MEMBAKAR BUKU MEMBUNUH INTELEKTUAL

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Hari itu, 10 Februari 1258. Hulagu Khan cucu Jenghis Khan, pimpinan sayap militer Kekaisaran Mongol, Ilkhanate dibantu oleh Kerajaan Georgia, dan Kepangeranan Antioch (Crusaders) merangsek masuk dalam ke kota Baghdad. Pasukan Kekhalifahan Abbasiyah yang hanya dibantu oleh Dinasti Ayubbiah telah hancur total. Kota itu sendiri dijarah dan dibakar, mayoritas penduduknya, termasuk keluarga Khalifah al-Musta’sim, dibantai habis. Bau busuk yang dari mayat-mayat yang tidak dikubur dan bergeletakkan di jalanan.

Perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, termasuk Bait al-Hikmah, tak luput dari serangan pasukan ilkhanate, yang menghancurkan perpustakaan, membakar dan membuang buku-bukunya yang berharga ke sungai Tigris. Sungai yang melintasi kota Baghdad itu berwarna merah darah bercampur hitam.

Invasi Mongol membuat pusat-pusat kebudayaan Islam Timur hampir disapu bersih. Yang tersisa adalah gurun-gurun telanjang atau puing-puing berantakan bekas istana kenegaraan dan perpustakaan. Masjid-masjid yang termasyur sebagai pusat ibadah dan pengetahuan, dijadikan kandang kuda oleh pasukan Mongol.

Ibn al-Atsir, yang menyaksikan, merasa ngeri dan berharap seandainya ibunya tak pernah melahirkannya untuk menyaksikan horor Mongol. Akibat dari penghancuran ini, Baghdad menjadi reruntuhan, penduduknya tersisa sedikit selama beberapa abad, seluruh buku-buku hasil intelektual berabad-abad lamanya, tak bersisa. Dan peristiwa ini oleh banyak peneliti disebut sebagai akhir zaman keemasan Islam.

Sejarah, adalah sekumpulan tulisan. Dalam hal ini saya meskipun berlinang air mata mengenang penghancuran Baghdad, saya mencoba tidak mendendam pada Mongol dan sekutunya. Akan tetapi sebagaimana buku-buku yang telah menjadi abu. Sebuah bangsa telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Oleh karena itu, sebagaimana saya meyakini tidak ada satu orang manusia layak untuk dibunuh, saya meyakini tak ada satu buku pun yang layak dibakar (dimusnahkan).

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Buku adalah tempat kita merawat ingatan. Dimana ada kitab-kitab yang dibakar, disana ada manusia yang dibungkam, gema dari yang tertindas dan tak diizinkan bersuara. Tak ada percakapan yang berlanjut dan tak harus mufakat. Menyisakan negeri berbau wangi, dan penuh suara fanatik.

Maka alangkah lucunya, ketika di negeri dengan minat baca yang sebegitu rendah, ada buku-buku yang dinyatakan terlarang. Harusnya kita menyadari bahwa kemampuan membaca itu sebuah rahmat, kegemaran membaca jika dimiliki anak-anak negeri adalah sebuah kebahagiaan. Membaca buku membawa dimensi lain, kita mengenal trauma dari mereka yang dicakar sejarah, dan tahu benar bagaimana menerima kedasyatan dan keterbatasan yang bernama manusia. Barangkali?

Oleh karena itu, saya selaku manusia menentang dengan sangat pemusnahan buku-buku apapun itu, entah kiri, kanan, depan atau belakang.

Saya tak pernah antipati terhadap buku kiri. Entahlah, mungkin karena saya sudah membaca buku-buku kiri sedari remaja. Seperti Das Capital dan tak mengerti isinya. Marx dan Engels terlalu kolektif, bahkan yang telah disederhanakan dalam bentuk komik sekalipun bagi saya seperti lelucon yang tragis. Ketidakpahaman saya sejalan dengan kebingungan saya bagaimana gerombolan komunis sebegitu tega terhadap seorang Tengku Amir hamzah dalam revolusi sosial Sumatera Timur tahun 1946. Sang Penyair yang sebegitu lembut itu tak pernah terbukti menyakiti orang lain itu disiksa kemudian dibunuh di kawasan Kuala Begumit oleh  mandor Lyang Wijaya yang tak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Kita kehilangan seorang penyair yang belum memiliki banding sampai sekarang, Ia dengan berani menghadapi ajal dengan mata terbuka setelah meminta waktu untuk shalat sebelum hukuman tembak dijatuhkan. Pahlawan itu direnggut paksa dari negeri ini, ketika Republik ini masih balita. Tapi, meskipun begitu saya juga tak menyetujui ketika kaum komunis dilenyapkan bagai cacing tanah di tahun enam puluhan.

Orang boleh bilang betapa hebatnya, Pramoedya Ananta Toer, tapi saya merasa bosan dengan bukunya Manusia Bumi. Saya mengakhiri membaca di bab dua. Bingung dengan kemarahan tak tentu arah pak tua tersebut.

Ia dan Lekra ketika diatas angin mempromosikan kemajuan sosial dan mencerminkan realitas sosial, bukan mengeksplorasi jiwa manusia dan emosi. Mereka menyerang Hamka, H.B Jassin, anggota Manifes Kebudayaan yang tidak sejalan dengan Manipol. Sikap vokal Lekra terhadap penulis berhaluan non-kiri, mirip dengan mencemarkan nama baik orang lain yang menyebabkan permusuhan abadi antara penulis kiri dan kanan.

