RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN BELAS

Dalam perdamaian, anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

X

Sangat sedikit manusia yang tahu betapa terbatas dirinya untuk memelihara hati nurani dan menahan godaan.

Sangat sedikit manusia yang tahu betapa terbatas dirinya untuk memelihara hati nurani dan menahan godaan.

Aceh, akhir abad XIX

Siapa pun itu berhak menyendiri, tanpa ingin dirisaukan oleh ini dan itu. Seperti siapapun itu berhak untuk takut. Aku sedang tak ingin ditemui siapapun, aku kalah, aku takut menghadapi hari kemarin, sebab masa lampauku bukanlah sebuah panorama damai yang terbentang di belakangku, negeri ini bisa kutempuh bila ku ingin, yang menunjukkan kepadaku, berangsur-angsur, bukit dan lembah-lembahnya yang rahasia. Sewaktu aku bergerak ke depan, masa lampau itu pun runtuh. Sebagian besar reruntuhannya, masih dapat terlihat, tak punya warna, mencong bentuknya, dan beku. Maknanya terlepas dariku.

“Dik, bisakah kita bertemu?” Berkali-kali surat berdatangan dari Tengku Tiro. Ia ingin bertemu, dan tidak suka bertemu dengannya. Aku tidak sreg bertemu dia, karena sebagai seorang fuqaha dia senang berceramah, dalam pertemuan sebelumnya ia memprotes kegemaranku menghisap tembakau. Aku bukan orang yang memilih hidup suci seperti dia, jalan hidup yang ia pilih begitu keras. Aku tak sanggup.

Dan setelah nyawaku nyaris melayang sebelumnya, dan memang aku benar-benar tak ingin bertemu siapa-siapa. Saat ini adalah saat dimana aku ingin menyendiri, mengharapkan yang suci hadir, seperti di gua Hira’.

Aku juga bukan seorang pahlawan seperti yang ia pikir, persetan dengan Belanda yang telah menguasai ibukota. Aku takut, Belanda memiliki segalanya, kapal hitam, senjata mutakhir sampai perwira-perwira gagah. Jujur saja, sejak perang bermula, tiap 1 serdadu Belanda yang tewas, berbanding 7 orang Aceh. Mengapa kita tak menyerah saja? Belanda begitu majal, dan hanya keangkuhan kepala kita yang membuat Aceh masih melawan. Mataram yang 10 kali lebih banyak tentara saja realistis, mengapa kita tidak?

Mereka mengirimkan ribuan serdadu siap perang, sedang kita? Hanya kesatuan yang berai. Mereka memiliki segala keuntungan taktis dalam perang ini, kecuali satu dan itupun segera direduksi dengan banyaknya mata-mata di kubu Aceh. Kami mengenali negeri ini.

Itulah mengapa aku masih bisa bersembunyi dibelantara, di dalam gubuk. Aku menarik nafas setiap harinya mensyukuri bahwa aku masih hidup.

Siapapun yang sendirian, atau pernah merasakan kesepian pasti tahu bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian. Ada yang hidup disekeliling kita. Jaring laba-laba yang makin bertambah setiap harinya, suara angin, serta hal-hal terkecil seperti semut-semut berjalan di lantai. Aku mencoba menikmati suara burung bernyanyi di pagi hari, menjalani hidup yang tak tentu pasti.

Satu sergapan serdadu Belanda saat ini pasti mengakhiri hidupku yang rapuh. Kesehatanku tidak begitu baik, pinggang mulai sering sakit, kerap kali aku terbangun dalam tidur karena kedinginan di malam hari, bahkan yang paling memalukan adalah kalau aku kentut kadang ampasnya terbawa.

Dan utusan-utusan Tengku Tiro dalam bulan-bulan terakhir terus berdatangan. Aku kesal! Kutuliskan sebuah surat, “Beta tak ingin bertemu Tengku. Beta kesal terlalu banyak dinasehati, biarkan beta menyendiri, dan silahkan Tengku lanjutkan perang.” Aku tak suka diatur dan kasar? Ya aku disebut Durjana bukan karena kesopanan.

