SETELAH REVOLUSI SELESAI

“Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua!” Otto Syamsuddin Ishak.

X

Saat masih muda, aku merasa berbeda. Aku mencari kebijaksanaan. Merasakan hubungan dengan jiwa-jiwa yang ingin aku lindungi. Dalam perjalanan, aku bertemu orang-orang kuat dan mulia. Kajian-kajian dalam ruang kelas berdebu, menumpang baca di perpustakaan orang besar. Keluar masuk hutan demi cita yang tak pasti, kelaparan dan digigit nyamuk bersama orang-orang yang sebagian besar telah tiada.

Itu belasan tahun yang lalu, sekarang lihatlah aku, bersiborok dengan segelas kopi disebuah warung. Sendirian mencoba mengenang masa-masa itu. Dalam pandangan 360 derajat, dalam sebuah ruang bersama para gamer, penyedot wifi gratis sampai para kontraktor yang masih meriuhkan proyek-proyek ekonomi. Tak habis-habis membicarakan harapan-harapan akan Gold, Gospel dan Glory.

Dan beberapa tahun yang lalu betapa aku terpana menyaksikan sejauh mata memandang, warung kopi berderet tak putus-putus. Kehadirannya disambut dengan gembira itu pertanda bahwa konflik telah selesai tak lama setelah tsunami melanda Aceh. Kami siap memasuki era modern.

Kalau ada kriteria dentitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu, dapat kupastikan kota kami masuk rekor dunia. Pun jika ada penghitungan jumlah orang ke warung kopi perhari pemenangnya pastilah laki-laki yang tinggal di kota ini. Saban pagi, segerombolan pria, seperti migrasi di padang masyar, dari wilayah sekitar, berbondong-bondong ke warung demi segelas kopi. Lalu, mereka bekerja. Siang hari selepas makan siang dengan sambal daun ubi sekalipun mereka meneguk segelas kopi. Sore mereka kembali ke warung, dan pulang lagi. Adakalanya malam hari, pukul 10 setelah istri dan anak-anak tidur, mereka ke warung lagi. Semuanya demi segelas kopi.

Setelah revolusi selesai, warung kopi adalah sejenis surga yang ada di bumi.

Setelah revolusi selesai, warung kopi adalah sejenis surga yang ada di bumi.

Kopi adalah minuman ajaib, setidaknya bagi lidah Aceh (dan atau yang terpengaruh), karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Rumor beredar dikalangan para istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah, padahal bubuk kopinya sama dengan di warung adalah terbukti valid. Bagaikan status quo alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak di warung kopi.

Semakin dalam aku berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib temuan-temuanku. Kopi bagi orang Aceh tak sekedar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih pelan-pelan menguapkan rahasia nasib.

Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya, hidup mereka penuh dengan kekecewaan. Pemimpin yang mereka puja terus menambah istri dua, tiga, empat dan lima sedang mereka betul-betul berharap janji sang pemimpin menyantuni mereka satu juta perbulan setelah kemenangan telah diingkari. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap berusaha, berharap dan berdoa. Mereka, grup fatalis.

Mereka yang takaran gula, kopi, dan susunya proporsional umumnya adalah pekerja kantoran yang bekerja rutin dan berirama hidup itu-itu saja. Kelompok ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyaman di dalam zona nyaman. Proporsi gula, kopi dan susu mencerminkan kepribadian mereka yang sungkan mengambil resiko. Tanpa mereka sadari, kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik, menelikung mereka. Kaum ini disebut dengan kelompok qana’ah.

Ada pula kaum yang berciri kopi kental, tapi ditambah gula setengah sendok teh saja. Orang-orang ini merupakan pegawai yang ahli dibidangnya, bermain proyek kecil-kecilan seperti pengadaan ATK, baterai jam. Pemborong dan kontraktor juga masuk dalam kaum ini, mereka ambisius dalam mengejar proyek-proyek pemerintah. Takaran kopi semacam itu membuat mereka merasakan pahit diujung lidah, namun terbersit sedikit manis diujung lidah. Mereka merasa sexy dengan tekad naik kelas, atau sudah naik kelas. Bagi mereka golongan pendaki, ekonomi itu ambisi!

