ELAN

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kalau kami bicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Jakarta 18 Februari 1950, Surat Kepercayaan Gelanggang.

X

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

Kekuatan apakah yang menginjeksi gerakan dinamis ke dalam sebuah kosmos yang beku. Kesatuan yang tak terpisahkan dari makhluk yang murni harus dibagi ke dalam beragam kategori berbeda sebelum menjadi kehidupan, dimulai dari pembedaan antara prinsip kehidupan (species) wanita yang pasif dan elemen energi aktif jantan.

Gagasan bahwa terdapat interaksi diakletis dari hal-hal yang bertentangan yang menghasilkan gerak progresif dalam banyak zaman dan masyarakat merupakan sebuah kunci untuk memahami penciptaan dan proses pertumbuhan segala makhluk hidup, terjadi perbenturan/percampuran sebelum menghasilkan sesuatu yang baru. Di Yunani kuno kekuatan-kekuatan tersebut diidentifikasikan sebagai cinta dan benci, Di Cina sebagai Yin dan Yang, dalam peradaban Barat modern disebut Tesis dan Antithesis.

Arnold Toynbe dalam A Study of History menyebutkan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu contoh peradaban satelit yang awalnya dipengaruhi oleh India, kemudian Indonesia dan Malaya (Malaysia) mengikuti peradaban Islam sampai di zaman penjajahan di pengaruhi peradaban Barat.

Dalam hal ini Indonesia setiap dipengaruhi oleh peradaban lain, ia tetap membawa nilai-nilai dari peradaban yang sebelumnya, bahkan peradaban awal yaitu dinamisme dan animisme. Dari segala kawin silang antar kebudayaan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang unik di dunia.

Jika hari ini kita melihat negeri ini dengan segala perbenturan yang memanas antar kebudayaan yang masih berakar di Indonesia, ada baiknya kita melihat ke belakang. Bahwa sesungguhnya di tahun 1930-an pernah terjadi polemik di kalangan cendekiawan Indonesia. Polemik ini bermula dari tulisan Sutan Takdir Alisjahbana “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru : Indonesia-Pra-Indonesia” (Majalah Pujangga Baru, 2 Agustus 1935). Ia membedakan “zaman pra-Indonesia” yang berlangsung sampai akhir abad ke-19 dan “zaman Indonesia” yang mulai pada awal abad ke-20. Ia menegaskan bahwa tentang lahirnya zaman Indonesia baru, yang bukan sekali-kali sambungan dari genarasi Mataram, Minangkabau atau Melayu. Karenanya tibalah waktunya mengarahkan mata kearah Barat.

Tulisan ini mendapat tanggapan dari Sanusi Pane dan Poerbatjaraka dalam tulisannya yang berjudul Persatuan Indonesia (Suara Umum, 4 September 1935), Sanusi Pane menulis. “Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dan Arjuna, memesrakan materialism, intelektualisme, individualisme dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme.” Dalam tulisannya yang berjudul “Sambungan Zaman”, Poerbatjaraka mengatakan, “Pada perasaan saya, yang menfaat buat tanah dan bangsa kita ini, ialah mengetahui jalan sejarah dari dulu-dulu sampai sekarang ini. Dengan pengetahuan ini kita seboleh-bolehnya berusahakan mengatur hari yang akan datang. Dengan pendek kata, janganlah mabuk kebudayaan kuno tetapi jangan mabuk kebaratan juga, ketahuilah dua-duanya itu supaya kelak bisa memakainya dengan selamat di dalam hari yang akan datang kelak”

Selanjutnya, terjadi polemik mengenai dunia pendidikan yang melibatkan sejumlah besar tokoh lain seperti Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amin dan Ki Hajar Dewantara. Tulisan mereka inilah yang kemudian dihimpun Achdiat K. Mihardja dalam buku Polemik Kebudayaan yang terbit tahun 1948.

Sayangnya, di Indonesia setelah polemik kebudayaan tersebut sangat jarang terjadi perdebatan yang bermutu. Bahkan jika diukur sudah lebih delapan puluh tahun sejak saat itu, Indonesia telah berpolemik dalam kesusastraan, bahasa dan politik dengan cara tidak seelok di tahun 1930, dimana roda kekuasaan silih berganti berpihak pada mahzab kanan dan kiri dan muncul berbagai kelompok, dan altenatif yang menjadi kebisingan dalam ranah relasi hegemoni kekuasaan.

Sebuah peradaban yang berhasil adalah peradaban yang mampu mengatasi hambatan terberatnya, namun akankah kita bisa berubah menjadi sebuah kekuatan? Belum tentu, karena ada cukup banyak peradaban yang punah dari muka bumi ini. Mesopotamia, Assyria, Mesir Kuno, Aztec, Maya antara lain adalah contoh yang nyata.

Kita berharap, bahwa sebagai manusia, bangsa maupun peradaban kita memiliki elan pertumbuhan. Apakah itu? sebagaimana kita tahu kelahiran adalah sebuah aksi tunggal. Pergerakan dan respon menjadi rangkaian upaya mandiri berkelanjutan. Jika setiap respon bisa membangkitkan ketidakseimbangan menuntut penyesuain kreatif yang baru. Semangat dan gairah (elan) mengajak manusia berkembang terus-menerus.

X

Semangat itu pernah ditulis oleh Chairil Anwar di tahun 1945. Hoppla!! Dunia-terlebih-kita-yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan. Hopplaa! Melompatlah! Nyalakan api murni! Marilah kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna.

Pada April 1949, sang “Binatang Jalang” menyerah. Ia pergi meninggalkan banyak kesan. Orang ingat tubuhnya kurus, matanya merah, tapi senantiasa riang dan gelisah. Ia urakan, liar, petualang kumuh, tapi seorang intelektual yang memiliki passion bagi kemerdekaan bangsanya, bangsa yang hidup dalam menantang dan merespon setiap perubahan zaman.

X

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s