PENYAKIT PEMBAWA KEMATIAN

Kehidupan manusia di dunia hanyalah sementara, ibarat perjalanan musafir saat ini kita hanya berteduh sejenak di bawah pohon rindang. Meskipun sejenak, persinggahan sementara ini menjadi kunci bagi perjalanan selanjutnya. Menentukan kearah surga atau neraka kelak, ditengah beban yang berat ini manusia harus menghindari penyakit mematikan yang bernama putus asa. Setiap manusia pasti akan mengalami penyakit putus asa ini. Untuk itu, manusia harus mengobati dirinya sendiri.

Manusia itu harus berjalan terus ke depan, walaupun berhadapan dengan arus zaman yang kuat yang bisa menghilangkan diri sendiri. Manusia juga membawa luka masa lalu, namun untuk maju terus ia harus berani walaupun itu berarti harus dengan mempertaruhkan seluruh eksistensi diri. Untuk menciptakan diri sendiri yang lebih baik, kita harus bertarung dengan kehidupan.

Manusia itu harus berjalan terus ke depan, walaupun berhadapan dengan arus zaman yang kuat yang bisa menghilangkan diri sendiri. Manusia juga membawa luka masa lalu, namun untuk maju terus ia harus berani walaupun itu berarti harus dengan mempertaruhkan seluruh eksistensi diri. Untuk menciptakan diri sendiri yang lebih baik, kita harus bertarung dengan kehidupan.

Manusia itu, tidak bisa tidak, memikirkan berbagai hubungan yang ada kaitan dengan dirinya. Orang tua, kekasih, teman, pekerjaan, masa depan dan lain-lain. Itulah yang disebut diri! Dan itu terkait dengan diri. Ada kebimbangan dalam mengatur setiap hubungan-hubungan yang terkait dalam kehidupan tersebut. Kebingungan untuk melakukan ini dan itu, kalau ini dan itu. Kebimbangan itu membuat manusia ragu, sedang waktu terus maju ke depan.

Manusia tidak punya pengalaman menghadapi masa depan, terkait dengan keberhasilan dan kegagalan sekalipun, ia hanya bisa melihat kejadian apa yang terjadi dibelakang. Itu menjengkelkan.

Bagi seorang pemikir (setiap manusia adalah pemikir), banyaknya melalui kesulitan akan membuat mengerti ditambah lagi dengan melihat berbagai kehidupan manusia. Dapat kita bagi manusia memiliki dua jenis kehidupan.

  1. Cara hidup yang sensitif, cara hidup yang hanya mementingkan perasaan, ingin memenuhi hidupnya dengan rangsangan dari luar, biasanya hidup yang menyedihkan. Atau yang penting kesenangan sesaat, tidak berpikir panjang tapi merasa perlu hubungan yang dalam;
  2. Cara hidup yang tergantung pada apa yang ada diluar diri sendiri seperti harta, barang bermerek, nama besar, penghargaan, jabatan. Selalu membutuhkan rangsangan dari luar. Cara hidup ini membuat kemandirian diri hilang, dan tidak bisa mengontrol diri sendiri. Tidak ada kedamaian dan ketenangan hati, terbawa-bawa oleh rangsangan dari luar.

Sebetulnya, kehilangan diri itu sama saja dengan putus asa. Tapi perasaan putus asa ini tidak bisa dirasakan asal tenggelam kedalam rangsangan (merasa menang, padahal kalah). Dan siapapun bisa hidup sehari-hari seperti biasa, sambil terbawa ketempat dangkal secara kejiwaan.

Sebenarnya, masalah hidup yang utama dari cara hidup ini adalah tidak bertanggungjawab pada diri sendiri. Orang yang berpikir semua tindakannya merupakan efek dari luar akan melakukan apapun yang tak bertanggungjawab, dan membuang tanggung jawabnya sendiri.

