah menghina seorang puteri yang benar-benar cantik.”

Ia mengacungkan siwah kea rah pembicara. Seraya maju menusuk, agaknya tak ada suatu apapun yang dapat menghindarkan orang tersebut dari malapetaka yang bakal menimpanya. Tetapi di luar dugaan, selagi maju El Hadid menginjak kulit pisang, ia terguling jatuh tak dapat bangun, karena menahan sakit.

“Jangan lari, kalian pengecut!” Sambil berjuang keras berdiri. Salah seorang diantara mereka yang terhitung gampang marah maju dan menendang rusuk El Hadid. Ia mengambil sebatang kayu kuda-kuda, mematahkan menjadi beberapa potong. Ia memukuli kepala El Hadid keras-keras.

Teman-teman yang lain meneriaki orang tersebut agar berhenti, “sudahlah biarkan orang gila itu!” Tetapi agaknya dia sudah begitu kalap, sehingga tak mau berhenti. Setelah batang satu patah, ia mengambil batang lain dan dipukulkan ke kepala El Hadid sampai hancur. El Hadid sendiri ditakdirkan memiliki kepala batu, tak henti-hentinya mencaci maki rombongan orang tersebut. Ia menyebut mereka pengecut. Semakin dipukul, ia bahkan semakin penasaran mengancam mereka.

Akhirnya orang tersebut merasa lelah, ditinggalkannya sang ksatria. Ketika sadar ia sendirian, El Hadid berusaha untuk bangkit. Tetapi bagaimana ia bisa bangkit setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi begitu. Ia memandangi harimau yang tergiling, dia terlalu sombong untuk menangisi dirinya, ia menangis untuk sebuah kematian hewan yang langka tersebut. Bajiangan tengik yang membunuh satwa ini harus mendapatkan balasan setimpal. Segila-gilanya El Hadid, ia merupakan pencinta alam.

Dalam kesedihan dan kedongkolannya itu, ternyata ia masih sempat merasa bahagia, karena memang pengalaman macam itu sudah layak dialami setiap ksatria. Namun ia beranggapan, bahwa semua itu akibat tergelincir kulit pisang semata. Orang besar tak jatuh karena batu besar, namun karena kerikil. Ia merasa diri, orang besar.

El Hadid berbaring di tanah sambil melayangkan pikirannya ke buku-buku kisah ksatria. Ia mengucapkan keras-keras syair dari cerita yang ia ingat. Pada saat itu lewat seorang laki-laki yang berasal dari desa setempat. Melihat seseorang terbaring di tanah, lelaki itu mendekatinya dan bertanya, siapakah yang mengerang-erang begitu? El Hadid tidak menjawab, ia tetap berceloteh bagian-bagian cerita dari buku.

Orang dari desa itu tercengang mendengarnya, ia mengusap muka El Hadid yang berdebu. Ia terperanyak demi melihat wajah sang ksatria.

“Hamid!” pekiknya. “Bagaimana anda bisa jadi begini?” Orang tersebut adalah Ali Thaleb, dahulu sewaktu muda ia dan El Hadid pernah belajar pembukuan di Universitas Grand Syech. Hamid Drop Out, ia lebih tertarik pada sastra. Sedang Ali menyelesaikan dengan Cum Laude.

El Hadid tetap tidak menyahut, ia masih berceloteh tentang ksatria-ksatria zaman lampau. Pelan-pelan Ali mengangkat El Hadid dari tanah lalu mendudukkannya diatas mobilnya. Ia menelpon, tak lama kemudian datang dua orang dengan satu motor, yang kemudian membawa Azraq ke desa mereka.

Ia merasa sangat cemas terhadap keadaan El Hadid yang terutama terus menerus meracau. Sang Ksatria sedang tertimpa kemalangan, ia menderita babak belur akibat pukulan sehingga sulit untuk duduk, ia merintih-rintih dengan suara berat.

Mereka tiba di desa Nga Bay menjelang maghrib. Ali memarkir mobil di meunasah*), kemudian shalat Maghrib, cuaca cukup gelap sehingga tidak ada yang melihat El Hadid masih mengigau di mobil. Selesai shalat penduduk Nga Bay sudah menunggu Ali yang notabene tokoh masyarakat untuk membicarakan hal ihwal penting. Lalu mereka menuju warung kopi kampung, selesai Isya Ali berencana memulangkan El Hadid.

Ditepi pantai itu, El Hadid kemudian melebur dalam hiruk pikuk kehidupan dan tersauk-sauk mencari jati dirinya yang bergelimang aneka suka duka. Mungkinkah ia menemukan secercah nurani yang tak bimbang gemerlap menyinari?

(Bersambung)

meunasah*) = langgar/surau

PETUALANGAN EL HADID

1-WAHAM

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s