JARING KAMALANGA

Impian itu berbagai-bagai coraknya, isi dan maksudnya, ada impian yang tidak teringat lagi pada saat bangunnya, ada yang teringat tetapi tidak mengandung maksud apa-apa, ada lagi impian yang teringat benar-benar dan mengandung maksud apa-apa, ada lagi impian yang teringat benar-benar mengandung keadaan, ada pula yang mengandung ramalan tentang kejadian akan tetapi dengan perlambang dan ada juga yang mengandung ramalan tentang kejadian tidak dengan perlambang, akan tetapi dengan senyata-nyatanya. Impian-impian yang mengandung ramalan itulah peristiwa-peristiwa gaib, yang menjadi bukti, bahwa rohani mempunyai hadirat sendirim kecakapan sendiri dan dapat bertindak sendiri.

X

Pada sebuah malam yang sepenuhnya dikuasai kegelapan, di dalam sebuah liang di tanah, seorang bocah tertidur pulas di lantai. Liangnya bukan liang yang buruk, kotor, basah, penuh cacing dan berbau busuk. Juga bukan liang yang kering, gersang, dan berpasir, di dalam liang tersebut hanya ada satu kursi, bocah tersebut meringkuk bawah kursi tersebut, tidur dalam damai. Liang ini berpintu bundar, sejenak kemudian pintu terbuka, masuklah Sang Musang dan Sang Ular, lama mereka memperhatikan lelapnya tidur sang bocah.

Berkata sang Musang kepada sang Ular. “Sungguh kasihan bocah yang tertidur itu, baiknya ia kita serahkan kepada Kamalanga, agar disembuhkan luka-lukanya.”

Menjawab Sang Ular kepada Sang Musang.  “Sungguh licik engkau sang Musang, demi melepaskan diri dari jerat jaring Sang Kamalanga, engkau rela menumbalkan bocah naif itu!”

Tertawa sang Musang dengan terbahak, ia berkata. “Wahai sang Ular, jaring Kamalanga tidak akan mampu menjeratku. Aku unggul segalanya dibandingkan dia, aku hanya kasihan pada bocah ini, jaring Kamalanga sangat baik untuk mengobati, dan Sang Kamalanga juga membutuhkan teman yang naif.”

Sang Ular mengenyitkan dahi, “Sungguh kitab Suci menceritakan keburukanku, namun sesungguhnya Sang Musang, engkau lebih jahat dibandingkan aku. Tak mungkin aku berseteru denganmu, wahai Sang Musang yang Bijak. Lebih baik aku turut rencanamu.”

Sang Musang menjabat Sang Ular, “sepakat!”

Entah kebetulan, entah takdir Tuhan yang menyibakkan rahasia dalam kegelapan. Bocah tersebut belum sepenuhnya tidur, ia mendengar percakapan mereka. Tak lama kemudian, setelah Sang Musang dan Sang Ular berlalu, ia yang malang itu duduk di kursi sambil memegangi kepalanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang telah dan akan terjadi, siapa Sang Musang? Siapa Sang Ular? Dan siapa Sang Kamalanga?

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian.

Lawan bukanlah musuh, dan manusia, makhluk yang bermain, tak usah malu untuk tak senantiasa bersungguh-sungguh.

Lawan bukanlah musuh, dan manusia, makhluk yang bermain, tak usah malu untuk tak senantiasa bersungguh-sungguh.

“Sang Kamalanga, tak bersuara menangis, tak bersayap terbang, jauhkan diri dari jerat jaringnya, bergigi mengigit, mulut berbisik, mula-mula ia memamah lalu mengunyah, kemudian diam tak berubah. Sang Kamalanga, benda ini makan segalanya. Sang Kamalanga, dan jaring-jaringnya”

Bocah itu tercekat dan pucat.

XX

Suara riuh dan menggaduh itu membangunkan Ahmad, sudah sepertiga malam. Sepertinya aku tertidur beberapa jam saja tadi. Ia jengkel jengkel karena terlonjak bangun. Tapi ia segera merenggangkan tubuh sekejap, bagaimanapun aku sudah terbangun pikirnya. Ia menyapu pandangan disekeliling kamar, terkejut ternyata ada sesosok berbaju putih sedang duduk di lantai memperhatikan dirinya sedari tadi, Ahmad merasa akrab dengan orang tersebut. Ia mencoba mengingat siapakah gerangan lelaki yang tersenyum ramah seraya menyilangkan jari menatap dirinya. Lalu ia mengingat siapa orang tersebut.

“Engkaukah itu Muhammad?”

Sosok tersebut tersenyum lebar, kemudian balas bertanya kembali. “Benar Ahmad, ini aku Muhammad.  Apa kabarmu wahai Ahmad?”

Ahmad terlonjak senang, ia bertemu sahabat lama yang tak kunjung memberi kabar. “Aku baik-baik saja sahabat, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sekitar sepuluh tahun ya.”

Muhammad menggeleng, “mungkin kamu sudah tidak melihat aku selama sepuluh tahun, namun aku selalu melihatmu. Tahukah kamu? Aku tidak akan mengunjungimu jikalah aku merasa kamu tidak membutuhkan aku.”

