BENGKEL SASTRA

Syair adalah seni berpikir, bukan kekuatan atau bahasa, kita sudah tahu bahwa kosa kata yang terbatas bukan halangan untuk menggunakan syair. Setiap kata, setiap kalimat lebih dahulu lahir dibandingkan syair. Seperti segala hal lain yang bisa dikuasai, syair mengandalkan intelektual yang berdisiplin.

Bahwa kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih baik setelah lewat waktunya. Semakin lama waktu yang lewat, semakin jelas segalanya terlihat. Kita dapat melihat setiap kejadian pada tempatnya.

Bahwa kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih baik setelah lewat waktunya. Semakin lama waktu yang lewat, semakin jelas segalanya terlihat. Kita dapat melihat setiap kejadian pada tempatnya.

Tahun 2000-an. Suatu siang di SMU Negeri 3 (Sekarang SMA Negeri 3) Banda Aceh. Pak Yahya, seorang guru Bahasa Indonesia kebingungan. Sekolah itu mendapat undangan mengikuti pelatihan “Bengkel Sastra” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Taman Budaya Banda Aceh. SMU Negeri 3 Banda Aceh harus mengirimkan siswa sebagai wakil hajatan tersebut, masalahnya di antara 1500-an siswa  sekolah tersebut, dimanakah mencari bibit pujangga? Sungguh terlalu jika salah satu sekolah favorit di Banda Aceh mengirimkan wakil yang biasa-biasa saja, pada masa itu SMU Modal Bangsa dan SMU Negeri 1 merupakan kompetitor yang ganas. Tentunya Pak Yahya tak ingin seri, apalagi kalah!

Pak Yahya bertanya kiri dan kanan, sementara hasilnya ex nihilo. Indak ado, kata orang Minang. Hana pat mita, kata orang Aceh. Di tengah kebingungan Pak Yahya berjalan ke perpustakaan sekolah. Ia bertemu dengan ibu guru perpustakaan dan berkeluh kesah, dan sang librarian punya saran brilyan. “Kita kirimkan siswa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan saja?”

Pak Yahya tersenyum girang, siapapun yang punya hasrat membaca besar pasti memahami sastra. Tak sulit menemukan siapa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan SMU Negeri 3 Banda Aceh saat itu, Ada satu siswa yang memiliki rataan peminjaman buku, 50 sebulan. Terlalu menonjol untuk disembunyikan, dan tebak orang itu siapa? Iya orang tersebut adalah Abu sendiri.

Waktu itu Abu memang sedang garang-garangnya membaca, sejarah, budaya, novel Abu sikat. Saat itu Abu sedang tertarik mempelajari tafsir, terutama tafsir Al-Azhar maha karya ulama besar HAMKA yang berjilid-jilid itu. Jika kelak Abu sedikit fasih berbicara agama, maka selain kitab-kitab Fiqih milik kakek di Aneuk Galong, Tafsir Al-Azhar merupakan referensi Abu. Kekaguman Abu terhadap HAMKA kelak menginspirasi mencari dan membeli, namun akibat keterbatasan ruang dan waktu, baru sedikit yang bisa Abu kumpulkan.

Jika kalian menganggap Abu sebagai yang tekun, memang iya. Sedari Madrasah Ibtidaiyah, SMP Abu memang hantu pustaka, jam istirahat nge-PAM disana. Tapi masa-masa itu (SMA) adalah masa-masa kegemilangan Abu membaca. Semua itu ada asbabul nuzul, asal mula kejadian. Jadi begini (sedikit malu menceritakannya), waktu itu Abu “menembak” seorang adik kelas, dan ditolak (itu sih biasa, namanya juga lelaki), tapi celakanya dia melakukan di depan orang banyak, kalau tidak salah sehabis upacara, mungkin sekitar 500-an orang yang melihat (akh, lebay). Bisa dibayangkan betapa malunya Abu, seorang tampan dan terpelajar seperti Abu ini “dinistakan” reputasinya di depan orang banyak, bahkan ada yang menciptakan lagu tentang kejadian itu (Anda bisa bayangkan betapa kreatifnya pemuda zaman itu, terutama untuk mengejek). Dengan penuh malu, dan tak tahu sembunyikan wajah dimana. Abu mengasingkan diri (semoga istri tercinta tidak membaca tulisan ini, dan jika ia membaca, ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lembutkanlah hati istri hamba, yang paling cantik jelita di dunia itu, kepada suaminya yang penuh khilaf ini). Tabiat manusia, apabila dia terdesak, maka akan kembali kepada jatidirinya. Syukur, Allah SWT menggariskan Abu sebagai pembaca dan kutu buku saja. Ok skip that story.

