KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Menulis kenangan berupa memoir punya kelemahan, dimana ingatan telah dipengaruhi sejarah dan kronologi yang terjadi sesudahnya. Dimana perasaan, pengetahuan dan penalaran  anak berumur 6 tahun tentu berbeda ketika ia berumur 32 tahun, namun sekali-kali ada perlunya ketika akhirnya harus bercerita tentang masa silam yang tak lagi tertengok, sebagai nostalgia sekaligus pengingat mereka yang tiada lagi.

Kabong, liburan sekolah, 1991

“Nek!” Panggil Abu, sambil mengejar Nek Juz yang berjalan cepat. Ia menoleh, adalah adik terakhir nenek Abu masih remaja, dari ayah yang berbeda. Ia memiliki tenaga yang kuat, layaknya laki-laki, Nek Juz ahli memanjat batang kelapa, tenaga kuda kata mama Abu.

“Abu kamu lihat pohon itu?” Ia berhenti sambil menunjuk. “Sepuluh orang kampung pernah mencoba melingkarinya sambil memeluk, tapi tak sampai. Mungkin pohon itu sudah tumbuh sejak zaman Belanda.” Ia tertawa dalam perjalanan kami menuju sawah.

Kalau Abu mengingat betapa besar lingkar pohon tersebut, jangankan Belanda. Mungkin pohon tersebut sudah ada bahkan sebelum Kesultanan Aceh berdiri di abad ke-13 lalu.

Kabong, sekitar 9 kilometer dari Calang. Tahun itu merupakan lanskap yang tak akan berulang, foto-foto keadaan serupa mungkin hanya ditemukan disitus Belanda www.kitlv.nl/ tentang keadaan Aceh pada masa-masa colonial, Hindia nan moelek, ketika itu Republik Indonesia sudah merdeka 45 tahun, tapi baru setahun pesisir Barat Aceh dibebaskan oleh gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan dari rakit.

Amboy, telah berdiri jembatan disetiap sungai sepanjang jalan dari Banda Aceh ke Meulaboh, perjalanan yang sebelum tahun 1990 menghabiskan waktu seminggu, dipangkas menjadi hanya setengah hari. Terima kasih Pak Ibrahim Hasan!

Pesisir Barat mungkin tertinggal (ketika itu), tapi gembira. Di bayang-bayang pepohonan yang lindap, beberapa kilometer dari jalan hitam (aspal) ada kesejukan datang bersama terpaan angin berhembus. Pagi itu, berguguran di atas jalan kecil butiran embun berupa titik-titik hitam. Sementara itu, dahan-dahan pohon seakan gemetar oleh suara gaung suara yang mengigilkan jantung Abu, dengus suara yang terdengar begitu menakutkan itu keluar dari sekawanan kerbau hitam, berpasasan dengan kami. Abu, 6 tahun anak kota Banda Aceh yang sedang berlibur di kampung itu, ketakutan bersembunyi di belakang Nek Juz.

“Nek, mengapa kerbau sangat besar?” Abu belum pernah melihat makhluk sebesar itu. Sekumpulan monster ganas dengan tanduk-tanduk setajam tombak.

“Entahlah Abu, mungkin mereka sepupu Dinosaurus. Kamu bahkan belum bertemu gajah Abu, mereka lebih besar, kuat dan perkasa!” Nek Juz tertawa, ditatapnya Abu dengan mata sinar gembira.

“Benarkah nek?” Bayangan Abu tentang gajah, adalah Bona si belalai panjang, sahabat Rong-Rong yang rutin Abu baca di majalah Bobo.

“Kalau ada manusia yang jahat, niscaya gajah akan menginjaknya, kaki mereka sangat besar.” Nek Juz tertawa lepas. Tahun 1991 merupakan penghujung abad ke-20, Nek Juz lebih dekat ke masa lalu, masa-masa abad ke-19. Masa-masa kuno dan penuh aura mistis, yang mungkin sulit ditemukan lagi di abad ke-21 ini, sekarang bentuknya seperti patung es yang telah mencair. Tak terbayang (lagi), namun berbekas.