Sebagian orang (termasuk penulis) juga pernah melakukan itu, di saat dia ingin melupakan semua kesulitan karena ingin menghindar sehingga melarikan diri. Dan kehilangan diri, membuang tanggung jawab bagi diri sendiri. Tetapi, untungnya aku bisa kembali ke diriku sendiri, berkat orang-orang yang kucintai.

Tapi memang betul, dunia ini bersifat kebetulan, tapi konsekuen dan realistis. Karena itu manusia mudah menjalani cara hidup sensitif yang dikuasai pengaruh dari luar, tetapi pasti ada cara hidup yang berakar pada kehidupan sendiri sehingga kita menemukan cara hidup alternatif. Yaitu cara hidup etis.

Etis itu bagaimana seorangnya layaknya hidup. Jelasnya, cara etis itu cara hidup yang mengandalkan diri sendiri. Dan cara hidup ini bertujuan melepaskan diri dari putus asa yang bersifat sensitif melalui tekad yang kuat. Cara hidup etis itu menerima segala tanggung jawab yang berkaitan dengan diri sendiri, memilih yang paling pantas untuk diri sendiri. Menyadari bahwa bukan orang lain yang membuat aku begini, tapi aku sendiri, yang kupilih sendiri melalui berbagai kemungkinan (rel kehidupan). Diantara kemungkinan-kemungkinan yang ada di diri terdapat tekad kuat menghadapi dunia, tentunya dengan usaha sendiri.

Memilih diri sendiri dengan tanggung jawab sendiri (kerap keputusan kecil yang mengubah jalan hidup) dan menerima resikonya. Karena untuk menjadi diri yang kita inginkan, kita harus maju terus dengan kekuatan diri sendiri (juga memaafkan diri sendiri atas kesalahan dimasa lalu). Berusaha memilih diri sendiri menuju masa depan yang tidak jelas, tanpa menyalahkan orang lain.

Tapi, tidak semua orang bisa melakukan cara hidup ini dengan sempurna. Karena dunia ini serba kebetulan (Misalnya ingin menjadi penyair namun tiba-tiba karena keadaan harus bekerja sebagai akuntan). Masing-masing orang memiliki kondisi kehidupan sendiri-sendiri. Yang penting itu bisa diterima atau tidak, seperti dialektika.

Karena masa depan tak pasti, memang semuanya akan takut, kalau disuruh menjadi diri sendiri atau ditunjukkan orang lain jalan hidupnya. Tentu kau (dan aku) juga tak bisa menerima kalau “aku yang kuharapkan bukan yang kuharapkan” bukan? Jika ada, perasaan itu harus dihentikan.

Manusia tidak boleh putus asa karena kehilangan diri sendiri. Apakah kau (aku) menyadari? Seseorang itu saat sendirian, mulai berbicara pada diri sendiri dan mendekati eksistensi diri. Ada masa-masa menghindari substansi yaitu kondisi membenci diri sendiri dan berpikir putus asa pada diri sendiri. Mungkin masa sekarang dianggap putus asa, dan mulai memandangi substansi dirinya termasuk membenci dirimu sendiri, bahkan di masa depan. Sebenarnya kondisi itu bukan putus asa melainkan kecewa.

Putus asa sebenarnya adalah kehilangan substansi diri, atau kehilangan diri sendiri. Penyakit mematikan itu adalah ketika diri tidak mau bertanggung jawab pada diri sendiri, atau sama dengan putus asa. Putus asa yang dimaksud adalah tidak memilih diri sendiri, atau menjadi jati diri yang tidak diinginkan. Kemudian saat manusia betul-betul putus asa yang mendatangi dia adalah kematian! Jati diri mengalami kematian.

Kematian tubuh bukanlah kematian yang sebenarnya, tapi kematian jiwa adalah kematian yang sebenarnya. Kehilangan substansi, substansi adalah kebebasan keinginan jiwa dari jati diri. Oleh karena itu, saat diri sendiri ingin memilih diri sendiri dengan penuh tanggung jawab, pasti ada rasa khawatir supaya tidak salah memilih jati diri. Semua itu disebabkan rasa khawatir saat diri sendiri menghadapi substansi diri.

