RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

Ini adalah kisah para pengkhianat yang telah dimaafkan oleh sejarah, turun-temurun mengalirkan darah mereka, zaman ini mereka berkuasa dan menunjuk orang lain pengkhianat. Tapi mereka lupa, sejarah mencatat darah kotor mereka, garis keturunan yang dimegah-megahkan itu hanyalah noda hitam sejarah.

X

Benteng Lhambhuek, Aceh Darussalam pada hari 1 Januari 1874

Asap yang perlahan-lahan naik menerawang sawang, akan berpadu dengan tedza-tedza yang berarak-arak seluruh cakrawala, kelak menceritakan kepada sekalian anak manusia yang hidup di bawah kolong langit ini dari zaman ke zaman.

Ahmad terbaring di antara mayat-mayat itu. Jumlahnya ribuan.

“Dunia sudah gila,” pikirnya nanar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin.”

Ia sendiri seperti tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat beberapa senti dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa lebih lemah. “Sudah berapa lama aku disini?” Ia bertanya-tanya.

Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tenaga untuk mengangkat tangan pun tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama aku pingsan,” pikirnya sambil mengerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum sadar bahwa sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya.

Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan. Sesekali siraman hujan segar menimpa mayat-mayat itu, termasuk Ahmad tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu, “seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedang pikirannya seperti bayangan-bayangan igauan yang melintas.

Bunyi meriam masih bertaut dari kejauhan, entah dari Peunayong atau istana. Perang masih berlanjut, tapi pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu, Benteng Lhambhuek telah jatuh, oleh pengkhianatan Ali Bahanan, atau siapapun itu.

Hanya dalam setengah hari, seluruh harapan yang pernah ia miliki lebur.

XX

Kuala Gigieng, Pesisir Aceh Darussalam 9 Desember 1873

Belanda telah memperhitungkan bahwa setibanya di Gigieng mereka belum lagi mendapatkan perlawanan. Nyatanya tidak demikian. Begitu mereka tiba segeralah barisan pertahanan Aceh menembaki mereka dengan bedil dan lila, yang dikomandoi Tuanku Nanta Setia. Untuk mengadapi tembakan seru itu, Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten menyerbu barisan sayap kanan dati batalyon-14, di samping mendobrak secara lempar jiwa dalam formasi 100 meter berlapis, dengan juga dilindungi tembakan meriam maju mundur tapak demi tapak dalam percobaan garis muka di seberang dan di hadapannya.

Panglima itu, Tuanku Nanta Setia. Ia memandang lurus kedepan, lalu memanggil ajudannya, “Ahmad, sepertinya mereka sudah mengetahui formasi kita, ada kebocoran.”

Ahmad terdiam.

Di depan mayat bergelimpangan, sang menantu Ibrahim telah berkalang tanah. Mayat-mayat tentara Aceh berjatuhan satu demi satu menghadapi artileri Belanda. Terlihat kepala mayat tergeletak dalam rumput tinggi. Ada yang menegadah ke sungai. Lainnya tersangkut satu sama lain. Aliran air mata membentuk jalur sutra putih menurumi wajah muram Tuanku Nanta Setia. Ia mendengarkan keluhan seseorang yang sakit parah.

“Hari ini kita banyak kehilangan generasi terbaik bangsa ini, aku takut ketika perang ini berakhir yang tersisa hanyalah pengkhianat culas.”

“Kita akan menang Tuan,” jawab Ahmad.

“Menantuku Ibrahim telah gugur,” ia mengusap airmatanya.

“Ahmad, kalau aku mati maukah kau mengurus Nyak Dien putri kesayanganku?”

“Apa yang Tuanku bicarakan?”

“Suaminya telah gugur, dan aku merasa seperti akan mati dalam pertempuran ini.”

Ahmad gusar, ia sendiri sebagai prajurit menyandarkan diri kepada Panglima. “Ayolah Tuanku jangan cengeng seperti ini.”