Siang itu terik, Pak Yahya datang ke kelas. “Adakah siswa yang bernama Abu?” Abu mengacungkan jari gentar, beliau selain guru Bahasa Indonesia juga Wakil Kepala Sekolah, terkenal kejam pada murid yang berandal. Abu takut, soalnya bersama Hatta setiap pulang sekolah di halte DAMRI kami kerap berbagi rokok Starmild (milik Hatta, sumpah!!!) Mati aku! Sepertinya ketahuan, padahal Abu kalau merokok sepulang sekolah kerap merondok di belakang halte supaya tidak ketahuan.

Abu ke pintu kelas menghadap beliau, “besok kamu tidak usah masuk sekolah.” Katanya.

Apa kata Ayah-Mama, anaknya memalukan, pikir Abu ketakutan dan keringat dingin. “Kamu besok jam 9 langsung ke Taman Budaya mewakili SMU Negeri 3 ikut Bengkel Sastra.” Sambung Pak Yahya.

Hati Abu sejuk sekali, tenyata bukan kejadian kemarin di halte. Tapi binatang apa itu Bengkel Sastra? Dan mengapa Abu yang hina dina ini yang mewakili SMU Negeri 3 Banda Aceh? (Kelak di hari terakhir Bengkel Sastra, Pak Yahya menjelaskan mengapa Abu terpilih).

Besok harinya Abu ke Taman Budaya, dengan meminjam kemeja terbaik punya almarhum ayah (waktu itu Abu belum punya kemeja yang bagus). I love you ayah. Di Bengkel Sastra kami disambut oleh Maskirbi (Abu masih ingat topi seniman ala Tino Sidin-nya), hari pertama kami membahas puisi, cukup banyak yang dibahas, termasuk puisi Maskirbi, tapi Abu paling ingat puisi Fikar W. Eda yang berjudul, Rencong.

Siapa saja yang datang / kami sambut dengan tarian / dan syair perjamuan / peranda kemuliaan / siapa saja yang datang / kami kalungi bunga / salam sepuluh jari / menjadi sebelas dengan kepala / siapa saja yang datang / kami hadiahi gelar / sebagai saudara / dan penghormatan / berbilah-bilah rencong / dengan sarung dan tangkai mengkilap / tak lupa kami selipkan / pertanda martabat / dan keagungan / betapa pedih hati kami / dari Jakarta / kalian hujamkan mata rencong itu / tepat di jantung kami / Fikar W. Eda Jakarta 1998.

Waktu itu Aceh sedang masa konflik, ada rasa tidak puas kepada pemerintah Jakarta. Abu juga tidak puas, dua minggu sebelumnya Abu naik motor  Astrea Grand 1993, keluar halaman sekolah bersama sahabat setia Rahmat Saleh, belum memakai helm. Ada brimob berjaga di depan pintu pagar sekolah, Abu dipanggil, lalu kepala Abu dipukul. Sakitnya tak seberapa, tapi harga diri Abu terkoyak-koyak. Memang sih salah Abu, tapi tidak segitunya kali. Abu kan hanya pelajar, kok main pukul. Rasanya mau menangis, kalau saja tidak ramai kawan sekolah melihat. Abu benci sekali, waktu itu. Jadi puisi itu masuk sekali ke dalam jiwa Abu.

Maskirbi adalah seniman sederhana, ia kelahiran Tapanuli Utara dengan nama asli Mazhar. Lelaki bertopi ala Tino Sidin ini selain menulis puisi juga drama, Abu terkagum-kagum dengan beliau, idealismenya, kecintaannya kepada kebenaran membuat Abu tertarik. Tahun 2010 Abu mengetahui bahwa beliau meninggal akibat tragedi tsunami tahun 2004, waktu itu Abu sudah lulus STAN dan bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe. Abu menangis, beliau orang baik. Semoga Allah SWT menerima segala ibadah beliau, dan mengampuni segala dosa-dosa beliau.

Pada hari pertama Maskirbi menjadi pemateri tunggal, tapi ada yang aneh. Sekolah lain mengirimkan dua wakil, SMU Negeri 3 cuma satu. Pak Yahya kesusahan, memanggil Abu dan berbisik, “besok kamu ajak teman satu lagi.”

Abu mengangguk, lagian sendirian itu tidak enak seperti The Lone Rangers. Maka sorenya, Abu menelpon (era telepon rumahan, belum era Handphone) Aulia. Besok ke Taman Budaya ya.

