RENOVASI

Rencana Renovasi Masjid Raya Baiturrahman

Rencana Renovasi Masjid Raya Baiturrahman

Tahun 2017 ditargetkan pembangunan infrastruktur dan landscape dalam lingkungan Masjid Raya Baiturrahman. Untuk jangka panjang, kegiatan akan dilakukan adalah pembebasan lahan dan bangunan sampai tepi sungai Krueng Aceh.

Ketika lahan pelataran Masjid Raya Baiturrahman ditutup, pohon-pohon kurma dicabut serta area rerumputan itu hilang, kita mungkin tertegun, merasakan sesuatu sejak masa silam yang hilang, renovasi berarti membangun, tapi ia juga menghancurkan kenangan. Tapi mungkin anda bertanya, masa silam siapa yang lenyap itu?

10 April 1873, agresi tentara Belanda dipimpin Jenderal Van Swieten membakar habis Masjid Raya Baiturrahman. Cut Nyak Dhien saat itu menjadi saksi dan berkata lantang, “Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri oleh matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menantang Allah S.W.T! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Jangnlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adalah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?”

Belanda, kelak membangun kembali masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1877 atas perintah Gubernur Jenderal Van Lansberge untuk meredam kemarahan rakyat Aceh sekaligus sebagai permintaan maaf. Masjid satu kubah, kemudian diperluas tahun 1935 (tiga kubah) adalah portrait yang kita ingat sebagaimana harusnya bentuk masjid tersebut.

Tapi benarkah bentuk sebenarnya layaknya seperti itu? Peter Mundy pernah ke Aceh pada tahun 1637, ia membuat sketsa. Bangunan masjid berupa persegi yang terbuat dari kayu, atapnya bukan kubah, tapi model mengkerucut seperti piramida tumpang empat.

Syahdan bukan masjid itu juga yang dingat oleh orang Aceh zaman itu, setelah Peter Mundy pulang, Masjid Raya Baiturrahman terbakar pada masa Ratu Safiatuddin akibat pertikaian internal kerajaan. Dan dibangun kembali.

Ketika Belanda menyelesaikan pembagunan Masjid Raya Baiturrahman tahun 1883, masyarakat Aceh menolak untuk shalat disana, mereka tidak mau beribadah dan menggunakan masjid yang dibangun musuh. Kondisi itu berlangsung 10 tahun, hingga area masjid ditumbuhi semak belukar dan pekarangannya menjadi pasar.

Belanda terus merayu rakyat Aceh agar mau menerima masjid itu. Hingga kemudian Belanda berhasil membujuk masyarakat melalui ulama berpengaruh kala itu yakni Teungku Chik Keumala dan Teungku Chik Krueng Kalee. Penggunaan kembali masjid ini dilakukan sekitar 1893 sampai sekarang.

Maka, tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi.

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Coba kita lihat foto-foto lama Masjid Raya Baiturrahman zaman Belanda, bangunan megah itu begitu terasing dengan lingkungannya. Pada awalnya para orang tua kita mungkin tidak melihat bagian dari dirinya pada foto tua itu. Ia bukan bagian dari kebanggaan itu. Malah mungkin melihat sesuatu yang pahit dan menyakitkan. Rekaman status sebagai bangsa terjajah, terjerumusan yang kekal di lapisan mereka yang kalah.

Bahkan dengan mata netral, kita sendiri melihat foto tersebut sebagai cenderamata yang menarik karena antik, sesuatu yang bisa dikirimkan ke facebook “Kisah dan foto tempoe doeloe”. Boleh jadi kelak selembar benda penting pencatat tarikh.

Karena itulah ketika Gubernur Ibrahim Hasan (1991-1993) melaksanakan perluasan kembali, Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk dengan bagian halaman ditumbuhi rumput dan indah diselingi pohon kurma kita merasakan lanskap yang nikmat, tampilnya sebuah Masjid dengan kedekatan dengan masyarakat.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Masjid Raya Baiturrahman dalam bukan hanya menjadi kebanggaan rakyat Aceh dan Indonesia semata, bahkan dunia juga tertaut bersama bangunan ini. Bersamaan dengan bencana Tsunami 26 Desember 2004, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri tegak, meski compang takkala ombak tsunami membasahi bumi Aceh. Ia menjadi tempat berlindung juga sebagai tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

Andrea Hirata dalam novel Ayah punya gambaran yang mengesankan tentang Masjid Raya Baiturrahman (Halaman 305), “Besarnya mungkin dua puluh kali lebih besar daripada Masjid Al Hikmah di kampong kita, Rai. Lantainya dingin, pilar-pilarnya gagah, seakan dapat memanggul gunung. Kalau kau memandang langit-langitnya, rasanya angkasa terbelah dan kau berubah menjadi seputir pasir. Suasana shalat Jumat di masjid ini tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Saat engkau shalat rasanya ribuan malaikat menungguimu, suara muadzin merdu sekali. Begitu megah, begitu agung mesjid ini sehingga kuakui semua dosaku, yang terkecil sekali pun.”

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

Benarkah pandangan Andrea Hirata itu menurut kita? Mungkin kemegahan itu menyimpan ironi bagi mereka disekitarnya, kita bercakap tentang kebanggaan dan kemudian kehilangan hakikat itu, kisah kericuhan tongkat di Masjid Raya Ramadhan lalu, salah satu contohnya. Jatuhnya crane di Masjidil Haram pada saat ibadah haji kemarin, adalah salah satu contoh yang lain lagi.

Maka, haruskah bangunan ini direnovasi besar-besaran seperti yang direncanakan sekarang?

Kita tahu, dalam hidup, biarpun ringkas, selalu ada yang harus dilepas. Mungkin ke arah yang lebih baik, mungkin kearah yang lebih buruk. Dan apa yang “lebih baik” dan “lebih buruk” bagi suatu zaman tak pernah ditentukan setiap orang.

Dan kita tak selamanya berdaya untuk mencegah, seperti kita tak bisa mencegah sejumlah peninggalan sejarah lain harus di bongkar. Misalnya, tempat kita dilahirkan menjadi jalan raya.

Wajar ketika Masjid Raya Baiturrahman hendak dibangun besar-besaran kembali muncul petisi menggugat pembangunan tersebut. Mungkin ada kepongahan dalam mega proyek tersebut, tapi di sisi yang lain benar bahwa yang paling penting akhirnya bukan sikap mempertahankan, suatu sikap defensif, tetapi menciptakan

Tanda peradaban, pada hakikatnya, ialah perilaku kita yang hidup dengan rasa hormat kepada yang tumbuh dalam hidup. Dan sebaiknya, para penguasa mengetahui itu.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s