TANDA PEDANG YANG (AKAN) PATAH

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

Setiap tahun adalah cermin, ini kali di depannya ada 29 Februari, tiba sebuah pengulangan yang hanya muncul 4 tahun sekali. Dan di cemin itu saya melihat guratan umur makin keras. Keriput makin banyak. Pori-pori kulit membesar, rambut rontok dan menipis.

Waktu kembali menjadi angka. Hari ini, tahun ini, saya memperingati ulang tahun ke-32, merasakan hanya dalam sehari melompati jarak 4 tahun.  Saya tahu jangka waktu hidup yang sama tak akan tercapai lagi. Ujung jalan itu sudah tampak.

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Saya teringat Cristian Vieri, seorang pemain sepakbola asal Italia. Vieri  dilahirkan di Italia, ia dibesarkan di Sidney Australia cukup sukses secara prestasi, ia memperkuat Italia pada Piala Dunia 1998, 2002 dan Piala Eropa 2004. Ia berposisi sebagai penyerang. Di tahun 2005 pada umur 32 ia bergabung dengan klub sepakbola A.C Milan. Setelah sebelumnya ia bergabung dengan beberapa klub sepakbola, di antaranya Juventus (1996-1997), Atletico Madrid (1997-1998), Lazio (1998-1999), Internazionale (1999-2005).

Ternyata ia telah melewati masa-masa tersuksesnya sebagai penyerang. Hanya bermain 8 pertandingan dengan 1 gol pada Serie A musim kompetisi 2005-2006, ia kemudian hijrah ke AS Monaco karena ketatnya persaingan di A.C Milan, selanjutnya karirnya meredup seiring usia. Pedang itu telah patah. Dan hari ini, saya seusia dengan Cristian Vieri waktu itu.

Bilangan usia atau tahun tak hanya ibarat cermin tempat kita berkaca melihat proses keuzuran. Meski tahun adalah juga tanda waktu yang tak sempurna. Setiap bilangan tahun yang berlalu, arti masa depan jadi lebih tertentu, bahwa hidup ini kelak akan berakhir.

Saya tidak akan menyaksikan pohon asam yang ditanam tahun lalu menjadi pohon yang tumbuh tinggi, seperti deretan pohon asam di tepi jalan yang saya punggut buahnya setiap pulang sekolah dulu. Saya tidak akan melihat pendaratan manusia pertama kali di Mars, penjelajahan antar galaksi. Ya, banyak sekali pasti yang tak akan saya alami.

Tapi siapa yang dapat mengatakan, hal-hal indah itulah yang terjadi. Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika kelak perang nuklir terjadi, negara-negara hancur. Bagaimana jika bentrokan berdarah yang tak henti-hentinya, karena masyarakat menjadi timpang dan sumber daya alam telah terkikis habis.

Saya seperti anda, tak tahu jawabannya. Orang mampu membuat statistik, membuat prediksi, memperkirakan probabilitas. Tapi kita tahu hidup tak dapat distatistikkan, karena itu tak lazim terjadi

Waktu yang “copot” memang terasa mencemaskan, namun saya mencoba optimis bahwa rasa cemas itu tidak akan melumpuhkan manusia. Dalam waktu sebagai perantara, manusia seakan-akan terlontar. Ia mengalami kebebasan hukum sebab akibat, tapi dengan itu ia masuk dalam momen “kejadian”. Seperti nada B minor masuk ke dalam harmoni, peristiwa tak terduga yang membawa pemahaman bahwa hidup ini tak bisa selamanya dalam harmoni.

Bermacam nada, termasuk sumbang pun bisa masuk. Ada kejadian-kejadian dalam hidup berjalan tidak sebagaimana yang direncanakan, ketika rencana tidak sesuai harapan maka tak sepatutnya kita terlalu bersedih. Karena mungkin “kejadian” itu justru membuka ruang yang lain.

Ini terjadi karena rahmat Allah S.W.T tak akan pernah putus kepada kita, suatu hal yang saya sadari sekarang. “Fa bi ayyi rabbikuma tukazziban” Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Mendengar lantunan surat Ar-Rahman ini, mata saya berkaca-kaca.

Hidup ini adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multidimensi, lipatan yang tak henti-henti. Kematian hanyalah salah satu momen di dalamnya. Haruskah kita sesali jika itu terjadi? Kita harusnya sadar bahwa yang terbaik dari dunia ini bukanlah keabadian, melainkan kefanaan. Yang abadi tak akan ada disini.

Di depan cermin tetap akan tampak rambut rontok yang kian tipis serta kulit kian keriput, juga fisik telah menurun. Seperti halnya Vieri selaku penyerang (pernah) tajam, pelan-pelan ia menumpul seiring usia. Tanda-tanda keretakan pedang itu telah terlihat, ia menuju patah. Itu pasti.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s