PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan sejati, dan aku adalah orang yang mudah tersesat. Kuakui, kerap kali aku harus mengulangi jalan sama berulang kali. Pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dituturkan, menjalani jalan neraka berulang kali, sendirian. Namun, sungguh hidup harus terus berjalan dalam setiap tarikan nafas, bahkan di wilayah yang lindap dan basah, penuh tikus dan tikungan. Reptil busuk, dan rawa payau. Mungkin, tak perlu seseorang luar biasa pemberani. Ketika seseorang diuji oleh berbagai kejadian, petualangan, penyesalan bahkan kejatuhan. Itu sudah sewajarnya dalam hidup.

Monsieur d'Artagnan

Monsieur d’Artagnan

Paris, 1628 M. Kegelapan malam menyelebunginya. Diatas, bintang-bintang yang rapat terus memancarkan cahaya mereka yang bergemerlapan. Di bawah tak ada makhluk yang bergerak, dan d’Artagnan tidak bisa mendengar apa-apa kecuali angin lembut mengeser bilah-bilah rumput.

D’Artagnan berjalan perlahan, anak muda yang gagah. Ia memakai jaket wol pendek berwarna biru yang lusuh dan sudah menipis, celana berkuda selutut berwarna cokelat serta sepatu bot tinggi senada. Ia mengenakan topi baret merah khas Gascon yang berhiaskan bulu-bulu meriah. Sebagai salah satu musketri, pengawal Raja Perancis, cara berjalannya angkuh dan menantang.

“Sampai kapan kamu akan terus berlari?” Sebuah suara menyeruak dari pinggir hutan, suara yang amat dikenal, wajah d’Artagnan memucat. Clarice de Winter muncul dari balik pepohonan, meski menggunakan jubah hitam panjang untuk menyembunyikan diri namun ia tidak mungkin salah mengenali suara perempuan itu. Suara dingin seperti kucing, dan semua kucing berwarna abu-abu pada malam hari. Mereka ahli menyembunyikan diri, karena itu d’Artagnan sangat membenci kucing.

“Pertanyaan anda sungguh menusuk hati saya, Lady de Winter. Anda tahu bahwa sejak pertama kali kita bertemu, saya adalah seorang gentleman. A gentlemant will walk, not run.” Langit malam tak mampu menutupi wajah kebohongan d’Artagnan, kaki-kakinya sebenarnya siap melarikan diri. Clarice de Winter alias Lady Milady adalah seorang dimana d’Artagnan lebih memilih bertempur melawan seratus orang daripada berhadapan dengannya. Lady Milady adalah seorang penuh konspirasi dan selalu berhasil menjebak d’Artagnan.

Lady Milady membuka kerudung, ia terlihat begitu pucat dan matanya lelah, mungkin karena menangis atau kurang tidur. Milady menebarkan pesonanya untuk menyenangkan pemuda itu dan memikatnya dengan kepintarannya. Api amarah yang ada di dalam dirinya menambah kilatan di mata dan semburat pipinya. D’Artagnan merasa dirinya jatuh ke dalam jampi-jampinya. Lalu Milady tersenyum dan pemuda itu tahu ia akan terkena kutukan senyuman itu. Lady Milady mulai merasa senang karena telah mempermainkannya.

Dari hal-hal yang remeh temeh, pembicaraan beralih ke topik serius. Milady bertanya kepada d’Artagnan apakah ia sedang jatuh cinta. D’Artagnan menghela nafas panjang. “Ya.”

Milady tersenyum janggal.

“Jadi, benarkah anda telah jatuh cinta kepada wanita selain saya?”

“Perlukah saya menjawabnya? Anda pasti sudah mengetahuinya.”

“Ya,” jawabnya. “Tapi seperti yang aku tahu, anda memiliki hati yang teguh sulit ditaklukkan.”

“Itu semua terjadi, berkat anda Lady.”

“Tidak adakah sedikit pemaafaan untukku Monsieur d’Artagnan. Bukan demi apa-apa, hanya untuk masa lalu.”

“Oh para dewa,” pikir d’Artagnan. Apa yang menyebabkan makhluk yang tidak bisa ditebak ini datang kepadaku, ia butuh waktu memikirkan persoalan itu dan jika mungkin, menebak isi benak Milady. Ia selalu berusaha untuk itu, dan selalu saja gagal.