“Aku rindu padamu sobat, kita berdebat tentang hakikat setiap malam dulu. Ada masa-masa aku mencari sumber ilmu pengetahuan bagi segala raguku, engkaulah yang menuntunku dahulu. Tapi, kalau alasan aku membutuhkan kamu saat ini, sepertinya kamu mengarang. Aku baik-baik saja, memiliki hidup yang hebat sekarang, lihatlah.” Ahmad tertawa riang.

“Kamu selalu optimis Ahmad, itulah yang membedakan kita sedari dulu. Sayangnya Ahmad, kamu yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru dan bulan-bulan yang baru selamanya tak menyadari bahwa dalam kerinduanmu itulah terbawa kuman kematian.”

“Mengapa kamu berkata seperti itu sahabatku? Kata-katamu sedikit mengerikan?”

“Kamu sudah melewatkan banyak hal Ahmad, untuk itu aku bersedih untukmu. Aku hanya mengingatkanmu, bahwa kepekaanmu terhadap hal detil telah melemah jauh. Kamu tidak sadar, ada tangan-tangan ajaib yang telah menuntunmu menuju jaring Kamalanga.”

Ahmad terkejut, ia tahu Muhammad adalah satu-satunya sahabat di dunia yang selalu memberitahukan kebenaran, pahit atau manis sekalipun. “Jika aku salah melihat apa yang tersirat maka beritahukanlah wahai sahabat.”

“Untuk itulah aku hadir untukmu sobat, aku hanya ingin mengingatkanmu. Namun sebelum aku memberitahukan itu, aku meminta satu syarat padamu.”

“Apa itu wahai Ahmad?”

“Bersiaplah untuk kecewa, selepas ini dunia tidak akan pernah engkau pandang sama. Dan aku meminta kepadamu, jangalah terlalu kecewa apabila apa yang kamu lihat dan kamu dengar tidak sepenuhnya benar.”

Antara ragu dan tidak, akhirnya Ahmad mengangguk. Kemudian Muhammad berdiri, ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Ahmad, seberkas cahaya perak keluar dari situ. Tak lama kemudian, waktu berputar terbalik mundur satu hari, satu bulan, satu tahun sampai tiga tahun kebelakang. Kemudian tertampilkan di situ sebuah layar yang berjalan perlahan, menampilkan dirinya, menampilkan orang-orang disekitarnya, menampilkan dialog-dialog yang terpenggal, dan tertampilkan kejadian-kejadian yang tidak ia ketahui, beberapa kejadian seharusnya ia ketahui sendiri, beberapa tidak. Setelah ia mengetahui segalanya, Ahmad terisak. Hatinya sangat sedih.

“Kamu sudah berjanji sobat.” Muhammad mengingatkan.

Ahmad menjawab, “aku adalah orang yang kadang-kadang juga mengingkari janji, kamu tahu itu. Tapi aku sudah meneguhkan hati. Tapi tenang sobat, aku akan mencoba menepatinya. Hanya saja, aku berpikir aku menang, ternyata tidak. Aku berpikir aku hebat, ternyata juga tidak.”

“Seperti ketika kamu berpikir aku ini ada, padahal mungkin tiada?” Muhammad tersenyum.

“Kita. Aku dan kamu sudah mengetahui sedari dulu, bahwa kita ini satu. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku.”

Mereka adalah sepasang cermin yang saling memantulkan. Dalam wajah yang sama.

Muhammad tersenyum. “Iya.”

“Aku hanya ingin menyampaikan salam dari mereka yang mencintaimu, percayalah harapan itu ada. Baik mereka yang sudah ada di alam berbeda, maupun mereka yang masih ada di dunia namun tak bisa menyentuhmu lagi.”

“Sampaikan salam dariku untuk mereka, dan kamu sobat! Rajin-rajinlah berkunjung.”

“Baik sobat.” Muhammad memamerkan gigi mereka yang serupa. “Tapi aku tak bisa berjanji selalu hadir. Pesanku adalah janganlah menyalahkan siapapun dalam hal ini, baik Sang Musang, Sang Ular, Sang Kamalanga, atau siapapun itu. Ikhlaslah sahabat, sekarang kamu sudah dewasa sekarang.”

“Jika aku ragu, kemanakah aku bertanya sobat?” Ahmad kebingungan.

“Percayakan bahwa hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya. Percayalah, seorang lelaki dengan hati nurani, adalah lelaki yang paling berbahaya di dunia.” Muhammad tersenyum kemudian memeluk Ahmad, samar-samar tubuhnya menghilang, tinggallah Ahmad yang terdiam dan terpaku.

XXX

Aku terjaga dari mimpi, sepertinya aku bermimpi didalam mimpi. Dunia mimpi timpa menimpa. Benar-benar mimpi yang eksatik. Sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh. Sebentar lagi hari yang baru akan dimulai kembali, tahun ini menjelang akhir, antara cita-cita, harapan dan kerelatifan masa depan. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi yang baru, sekaligus pagi yang lama, selamat pagi dunia yang purba, selamat pagi repetisi.

Terima Kasih ya Allah atas mimpi ini, segala puji dan syukur untukmu Penguasa Semesta Alam. Dan aku mengawali hari dengan mata berkaca-kaca.

XXXX

Pertanyaan dalam hidup yang paling tampak mudah, sekaligus yang paling susah dijawab, adalah “siapa saya?” Betapa banyak orang menghabiskan seumur hidup untuk mencari jati dirinya sebenarnya.

XXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s