PERADABAN TANPA TULISAN

Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.

Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.

Ribuan tahun yang lalu berbagai kelompok pemburu dan pengumpul mengembara di seluruh Asia dan Eropa sambil mengikuti kawanan mamot yang memakan rumput liar, lambat laun es mulai mencair, pola pertumbuhan rumput pun berubah, kawanan-kawanan bergerak ke utara dan menjadi berkurang. Menyusullah beberapa pemburu, lainnya, karena kekurangan daging yang merupakan inti makanan pokok mereka, menuai rumput-rumput liar itu dan pada saat tertentu mulai menanam sendiri beberapa jenis rumput itu, barangkali.

Walaupun buku-buku sejarah dunia biasanya mulai dengan masa pra-sejarah, namun apakah masa pra-sejarah itu? Apakah hanya sekedar masa dimana manusia belum menemukan tulisan semata? Spesialis lain, Antropolog misalnya memiliki perlengkapan yang jauh lebih baik untuk menyelami kekelaman masa lalu lebih jauh, sehingga dapat berspekulasi tentang perilaku manusia, tentang pola-pola menetap, tentang motivasi sebagai suatu masa tanpa diffrensiasi. Namun tentunya sulit menemukan kehidupan orang-orang tertentu yang memberikan daging dan nyawa kepada pertanyaan-pertanyaan abstrak tentang perilaku manusia.

Manusia akhirnya menemukan tulisan, namun tradisi oral masih hidup selama berabad-abad kemudian. Sebagai contoh Snouck Hurgronye dalam buku Aceh Di Mata Kolonial Jilid II, menyebutkan dalam bab kesusasteraan menyebutkan “Dengan kesusasteraan Aceh kita artikan semua yang telah dikarang dalam bahasa Aceh. Saya sengaja menyebut “dikarang” dan bukan “ditulis”, karena pembedaan yang tegas antara apa yang diabadikan dan apa yang tidak diabadikan dalam bentuk tulisan, tidak dapat diterapkan secara konsisten terhadap karya-karya pengarang Aceh baik pada masa lampau maupun sekarang.”

Dongeng-dongeng lisan yang tak kalah popular di Indonesia adalah “Si Kancil” suatu tokoh yang menujukkan adanya perkaitan dengan “Eulenspiegel” dari Jerman. “Juha” dari Arabia dan “Nasruddin Hoja” dari Turki. Ini merupakan benang merah yang tersambung melalui tradisi oral.

Tulisan menang, Van Heutsz menaklukkan benteng Batee Iliek yang tidak pernah jatuh selama nyaris 30 tahun perang Aceh dengan meniru strategi sebagaimana ditulis oleh Homerus, epik Perang Troya, memasukkan Abu Pang ke dalam guci, panglima perang Hindia Belanda tersebut menyerbu benteng terkuat Kesultanan Aceh Darussalam, pimpinan Said Muhammad lewat jalan belakang.

Tahun 1901 benteng Batee Iliek jatuh, jarak yang tak begitu jauh dengan sejarah modern karena baru 4 tahun kemudian Einstein menemukan teori relativitas. Saya membayangkan, andai benteng Batee Iliek tetap bertahan sampai Perang Dunia I dimulai tahun 1914 maka sejarah akan berbeda, sayang sejarah tidak dimulai dengan kata, seandainya.

Van Dalen mengiris tanah Gayo lewat ekspedisi berdarah ditahun 1904. Ia meminjam strategi brutal Julius Ceasar. Menghadapi konfederasi suku-suku di Tanah Gayo sebagai kekuatan merdeka terakhir di Aceh, ia meniru gaya Julius melawan persekutuan suku-suku Galia pimpinan Vercingatorix. Tanah Gayo jatuh, dan secara resmi Hindia Belanda menyatakan perang Aceh secara resmi berakhir.