Suara bedil masih bersahut-sautan, diselingi dentuman meriam. Mereka maju lebih jauh sedikit, sampailah mereka kepada bertumpuk-tumpuk tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatannya satu divisi telah di sapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin.

XXX

Kubu pertahanan Aceh di pesisir Selat Malaka, Aceh Darussalam 13 Desember 1873.

Belanda telah mengetahui ada dua kubu pertahanan Aceh di dekat pantai sekitar Selat Malaka, yaitu Kota Musapi dan Kota Pohama (Kota Po Amat). Di sini Aceh mempunyai benteng tua yang telah diperbuat semenjak sebelum Iskandar Muda. Jika Belanda ingin mendapatkan jaminan yang lepas dari bahaya jepitan Aceh dari pantai apabila kelak menyerbu ibu kota, mereka harus menaklukkan keduanya.

“Aku mendapat kabar, sejumlah 1500 bantuan sukarela dari Pidie lengkap dengan senjata telah sengaja tiba di ibu kota, mereka dipimpin Teuku Pakeh Dalam untuk mempertahankan benteng Lhambhuek. Maka pergilah kesana Ahmad?”

“Mengapa mereka tidak menuju kemari Tuanku?”

“Kapal Hitam Belanda terlalu ganas di lautan, meriam mereka melindungi marinir mereka dengan sangat baik, mungkin peruntungan kita di darat lebih baik.”

“Beta tak mau pergi!”

“Jangan membantah Ahmad, kau lakukan tugasmu.”

“Tapi.”

“Aku dan pasukan yang tersisa disini akan berusahan mengurangi setiap Belanda yang akan tiba di sana, pergilah! Ingat pesan ku beberapa hari yang lalu!”

Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. Keduanya menyadari semakin mendekatnya maut. Ahmad akhirnya pergi seraya berpikir, “lihatlah aku berlari seperti seorang pengecut.”

Pertempuran yang telah berkecamuk di sekitar Selat Malaka itu akhirnya memakan waktu 5 hari sampai akhirnya Belanda dapat melumpuhkan tentara Aceh di Musapi dan Pohama.

Panglima itu, Tuanku Nanta Setia gugur bersama seluruh pasukannya.

XXXX

Kemah Pasukan Belanda, Aceh Darussalam 20 Desember 1873

Letnan Jendral Spyck menatap wajah Teuku Ali dalam batinnya terlintas jikalau Kohler berhasil menawan Teuku Nek Meuraksa menjadi kaki tangannya, Spyck pun mempunyai mata-mata rahasia yang tidak harus dicari-cari melainkan datang dengan sendirinya. Teuku Ali datang ke markas besar Spyck untuk memberikan peta negeri, bangunan pertahanan tentara Aceh, nama-nama orang kuat dalam pemerintahan dan masyarakat.

Dengan senyum simpul sesembahan itu diterima oleh Panglima Belanda itu, hatinya bangga tiada terbada-bada, kegirangan. Sementara mereka mengadakan permusyawaratan, tentara Belanda terus menerus menggempur benteng Lhambhuek yang diibaratkan waja dari Kutaraja.

Asap cerutu suguhan Spyck, yang dihembuskan oleh Teuku Ali menerawang perlahan-lahan ke udara, diikuti oleh asap cerutu Spyck sendiri, akan menjadilah saksi seumur hidup bahwa sejak malam itu Teuku Ali menjadi pengkhianat besar bagi Negara Aceh.

Selagi mereka sedang tertawa besar, dewasa itulah Teuku Nek Meuraksa tiba diiringi oleh dua utusan yang mencarinya. T. Nek memberi hormat dengan takzimnya lalu Spyck menyilakan ia duduk. Baru ia tiba dipintu, hatinya terus bertanya-tanya, demi melihat perubahan wajah T. Nek. Teka-teki dalam kalbunya menjadi-jadi apakah teuku Ali juga menjadi pegawai ketentaraan Belanda seperti dia?