“Apa maksud anda Lady menemui saya?” D’Artagnan memutuskan bertanya langsung.

“Aku hanya merindukan seseorang yang tak pernah bisa aku sentuh, kamu d’Artagnan.”

XX

D’Artagnan langsung teringat adegan di sebuah teras di Saint-Germain. Orang itu, Comte de Wardes, saingannya memperebutkan hati Lady Milady, dulu. Pesta dansa Madame de Guise, saat itu d’Artagnan sedang mencari semak-semak untuk pipis ketika melihat hal itu. Di taman rumah Madame de Guise.

“Ini aku, de Wardes!” Suara laki-laki dengan rendah.

“Ya?” ujar Milady, suaranya bergetar karena suka cita. “Mengapa tidak masuk?”

Lalu ia berseru, “Comte, comte kau tahu aku menunggumu!”

D’Artagnan menunggu lama, kemudian menyelinap kemudian mengintip dari lubang kunci lemari. Ia melihat, Milady mengerang dengan suaranya yang paling halus, mengengam tangan de Wardes dengan erat.

“Oh, Comte,” ujarnya, “tatapan penuh cinta dan segala hal yang indah yang kau katakan setiap kali bertemu membuatku sungguh bahagia! Aku pun mencintaimu. Buktikanlah cintamu kepadaku dan akan kuberikan cincin ini supaya tidak melupakanku.”

Tidak ada luka yang lebih dalam bagi seorang laki-laki selain mendengarkan kekasihnya menyatakan perasaan kepada pria lain. D’Artagnan tanpa sangka ia merasa tertekan, ia diliputi cemburu dan menderita. Ia menangis di kamar sebelah.

Lady Milady melepaskan cincin berlian dan batu safir dan memasangnya di jari Comte De Wardes, ia langsung mengembalikannya pada perempuan itu, tapi Milady mencegahnya.

“Jangan. Simpanlah sebagai tanda cintaku.” Kata Milady.

Perlu waktu untuk d’Artagnan melepaskan diri dari konflik batinnya, sehingga ia memutuskan segera pergi dari tempat itu.

XXX

D’Artagnan pagi-pagi sekali esok harinya sudah berada di rumah Athos, ia telah terperosok ke dalam sebuah intrik fantastik sampai harus meminta nasihat sahabat sekaligus musketri pertama Kerajaan Perancis itu. Ia menceritakan semuanya kepada Athos.

Athos mengerutkan dahi beberapa kali mendengar ceritanya.

Kedaannya sungguh sulit, sungguh sulit.”

“Kau selalu mengatakan hal itu, Athos,” ujar d’artagnan. “Bagaimana kau bisa berpendapat seperti itu? Kau tidak pernah jatuh cinta!”

Mata Athos yang sayu bersinar beberapa saat. Tapi hanya sesaat. Matanya kemudian berubah menjadi datar dan tidak bercahaya lagi.

“Kau benar,” desahnya. “Aku tidak pernah jatuh cinta.”

“Orang berhati batu macam kau tidak berhak berlaku keras pada orang-orang bodoh berhati lembut seperti kami,” ujar d’Artagnan.

“Hati yang lembut, hati yang patah,” gumam Athos

“Apa yang kau katakan?”

“Menurutku cinta adalah sebuah perjudian dan hadiahnya adalah kematian. Kau beruntung kalah, percayalah. Jika kau pintar, kau akan berusaha untuk kalah.”

“Dan aku pikir ia mencintaiku!”

“Kau pikir!”

“Aku tahu ia mencintaiku!”

“Begitu mudah percaya! Setiap lelaki mengira kekasihnya mencintainya dan setiap kekasih lelaki itu tidak setia padanya.” Athos memberikan perumpamaan yang membingungkan.

“Kamu seperti orang yang sudah berpengalaman akan cinta?”

“Tidak,” jawab Athos setelah diam beberapa saat. “Aku tidak pernah memilikinya. Ayo, mari kita minum.”

“Ayo, Socrates,” Kata d’Artagnan. “Ajari aku falsafahmu. Biarkan aku minum dari air pengetahuan. Aku butuh pengetahuan dan penghiburan.”