Kami berjalan terus, dibalik hutan gelap itu bertebaran hamparan kuning padi menyelimuti bumi, menyerupai sebuah tumpukan selimut yang tampak bergelombang dan menari-nari bersama angin. Di jambo (pondok kecil) telah menanti Nek Nyang, ibu dari Nek Juz dan nenek Abu, nenek kuadrad (pangkat 2). Ia melambai, seraya tangan masih memegang tali yang menghubungkan dengan orang-orangan sawah, jika di tarik kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang digantungkan pada orang-orangan sawah akan berbunyi mengusir burung-burung pipit yang mencoba memakan padi.

Di belakang persawahan jauh memandang terlihat gunung-gunung hijau tinggi perkasa. Serombongan orang berbaju gamis putih berjalan cepat di pematang sawah. Menuju arah pegunungan, dunia macam apa yang ada disana. Fantasi Abu tak menjawab.

“Untuk apa mereka kesana nek nyang?”

“Menuntut ilmu pada nenek.” Kata Nek Nyang, dan Abu bingung.

“Abu, yang dimaksud Nek Nyang, nenek itu harimau.” Sambung Nek Juz.

Abu terdiam, sebelum pulang kampung, guru mengaji Abu pertama, ayah yang tidak ikut sudah mengingatkan. “Abu nanti di kampung mama, mereka mempercayai mistik, dalam hal ini kamu harus menampik.”

Ayah kelahiran Anuek Galong (Aceh Besar), anak dari seorang ulama PUSA. Keluarga ayah lebih ketat dalam hal-hal yang dianggap musyrik. Sebaliknya mama kelahiran Krueng Sabee (Aceh Barat, sekarang Aceh Jaya), merupakan keluarga muslim yang lebih dekat dengan tradisi-tradisi lama. Ketika dua orang berbeda pendapat bertemu dan disatukan oleh Allah S.W.T, Abu berpikir inilah misteri kekuatan cinta yang sumbernya dari IA yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tapi  (hampir) semua orang- orang miskin yang bekerja membanting tulang cenderung  sangat percaya pada tahayul. Dalam hal ideologi Abu lebih (berusaha) dekat ke ayah, namun Abu kecil ketika menatap pegunungan itu sering berkhayal, dunia macam apa yang ada di balik pegunungan.

Mungkinkah ada pertapa sakti, manusia setengah harimau seperti yang diceritakan. Di balik kungkungan awan, berlapis-lapis gunung terjal, di sambung lagi dengan gunung terjal lainnya. Di bawahnya, seorang maha guru sakti seperti Arya Kamandanu, tinggal di dunia damai, bersama lembah hijau bersama rumah kayunya. Sebagai manusia mix culture, Abu tak berkuasa penuh menampik.

Ingat, Abu masih 6 tahun. Hal yang rumit ini hanya sesaat menjadi perhatian. Abu kemudian berlari-lari di pematang sawah, mengejar lebah, kupu-kupu,(terutama) belalang serta apapun yang ada disitu, ketika Nek Nyang meminta Abu mengusir burung-burung pipit di sawah. Abu berteriak keras, “burung pergi, jangan makan padi kami, padi tetangga kami, kami perlu padi!” Burung-burung tak peduli, tetap makan mendengar teriakan.

“Boleh juga makan burung, tapi jangan banyak-banyak ya.” Abu menyerah sekaligus tertawa, Nek Nyang dan Nek Juz tertawa, tetangga-tetangga di jambo (pondok) lain juga tertawa. Kami bergembira. Hari ini, dua puluh lima tahun kemudian, mengingat hari itu, mata Abu berkaca-kaca.

Ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya agenda besar.