Kita pernah hidup, di masa tulisan belum begitu berkuasa. Sebelum millennium ini dimulai ketika era digital masih malu-malu muncul, kita masih merasakan betapa kuat perasaan kita, sebagai contoh ketika saya tidak menemukan satu pun teman sekampung pada sore hari, maka saya akan menduga mereka pasti sedang mandi di sungai, dan ketika menyusul kesana, hampir selalu saya menemukan mereka disana. Sekarang dengan era telekomunikasi, jangkauan permainan memang semakin jauh akan tetapi sebelum keluar rumah saya harus memastikan melalui sms, atau perangkat pesan lain dimana mereka berada.

Dengan tulisan sejarah dituliskan, buku-buku dicetak, ilmu semakin mudah didapat. Jangan lupa Belanda menaklukkan kita dengan dokumen-dokumen yang akurat, dan terverifikasi sahih. Namun apa yang terjadi jika saat ini yang kita dapatkan hanyalah polusi tulisan? Zaman ini adalah zaman media sosial, seluruh informasi bertebaran dimana-mana, setiap orang bisa menjadi corong berita. Tak pelak hoax pun bertebaran, kita mengunyah dan memamah dan mengangap itu kebenaran.

Para mastershared  bertebaran, maaf adakalanya mereka adalah sahabat, guru, orang berpengaruh dan kita anggap lebih pintar dari kita, dan sedihnya tanpa sadar mereka menjadi agen dari portal-portal hoax. Portal tersebut memperoleh keuntungan berupa iklan, sedang teman-teman kita tersebut tersuruk pada reputasi “otak berkarat”

Membaca itu baik, sebagaimana hasrat kita ingin tahu kita terhadap ilmu manapun pasti akan berguna. Seumpama makanan, makan itu baik. Namun apa yang terjadi ketika kita memasukkan sampah dalam perut kita? Maka apa beda kita dengan babi? Yang memakan kotorannya sendiri?

Einstein pernah berkata. “Manusia yang hanya banyak membaca dan hanya menggunakan otaknya begitu sedikit akan menjadi malas”. Mengapa? Kita hanya membaca saja dan tidak menimbang terlebih dahulu maka kita akan terjebak pada cerita yang menyentuh hati, sehingga setiap pembacanya akan tersentuh dan tak ketinggalan untuk menyebarkannya. Salah satu pola hoax adalah memanfaatkan sisi hati manusia yang sangat sensitif hingga akalnya akan ditinggalkan sejenak. Padahal “hati” dan “akal” harus berjalan berdampingan, adalah sangat naïf jika mereka dibiarkan berjalan sendiri-sendiri tanpa pendamping.

Otak manusia pada awalnya adalah sebuah rumah kosong, mereka mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan kebutuhannya. Si pandir mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah-tengah atau tercampur dengan hal lain. Si Bijak sebaliknya, dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkan ke dalam rumah. Ia tidak memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaan, sebab apa yang diperlukan saja sudah cukup banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam rumah-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dengan mudah menemukannya.

Keliru jika kita pikir kalau rumah-otak kita memiliki dinding-dinding yang membesar, terutama setelah masa pertumbuhan berakhir. Rangka rumah/otak hanya akan segitu saja, maka untuk setiap pengetahuan yang telah dimasukkan, ada yang diketahui dan ada yang dilupakan. Oleh karena itu, sebenarnya penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta berguna.

Saya tidak ingin menyelamatkan dunia dari polusi tulisan, sederhana saja, saya hanya ingin membersihkan wall facebook saya dari kotoran-kotoran hoax dengan menyampaikan hal ini, atau sebisa mungkin menyadarkan teman-teman terdekat dari profesi mastershared, tak lebih. Tolong hentikan!

Peradaban tanpa tulisan? Tidak mungkin. Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya. Seperti pesan ini tidak akan tersampaikan jika tidak melalui tulisan, tapi sebisa mungkin mulailah menjangkau dengan hal-hal sederhana, seperti menceritakan hikayat/dongeng kepada anak-anak kita secara oral, itu lebih berarti daripada membelikan buku dongeng, sejatinya pengetahuan itu tidak akan mampu mengalahkan pengalaman, yang kita bagi bersama melalui dialog-dialog kecil nan sederhana.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s