AKHLAK

Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

Nenek moyang kita mengenal alam dari lingkungan sekitarnya. Semua orang pada masa itu menjadi biolog, dan dunia menjadi ruang kelas. Dengan pengertian yang masih kabur, konon mereka tidak membedakan benda hidup dan mati. Selama belajar, nenek moyang kita tentu telah mengamati fakta yang muncul, beberapa benda cenderung membiakkan dirinya sendiri. Orang melakukannya, binantang melakukannya, dan dalam benak mereka yang primitive nampaknya batu dianggap dapat melahirkan banyak kerikil.

Beberapa filsuf Yunani berpikir lebih mendalam, merekalah yang pertama menyusun teori hereditas yang kukuh setelah berusaha menjawab pertanyaan. “Mengapa anak-anak menyerupai orang tuanya?”

Sebenarnya Socrates, filsuf, telah lama penasaran, mengapa kadangkala anak-anak justru tidak serupa orang tuanya. Ia sering berkata, putra pejabat Negara biasanya malas dan tak berguna. Kita harus selalu ingat, tidak semua kualitas diwariskan. Malangnya, dengan berkata jujur tanpa kenal gentar semacam itu, Socrates seperti memancing penduduk Athena untuk menghukumnya sampai mati.

Teori Hereditas Yunani yang paling koheren disusun oleh Hippocrates seorang dokter terkenal. Hippocrates menemukan, sumbangan laki-laki terhadap pewarisan anak terdapat pada cairan semen. Dia menganggap perempuan memiliki cairan serupa. Cairan tersebut, menurutnya dibuat di sekujur tubuh, dan dikumpulkan dalam organ reproduksi. Cairan semen dari jari jemari mengandung bahan-bahan banyak jari, cairan dari rambut untuk membuat rambut dan begitu juga seterusnya.

Pada saat pembuahan, terjadi semacam pertempuran antarcairan. Apakah tangan anak akan mirip dengan ibu atau bapak bergantung pada cairan semen jari siapa yang menang! Teori yang bagus hanya saja ia tidak memperhitungkan adanya anak yang berbeda dengan kedua orangtuanya. Pasangan bermata coklat sering memiliki anak bermata biru. Empedocles menganggap perbedaan ini sebagai hasil si ibu memandang patung-patung dengan penuh damba selama kehamilan.

Peradaban Yunani mungkin telah punah, tetapi Ilmu Pengetahuan terus bergerak maju!

X

Orang bilang kecerdasan seorang anak itu menurun dari ibunya, tapi ingatlah anakku! Segala kurang atas akhlakmu merupakan tanggungjawabku, ayahmu dalam mewariskan karakter. Itulah sebabnya pepatah melayu kuno berbunyi, bukan salah ibu mengandung.

XX

Sewaktu kecil, belum sekolah mungkin sekitar 4 tahun. Ketika aku tidur-tiduran di tikar, terpikir olehku tentang Allah. Bagaimana bentuknya? Dan dimana dia berada? Terbayang olehku seorang lelaki berjanggut yang berada di antara bintang-bintang. Tiba-tiba aku merasakan takut amat sangat, salahkah aku? Berdosakah aku? Rasa takut itu mendera sepanjang hari sehingga membuat aku tidak bersemangat untuk makan siang.

Dalam lelahnya ia setelah bekerja, setiap selepas Maghrib ia menjadi guru pertamaku mengaji dalam mengenal huruf-huruf hijaiyah. Alif, ba, ta, tsa. Setelah berpikir lama, aku mengutarakan pertanyaanku tadi siang, dan menceritakan apa yang aku bayangkan berserta perasaan yang telah aku alami sedari tadi.

Aku tidak ingat persis ekspresinya, aku masih sangat kecil saat itu. Aku rasa ayah terkejut, ia tidak siap mendapat pertanyaan tersebut saat itu. Ia menarik nafas panjang, mungkin keringat dingin juga. Kemudian ia menjawab setelah berpikir lama.

“Allah berada di arasy, singgasana-Nya. Mengenai bentuk, ketahuilah nak. Bahwa tiada dzat yang patut di sembah melainkan Allah. Allah SWT adalah pencipta segala di alam semesta ini. Allah Maha Sempurna, dan kita adalah ciptaan-Nya yang tidak sempurna. Maka dari itu kita memiliki otak yang tidak sempurna, jadi kita tidak mampu membayangkan kesempurnaan-Nya.”

Aku masih ketakutan. Takut kena marah, takut berdosa, perasaanku masih campur aduk. “Berdosakah aku membayangkan tadi siang?” Mataku berkaca-kaca.

Ia tertawa, perasaan tegang tadi yang dialami ayah mencair, “tentu tidak nak.”

Ia membelai kepalaku.

“Ayah baru ingat, pertanyaanmu tadi kurang lebih sama dengan pertanyaan Nabi Ibrahim. Fitrah manusia memang mencari tuhan, itulah yang dinamakan tauhid.

Aku belum mengerti istilah-istilah Arab itu, tapi dadaku terasa sejuk. Aku tersenyum lebar, setelah sepanjang hari penuh ketakutan.