Aku tenang-tenang saja, sampai suatu hari Mat Amin datang, Mat Amin anak kandung Tengku Tiro. Ia membawa surat, “Kakanda menjadi sedih, kalau adinda marah. Atau tersinggung karena kakanda mengatakan sesuatu di hari itu. Iya, kakanda maklum. Kita bersaudara, Insya Allah sampai akhirat. Kakanda akan selalu menjaga adinda, dengan segala kekurangan. Kakanda hanya ingin berkata, dalam waktu dekat kami akan mengempur ibu kota dengan  kekuatan penuh, besar harapan kakanda, adinda turut serta. Bila tidak kakanda mohon doa.”

“Hati-hati dalam penyerangan, semoga peperangan dimenangkan.” Aku berkata begitu saja kepada Mat Amin. Ia tersenyum, sepertinya ia memang lebih senang kalau aku tak ikut perang. Ia putra yang paling utama, dan pimpinan perang, samar-samar aku merasakan ketersinggungannya, karena harus mengirimkan surat untukku, sebagai tanda keseriusan ayahnya.

“Aku tak tahu apa kehebatanmu, sampai-sampai ayah menilaimu tinggi.” Ia merendahkan aku, tapi aku tak ingin berkelahi. Aku diam saja, ketika ia menambahkan, “dalam perang ini, bukan saja yang memihak musuh adalah pengkhianat. Tapi penakut berhati perempuan sepertimu juga pengkhianat.” Ia pergi.

Mungkin seperti yang ia bilang, aku berhati perempuan. Apalagi ketika aku rindu istriku, ia yang berada di Kutaraja, tidak bisa keluar dari lini konsentrasi. Bila mengingat ia, bila mengingat perjuangan ini, negeri ini, dan mereka yang terbunuh setiap harinya, teman atau bukan teman dekat. Aku menangis, sulit menahan tangis. Memang dalam setiap perjuangan, tangisan ini seperti sebuah pengkhianatan. Tapi bisakah aku tak berkhianat di momen ini, tiap saat aku bisa saja terbunuh oleh satu pelor sahaja.

Selang tak lama utusan Tengku Kutakarang pun datang, saingan Tengku Tiro. ia berceramah bahwa panjang. Bahwa dunia ini telah kotor, oleh perilaku Belanda dan pengkhianat di kubu Aceh. Mereka terlalu mencintai dunia, seharusnya dunia itu bukanlah dambaan, akhirat tempatnya. Maka mereka harus dilenyapkan, dan meminta aku bergabung.

Aku mengerutkan kening, seorang yang menafikan dunia seharusnya seseorang yang membiarkan dunia dalam cacatnya. Bumi, dunia ini telah diabaikan. Maka, ganjil bila orang itu ingin meluluhlantakkan apa yang buruk sekarang, seakan dengan itu ia diperbaiki. Ganjil bila ia percaya kepada tuhan yang mengatakan bahwa membunuh seseorang sama artinya dengan membinasakan seluruh umat manusia. Sebab tuhan itu adalah tuhan yang tak menyesali apa yang IA ciptakan sendiri.

Ia kesal ketika itu kukatakan kepadanya, ia mengumpat dan pergi.

Akhirnya aku menemukan ketenangan, sampai seorang utusan datang lagi. Siapa lagi? Tak bisakah aku tenang. Sudah kukatakan aku tidak berniat menjadi pahlawan, utusan ini hanya menyampaikan sebuah surat dan kemudian pergi.

Aku membuka, “Apa itu Aceh? Aceh bukanlah sebuah wilayah, bukanlah sekumpulan orang-orang dari etnis itu pun. Aceh itu adalah kesedihan, menghadapi kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi senjata, harta yang begitu kuat dan menaklukkan. Mengapa kita harus membebaskan? Karena kita sedih, karena hati kita adalah Aceh, pernah merasakan bagaimana diringkus, diringkas, dan dibungkam di dunia.” –Cut Nyak Dien.

