RAMADHAN DAN RELATIVITAS

Ramadhan dan RelativitasOrang bijak berkata, “Tuhan memberikan semua masalah yang mudah kepada fisikawan”,menjelaskan secara tidak langsung bahwa ilmu di luar fisika tepatnya yang mempelajari manusia itu sangat rumit.

Rasanya konyol mempertanyakan hal yang bekerja sangat baik. Seperti Elektromagnetis misalnya. Elektromagnetis membingungkan, setidaknya membingungkan Albert Einstein. Ia membayangkan dua orang (Misalnya Penyair dan Barbarossa) membawa kompas magnetik, muatan listrik lewat. Penyair berdiri diam, sementara Barbarossa terbang bersama muatan-muatan itu dengan kecepatan yang sama.

Jarum kompas Penyair melenceng, tapi jarum kompas Barbarossa tidak! Dari sudut pandangnya muatan-muatan listrik itu tidak bergerak. Atau, Barbarossa terbang dengan memegang sepasang muatan. Ia hanya melihat medan listrik mereka. Namun Penyair (diam) juga melihat medan magnet karena pergerakan itu. Kedua pengamat tidak sepakat mengenai medan yang ada. Pengukuran kita tidak cocok!

Semakin aneh saja, Bila Barbarossa melepaskan kedua muatan tersebut, keduanya saling menjauhi. Namun Penyair melihat keduanya memisah secara lebih lambat daripada Barbarossa, akibat daya tarik magnet. Kedua pengamat itu mengukur kecepatan secara berbeda. Semakin aneh.

Einstein menerbitkan analisis ganjilnya mengenai keganjilan itu pada 1905. Kedua pengamat mengukur kecepatan berbeda, ia berkata sebab dari sudut pandang Penyair, waktu melambat bagi Barbarossa. Benar, bila Barbarossa membawa arloji, Penyair melihat  arloji itu berjalan lebih lambat dari yang dilihat ditangannya sendiri.

Pada kecepatan rendah, arloji hanya melambat sedikit, sehingga tak cukup untuk diukur dengan cara biasa. Namun seiring peningkatan kecepatan Barbarossa mendekati kecepatan cahaya, Penyair melihat arlojinya makin melambat, sampai betul-betul berhenti.

Agar tambah pusing, Einstein juga menunjukkan bahwa benda bergerak bertambah pendek (seturut arah gerakan) dan massa bertambah, seiring semakin dekat kecepatan benda dengan c, panjang menyusut ke nol, dan massa meningkat tanpa batas. Rentetan pemikiran aneh ini, didukung oleh perhitungan yang mantap, dikenal sebagai Teori Relativitas.

Beberapa bulan kemudian, Einstein menerbitkan makalah pendek mengenai massa yang bertambah itu. Sewaktu kita menambahkan energi ke benda bergerak (misalnya mendorong), kecepatan bertambah, lantas massa juga bertambah dalam cara relativitas yang janggal.

Entah bagaimana, sebagian energi yang ditambahkan diubah menjadi massa. Ketika Einstein menurunkan rumus yang menghubungkan massa (m) dengan energi (e) ternyata rumus itu sederhana sekaligus meresahkan : E=MC2. Meresahkan karena c, kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik, maka c2 adalah 90.000.000.000 km2/detik2. Angka yang luar biasa besar, massa yang sangat sedikit berpotensi melepaskan energi jumlah dasyat.

Secara singkatnya, analisis statistika atas gerak atom untuk pertama kalinya bahwa atom dan molekul merupakan benda fisik nyata. Dan ia menjelaskan efek foto elektrik dengan memperlakukan cahaya sebagai aliran partikel (bukan gelombang). Satu lagi gagasan revolusioner memusingkan yang membantu meletakkan landasan mekanika kuantum.

Bagi yang bertanya-tanya apa hubungan antara Teori Relativitas yang melibatkan waktu, massa dan energi dengan terciptanya bom atom mudah-mudahan ini menjawab sedikit pertanyaan.

Ramadhan identik dengan puasa. Puasa terkait dengan waktu. Sebulan dalam setahun, umat muslim yang merasa diri beriman dan berkeinginan menjadi orang yang bertakwa berpuasa. Puasa yaitu menahan diri dari segala yang membatalkannya (seringnya hanya diassosiasikan makan dan minum saja) dari terbitnya fajar sampai tenggelam matahari, dari shubuh ke maghrib.

Apa yang menarik disini? Waktu. Seperti kata Einstein, waktu itu relatif. Maka berdiam diri menunggu waktu berbuka dengan berkegiatan dalam menghadapinya akan berbeda. Manusia juga memiliki massa, dan energi. Oleh karena itu waktu di bulan Ramadhan itu baiknya diisi dengan serangkaian kegiatan kebaikan.

Jika hanya kebaikan, waktu, massa dan energi. Apa yang membedakan Ramadhan dengan bulan lain? Pengalaman akan pengorbanan. Sesungguhnya kebijaksanaan manusia itu teruji oleh berbagai hal. Lapar, lemas, marah. Tidak ada yang mampu menandingi nilai pengorbanan, tidak pengetahuan dan tidak pula pengalaman.

Oh, satu lagi keistimewaan ramadhan. Bom Atom bernama “Lailatul Qadar”. Relativitas waktu yang ajaib dimana semalam menjadi seribu bulan. Di mana seorang anak manusia tercerahkan pada satu malam.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183)

Allah SWT memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman. Kenapa bukan orang Islam? Karena iman di dalam hati. Berbeda dengan ibadah lainnya, puasa itu tidak bisa dinilai oleh orang lain. Shalat, zakat dan haji terlihat oleh orang lain. Tapi puasa hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang mengetahui kebenarannya.

Jadi jika ada orang Islam pada bulan Ramadhan yang tidak berpuasa (diluar mereka yang diringankan), mungkin dia baru ber-Islam belum ber-Iman. Apakah juga dengan berpuasa manusia dapat menjadi manusia bertakwa? Belum tentu, semua tergantung dari kualitas dirinya dalam menjalani ibadah puasa.

Ramadhan adalah bulan etika. Ketika manusia menjadi pribadi lebih baik. Kenapa etika? Etika berada diatas hukum yang secara harfiah menilai baik buruk, Ramadhan lebih dari itu. Ramadhan seharusnya membimbing seorang beriman menjadi ideal (takwa). Patokannya adalah ketika seseorang menjadi pribadi yang lebih baik maka ia menjalani Ramadhan dengan sukses.

Apakah saya benar? Entahlah, karena ini semua lebih rumit dari Fisika. Selamat menjalankan ibadah puasa, dan semoga kita semua menjadi orang bertakwa.

X

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s