NISBI

Di kala bayang langit kelabu yang tiap hari merundung, dengan matahari berbalut suram. Aku merindukan langit biru. Dalam kenangan langit biru, hujan deras, embun pagi, nyiur melambai, dan deburan ombak.

Di kala bayang langit kelabu yang tiap hari merundung, dengan matahari berbalut suram. Aku merindukan langit biru. Dalam kenangan langit biru, hujan deras, embun pagi, nyiur melambai, dan deburan ombak.

Mungkin ini hanya utopia nirwana, dan bahwa hidup itu harus selalu diisi dengan cinta kasih. Lantunan ini terdengar begitu murni, seperti bocah-bocah sekolah berbaris di depan gerbang, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah yang sungguh menggetarkan hati.

Tapi, itu tidak sepenuhnya benar.

Dan (terkadang) kita harus pasrah menerima (beberapa) nasib buruk sebagai takdir. Dan (mungkin) tak ada tafsir kata yang akan tepat berbicara, ketika lidah seolah menolak berkata-kata padahal banyak yang ingin diungkapkan.

Dan (ternyata) derita jiwa tak menumpul seiring bertambah usia. Ada kebanggaan yang pudar, semangat yang menipis, seperti sungai yang begitu deras dan dasyat di hulu, lalu meresap dan melebur dalam kegersangan gurun di hilirnya.

(Pasti) setiap manusia memiliki beberapa cerita tersembunyi, bahwa sebenarnya hidup mampu menebus ketidakmurnian yang lain. Pahit tapi ironis, pasrah juga menyimpan gairah. Ia yang sunyi, terasing di antara lalu lalang, siap menjangkau peta yang berbeda, zaman yang lain, meski tak selamanya didukung. Disitu ada rindu, dimana diharapkan hadir kebajikan.

Yang memukau tak selamanya memukau.

Ketika terhenyak merasakan perasaaan, perasaan yang sudah lama tak pernah datang kembali. Kekosongan dan kehampaan mengundang misteri. Dalam putih sempurna yang begitu luas, membuat merenung, apakah kehidupan (seperti) di samudera hampa itu, Nisbi.

Sesungguhnya, tiap-tiap langkah terlewat adalah sejarah. Dibalik diam ada syair, dalam gerak ada zikir. Saat zikir-zikir mulai patah-patah, mata perlahan tertutup, kemudian lelahnya lidah terhenti jiwa yang terlelap.

Tetapi, semua manusia pasti (pernah) punya masalah.

Dan (mungkin) hanya dalam sengsara dan mengenal kesengsaraan. Kebesaran jiwa bukan sebuah kesombongan. Dan (selalu) sebuah pagi setelah hujan akan sangat menyegarkan. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia.

Bait Al Hikmah, Hari Asyura, 10 Muharram 1435 H (bertepatan 13 Desember 2013)

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s