Ia menambahkan, “jika satu hari nanti di masa depan, kamu merasa ragu, takut atau perasaan-perasaan tidak enak datang. Yakinlah kamu adalah makhluk-Nya, yang suatu hari akan kembali kepada-Nya. Berusahalah menjadi orang baik, meraih ridha-Nya. Mudah-mudahan kamu dapat bertemu dengan-Nya sesudah kematian. Karena ganjaran terbaik bagi kita bukanlah surga, aku ulangi bukan surga anakku. Melainkan melihat wajah sang Pencipta.”

Aku menatap ayahku dengan bangga, lelaki ini begitu istimewa. Ketika orang lain diajarkan untuk berusaha meraih surga, ia mengajarkan kepadaku untuk berusaha bertemu sang Pencipta. Mungkin, bagi orang lain dia hanyalah seseorang dengan vespa tua, tapi bagiku dia adalah ayah terbaik di dunia.

XXX

Aku sudah berkuliah dua semester di salah satu perguruan tinggi ternama di kotaku. Aku Secara iseng aku mengikuti sebuah tes, dan lulus. Tes tersebut meluluskan aku pada sebuah jurusan D1 di kota lain, namun dengan jaminan kerja. Setelah memutuskan matang-matang aku merasa akan mengambil pilihan ini.

Ketika aku bercerita kepada ayah, aku pikir dia sedikit kecewa. Dihidupkannya vespa lalu ayah pergi ke rumah sepupunya yang dianggap lebih bijak meminta pertimbangan. Belakangan hari aku mengetahui dari sepupu ayah tersebut, bahwa hari itu ia menyuruh agar menahan aku pergi. Dan ketika dalam meminta saran tersebut ayah malah mendukung keputusan aku, sepupu ayah itu malah marah. Sepupu ayah bercerita ulang padaku bahwa ia berkata, “Dia itu berprestasi, apa kamu tidak sanggup membiayai lagi sampai harus cepat bekerja!”

Aku hanya tahu hari itu, ayah kembali dan mengajak aku duduk di lantai kemudian berkata, “Sepanjang hidupku aku berharap  mempunyai anak-anak yang bisa membedakan mana yang benar dan salah. Anak-anak yang, pada saat harus membuat keputusan-keputusan besar akan melakukan hal yang benar. Aku percaya padamu, dan kamu melakukan hal yang benar. Mana mungkin bisa aku menahanmu sekarang?”

Selalu, ayahku adalah ayah terbaik di dunia. Ia mempercayaiku, di saat sebenarnya aku pun menyimpan keraguan di hatiku.

XXXX

Aku pikir, aku akan diberikan kesempatan untuk lebih membahagiakan ayahku. Aku sedang makan mie tiaw di kosan ketika mendapat telepon dari rumah bahwa ayah meninggal dunia. Aku terdiam, aku setengah tak percaya. Aku tahu ayah beberapa kali sakit parah, tapi ayah selalu sembuh. Ayah begitu tangguh sehingga aku pikir dia tak akan pernah terkalahkan. Aku salah, dan perlu delapan tahun kemudian untuk berani makan mie tiaw kembali.

Aku tiba di rumah sesaat sebelum ayah dimandikan, mungkin inilah yang dinamakan kiamat kecil dalam hidupku. Seperkasa apapun aku coba menahan diri, air mata tanpa henti menetes.

Aku lemah, sampai mama memelukku. Ia wanita perkasa, aku tahu. Ketika perempuan paling hebat penah aku kenal itu, memeluk tanpa daya sama sekali. Terpikir olehku, aku tak boleh lunglai, karena akulah yang harus menjadi paling kuat, menjadi paling perkasa.

Aku harus menjadi tiang pancang terkuat!

Sebelum beliau dimasukkan ke peti jenazah, aku memandang wajah ayah untuk terakhir kalinya. Aku melihat ayah tersenyum, damai. Aku menciumi wajah beliau, dan aku bisikkan di telinga ayah. “Ayah kembalilah kepada-Nya dalam damai, karena segala tanggungjawab ayah terhadap keluarga ini telah aku terima, ini janjiku!”

Tanah merah selesai ditimbun, satu persatu keluarga pulang. Aku berdoa, “Ya Allah sayangi ayah hamba milyaran kali lipat daripada ia menyayangi aku.” Dan aku selalu berdoa agar ayah menjadi orang yang kelak dijumpai Allah SWT di kehidupan kemudian.

XXXXX

Aku mungkin belum menjadi seorang ayah, tapi sedikit mulai memahami kenapa ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua. Mereka membesarkan, mendidik, menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan semampu mereka, kalau dipikir-pikir sebelum mendidik kita, mereka tidak pernah belajar mendidik orang lain.

Aku merasa belum menjadi insan kamil, banyak kesalahan kanak-kanak masih aku lakukan, tapi aku selalu berusaha tidak melakukan tindakan tercela, karena aku meyakini di sana, ayah akan bersedih.

Memiliki orang tua adalah kebahagiaan. Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

XXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s