Manusia itu putus asa karena ingin melarikan diri dari rasa khawatir. Manusia (aku) berpikir, yang tidak ingin aku hadapi bukan diri sendiri yang lemah, tapi aku takut, dan tak ingin menghadapi substansi diri yang sejati. Segala ketakutan terhadap masa depan serta tanggung jawab dan kebebasan mengubah diri menjadi diri yang baru.

Tema manusia yang hidup di masa kini, adalah tema tentang melewati rasa khawatir dan mendekati substansi diri. Memang benar, selama manusia hidup, dia tidak bisa menghindari rasa putus asa. Karena putus asa itu sendiri itu ada bersama substansi bernama manusia.

Ada berbagai putus asa yang ada bersama substansi manusia. Dan supaya manusia bisa lebih menyadari dirinya, pada akhirnya ada tiga jenis putus asa yang dapat membuat kematian jati diri.

  1. Putus asa permukaan yaitu putus asa yang dari cara hidup sensitif. Keadaan di mana manusia tidak sadar akan rasa putus asa karena melupakan kebebasan diri sendiri untuk menjadi manusia baru. Putus asa karena diri sendiri tidak mau menemukan jati diri dan hanya hidup bersenang-senang. Manusia itu bisa tetap hidup walau sudah putus asa, namun manusia tersebut tidak bisa terlepas dari rasa hampa yang muncul tanpa disadari. Walaupun begitu, untuk memenuhi kekosongan ini, ia mencari nilai luar tapi khayalan, itu tidak akan memuaskan diri dan tidak akan membebaskan dari keputusasan. Dan jiwa manusia akan terbawa ke arus yang lebih rendah dan mencari orang yang lebih buruk/kedudukannya dibawah dirinya sendiri, dan menertawakan;
  2. Putus asa karena mengetahui substansi diri.  Keputusasaan ini adalah bentuk putus asa manusia yang ingin berhadapan dengan substansi diri. Bentuk putus asa yang sejati dibanding yang sebelumnya disebut di atas. Putus asa karena tidak ingin menjadi jati diri sejati, karena ingin menghindari kenyataan, rasa khawatir karena kebebasan dan tanggung jawab memilih jati diri. Putus asa bagi pengecut, karena takut berubah pura-pura melupakan diri sendiri. Dia mengurung diri dan menutup hati, tidak tahu tentang kebebasan dan tanggung jawab dan tidak bisa mendengar suara dari luar. Tapi walaupun bisa menghindari substansi diri, kenyataan bahwa diri sendiri belum menjadi sosok yang diinginkan terus menghantui, justru suara yang menginginkan sosok baru terus membesar dan penderitaan terus berlangsung. Suatu saat dia membayangkan kematian secara fisik. Walaupun dia sadar itu tak akan menyelesaikan apapun. Putus asa karena tidak ingin menjadi jati diri sendiri, itu memang putus asa yang bersifat pelarian dan pengasingan diri;
  3. Putus asa karena ingin menjadi jati diri yang tidak sejati. Putus asa karena berusaha menentang tanggung jawab dan kebebasan dalam memilih jati diri. Putus asa para pemarah. Sekarang ini semakin banyak orang memiliki putus asa jenis ini. Dia menolak substansi dan merasa tidak bertanggungjawab dalam mencari jati diri sejati. Seperti menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat. Dia merasa dirinya saat ini menjadi begitu karena semua yang ada diluar dirinya. Dia berpikir kondisi saat marah adalah hak dia yang sebenarnya, dia merasa diri sendiri yang tak bisa berubah menjadi lebih baik karena orang lain, dan justru penderitaan itu tak mau lepas. Karena, dengan merasa dirinya sebagai korban, dia bisa menyerang orang lain dan tetap dianggap benar. Dengan menganggap semua orang musuh, dia membuang jati diri dan tidak lepas dari penderitaan. Ia merasa dirinya terluka maka ia boleh melukai orang lain, selalu berada di dalam pikiran jahat, dan menyerang semua orang selain dirinya sendiri. Putus asa jenis ini bersifat perlawanan, mereka mengkhayal sebagai korban.