Tanda Tanya besar ini lenyap, setelah ia disuguhkan minuman dan cerutu, istimewa karena kesepian ruangan dipecahkan oleh suara Penglima Belanda itu, “kamukah bernama Teuku Nek Hulubalang Meuraksa?”

“Benar,” sahut T. Nek dengan merendah.

“Dahulu kalau saya tidak salah, kamu ada membuat perhubungan dengan Jenderal Kohler, bukan?” Tanya Spyck menyelidik.

Baru saja perkataan itu lepas dari mulut Spyck Teuku Ali ternganga, gelombang perasaan menggunung dan berjuang di pantai hatinya, di antara ombak perompakan itu lahirlah suara hatinya, “rupanya sejak dahulu T. Nek ini telah menjadi pegawai Belanda.”

Pertanyaan itu lama disambut T. Nek karena tanda Tanya besar yang timbul terhadap teuku Ali belum terjawab oleh hatinya. Spyck, rupanya lebih arif akan isi hati T. Nek dewasa itu lalu menegaskan perhubungan dengan Jenderal Kohler bukan?

Mau tak mau, meskipun diliputi oleh selajang perasaan segan, T. Nek terpaksa menjawab, “benar, saya ada membuat perhubungan dengan orang Belanda,” lalu ia pun memperlihatkan surat keterangannya kepada pembesar Belanda itu.

Jawaban itu disambut oleh Spyck dengan simpul dan menegaskan, “saya undang kamu kemari untuk mengadakan perembukan tentang pendaratan kami ke Aceh ini. Sebelum kami menduduki seluruh tanah Aceh, hendak kami ketahui lebih dahulu dari kedua kamu, bagaimana yang sebenarnya pikiran rakyat tentang hal ini?’

Dengan segan T. Nek menjawab, “rakyat Aceh sebahagian besar menyukainya tuan.”

“Oh, begitu?” Tanya Spyck.

“Iya tuan besar.” Jawab T.Nek takzim.

Spyck telah lama mengenal tentang watak rakyat Aceh dengan perantaraan tulisan-tulisan dari pelawat-pelawat kemari, tentunya ia tidak akan mentah-mentah mempercayai pengakuan T. Nek, malahan ia sempat menarik suatu kesimpulan bahwa jiwa T. Nek tidak dapat dipercaya sebagai seorang pegawai Belanda.

“Kalau begitu, atas pertolongan kami bersama Teuku Ali ini, saya pertanggungkan kewajiban untuk memudahkan tentara Belanda melakukan kewajibannya disini.”

“Kamu bersedia, tuan besar!” Serentak suara pengkhianat terhambur dari mulutnya, rupanya mereka telah sejiwa.

“Dalam pertempuran merebut benteng Lhambhuek, tentara kami mulai pecah, karena berbagai daya yang kami cobakan, belum memberi hasil yang baik.” Kata pembesar Belanda dengan suara kecewa. Setelah itu diucapkannya, kelihatannya ia termenung kemudian ditukasnya lagi. “Rancangan merebut kerajaan Aceh tentu akan lebih rusak lagi, manakala berlama-lama mengalahkan Lhambhuek ini.”

Sementara itu kedua pengkhianat tanah air itu memutar otaknya, memikirkan bagaimanakah sistem operasi yang akan diserahkan kepada tentara Belanda itu, untuk memudahkan pendudukan atas benteng Lhambhuek dan menduduki istana Aceh.

