MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap kata, kalimat, tindakan adalah perwujudan diri. Melekat kuat pada kesejatian individu sehingga siapapun kelak akan mengenalinya sebagai “hakikat jiwa” dari seorang anak manusia. Meski jiwa adalah substansi sederhana, ia tidak dapat diraba dengan salah satu pancaindera, karena pancaindera tiada memiliki kemampuan mengetahui selain sesuatu yang dapat diraba. Jiwa itu adalah ma’rifat akal yang (mungkin) saling bertentangan, sulit memperoleh pengertian melalui pancaindera belaka.

X

Everybody changing, but old friends still same

Everybody changing, but old friends still same

Assosiasi Budjang Lapok adalah organisasi Paradoksal. Kadang-kadang dalam berbual di lepau nasi mereka terlihat saling akur, tentram dan gembira. Akan tetapi ada juga saat mereka saling menikam lewat kata-kata berduri dan tanpa tendeng aling-aling. Semua pernah menjadi korban pembunuhan karakter ini, terluka dengan parah bergantian. Namun, dunia selalu menyimpan perkecualian, dalam hal ini Barbarossa selalu selamat. Karena ketua Assosiasi ini memiliki kelebihan meralat kata-katanya sendiri, menurut bahasa ABL itu adalah Ilmu Adjust (Penyesuaian). Jurus pertama adjust adalah lupa, atau pura-pura lupa. Melupakan adalah kutukan, dalam hal ini Barbarossa berhasil menyulap menjadi anugerah sehingga ia yang hanya memiliki kemampuan rata-rata saja didaulat sebagai ketua, namun Barbarossa ini bukan tanpa kelebihan, ia menguasai seluruh ilmu di semua bidang (tidak ada anggota ABL yang memiliki kemampuan rata-rata sebaik Barbarossa, biasanya mereka sangat ahli di bidangnya tapi hanya di satu, dua atau lebih sedikit).

Seluruh manusia adalah tempat lupa dan khilaf bersemayam, itu berbanding terbalik dengan Penyair, ia adalah anggota ABL yang paling baik ingatannya, paling bagus daya rekamnya.  Sebagaimana kita ketahui bahwa dunia ini selalu seimbang (Give and Curse) tidak pelupa sekaligus ia merupakan anugerah maka ia (bisa) pula menjadi kutukan bagi pemiliknya.

Kadang-kadang kita mesti bingung dalam mendudukkan seseorang, contohnya seorang anggota Assosiasi Budjang Lapok bernama Penyair itu. Orangnya jelas cemerlang, kreatif dan inovatif – terutama dalam mengendus kata-kata yang seolah tak bermakna dari percakapan seloroh untuk mengejawantahkan dalam bentuk sistematis, sehingga lebih bermakna bagi yang mendengarkan. Idenya untuk me-modern-kan duduk-duduk di lepau nasi menjadi berfaedah dengan brilyan ia laksanakan. Ia menggerakkan ABL popular dengan kata-katanya, sebagai penyambung lidah yang telaten. Jelas ia juga merupakan cendikiawan yang sosial, berbudi bawa leksana. Seluruh anggota Assosiasi Budjang Lapok mengakui dengan adil, bahwa meskipun Penyair itu kadang-kadang narsis, ke-overacting-an, bolehnya membagi-bagi rezeki pengetahuan yang ia baca dari berbagai kitab, ia adalah pembaca terajin di ABL. Namun tidak ada orang yang sempurna, bisa dikatakan, tidak ada orang yang berhak mendapatkan kesempurnaan, Penyair ini merasa tahu segalanya, menurut diagnosis Tabib Pong itu adalah efek samping dari terlalu banyak membaca. Penyakit kecil itu, bila dibiarkan akan memancing komplikasi lain, itu pasti! Setidaknya dalam ilmu pertabiban.