Putus asa adalah kelemahan manusia, tiga contoh diatas adalah kondisi dimana manusia betul mengalami putus asa.

Manusia itu walaupun semuanya bebas, sulit untuk hidup lurus dan etis. Putus asa bagi manusia tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Kita harus sadar bahwa penderitaan dari putus asa manusia akan terus berlanjut, kita harus menyadarkan diri kita tentang putus asa dan menolong paling kurang diri sendiri.

Manusia (aku) sebagai individu supaya bisa berhadapan dengan substansi diri, dan mewujudkan eksistensi diri harus mengetahui jalan etis, jalan etis yang sulit agar menjadi sosok yang diinginkan. Dan sekaligus memahami kelemahan diri sendiri, kelemahan berbentuk rasa khawatir terhadap kebebasan, tanggungjawab dan masa depan.

Aku harus hidup secara etis, secara etis menuju masa depan. Seterusnya aku harus hidup bagaimana? Apakah aku bisa mengatakan bahwa selama ini pilihanku tak salah? Sebenarnya selama hidup, rasa khawatir itu pasti ada. Dan apakah setelah manusia mengetahui substansi diri, maka rasa khawatir itu akan hilang? Tentu tidak!

Manusia berkembang seiring waktu, begitu pula masalah hidup. Cara manusia menghindari dari keputusasaan adalah harus hidup dengan tingkatan jiwa yang lebih tinggi. Dan itu sulit untuk bergerak menjadi lebih baik setiap waktu.

Maka jalan keluar dari putus asa adalah agama. Dengan keyakinan pada agama. Islam mengajarkan ikhlas. Ikhlas adalah ilmu tertinggi menghadapi takdir, yang sulit sekalipun. Ikhlas adalah kesucian hati dalam beribadah kepada Allah S.W.T sekaligus berhubungan kepada sesama manusia. Membersihkan hati dan memurnikan niat tanpa syak dan praduga berlebih kepada siapapun. Memaafkan orang lain, dan memaafkan diri sendiri terhadap segala kesalahan di masa lalu. Karena sebuah kesalahan menganjal di masa lalu akan menjadi ganjalan terhadap perbaikan ke masa depan, apa lagi jika ia menjadi trauma. Ikhlas itu murni, tanpa konspirasi. Dengan hati yang bersih maka Insya Allah pikiran akan menjadi bersih pula.

Dengan menjadi pribadi yang ikhlas, manusia bebas memilih diri secara etis dan dialektik dan membangun nilai diri, karena dunia ini di bangun dari banyak diri. Setiap orang harus menemukan nilai membangun diri sendiri. Dengan tekad kuat mencari apa yang menjadi ketidakpuasan dalam diri sendiri, dan menemukan nilai yang menjadi pegangan hidup.

Diantara hidup sehari-hari pasti banyak keraguan tentang apa yang telah diperbuat. Namun jika kamu memiliki nilai (agama), saat kau merasa kalah terhadap pelemahan diri, nilai tersebut akan menolongmu.

Manusia itu harus berjalan terus ke depan, walaupun berhadapan dengan arus zaman yang kuat yang bisa menghilangkan diri sendiri. Manusia juga membawa luka masa lalu, namun untuk maju terus, ia harus berani! Walaupun itu berarti harus mempertaruhkan seluruh eksistensi diri. Untuk menciptakan diri sendiri yang lebih baik, kita harus bertarung dengan kehidupan.

Setiap manusia (termasuk aku dan kamu) adalah pemeran utama hidupmu sendiri. Pilih dan tentukan pilihanmu dengan percaya diri. Setiap hari kita memilih diri sendiri tanpa bosan dengan harapan menuju kebahagiaan hari esok. Jangan takut gagal! Dan melangkahlah dengan berani!

Literatur rujukan : The Sickness Unto Death karya Soren Kierkegaard.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s