Hari kedua, membahas cerpen. Pematerinya masih muda bang Azahari, kelahiran 1981 waktu itu 19 tahun. Abu rasa dia murid Maskirbi, karena dari yang Abu lihat dia sangat menghormati Maskirbi yang mendampingi, ia melihat Maskirbi dengan tatapan seorang murid yang kagum dengan gurunya.

Beruntung Abu mengajak Aulia adalah dia seorang yang supel, mudah bergaul. Jika kalian mengenal Abu sekarang, mungkin tak percaya bahwa Abu sulit bergaul dengan orang-orang baru. Tapi dulu, Abu begitu orangnya. Hari pertama Abu habiskan dengan mencatat dan mendengar, di hari kedua si Aulia dengan cepat berkenalan dengan kontigen sekolah lain seperti SMU Modal Bangsa, SMU Negeri 1 Banda Aceh, SMU Negeri 5 Banda Aceh. Karena kedekatan kultural, kami (Aulia sebenarnya sih) lebih dekat ke siswa SMU Negeri 1 yang kalau tidak salah diwakili oleh Indah Ria dan Cut Dira Miralda.

Kami minta oleh bang Azahari membuat cerpen dengan tema Merdeka. Temanya tentang sorang anak yang diminta mendeklamasikan puisi kemerdekaan Republik Indonesia, pada upacara 17 Agustus. Ia meminta diajarkan oleh ayahnya yang kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia, pada malam hari. Malangnya, ketika dia dan ayahnya belajar mendeklamasikan puisi merdeka tersebut, ada cuak (mata-mata) yang melaporkan bapak si anak ke pos TNI terdekat, dan menuduh sang ayah terlibat GAM (Gerakan Aceh Merdeka), esok harinya sang ayah dijemput TNI dan tak pernah kembali. Di masa-masa konflik banyak terjadi korban salah tangkap akibat cuak tersebut, mereka atas dasar kepentingan pribadi, misalnya harta menfitnah sesorang terlibat GAM, padahal tidak.

Orang yang banyak membaca hanya punya satu keunggulan dari mereka yang tidak membaca, mengetahui informasi terlebih dahulu. Selebihnya tidak ada keunggulan apa-apa. Abu mengumpulkan cerpen dengan penuh percaya diri, pasti nilainya bagus. Lha, banyak membaca. Ternyata tidak, ketika hasil dibagikan Abu masuk papan bawah. Aulia mendapat nilai lebih bagus, bahkan Indah dan Cut Dira yang “sedikit” Abu sepelekan malah mendapat nilai lebih banyak. Cerpen tersebut, yang Abu tulis di kertas folio masih Abu simpan sampai sekarang, penuh coretan bang Azahari. Kata dia, kesalahan paling mendasar Abu di cerpen tersebut adalah tidak memuat motif penangkapan ayah anak tersebut.

Abu belajar dari situ, jangan pernah menyepelekan orang lain. Tokh, belum tentu pengetahuan yang kita baca membuat lebih unggul daripada orang lain. Jangan lupa Nabi Muhammad SAW manusia terjenius yang pernah dilahirkan di muka bumi adalah seorang ummi (tidak bisa baca tulis).

Mei tahun 2014, Abu pernah berjumpa bang Azahari. Ia aktif di komunitas Tikar Pandan, yang baru pindah dari Ulee Kareng ke lorong Tgk Menara VIII Dusun Melati Geuceu Garot, sebelah lorong Abu yaitu lorong Tgk Menara VII. Menjelang menikah Abu rajin jogging keliling komplek, Komunitas Tikar Pandan memiliki toko buku Dokarim (sekarang sudah tutup). Abu mampir, melihat dan membeli beberapa buku. Kebetulan bang Azahari ada disitu, dia tidak mengingat Abu lagi. Wajar sih waktu SMA Abu kerempeng, setelah kerja sedikit “montok”. Tapi Abu ingat dia, walaupun waktu itu ia (mungkin sudah sekitar) 33 tahun, seorang guru boleh lupa murid, tapi murid wajib mengingat guru, bukan begitu?