Dan itu akhirnya terjadi. Penyair ini sangat pemalas, akibat terlalu pemalas dia melewatkan banyak hal baik dengan menghabiskan waktu di tempat tidur, ia juga kurang peduli dengan masa depan. Serta yang paling parah, Penyair adalah satu-satunya anggota ABL yang “terlihat” tidak berhasrat mengakhiri masa bujang. Itu mengesalkan bagi anggota ABL lain, terutama bagi mereka yang telah berusaha mengenalkan banyak anak dara kepadanya, namun Penyair hanya menarik alis dan mengemukakan banyak alasan. Masalah ini melebar kemana-mana, sampai-sampai Abusyik dari organisasi Warlords pernah dengan sengaja menyempatkan diri mampir ke lepau nasi untuk menyindir, “Saya heran dengan pemuda zaman ini, berwajah tampan, dikenal baik serta mampu menghidupi. Akan tetapi kemauan tidak ada.” Semua menunggu reaksi Penyair kita, namun dia hanya minum teh dengan santai, entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

Suatu hari di lepau nasi, tak seperti biasanya, selimut kabut seolah menggantung di atas kota Bandar. Dalam hening, rombongan kafilah itu berjalan di balik kegelapan yang menyelimuti  dan menggoreskan jari-jemarinya yang hitam kelam di atas dinding-dinding batu paras banteng. Assosiasi Budjang Lapok lahir di dunia lain, dunia yang manis dan tak serius, sebagaimana balita ia berkembang menjadi dewasa dan serius.

Adalah Professor Gahul yang pertama tidak sanggup lagi menahan diri, ia merasa Penyair tidak bisa diluruskan dengan kelembutan, perlu ada aksi yang lebih keras, “Penyair, kamu masih normal?”

Penyair menarik alis. “Apa yang salah dengan beta?”

“Kamu dikenalkan sama anak dara yang ini tidak mau, sama yang itu tidak mau? Jadi mau kamu apa?”

“Kenapa memaksa? Beta manusia bebas, tidak tunduk atas kehendak dan keinginan orang lain.” Tanya Penyair.

Alah, Professor Gahul tidak usah dipaksa Penyair, dia memang sedikit bodoh masalah itu.” Sembur Amish Khan, Penyair melirik.

“Penyair itu tidak suka dengan anak dara, tapi dengan bujang.” Laksamana Chen menusuk diiringi cekikan nakal.

Penyair mulai tersinggung, sejatinya ia dibalik tampilan intelektual merupakan orang yang sensitif, dan ini merupakan hinaan terpahit bagi dirinya.

“Oh tidak, Penyair itu pacaran dengan kitab.” Amish Khan tertawa seraya memukul-mukul meja.

“Beta memiliki jiwa yang murni ya, memulai sesuatu harus dengan cinta. Dan itu tidak bisa dipaksakan.” Penyair mencoba membela diri.

“Terus kapan sang Penyair ini jatuh cinta?” Tanya Professor Gahul.

Penyair kebingungan, dia tidak tahu. Ia melihat kekiri dan kanan, hanya Tabib Pong, Mas Jaim dan Barbarossa yang masih diam. Ia melihat sang ketua Barbarossa meminta bantuan.

“Bingung!” Sambar Laksamana Chen.

“Tidak ada di buku itu Penyair!” Amish Khan memberikan tekanan.

“Jangan-jangan benar Penyair ini….” Professor Gahul tersenyum centil.

Penyair kehabisan kata-kata, ia tidak mungkin menjawab seluruh serangan secara bersamaan, ia masih mengharapkan bantuan.

“Itu semua, karena pikiran Penyair ini jahat. Dia penuh konspirasi sehingga menganggap apa yang kita tawarkan kepadanya adalah jebakan.” Kali ini Barbarossa yang bicara.

“Kamu juga menikam dari belakang Barbarossa?” Penyair terkejut.

“Baik, beta keluar dari Assosiasi Budjang Lapok. Kita sudah tidak sejalan lagi, silahkan melanjutkan organisasi ini sesuai keinginan kalian. Beta berhenti!” Penyair melemparkan koin dan pergi, semua anggota ABL tertawa, hanya Tabib Pong yang menutup muka kemudian menggelengkan kepala.

