HOKI

Barang siapa yang meragukan adanya keajaiban, boleh belajar dari Portugal.

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

Tidak pernah menang di babak penyisihan grup, Portugal diuntungkan dengan penambahan peserta di Euro 2016 sehingga lolos ke babak perdelapan final. Jalan Portugal menuju final bagai tertatih, hebatnya setiap kali mereka hendak terjatuh mereka selalu dapat bangkit.

Menjelang Final Euro 2016, Perancis lebih diunggulkan untuk menjadi juara terutama setelah menyingkirkan Juara Piala Dunia 2014, Jerman secara meyakinkan di babak semifinal. Terlebih mereka berlaga di negera sendiri, di bawah tatapan langsung rakyat Perancis. Di atas kertas Portugal lebih lemah, tapi sepakbola itu ditentukan di lapangan hijau.

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Skuad Portugal sendiri tak semewah tahun 2004, dimana mereka menjadi tuan rumah dan masuk final. Luis Figo, Rui Costa, Deco dkk sudah pensiun.

Lisbon, 4 Juli 2004. Tuan rumah Portugal secara mengejutkan kalah (lagi) dari Yunani. Cristiano Ronaldo yang saat itu berumur 19 tahun tampil selama 90 menit penuh, di akhir pertandingan ia menangis, lebih dari sekedar terisak-isak. Waktu itu generasi emas Portugal gagal.

Paris, 10 Juli 2016. Ronaldo kembali ke final, ia telah menjadi laki-laki dewasa, dengan ban kapten. Ia adalah protagonis Portugal, bukan lagi sekedar pemain muda berbakat. Stade de France, menit 25. Ronaldo termangu, tatapan matanya kosong. Syahdu, orang ini tahu dirinya takkan bisa melanjutkan pertandingan. Ketika ia ditandu keluar, sepertinya nasib Portugal sudah habis.

Memento, Final Piala 1998  vs Brazil (Luiz Nazario “Ronaldo” De Lima tergeletak dihajar Fabian Barthez dan Laurent Blanc) dan Final Piala Eropa 2000 vs Italia (hidung Fransesco Toldo berdarah diterjang David Trezeguet) seolah bakal terulang. Jalan Perancis menjadi juara seolah sudah terbuka lebar. Tapi, rencana boleh menjadi konstanta, namun dalam realisasi ada faktor hoki. Dan itu tak terduga.

Gempuran demi gempuran terus dilancarkan Perancis, Pelatih Fernano Santos sampai terkulai di bangku cadangan. Waktu terus berjalan, 45 menit pertama Portugal masih bisa bertahan, 45 menit kedua Portugal masih bernyawa. 15 menit pertama, Portugal mulai melakukan serangan-serangan sporadis, dan menit ke 109 pemain penganti Eder membobol gawang Perancis yang dikawal Hugo Lloris melalui tendangan dari luar kotak penalti. Sampai Mark Clattenburg meniup pluit berakhirnya pertandingan tidak ada gol yang tercipta. Sahlah, Portugal menjadi juara Eropa 2016.

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Jika anda menyaksikan Euro 2016 sedari awal, pasti tahu betapa tebalnya hoki Portugal.

Kembali ke tahun 2004. Hari itu minggu pagi, 26 Desember. Martunis (7 tahun) berencana bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan sepakbola kampung. Ia bahkan sudah memakai kostum tim nasional Portugal bajakan (Nomor 10 Rui Costa) yang dibeli di pasar kota Banda Aceh. Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Ia bersama ibu, kakak laki-laki Nurul A’la (12 tahun), dan adiknya Annisa (2 tahun) berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pick up tetangganya.

Saat digulung tsunami, pick up pun tenggelam. Martunis, ibu dan dua saudaranya tenggelam. Ibu, kakak dan adiknya pun hilang terseret arus tsunami, berpisah selamanya. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung. Kemudian ia berpindah ke Kasur yang melintas, yang naas tenggelam. Lalu ia memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Ia terseret kembali arus ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Syiah Kuala. Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia ke awak televisi Inggris yang kebetulan sedang meliput di wilayah itu. Dalam sekejap wajah Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal, beredar di stasiun televisi Eropa.

Martunis dan Ronaldo

Martunis dan Ronaldo

Ia menarik simpati bintang top sepakbola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes,  Cristiano Ronaldo. Akhirnya Federasi Sepakbola Portugal mengundang secara resmi Martunis ke negaranya. Cristiano Ronaldo sendiri secara khusus datang ke Aceh, ia mengajak Martunis menyaksikan langsung laga pra-kualifikasi Piala Dunia 2006 Portugal vs Slowakia (2-0) 4 Juni 2005 di Estadio da Luz, Lisbon.

Tak berhenti sampai di situ, Cristiano Ronaldo pun menjadikan Martunis sebagai anak angkat. Kini Martunis bocah telah menjelma sebagi remaja, ia berada di akademi Sporting Lisbon, klub yang sempat dibela Ronaldo. Ketika Final Euro 2016 berlangsung, Martunis sendiri telah berada di Banda Aceh, dalam rangka liburan. Bertepatan dengan suasana Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah.

Ada kekuatan dalam memberi. Semakin banyak memberi maka semakin berlimpah rezeki yang dibalaskan Allah S.W.T. Kita bisa melihat pelukan Cristiano Ronaldo ke Martunis sebegitu tulus, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki. Cristiano Ronaldo memiliki kecenderungan simpati kepada mereka yang “teraniaya”, seperti yang ia tunjukkan kepada Martunis, kepada Palestina. Itu semua menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang lembut. Hati mereka yang pernah diabaikan, direnggut dan dikalahkan oleh dunia.

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Kembali ke final Euro 2016. Kisah malam itu, layaknya perjuangan Martunis untuk selamat dari tsunami. Bahwa hidup dan harapan layak dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ketika ditinggal Ronaldo, jagoan nomor 1 mereka, justru Portugal bermain sebagai sebuah kesatuan. Pragmatis dan tidak menghibur. Tertekan sepanjang pertandingan, bahkan harus menunggu hingga menit ke-80 untuk dapat melakukan shoot on target ke gawang Perancis. Ajaibnya, efektif berhasil menghadirkan trofi Internasional pertama bagi Portugal.

Hoki Portugal malam itu, mungkin karena doa Martunis.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s