Hari sudah siang, Abu dipanggil makan. Abu balik sebentar minta disuap lalu berlari, kemudian balik mengambil sesuap untuk lari lagi. Ibarat mesin, jangan ragukan baterai yang dimiliki anak-anak, mereka sanggup berlari sepanjang hari. Tiba-tiba dari jambo (pondok) lain dalam sirkuit pematang sawah, Abu dipanggil. Ternyata disana Nek Nyang dan seorang temannya, nenek-nenek juga.

“Abu makan jangan sambil berdiri, apalagi berlari,”

“Kenapa?”

Nek Nyang menatap temannya. “Kalau Abu makan sambil berdiri nanti kaki Abu akan besar, seperti kaki gajah, seperti nenek ini.”

Teman Nek Nyang menyingkap sarung dan mengeluarkan sebelah kakinya, sebesar paha. Abu masih tidak percaya dan bertanya, “betul nek?”

Nenek itu mengangguk. Abu diam, ia menatap Abu. Mata beliau tak akan pernah Abu melupakan. Pandangan yang penuh harga diri namun terluka, pandangan dari mereka yang dikalahkan di dunia, seperti tatapan gajah sebelum dieksekusi pemburu, berkali-kali. Abu selalu terenyuh pada mereka-mereka yang kalah dan disingkirkan, langsung duduk dan memegang kaki nenek itu,

Ia terkejut, atas ketidakjijikan Abu. “Ini namanya penyakit kaki gajah, ini karena nenek waktu muda suka makan sambil berdiri.” Abu sebenarnya tidak percaya karena merasa yakin pernah membaca tentang penyakit ini, ini karena kurang makan garam, namanya gondok.

Kelak di kemudian hari Abu baru tahu bahwa penyakit itu memang bernama kaki gajah. Dengan penyebab berbeda dari yang Nek Nyang ceritakan, tentu itu agar Abu tak makan sambil berlari. Tentang gondok, saat itu Abu berumur 6 tahun, sudah bisa membaca saja sudah hebat. Tentunya harus di maklumi jika (saat itu) Abu salah mengingat apa yang dibaca saudara-saudara se-Nusantara.

“Berarti nenek hebat, kalau ada yang ganggu nenek injak saja dengan jurus kaki gajah!” Kehidupan tanpa humor sangat melelahkan. Sebagaimana keceriaan itu palsu tanpa lelucon, tapi humor terbagus di keadaan mana pun akan datang dari bawah. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah

Ia tersenyum dan membelai kepala Abu, seraya membaca mantra, doa Arab dan kata-kata berbahasa Aceh bercampurbaur dengan kata-kata kuno yang tidak Abu pahami.

Abu ingat ayah, “tampik!” Bukannya tidak menghormati ayah yang mengajarkan agama. Tapi tak tega, akhirnya Abu membiarkan saja. Perjalanan hidup kemudian membuat Abu mempelajari tauhid, science, sastra, sejarah dan apapun (meskipun sedikit-sedikit). Tampaknya, dari hari itu Abu belajar bahwa yang paling penting bukan keunggulan diri, manusia memperumit dirinya jika ia merasa memonopoli kebenaran, apa yang Abu teorikan belum tentu menjadi jawaban terakhir, apa yang menjadi tahayul tidak serta-merta Abu salahkan sebagai keterbelakangan. Abu menolak merasa menjadi orang yang paling benar, sebagai produk kebudayaan mungkin Abu lemah, mudah dipengaruhi oleh apapun. Satu-satunya keberanian Abu hanyalah rasa ingin tahu.

Di zaman modern mungkin ini naif, gagap menghadapi perubahan zaman, seperti para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi. Tapi apakah hidup harus selalu tentang kemenangan ekonomi?

Biarlah para dewasa mengejar apa yang ingin mereka kejar. Abu lebih ingin mencintai keasyikan ilmu pengetahuan, ilmu yang dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub, menyatakan betapa ia, bak seorang anak, terkesima melihat belalang. Belalang adalah “keajaiban di tiap petak sawah.” Siapa yang tak mengenalnya maka “telah” melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar.

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

(Bersambung)

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s