Senja tak selamanya mengguratkan keindahan dalam hati yang rawan, langit senja hanya mendatangkan rasa pedih dan gulana. Itulah yang dirasakan oleh Penyair, ia bukannya tak sakit hati atas ejekan teman-temannya. Ia tak menyangka sama sekali, bahwa segenap teman-teman dekatnya mengeroyok secara bersamaan. Ia adalah manusia tipe lama, yang berpikir duel sejati adalah satu lawan satu. Ia kecewa ketika nilai-nilai kuno yang dia anut bertentangan dengan keadaan zaman terbaru.

XXX

Tak disangka, tak diduga, bahwa anggota ABL yang paling perhatian itu adalah Mas Jaim, selang sehari setelah kejadian. Mas Jaim datang menyambangi Penyair ke rumah, mengajaknya kembali bergabung.

“Tolonglah Penyair, dunia perlepauan tidak akan seru jika tidak ada kamu.”

Penyair bahkan tidak turun tangga rumah, di pintu ia hanya dengan berkacak pinggang dan berkata, “sampai kiamat pun, beta tidak akan bergabung kembali!”

Mas Jaim pun berbalik dengan wajah sedih.

XXXX

Berbagai usaha telah dilakukan untuk membujuk Penyair yang merajok kembali ke Assosiasi Budjang Lapok telah dilakukan, semua yang dilakukan itu menemui jalan buntu dikarenakan kekeraskepalaan Penyair kita. Kehilangan Penyair ini lebih dirasakan anggota Aliansi lainnya yaitu Barbarossa dan Tabib Pong. Mereka pun melakukan diskusi kecil.

“Bagaimana bisa Penyair sedangkal itu? Barbarossa bertanya.

“Kamu salah Barbarossa. Tentu bisa. Selama ini waktu kita bersama lumayan banyak, seolah-olah kita telah mengenal lama, saling berbagi kenangan dimasa lalu. Salahnya, kita berpikir Penyair memiliki pengalaman sejumlah yang kita miliki. Sebenarnya tidak! Berbagai kitab yang ia baca mungkin membuat dia seolah setara dengan kita, padahal tidak. Tidakkah kau menyadari, sebenarnya dia masih hijau. Ada banyak hal di kehidupan nyata, yang sebenarnya ia tidak tahu.” Jawab Tabib Pong.

“Mungkin ia sudah berubah banyak, dari awal kita mengenalnya. Namun belum sebanyak yang kita pikirkan.”

“Tidak apa, sebuah luka akan baik. Ia akan belajar untuk bangkit.”

“Kamu yakin?”

“Sangat yakin. Karena dia adalah sang Penyair.”

XXXX

Penyair akan kembali, dan harus kembali! Karena bagaimana pun hebatnya cerita Assosiasi Budjang Lapok di lepau nasi, itu semua tidak akan tersampaikan kepada khalayak jika tidak ada yang menuliskan. Di antara banyak kekurangan karakter yang ia miliki, ia memiliki satu keahlian lain khusus yaitu bercerita.

Kepada para pembaca yang mengikuti edisi Assosiasi Budjang Lapok diharapkan bersabar dahulu, karena cerita ini akan digantung sampai dengan Penyair selesai merajok. Atas apa yang terjadi di mohon para pembaca maklum.

Peristiwa mengubah satu kejadian menjadi kejadian yang lain. Perubahan mengemukakan yang berubah. Dengan sendirinya dibaliknya tesembunyi sesuatu yang dalam perubahan itu tetap keadaannya, yang dapat menjelma dalam berbagai rupa, inilah yang dinamakan hakikat.

XXXXX

Eits, tapi tunggu dulu. Ini adalah cerita kejadian empat bulan yang lalu. And The legend (still) Continous…

 

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. abanxc® says:

    Dengan sabar menanti, dan sesekali merampok kata tengku, semoga saja tengku tidak mengapa ya, untaian kalimat tengku seperti peluru, melesat cepat. Tepat menganai sasaran:mrgreen:

  2. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s