PASSION

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Hidup adalah teka-teki dengan jawaban berubah-ubah.

Tidak seperti banyak dugaan sebelumnya, tidak ada drama spesial dalam balapan MotoGP Valencia. Tak ada penghalang buat Jorge Lorenzo, tidak ada mukjizat untuk Valentino Rossi.

Mengawali race dari posisi 26 akibat dianggap menendang Marc Marques di Sirkuit Sepang, Rossi perlu 12 lap untuk mencapai 4 besar. Lawan Rossi yang paling sulit adalah Aleix Espargaro. Sebab, ia disalip lagi oleh rivalnya di lap 11 sebelum ia berhasil melepaskan diri dari pembalap Suzuki itu di lap berikutnya. Hanya saja, berikutnya terbilang berat, karena jaraknya dengan Dani Pedrosa (urutan 3) sudah 11 detik.

Balapan mulai “sepi” sejak lap ke-15. Tak ada aksi lagi seru-seruan di lintasan. Lorenzo dan Marquez “berduaan” diposisi 1-2. Pedrosa sempat menipiskan jarak menjelang akhir lomba, namun ia gagal. Dan Lorenzo tak tertahankan menjadi pemenang 30 lap MotoGP Valencia, sekaligus juara dunia MotoGP 2015. Jorge Lorenzo (Spain) Yamaha 330 poin, Valentino Rossi (Italia) 325 poin.

Terjadi polemik disini, pendukung Valentino Rossi menuding Marc Marques yang berada di posisi 2, secara sengaja melindungi Jorge Lorenzo. Bahkan ia dianggap menghalangi Dani Pedrosa yang coba merangsek ke depan menjelang akhir balapan. Tak mau kalah, pendukung Jorge Lorenzo dan Marc Marques juga menduga bahwa Valentino Rossi membalap seperti Ambulance, di mana semua pembalap memberi jalan kepada sang legenda, bagaimanapun memulai balapan dari posisi 26 sampai akhirnya berada di tempat ke 4, agak mustahil.

Tapi sebagaimana teori konspirasi lain, ia tidak bisa dibuktikan. Ibarat kentut, ia berbau tapi tak berwujud. Tapi ada satu fenomena menarik di MotoGP Valencia yang notabene adalah Negara Spanyol, rumah bagi Jorge Lorenzo dan Marc Marques, tapi setiap Valentino Rossi melewati pembalap lain, para penonton bersorak. Publik lebih menyukai Italiano.

Dalam hal tidak terlibat kepentingan sama sekali (posisi netral), Niccolo Machiavelli dalam The Prince berkata, “kebenaran cenderung bersama orang banyak.”

Jika ada konspirasi dalam olah raga seperti yang (diduga) terjadi di MotoGP maka kita patut khawatir. Nilai sejati dari sebuah olah raga adalah sportivitas. Berjuang untuk menang dengan kejujuran dan sikap satria. Oleh karena itu anak-anak sangat baik jika senang berolahraga, mereka belajar untuk meraih kemenangan dan menerima kekalahan. Dan sportivitas bagi pembalap adalah berusaha untuk menang, bukan memberi jalan kepada orang lain atau membantu orang lain dalam sebuah kompetisi.

Mungkin, Valentino Rossi memang sebaiknya kalah. Ada pelajaran yang bisa diambil dari MotoGP 2015. Meski berat menjadi juara, tapi berjuang adalah wajib hukumnya. Dan kita tidak bisa memastikan bahwa Jorge Lorenzo dan Marc Marques bekerja sama. Tapi kita bisa memastikan bahwa mereka tidak sebesar Valentino Rossi.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa seorang Valentino Rossi sempurna, sebagaimana seharusnya ia tidak terprovokasi oleh Marc Marques di sirkuit Sepang. Secara karakter ada banyak kekurangan yang ia miliki, dan kita mungkin (banyak) tak sepaham dengannya. Seperti misalnya, pemilihan klub sepakbola favorit.

Tapi kita bisa melihat, di usia yang sudah tidak muda lagi di lintasan balapan. Di mana para rekan satu angkatan, dan bahkan beberapa angkatan sesudahnya telah menyerah. Terhadap perubahan regulasi, teknologi, waktu dan lain-lain. Ia terus belajar, itulah salah satu penyebab ia selalu mampu bersaing dalam kondisi terburuk sekalipun.

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Passion. Hegel pernah menulis, “tidak ada hal besar di dunia telah tercapai tanpa passion” Teknik, perencanaan, ketertiban memang menjanjikan hasil yang diperhitungkan. Seperti halnya MotoGP hari ini. Tanpa orang banyak, tanpa fan, yang gandrung dan tergila-gila, permainan di sana itu akan kehilangan makna.

Dan di MotoGP, passion bernama Valentino.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s