Hari ketiga tentang musikalisasi puisi, Abu kurang paham musik (sampai sekarang) jadi hanya sebagai pemukul rebana. Hari keempat drama, waktu disuruh membuat drama tentang penindasan (Abu pikir ini karena Maskirbi bergaul erat dengan W.S Rendra, ia terpengaruh oleh tema-tema yang dibawakan pujangga yang dijuluki sang merak tersebut), Abu diminta kawan-kawan jadi penulis naskah drama, harusnya tragis tapi jadinya malah komedi. Lebih-lebih Abu yang berperan sebagai penguasa bengis yang mencangkuli masyarakat (diperankan Aulia) tidak bisa memasang wajah garang, malah batuk-batuk menahan tawa. Aulia sebagai korban pun jadi cekikikan, akhirnya drama kami kacau balau. Semua pemeran ketawa-ketiwi, penonton dan juri juga. Apalagi Pak Yahya sampai memegang-megang perut. Selesai pentas beliau berbisik, “gata lucu that” (kamu lucu sekali).

Akhirnya Bengkel Sastra selesai, kami mendapat sertifikat dan sebuah amplop. Abu mendapat Rp. 50.000,- yang langsung Abu beli buku pelajaran. Pak Yahya sangat bangga dengan Abu dan Aulia, di mata beliau kami sangat memuaskan, dan Bengkel Sastra tersebut ternyata tidak merangking pesertanya, Alhamdulillah.

Abu tidak tahu apakah sekarang kegiatan seperti bengkel sastra itu masih ada atau tidak. Tapi menurut pemikiran Abu kegiatan itu sangat baik. Untuk memicu kecintaan anak-anak sekolah terhadap sastra, kelak selepas dari situ Abu beberapa kali mengirimkan puisi ke harian Serambi Indonesia (Koran beroplah terbesar di Aceh), dua kali dimuat. Jangankan Abu, guru-guru, teman-teman sekelas, ayah-mama, tetangga, sampai saudara di kampung bangga semua. Dan memang akhirnya hanya itu karir Abu sebagai penyair, dimuat dua kali 2000 dan 2001.

Memang Abu kerap menulis diblog, namun Abu cukup tahu diri mengaku amatir. Mungkin diantara kami, Abu (Pajak), Aulia (Kejaksaan), Indah (Kalau tidak salah dokter), Cut Dira (Abu tidak tahu) dan teman-teman lain yang mengikuti belum ada yang mengikuti jejak (alm) Maskirbi atau bang Azahari sebagai sastrawan. Namun paling tidak, terutama Abu sendiri selalu menyediakan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Bukankah karya sastra itu disamping pencipta juga harus memiliki penikmat. Maka, disitulah Abu mengambil posisi.

Sebagai pembaca budiman, Abu punya satu kisah membanggakan. Menjelang lulus SMA, pertengahan 2002 Abu dipanggil menghadap ibu pustaka. Ia minta Abu diwawancarai oleh guru-guru PPL di depan perpustakaan SMA Negeri 3, direkam dengan handycam (Tahun 2002 handycam itu langka saudara-saudara). Intinya, mengapa Abu bisa sangat gemar membaca, dan pesan-pesan kepada adik-adik kelas agar mereka memiliki minat baca. Sayang perpustakaan SMA Negeri 3 Banda Aceh sebagaimana banyak perpustakaan di Aceh hancur akibat tsunami. Jika saja rekaman itu selamat, betapa Abu sangat ingin mendengar jawaban-jawaban culun Abu waktu itu. Ketika berbalik ke kelas, sayup-sayup Abu mendengar kata-kata ibu pustaka (yang sayang Abu lupa namanya) berkata kepada guru-guru PPL, “sampai dua puluh tahun ke depan, saya ragu akan menemukan murid seperti dia lagi.”

Jika Abu berhadapan dengan siapapun tidak pernah merasa inferior, bahkan (mungkin) kepercayaan diri berlebihan (istri sering mengatakan, abang lebay) itu karena Abu mengingat kata-kata ibu pustaka tersebut.

Pak Yahya sendiri sudah meninggal dunia, Abu mendapat kabar beliau menjadi kepala Sekolah SMA Negeri 8 Banda Aceh dan kemudian meninggal dunia. Waktu itu Abu juga sedang bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe dan tidak bisa menghadiri takziah. Abu hanya dapat mengirimkan doa kepada beliau. Semoga Allah SWT menerima segala ibadah beliau, dan mengampuni segala dosa-dosa beliau.

Pada kesempatan ini Abu ingin mengucapkan terima kasih kepada (alm) Pak Yahya, (alm) Maskirbi dan Bang Azahari yang telah memberikan momen-momen tak terlupakan pada Bengkel Sastra, apa yang pernah Abu ikuti bersama orang-orang terhormat tersebut begitu membekas, sebuah kejadian yang hanya berlangsung sekejap namun memberi pengaruh selamanya. Terima Kasih.

Banyak-banyaklah membaca buku, karena buku adalah jendela dunia. Dan ikatlah ilmu dengan menulis.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s