MISI MENCARI ABU NAWAS

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

DICARI !!! Abu Nuwas atau kerap dipanggil Abu Nawas, Lahir 747 M di wilayah Daulah Abbasiyah. Pekerjaan Penyair. Terakhir terlihat Baghdad abad IX. Peradaban rindu dengan sosok sederhana, membuat kita meyakini bahwa tidak ada yang lebih indah dari pada jalan-jalan di hari yang cerah.

Siapakah Abu Nawas? Pada masa-masa kita kecil, kita mengenalnya sebagai tokoh lucu, atau orang pintar yang melepaskan diri dari teka-teki sukar. Kita memandangnya dengan tak serius, badut yang dibutuhkan untuk ditertawakan, atau menertawakan di zaman Harun Al-Rasyid.

Entah bagaimana, kemasyuran Abu Nawas, sang penyair dari Baghdad itu, melintasi ruang dan waktu yang amat panjang. Ia yang lahir di Ahaz, Iran, di abad VIII dan meninggal di Baghdad, abad IX. Waktu itu, bahkan Kesultanan Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia bahkan belum berdiri. Nenek moyang kita masih menganut animisme, dan atau dinamisme.

Mungkin kita rindu dengan pengalaman-pengalaman yang mengesankan, kisah-kisah hikmah berbungkus humor segar, lekat dengan masyarakat. Karena hidup yang ceria tanpa humor akan terasa sangat melelahkan, dan semanis-manisnya lelucon adalah yang datang dari bawah, dari mereka yang tertindas dan tak terpedulikan. Sedang humor yang paling tak lucu adalah menertawakan mereka yang lemah, cacat dan tak berdaya.

Kocak? Pandir? Jenaka? Bisa jadi. Dalam susunan masyarakat kita disini, seorang penyair seperti Abu Nawas jika diseriusi mungkin menggelikan. Abu Nawas bisa menampilkan kesan seperti itu, bagi yang menganggap hidup hanyalah ketertiban, kepatuhan, keselarasan. Abu Nawas membuka jalan baru, dengan sajak-sajak yang mabuk anggur dengan kebebasan bahasanya, ironi dan humornya, dengan pandangannya yang mencemooh.

Memang ada kekurangajaran di situ. Mungkin sekali ia ingin menguncang apa yang tampak rapi dan tertib. Mengatakan hal yang dienggani oleh mereka yang terlihat sopan dan saleh. Mungkin bukan kebetulan, bila orang menyebut bahwa Abu Nawas adalah penyair sufi. Mereka yang melagukan nikmatnya “anggur” dalam “mabuk cinta” dengan Tuhan.

Kemabukan, baik harfiah maupun sebagai kiasan, adalah menentang hukum. Abu Nawas menyimpang disana, mungkin sebab itulah Abu Nawas di negeri kita yang jauh sering dihubungan dengan tokoh lucu, sesuatu yang “aneh”.

Abu Nawas membawa ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya sebuah agenda besar. Dengan pakaian kepandiran ia menyusup ke dalam masyarakat, hidup, menangkis dan bernyanyi dengan cara mereka. Itulah sebabnya Abu Nawas lekat dengan kita, setiap orang yang merasa dirinya bukan siapa-siapa.

Fantasi, cerita memang berubah seiring zaman. Namun terlepas dari itu semua, masyarakat lebih menyukai orang pintar yang merendahkan diri, pandir serta mencari bersama mereka. Itulah mungkin sebabnya kaset ceramah dai kondang Alm. Zainuddin MZ masih terasa asyik didengar, bahkan ketika berjongging di sore hari, sekarang.

Yang layak dipikirkan, jika memang Abu Nawas benar-benar menyimpang, mengapa ia tidak dibungkam? Padahal ia hidup di Baghdad abad IX, masa kekhalifahan Abbasiyah. Bisa jadi, Baghdad zaman itu adalah kota dengan penuh kepercayaan diri, terbuka untuk hampir setiap pikiran dan eksperimen, untuk pertanyaan dan pencarian baru.  Abu Nawas mungkin mencerminkan penguasa saat itu Harun Al-Rasyid, berani untuk terbuka. Mengejek dan menertawakan diri sendiri.

Abu Nawas dan Harun Al Rasyid adalah anomali. Kursi kekuasaan itu biasanya, akan mengubah seseorang. Bisa jadi pelawak akan berubah 180 derajat menjadi mumpuni ketika memegang kekuasaan, atau bisa jadi alim ulama menjadi rakus setelah duduk, bisa jadi orang pintar menjadi dungu.

Mereka yang tebiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi dan humor benda ajaib yang lahir dengan tak terduga dari hati. Abu Nawas mungkin dicerminkan oleh khalifah Harun Al Rasyid sendiri yang berani. Berani untuk terbuka, tertawa dan bergumul dengan jelata.

Dan hari ini kita tahu betapa beruntungnya dapat menemukan keindahan sebuah karya dan kearifan masa lalu, yang tak berulang pada masa kini, setelah masa-masa kejayaan itu berlalu.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s