Serupa dengan pelajar-pelajar menghadapi pertanyaan-pertanyaan, yang berlomba-lomba untuk lomba berpikir untuk memberi jawaban yang benar, demikianlah layaknya dua pengkhianat ulung itu menghadapi soalan majikannya. Setelah sekian lama memutar otak, T. Nek berkata, “untuk menduduki benteng Lhambhuek, handaklah seluruh kampung di sekitarnya dibakar lebih dahulu. Kalau tidak, sekali-kali Lhambheuk tidak akan jatuh, karena bala bantuan dapat diantarkan dengan perantaraan desa-desa itu. Bilamana kampung-kampung itu tidak ada lagi, maka penjagaan perhubungan keluar benteng mesti dapat diamat-amati.”

Lama pembesar Belanda itu termenung berpikir, kemudian dengan tegas membenarkan pendapat T.Nek, entah beberapa kali bahu T.Nek ditepuk-tepuk oleh Letnan Jenderal itu, tiadalah dapat dihitung lagi, karena ia asyik dibuai gelombang kegirangan.

“Dalam soal pertama ini saya sangat setuju dan akan saya jalankan. Tetapi bagaimanakah soal merebut istana sultan?”

Teuku Ali yang ternyata murid yang tertinggal, dengan soal yang kedua ini ia mencoba mencapai ponten yang baik, sebab itu digunakan otaknya dengan agak terburu-buru lalu ditukasnya dengan gugup, “Tuan besar! Untuk meleburkan istana sultan tidak ada suatu jalan pun, selain menangkap komandan-komandan pengawalnya, diantaranya Tuanku Panglima Polim atau Tuanku Hasyim.” Setelah ia mengucapkan perkataan itu, iapun diamlah, menjadikan ruangan kemah markas hening sepi.

Letnan Jenderal Belanda itu belum dapat membenarkan anjuran Teuku Ali, agaknya ia sedang dihanyutkan oleh gelombang pikiran. Kebimbangan itu lenyap sebentar setelah Spyck menegaskan perkataannya, “ya, saya setuju. Tapi untuk menangkap kedua orang itu bukan perkara mudah.”

“Itulah yang semudah-mudahnya tuan besar, saya sanggup melakukannya.” Teuku Ali girang usulnya diterima.

“Bagaimana pikiran T. Nek?” Tanya Spyck.

Pengkhianat ini hanya mengangguk.

“Nah sekarang kalau begitu kami akan menjalankan pembakaran, kalian berdua sangat berjasa kepada Belanda.” Kemudian setelah ucapannya terhambur dari mulutnya, dua gulungan besar uang kertas telah masuk ke saku mereka masing-masing. Ya, mereka berpura-pura menolak akan pemberian Letnan Jenderal Spyck, tapi tokh masuk juga ke kantong mereka.

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

XXXXX

Semarang, tercetak oleh G.C.T Van Dorp & Co. 1889

Perang di kampong lembu, pada hari 25 Desember 1873

Dari pada segala perbuatan pelawan di negeri Aceh, yang harus diceritakan, ialah seketika batalion tiga berperang di kampong lembu pada hari 25 bulan Desember, 1873.

Meskipun waktu itu beberapa serdadu meninggal dunia di medan perang akan tetapi keberanian itu memberikan kehormatan kepada bendera narandji, yang mengikut battalion tiga. Dari sebab itu dan akan lain perang, pada titah raja bendera itu beroleh bintang kerajaan, yang ternama Militaire Willemsorde.

Haruslah satu-satu serdadu yang mengikut batalion tiga itu, selamanya mengingati perbuatan pelawan temannya dahulu. Maka baiklah satu-satu serdadu tahu perbuatan batalion tiga, sedang berperang akan mengalahkan kampong lembu, yang teramat kuatnya.

Pada hari yang tersebut di atas ini, batalion tiga bersama dengan lain-lain batalion di suruh berangkat ke kampong Lembu, berbahaya betul batalion tiga itu, sedang menghadap benteng-benteng yang berkeliling pinggir kampong.

Dua kali benteng itu diserang sebaik-baiknya, maka dua kali juga batalion itu diundurkan oleh musuh.