Aku terdiam. Setiap perang membawa penderitaan pribadi kepada para perempuan, sehingga diperlukan paling sedikit suatu kekuatan yang sama besarnya untuk menanggulangi bagian pasifnya, yakni menanggung, menyerahkan dan menjalani, seperti bagian aktifnya peperangan itu sendiri yang dapat memberikan kebahagiaan dalam menjalankan suatu peperangan, berhasil atau tidak.

Aku merenung, kaum perempuan mereka itu tinggal dan menunggu di rumah dan melalui “pintu gerbang penanggungan” yang untuk kebanyakan mereka selalu terbuka lebar, telah membiarkan seseorang tamu masuk ke dalam rumahnya, yakni perasaan cemas yang selalu timbul terhadap seseorang atau mereka yang pergi melakukan tugas peperangan. Aku adalah seorang suami, yang mana berada dalam pusat kehidupan di rumah dan bayangannya bergelantungan di atas semua serta seluruhnya bagi istriku, di atas seluruh gerak dan pikirannya serta yang tertinggal kebelakang.

Hal ini terjadi dalam sebuah peperangan, dimanapun ia berkecamuk di atas bumi, dan lebih dekat disini. Jiwa perempuan mengikuti suami atau setiap anak pada perjalanan-perjalanan sampai yang sekecil-kecilnya. Dalam keadaan bingung setiap saat berita kematian bisa datang.

Dari dasar hati yang paling dalam sangat berat melepas suami pergi ke medan pertempuran, perempuan mana yang sanggup melihat belahan jiwanya pergi bertempur, terluka atau tidak tahu kejelasan kabar.  Aku memikirkan perasaan istriku, apakah sebaiknya aku menyerah saja kepada Belanda? Untuk dapat bersama kembali dengan keluarga, menyerah bukanlah pilihan yang terlalu memalukan.

Di kepala berkecamuk berbagai ide, harapan dan cita-cita. Maju mandur, sampai kepala rasanya mau pecah, memikirkan antara hasrat dan kebajikan.  Aku membuka sebuah gulungan kecil dalam saku, sebuah azimat yang selalu aku bawa kemanapun kakiku melangkah, sebuah surat dari istriku.  “Suami jikalau nanti kamu hilang arah dalam perang, yakinlah pada nuranimu dan lakukan yang terbaik.” Aku menarik nafas panjang, rasanya tak ada penulis roman manapun yang sanggup dan berhasil mengungkapkan daya khayalnya yang segila-gilanya seperti yang telah dibuktikan oleh perempuan Aceh dalam kenyataannya.

Istriku, tahukah kamu betapa sedikit yang tahu betapa terbatas dirinya untuk memelihara hati nurani dan menahan godaan.

Aku memanggul kelewang, bergerak. Maju dengan kemungkinan maut, dengan kalkulasi kemenangan mendekati nyaris nol maka biarlah. Barangkali aku orang yang dungu, dalam arti orang yang tidak memikirkan akibatnya bagi nasibnya sendiri ketika ia harus mendengarkan nurani yang berdegup keras-keras.

Sejarah tampaknya bergerak karena kita punya harapan, yang mustahil dan perlu. Seakan-akan tiap harapan yang berharga dalam hidup akan selamanya terpendam, menunggu, dan tak mungkin terpenuhi. Meskipun karena itu, manusia jadi berharga karenanya.

XX

Setiap manusia punya luka, saya sendiri mempunyainya

Ia hidup terus, ia di sana, luka yang lama ini,

Ia di situ, dalam surat berwarna kuning pucat

Yang masih terlibat air mata dan darah

(Roxano dalam “Cyrano”)

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

BAGIAN SATU.

BAGIAN DUA.

BAGIAN TIGA.

BAGIAN EMPAT.

BAGIAN LIMA.

BAGIAN ENAM.

BAGIAN TUJUH.

BAGIAN DELAPAN.

BAGIAN SEMBILAN.

BAGIAN SEPULUH.

BAGIAN SEBELAS

BAGIAN DUA BELAS

BAGIAN TIGA BELAS

BAGIAN EMPAT BELAS.

BAGIAN LIMA BELAS

BAGIAN ENAM BELAS.

BAGIAN TUJUH BELAS.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s