UNTUKKU

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Adakah kekuatan lain yang mampu menandingi kekuatan cinta? Adakah sentuhan lain yang lebih lembut dari elusan jari-jemari tulus yang melahirkan mukjizat dari balik sayap-sayapnya yang terkembang? Serupa bunga-bunga mekar di tengah padang tandus. Seperti air bening jernih yang tak hentinya mengalir dari dalam pecahan batu. Itulah mukjizat yang menyelamatkan hidup.

Sebagaimana hasrat bermain di dalam pikiran, mempermainkan jiwa manusia yang lemah dan lesu? Sementara hidup serupa bayang-bayang mimpi yang kabur dan tiada berketentuan. Kemana diri hendak menemu kesejatian nurani? Ke mana diri hendak meraih hakekat kebenaran? Jiwa yang lungkrah telungkup pasrah, menjadi bulan-bulanan tangan sang takdir yang menghumbalangkan segala harap di hati.

Layaknya jiwa yang rindu dendam dapat menemukan kembali cahaya dalam dirinya. Adakah kebenaran akan hadir di dalam jiwa yang merindukan kehangatan cinta sang api suci? Kemanakah diri mesti mencari, sementara kerinduan ini tiada bertepi?

Aku yang pernah merasakan, berpikir bahwa dunia ini jahat dan kejam, demikian penuh dengan rangkaian tipu muslihat licik, yang tersembunyi di balik kilau mata seorang penyihir yang tak mengenal cinta. Akhirnya memahami kembali arti benih bunga-bunga yang tumbuh di dalam hati kanak-kanak? Apakah arti segenap tembang keindahan yang terbit dari bibir mereka, yang terdengar begitu merdu, lugu dan polos? Nyanyian itu serupa deru suara hujan, gemericik aliran sungai, dan hembusan angin yang menyentuh ranting-ranting pepohonan. Begitulah, ucapan kanak-kanak mengekal dalam ingatan

Aku menyadari kepandiranku, seperti apa dilihat oleh seorang buta ketika matanya telah dicelikkan. Sebagaimana perasaan orang buta saat menantap cahaya untuk pertama kali. Dan serupa itukah makna kerinduan di dalam hati seorang pencinta, saat bertemu dengan kekasih hati, setelah melewati sebuah penantian yang begitu melelahkan. Siapakah yang sanggup menafsirkan kegalauan dalam hati seorang kekasih, bila ia tidak pernah mengalami sendiri kebesaran arti cinta yang tulus dan murni itu?

Begitu banyak nama, beratus-ratus, bahkan beribu-ribu nama dapat aku ingat di dalam benak.  Aku tak mampu menepiskan namamu dari dalam hati. Namamu, serupa kelopak seroja yang terkembang ditengah kolam. Keelokan bunga itu begitu melambungkan seluruh hasrat dalam jiwaku untuk meraih dan memiliki.

Serupa buah-buah delima yang matang di pucuk ranting-ranting memberat, berkilau menggoda, memukau hati yang rindu dendam terpanggang oleh api cinta. Jiwa-jiwa kehausan merindukan kesegaran oase untuk melepaskan segenap dahaga yang menjerat tenggorokan. Dan buah-buah ranum yang merah merekah itu telah menerbitkan kekuatan hasrat di dalam diri untuk segera memetik dan memilikinya.

Adakah duka yang lebih perih dari buah-buah zaitun yang rontok sebelum musimnya? Adakah luka yang lebih nestapa daripada cinta sang putik yang tak menemukan benang sari tambatan hatinya? Aku merasa sesak oleh seribu beban yang seolah tak sanggup tertanggungkan.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Itu semua karena engkau sangat berarti, untukku.

Bait Al Hikmah, suatu pagi di 13 Muharram 1435 H (Bertepatan 17 November 2013)

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s