“Penghiburan untuk apa?”

“Kesedihanku.”

“Kesedihanmu tak ada artinya sama sekali, yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari perempuan lain.” jawab Athos.

XXXX

Siangnya, d’Artagnan telah bertekad untuk bertemu Lady de Winter apa pun yang harus terjadi dan meminta penjelasan atas semua peristiwa yang telah terjadi. Jadi ia pun pergi ke Louvre, berharap seragam pengawalnya dapat membukakan jalan. Ia berniat menemui Milady langsung.

Ketika tiba di rumah Lady de Winter, pahlawan kita menahan diri untuk tidak menimbulkan kecurigaan dan mulai menghentakkan kakinya ke lantai sebagai tanda protes. Para pelayan yang bertugas di ruang tunggu langsung berlari dan mengumumkan kedatangannya padahal ia belum sempat bertanya apakah majikannya ada dirumah.

“Persilakan dia masuk,” ujar Milady dengan tegas dan keras sampai d’Artagnan dapat mendengar suaranya dari ruang tamu. “Aku tidak mau menerima tamu lain,” tambahnya. “Kau mengerti? Tidak menerima tamu.”

Pelayan itu keluar dan mendampingi pemuda itu masuk. Saat d’Artagnan memasuki ruangan kerja Milady. Ia langsung dan berkata terus, tanpa sempat menutup pintu.

“Hari ini, de Wardes memamerkan sebuah cincin yang katanya hadiah dari anda.”

Milady pura-pura terkejut.

“Beberapa orang mengatakan anda memiliki hubungan khusus dengannya. Bahkan semalam anda terlihat berduaan dengannya.” Anak muda itu kali ini berbicara serius.

Milady terhenyak dan mundur.

“Dari mana anda tahu?” Tanyanya sambil memandang d’Artagnan seolah bisa membaca pikirannya.

D’Artagnan menyadari ia telah hanyut dalam kecemburuan sehingga membuat kesalahan.

“Katakan dari mana anda tahu?” Milady bersikeras.

“Bagaimana saya tahu?”

“Ya.”

“Tadi pagi seorang tamu pesta dansa Madame de Guise memberitahu kepada saya.”

“Jangan bicara lagi tentang hal-hal yang mustahil, anda terlalu obsesif Monsieur d’Artagnan. Terlalu percaya pada para penggosip, ingat kita tidak bisa membangun sebuah hubungan jika tidak saling percaya.”

Andai d’Artagnan tidak melihat sendiri kejadian tersebut, maka akan percaya dengan Milady. Ia memandang ke dalam mata Lady de Winter, adakah pandangan penuh cinta seperti yang ia tujukan kepada Comte de Wardes, meski Milady tersenyum mencoba meyakinkan, ia tidak melihat bahkan setengah dari semalam. Tiba-tiba d’Artagnan merasa kalah, ia bagaikan seorang musketri yang kalah perang dengan harga diri tercabik-cabik.

“Aku melihatnya sendiri.”

“Bangsat! Penguntit!”

Kata-kata Milady mempengaruhi d’Artagnan begitu cepat.

“Untuk apa kamu melakukan ini Lady?” Di dasar hati d’Artagnan masih mengharapkan pembelaan dari Clarice de Winter, ia (masih) ingin berpura-pura bahwa dunia ini indah.

Milady memanfaatkan kesempatan baik itu. “Anda mengatakan bahwa anda mencintai saya, Monsieur d’Artagnan,” lanjut Milady. “Apa yang telah anda lakukan untuk membuktikannya?”

“Apa saja!” seru d’Artagnan.

Milady tersenyum penuh kemenangan, “saya tidak merasa anda menunjukkan rasa cinta anda dengan benar Monsieur, menyentuhku pun saja tidak.”

“Aku memberimu kata-kata yang baik.”

“Sejujurnya d’Artagnan kamu itu membosankan! Hanya menunggu waktu sebelum kamu aku tendang.”