Tapi saya juga merasa, tak layak buku-buku Pramodya Ananta Toer dilarang, ada dimensi dalam tulisannya yang tak saya pahami, tapi saya tak benci. Karena kebencian terhadap sesuatu hal yang ganjil, berbeda adalah gejala awal tirani.

Akan tetapi, saya mengakui ada satu buku kiri yang “menganggu” pikiran. Adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) buah karya Tan Malaka. Saya harus mengakui ini adalah buah kejeniusan seorang anak manusia, yang terlunta-lunta dan penuh penderitaan demi negeri yang ia cintai, Indonesia. Ia yang tak berpustaka, bukunya cerai berai dalam pelarian di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia, Singapura dan Indonesia mampu menyusun sebuah buku dalam bentuk dari paham yang bertahun-tahun dalam pikirannya, dalam sebuah kehidupan yang bergelora. Ditafsirkan dengan mekanis dan empiris.

Ia memiliki prakarsa menggabungkan kekuatan Komunisme Internasional dengan Pan Islamisme, dan keluar dari garis partai. Meski pun begitu saya meyakini dia adalah seorang komunis tulen ketika menulis buku itu, Ia mengakui mengagumi Nabi Muhammad S.A.W tapi di satu sisi ia menggugat tuhan dan api neraka. Dalam bab VI Logika, halaman 245 Tan Malaka menulis, “Kalau satu detik saja, satu manusia DIA biarkan dimakan api neraka yang Maha Panas itu, Tuhan tidak lagi Maha Kasih. Jangankan lagi kalau sekiranya Dia membiarkan juta-jutaan manusia dibakar yang berabad-abad!”

Saya tak merasa buku Tan Malaka tersebut itu layak dilarang, setiap anak-anak muslim yang membaca kutipan tersebut memiliki hak menantang Tan Malaka, berdasarkan apa yang di dapat dari kehidupan, orang tua, para Tengku dan guru-guru agama. Saya berempati pada penderitaan Tan, mengagumi semangat, kejeniusannya tapi tak ragu melawannya dalam pertempuran pemikiran satu lawan satu. Begitupun yang saya harapkan dari anak-anak negeri ini.

Menurut saya Tan Malaka terlalu materill, wajar ia dalam perjalanan hidup yang penuh kesusahan itu belum memiliki kesempatan mempelajari hakikat. Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, bahwa sebenarnya Surga dan Neraka bukanlah tujuan, Allah S.W.T adalah gagasan tertinggi dari semua pemikiran, semua dibingkai dalam pemaknaan pada Tuhan, tujuan utama. Tujuan akhir dari semua pengembaraan jiwa. Puncak kedamaian dan akhir semua cerita, saat manusia telah sampai pada tujuan sempurna.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita, umat Islam, untuk memulai seluruh aktivitas dengan membaca bismillahirahmanirrahim, yang mengisyaratkan agar umat Islam tidak memiliki niat dan amalan selain menyebarkan kasih sayang di muka bumi.

Kasih sayang yang menyebabkan kita, memaafkan orang sebengis Hulagu Khan sekalipun. Saya merasa kasihan kepada Tan Malaka, dan berharap ia mencapai Khusnul Khatimah diakhir hidupnya, sebelum dieksekusi mati yang menurut penelitian Harry A Poeze dilakukan oleh Brigade Sikatan atas perintah letkol Soerachmad, di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada tanggal 21 Februari 1949.

Jangankan buku kiri, saya berpendapat bahwa buku-buku roman picisan ditulis oleh Freddy S, yang meyakini bahwa mesum adalah bagian alami manusia, dimana secara alami orang suka hal-hal yang eksotik dan sedikit buka-bukaan. Menurut saya, semua yang ia karang itu aneh. Akan tetapi tetap ia merupakan sebuah karya yang tak boleh dihancurkan. Karena diakui atau tidak, setiap buku adalah penanda zamannya.

Maka selaku manusia, saya menantang pembunuhan buku. Karena didalam ini belum melupakan sepenuhnya perasaan seorang anak kecil itu, yang belasan tahun lalu menganggap buku adalah pesawat ajaib. Kantong cekak, dan hanya televisi hitam putih yang hanya menayangkan TVRI. Dengan buku-buku yang saya peroleh di perpustakaan, saya memperoleh penghiburan, memasuki dunia yang sebenarnya tak tertembus. Tiap kali, tiap buku, dunia itu berubah, berbeda, berkembang dan terasa akrab.

Di tiap pembakaran buku, di situ pemakaman intelektual terjadi.

X

Tuhan, apapun karuniaMU

Untukku di dunia, hibahkan pada musuh-musuhMU

Dan apapun karuniaMU untukku di akhirat

Persembahkan pada sahabat-sahabatMU

Oh, bagiku cukuplah engkau

Bila sujudku padaMU karena takut neraka, bakar aku dengan apinya

Bila sujudku padaMU karena damba surga, tutup untukku surga itu

Namun bila sujudku, demi ENGKAU semata

Jangan palingkan wajahMU

Aku rindu menatap keindahanMU

(Diyakini oleh masyarakat sebagai syair yang digubah Hamzah Fansuri, sepeninggalnya ia buku-bukunya diperintahkan bakar atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry. Atas usaha Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala dikemudian hari beberapa kitabnya dapat diselamatkan, dan tercapai konsensus).

XX

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s