KESUCIAN

Ada keajaiban dari mencoba, entah bagaimana ceritanya suasana di kelas berjalan lancar.

Ada keajaiban dari mencoba, entah bagaimana ceritanya suasana di kelas berjalan lancar.

Menjawab, kebanyakan tidak ada hubungannya dengan bakat. Ia, biasanya terkait dengan pengetahuan. Memecahkan persoalan memang membutuhkan kepandaian, namun membuat “pertanyaan” adalah bakat yang paling penting. Pertanyaan yang bagus bisa dipecahkan dengan berbagai macam cara.

Abu merasa sebal. Hari itu betul-betul sial, dari awal terlambat bangun, bermotor ke kantor kehujanan, ketinggalan rombongan menuju sekolah. Dan daun-daun yang telah digunting istri untuk pohon harapan (bahan mengajar) pada malam hari jatuh entah dimana. Abu tampak seperti seekor burung yang kusut ke SDIT Al-Azhar tempat menjadi relawan Kementerian Keuangan Mengajar 2016. Terlambat, menyaksikan pembukaan acara di halaman sekolah. Untunglah, koordinator melihat Abu dari kejauhan dan memanggil, sehingga bergabung dengan seluruh relawan lain di depan.

Sehari sebelumnya, yang lebih cerah tentunya. AC Milan menggasak Juventus 1-0. Setelah 9 partai berurutan sejak 2012 selalu kalah. Abu tersenyum mengenang Manuel Locatelli menjebol gawang Gianlugi Buffon, memegang mic dan memperkenalkan diri di lapangan. “Adik-adik tahu Italia? Perkenalkan saya….” Hujan rintik-rintik, dan suasana mencair.

Tidak semua pengetahuan yang kita miliki menolong disaat dibutuhkan, diperlukan kearifan mengambil hikmah dari setiap ketidaktahuan guna memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik, dan “memungut” hikmah itu diperlukan kerendahan hati, bukankah sebuah gelas yang belum terisi penuh lebih mudah diisi tanpa harus tumpah, untuk itu kita selaku manusia harus berusaha memperbesar wadah jiwa kita.

Setelah seremonial di lapangan selesai, kami para relawan dipersilahkan masuk ke kelas untuk mengajar. Masalahnya adalah sehebat apapun Abu bercerita di warung kopi, sekuat apapun Abu berargumen di kantin. Abu belum pernah mengajar sekalipun! (Dengan mengecualikan beberapa kali menjadi guru bantu TPA yang tentunya sudah memiliki kurikulum yang jelas).

Sulit menjelaskan Kementerian Keuangan, khususan Direktorat Jenderal Pajak pada murid-murid SD kelas 3. Metode apa yang harus digunakan? Ada jurang yang besar antara beratnya materi (perpajakan) dengan pengetahuan pendengar. Seseorang datang ke sebuah kelas, katakanlah untuk mengajar, tanpa pengalaman. Abu gentar, berangin dan gugup.

Ada keajaiban dari mencoba, entah bagaimana ceritanya suasana di kelas berjalan lancar. “Di mana kita membayar pajak?” dijawab, “di Tax Amnesty.” Pertanyaan-pertanyaan mereka yang sederhana terasa menggelitik, “dimana abang tinggal?” Ketika dijawab di Banda Aceh, mereka malah kecewa. “Alah, kirain di Jakarta.”

Abu berpikir terlalu muluk jika harus mengajarkan sesuatu yang rumit kepada mereka, selebihnya Abu bergembira saja, bukankah perilaku positif secara mental akan menciptakan banyak keajaiban melebihi segala ramuan ajaib. Sesi mengajar 1, 2 dan 3 akhirnya bisa Abu lewati.

Kemenkeu Mengajar, melalui gerakan ini,  para relawan yang merupakan pegawai aktif Kemenkeu akan memperkenalkan peran Kemenkeu, berbagai profesi yang ada di dalamnya, dan bagaimana negeri ini mengelola perekonomian. Selain itu, dalam kegiatan ini, para relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dimiliki oleh Kemenkeu di hadapan siswa-siswi SD di enam kota (Jakarta, Banda Aceh, Denpasar, Balikpapan, Makassar dan Sorong) tersebut.

Mengusung semangat kesukarelaan, panitia tidak memungut biaya apapun dari pihak sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga bersifat non-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini berarti, setiap biaya yang ditimbulkan dari penyelenggaraan kegiatan ini, sama sekali tidak dibebankan pada APBN. Pun demikian dengan setiap pegawai yang menjadi relawan Kemenkeu Mengajar, tidak akan mendapatkan pembayaran apapun, baik dalam bentuk honorarium maupun Surat Perjalanan Dinas (SPD).

Gerakan ini diharapkan mampu menularkan semangat kerelawanan para pegawai Kemenkeu dalam berkontribusi terhadap negeri. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mengajarkan nilai-nilai kebaikan, serta memberi semangat pada generasi penerus bangsa agar lebih mencintai negeri, sehingga kelak dapat turut berperan dalam mendukung pembangunan.

Begitulah menurut versi resmi yang dirilis oleh Kementerian Keuangan. Sedangkan menurut Abu, justru kami para pegawai yang bekerja di Kementerian Keuangan yang belajar dari semangat anak-anak SD dari seluruh Indonesia. Belajar menyukai pagi dengan gerimis atau sinar matahari, ada sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek.

Anak dan masa kanak-kanak menjadi nostalgia diri sekaligus menjadi potret perbandingan masa kini. Pada masa itulah, segala laku, rasa dan asa menjadi kisah yang berwarna-warni. Imajinasi kanak-kanak menjadi deskripsi yang selalu bertautan dengan sosial kultural sekaligus kehidupan. Mengingatkan kita, selaku manusia yang tampaknya tiba-tiba menjadi dewasa, dalam segala hal, dibandingkan orang-orang yang dulu ada di masa lampau. Dimana kita memiliki hati yang muda.

Hormat dan tabik kepada pendidikan Indonesia.

Hormat dan tabik kepada pendidikan Indonesia.

Anak-anak identik dengan kesucian, mengingatkan kita selaku pegawai kementerian keuangan, atau profesi apapun tentang ketulusan niat. Bahwa kita berjuang untuk negeri ini, untuk mereka masa depan bangsa kita. Anak-anak ini melalui kepolosan mereka, merasuk kedalam sanubari yang mudah-mudahan tak akan lekang. Mengajarkan hikmah yaitu mencintai kebijaksanaan dan kebenaran yang bisa datang dari siapapun. Abu pulang ke kantor dengan semangat dan jiwa yang baru. Hormat dan tabik kepada dunia pendidikan Indonesia.

Semua orang dewasa dulu juga anak-anak, tapi hanya sedikit yang ingat itu.

NB : Jika akhirnya sebelum tulisan ini dikeluarkan, Milan dibantai Genoa 0-3. Ya, sudahlah.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to KESUCIAN

  1. Jon Slow says:

    Wah keren bgt abu ngajar nya.
    #ForzaJuve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s