ZARAH

Di akhir penderitaan dalam sejarah panjang manusia, angka yang di dapat hanya satu.

X

Hari ini masa mudaku, kuhisap tembakau karena ia pelipurku; Jangan salahkan aku, meski pahit tembakau itu sedap, ia pahit karena ia hidupku.

Hari ini masa mudaku, kuhisap tembakau karena ia pelipurku; Jangan salahkan aku, meski pahit tembakau itu sedap, ia pahit karena ia hidupku.

Kepada kamu yang pernah menjadi orang yang paling aku sayangi. Ketahuilah, setiap orang pernah terluka. Tidak mungkin kita, dia atau siapapun menjalani hidup tanpa terluka.

Aku selalu membayangkan hal ini, tirai putih yang tertiup angin memandang pucuk daun di luar jendela. Aku terbaring di rumah sakit dalam kondisi tidak bergerak dan hanya merasakan energi dedaunan itu dengan susah payah. Seluruh tubuhku sakit, tapi sebentar lagi operasi yang akan mengakhiri penderitaan akan dimulai.

Waktu operasi akhirnya tiba. Dokter yang akan mengoperasiku pun muncul. Dokter tersebut adalah aku. Tidak usah cemas! Kau adalah aku. Akulah orang yang melakukan operasi itu.

Seperti dokter yang menyebalkan, aku tidak bisa protes karena dia adalah diriku sendiri.

Kau bilang manusia tergoda berbuat jahat akibat pengaruh masyarakat. Kalau terus berpikir seperti itu, kelak akan muncul dokter yang berpikir ini semua gara-gara masyakakat. Kegelapan akan tetap ada.

Menghasilkan uang itu yang paling penting atau bekerja demi hidup atau walau bodoh, asal sepenuh hati tidak masalah. Bayangkan bahwa ditengah masyarakat yang menganut nilai-nilai seperti itu muncul dokter dengan prinsip yang sama.

Tapi alangkah baiknya kalau kau bisa bertahan supaya tidak terseret kedalamnya.

Mengapa? Kita adalah dokter. Ilmuwan yang paling dipercaya tuhan adalah ahli matematikawan, sedang dokter tidak. Aku bukan orang romantis seperti mereka. Melainkan orang yang memegang prinsip realitas. Kau mengerti perbedaannya?

Katanya matematikawan adalah orang yang romantis. Membuat aksioma pembuktian yang tidak memerlukan penjelasan. Matematika eksis karena berdiri di atas setumpuk aksioma.

Ahli matematika selalu memulai dari pembuktian aksioma, setelah itu mereka menciptakan dalil yang akan membuktikan kebenaran pembuktian tersebut. Aksioma para ahli matematika zaman sekarang adalah teori kolektif. Kau tahu apa syaratnya?

Himpunan kosong phi atau nol

Benar, bilangan nol tidak memerlukan pembuktian ataupun paradoks. Seorang dokter sebaiknya mengetahui teori bilangan nol itu, yang juga akhir, kematian. Manusia akan mati itu adalah suatu kenyataan.

Dalam kenyataan ada yang disebut kematian. Kematian adalah sesuatu yang tidak memerlukan penjelasan dan tidak memerlukan paradoks apapun. Orang yang memikirkan hal-hal tak terhingga seperti itu. Adalah orang yang romantis.

Aku bukan orang yang romantis, aku bukan mereka. Padahal hari terang seperti ini. Tapi kata mereka bulan masih terlihat. Kau hanya melihat apa yang ada dalam pikiranmu. Maaf, tapi pemandangan yang kau lihat sama sekali tak terlihat dimataku.

Akan lebih baik bila orang seperti aku yang bercita-cita menjadi dokter mengerti keberadaan bilangan phi itu. Dan sebaiknya manusia mengetahui akan kenyataan keberadaan bilangan kematian (nol)

Tapi coba lihat! Cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri. Biar aku beri satu nasehat. Aku menyampaikan sesuatu yang sepatutnya aku sampaikan. Kelak, pasti kau akan menemui kenyataan.

Rembulan! Kelak kau akan menemukan rembulan. Lebih indah daripada yang pernah kau lihat! Lihatlah! Aku bisa pun akan menggapainya. Meski kita harus patah, harus berpisah, meski kita kembali ke bilangan nol dihidup kita masing-masing.

Saat ini, aku hanya ingin sekali lagi melihat kamu, kenanganku di masa lalu.

XX

Percayalah pada usia tertentu, pada tahap tertentu, seorang pria yang belum menikah bisa menjadi buruk.

XXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s