Keburukan apa yang telah ia dengar? Makhluk yang ia puja, yang ia kira baik hati, ternyata menyumpahinya dengan suara kasar yang tak ia kenali, dan marah karena kegagalannya menunjukkan ketidaksantunan. Kebenarannya adalah, malaikat itu seorang iblis, dan seorang anak tanpa dosa itu adalah seorang pencuri.

D’Artagnan berbalik, ia berjalan gontai, tanpa semangat dan hampir jatuh terpeleset pada sebuah undakan, di belakang Milady tertawa keras penuh kemenangan.

“Teruslah berlari d’Artagnan! Disaat kamu merasa tidak nyaman dan terancam!”

XXXXX

Paris, 1628 M. Sinar rembulan telah keluar ketika d’Artagnan terdiam mengingat rentetan peristiwa di masa lalu, udara lembab berangsur-angsur menghangat. Sambil menunduk di bawah cemara-cemara yang tumbuh di sana-sini, d’Artagnan menegadah, menatap ke sela jarum, melihat gugus bintang pertama yang menghiasi langit bagai beluduru.

Clarice de Winter

Clarice de Winter

Kemudian ia memandang Lady Milady lekat-lekat, rambutnya yang bergelombang seperti riak-riak samudera, bibirnya seperti apel yang ranum, matanya laksana biji coklat pekat dan pipinya mulus seperti porselen, sayang orang secantik itu harus memiliki kejahatan sejahat itu. D’Artagnan memiliki kelemahan terhadap kecantikan, karena itu dia selalu menahan diri dalam melemparkan pandangan. Ia merasa memiliki jiwa yang murni sampai Milady merusaknya, pernah ia jatuh dalam perasaan terdalam, terhipnotis sehingga menyerahkan jiwa dan raga untuk perempuan itu.

“Untuk apa mengingat masa lalu Lady?” D’Artagnan mengingat beberapa peristiwa di masa lalu, tanpa mengingat lagi perasaan apa yang ia rasakan, tiba-tiba ia merasa kuat untuk menghadapi Lady Milady.

“Untuk sebuah nostagia.” Clarice de Winter tersenyum menggoda, ia berpikir masih berhadapan dengan orang yang sama dengan beberapa tahun lalu. “Tanpa resiko tentunya.” Inilah alasan mengapa para pencinta menjadi pencemburu? Nostagia akan mudah memicu kenangan cinta terdalam sekaligus sakit tak tertanggungkan, yang sejatinya tidak akan pernah di bagi kepada siapapun juga.

“Aku tidak mengingat perasaan apa-apamu Lady.”

“Apa ini semua gara-gara Madame Bonacieux!”

D’Artagnan tersenyum, “mungkin karena dia, tapi bukankah anda sudah memiliki Comte De Wardes, untuk apa merisaukan kebahagiaan saya Lady?”

“Karena aku tidak tahan melihat anda bahagia Monsieur d’Artagnan!”

Sungguh menderita orang yang kebahagiaannya terfokus kepada orang lain, tidak pada dasar dirinya. D’Artagnan merasa kasihan, betapapun ia pernah membenci Lady Milady.

“Aku kalah,” kata Milady. “Andai saja dulu, andai dulu anda lebih gigih berjuang. Mungkin hari ini akan berbeda.” Tambah Milady.

“Aku tidak hidup dalam penyesalan Lady. Aku memaafkanmu,” ujar d’Artagnan, “atas kesalahan yang telah kau lakukan padaku, karena telah membuatku malu, karena merusak cintaku kepadamu, dan bahkan aku telah memaafkan atas kedengkianmu padaku sekarang.”

D’Artagnan melihatnya dan tersenyum sedih. Diam-diam ia berharap tidak bertemu lagi dengan perempuan ini lagi. Walaupun mengaku kalah, Lady Milady sangat pintar memancing perasaan bersalah di dalam hati d’Artagnan. Dan karena Clarice de Winter merupakan salah satu dari sedikit orang di dunia yang mengetahui bahwa d’Artagnan memiliki hati yang lembut, sesuatu yang disembunyikan terlalu dalam dibalik penampilannya yang keras dan brutal.

Dan pemuda Gascon tersebut, d’Artagnan berlari dalam keheningan malam.

XXXXXX

Kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari

Pengembangan bebas dari Trio Musketri Karya Alexandre Dumas

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s