Takkala itu menjanjikan kecil hati serdadu itu, maka ajudan onder-officier E.C.O. Von Bredow, yang memikul bendera narandji itu lalu berlari ke pinggir kampong, serta bendera itu ditanamkan di kaki tembok benteng. Barulah orang menengok berbahaya bendera itu, maka secepat-cepatnya officer dan serdadu berlari kehadapan, sedang bendera itu dikepungkan berkeliling

Seperti karang batu di tengah laut, yang sia-sia dipukul ombak, serta tidak bisa dirubuhkan, begitulah orang-orang pelawan itu tetap tinggal ditempatnya. Meskilah beribu pelor musuh berbahayakan officer dan serdadu itu, maka tidak ada satu yang mengingat akan mundur.

Bersama-sama, benteng Aceh itu dilanggar dengan sungguh-sungguh, meskipun kuat sangat perlawanan musuh itu. Seperti macan galak batalion tiga tampil menyerang benteng-benteng Aceh, serta merebahkan segala barang yang menahan jalannya, musuh yang berani melawan ditikam dengan bayonet. Tidak lama kemudian daripada itu, antero kampong dikalahkan.

Maka sebab kelakuan, yang amat beraninya, bintang tanjung, yaitu Militaire Willemsorde diberikan kepada Ajudan onder-officier Von Bredow, Sergeant Majoor J. Bach, dan Sergeant Ambon L. Latoemaina. Bintang tanjung itu yang sudah diberikan kepada bendera narandji batalion tiga menunjukkan keberanian dan setia orangnya.

Maka haruslah anak-anak serdadu yang mengikut batalion tiga itu, baik di medan perang baik di tempat perdamaian selamanya mengingat akan laku jalan temannya dahulu, dengan hati besar boleh tunjuk pada perbuatannya itu. Harus jaga satu-satu serdadu mengingat keharusannya, kalau diserahkan perlawanan benderanya.

Meski berbahaya batul, jangan sekali-kali orang mengingat akan tinggalkan benderanya, maka lebih baik tetap ditempatnya atau meninggal dunia di medan perang.

Terhikayat oleh W.J Philips, Kapitein Infaterie

XXXXXX

Setelah kejatuhan Benteng Lhambhuek (Lembu)

29 Desember 1873 – Belanda menguasai Peunayong

6 Januari 1874 – Masjid Raya Baiturrahman diduduki.

24 Januari 1874 – Istana Aceh Darussalam lebur untuk selamanya.

XXXXXXX

Kutaraja (Nama Bandar Aceh Darussalam setelah ibukota direbut Belanda), Aceh 31 Desember 1874.

Sesudah menduduki istana, Jenderal Van Swieten mengeluarkan maklumat yang disebutnya dengan nama Proklamasi. Isi maklumat tersebut, “Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan sultan dan menempatkan daerah Aceh Besar menjadi milik pemerintah Hindia Belanda.”

Jenderal Van Swieten yang pada 16 April 1874 kembali ke Batavia dengan meninggalkan korban tewas sebanyak 28 orang perwira, 1024 bawahan, serta 52 orang perwira dan 1082 bawahan yang luka-luka dan sakit serta diungsikan ketempat lain.

Perang Aceh telah berakhir, bagi Jenderal Van Swieten ia meninggalkan Aceh dan tak pernah kembali.

XXXXXXXX

 KATALOG RISALAH SANG DURJANA

BAGIAN SATU.

BAGIAN DUA.

BAGIAN TIGA.

BAGIAN EMPAT.

BAGIAN LIMA.

BAGIAN ENAM.

BAGIAN TUJUH.

BAGIAN DELAPAN.

BAGIAN SEMBILAN.

BAGIAN SEPULUH.

BAGIAN SEBELAS

BAGIAN DUA BELAS

BAGIAN TIGA BELAS

BAGIAN EMPAT BELAS.

BAGIAN LIMA BELAS

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS

  1. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH BELAS | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN BELAS | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s