Mereka yang minum kopi dan hanya minta sedikit gula, lalu setelah diberi gula, mengatakan terlalu manis atau kurang manis, merupakan orang-orang yang gampang menghasut sekaligus terhasut. Merekalah pengacau yang sering membaca berita hoax di internet, lalu kemudian menyebarkan tanpa memikirkan akibatnya di media sosial. Mereka adalah kaum yang plin-plan, lucunya mereka semua seragam memiliki emosi tinggi, mudah marah tak jelas. Suka membawakan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dipenggal isi, maksud dan artinya, tapi ketika disuruh membaca tafsir atau tabayyun suka merenggut. Setelah revolusi selesai, merekalah perusak tatanan masyarakat, tapi merasa diri pahlawan. Iya, mereka termasuk kelompok pahlawan kesiangan.

Mereka yang memerlukan susu lebih banyak umumnya bermasalah dalam kehidupan sosial. Beberapa adalah penyedot wifi yang tekun, atau gamer online yang tenang. Dalam keadaan yang ekstrem, ada yang berteriak-teriak seraya bermain counter srike, call of duty. Tapi yang paling menyebalkan adalah makhluk dengan headset dikepala berkaroke ria melalui laptop, ia merasa penguasa dunia, sayangnya lagunya selalu bertemakan patah hati. Kelompok ini tak peduli meski seluruh warung mempelototi mereka. Mereka di sebut kelompok polusi darat, air dan udara.

Mereka yang minum air panas dan susu saja, tanpa gula dan kopi adalah orang-orang yang melamun di warung kopi. Merokok tak putus-putus paling kurang dari dua bungkus dengan rasa yang berbeda. Tak tahu apa yang berkecamuk di dalam kepala mereka. Mereka termasuk golongan langka, aneh dan terpencil. Makanya disebut kelompok sufi gila.

Yang cukup kopi saja, tanpa air, gula dan susu adalah luwak. Adapun mereka yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-yia hidup ini.

Setelah revolusi selesai, warung kopi adalah sejenis surga yang ada di bumi. Duduk disini adalah cara kami melupakan hutan-hutan telah ditebang dengan alibi perkebunan karet. Cagar alam beralih fungsi menjadi kotak-kotak perkebunan sawit. Atau semakin beratnya harga SPP (TK, SD, SMP, SMA, Sarjana) melambung tinggi, bahkan untuk menafikan seliweran mobil fortuner bolak balik ke Medan oleh segelintir elit nan pelit, foya-foya disana.

Revolusi telah selesai, damai telah terkembang. Tengku telah tiada, kami rindu kepadamu yang pernah bepesan, “Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan adalah salah satu pusaka dari leluhur yang akan kita pulangkan kepada anak cucu di masa yang akan datang”. Tapi tak dipedulikan oleh begundal-begundal yang mengaku penerusmu.

Iya, mereka juga adalah (mungkin) saudara-saudara, sahabat-sahabat dan pemimpin kami, tapi mereka tak seperti Tengku. Mereka serakah dan lalai dengan sejarah sendiri, dan sibuk mengeruk koin-koin dari aspal, jembatan sampai ATK negeri ini. Tak ada lagi yang rela mengorbankan segalanya bagi kami, cinta penuh seluruh tlah bersalin keserakahan.

Di warung kopi, lewat tengah malam, segelas kopi yang nyaris kosong. Bersama derai-derai angin bulan Oktober, betapa aku mengingat engkau laksana mutiara, yang lahir di tengah-tengah sahara, tak terulang.

NB : Oh ya Tengku, simbol dua singa berdiri milikmu tak pernah terlihat lagi, dengar-dengar sekarang sudah berganti dengan dua babi yang sedang makan taik sendiri.

X

Tak ada berkah lebih besar yang dimiliki sebuah kota, daripada seorang Raja yang rela korbankan nyawa demi rakyatnya  -Warcratf-

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s