LAPORKAN KAWANMU

Bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu dibalik kepala yang lucu

Bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu dibalik kepala yang lucu

Do not trust anyone, except your armies ~ Kepercayaan adalah sesuatu yang paling bernilai di dunia ini, melebihi uang, kekuasaan atau apapun yang membuat orang-orang dunia saling bunuh sekalipun. Dalam percaya, kita tidak tahu apa yang berharga atau tidak, kita membuangnya. Ia adalah moral dan nilai etis yang tidak mudah dipahami intelektual, akal, atau rasio sekalipun. Jika percaya, ketenangan akan terbawa emosi, tubuh pun mengkhianati. Menarik ya, emosi.

Pada minggu kemarin, tepatnya hari Sabtu. Akhirnya, sesudah sekian lama tidak bertemu, Abu kedatangan nenek dari pihak ibu. Datang dari kampung, Krueng Sabee ke Aceh (Banda Aceh ~ Penulis) untuk melihat PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) IV, sekaligus mengunjungi Imam (13 Tahun) anak paman Abu yang baru mondok di salah satu pesantren di Banda Aceh awal tahun ajaran ini. Sore-sore sembari duduk membaca buku, Abu mendengar Imam curhat kepada nenek tentang kehidupannya di pesantren, berbeda dengan di kampung. Makanan di Pesantren kurang sedap baginya, terlalu banyak menghafal Al-Qur’an sehingga ia tidak sempat belajar mata pelajaran lain, dan di antara semua matematika yang paling sulit ia pahami. Ia mengatakan, seperti dalam penjara. Nenek adalah nenek yang dulu, menasehati agar dia bersabar, tekun sehingga dapat pulang kelak menjadi orang yang berilmu. Abu sesekali mencuri dengar, tokh Abu juga dibesarkan dengan cara yang sama. Semua berlangsung datar.

Sampai, Imam bercerita ia masuk ke mahkamah, Abu tidak pernah mengenyam sekolah di Pesantren, sekolah berasrama pun tidak. Sebuah tempat tanpa opsi melarikan diri itu membosankan. Jadi mahkamah ini adalah sistem yang diciptakan Uztad dan Uztadzah menghukum kesalahan santri dengan akhi (Kakak Kelas) sebagai perangkat. Sudah setengah menarik, Abu sampai kehilangan kosentrasi membaca. Mutakhirnya sistem mahkamah ini menggunakan sistem telik sandi dalam mencari kesalahan, santri wajib melaporkan apabila temannya berbuat kesalahan. Wajar, pikir Abu. Kesalahan Imam yang menyebabkan ia masuk mahkamah karena ia tanpa sengaja berbicara beberapa kata bahasa Aceh. Dahi Abu berkerut, Imam berasal dari komunitas ber-lingua Franca Aceh. Abu menduga ia kesulitan menemukan beberapa kata padanan dalam Bahasa Indonesia. Ya, sudahlah kita hidup di NKRI, jadi mau tidak mau Imam harus menyesuaikan diri, ibarat katak ia harus keluar dari tempurung.

Tiba-tiba! Abu melirik Imam yang duduk bersila matanya terfokus, mata bundar-bundar itu menangis, tersedan-sedan. Ia kecewa karena yang melaporkannya adalah teman satu bangsal, dan dekat dengannya. Touche! Pengkhianat, kita membenci mereka dengan selama-lamanya benci. Dan betapa tidak pentingnya kesalahan Imam tersebut, sehingga ia harus dirotan oleh para Akhi. Nenek terdiam, ketika Imam berkata akan membalas, nanti ia akan melaporkan kesalahan-kesalahan temannya yang lain, meski tak penting untuk menyusulnya masuk mahkamah. LAPORKAN KAWANMU!!! Abu berpikir sejak kapan sistem Devide at Impera ini telah berlangsung. Nenek kembali berceramah tentang Etika dan Moral kepada Imam, ia terlihat tidak tertarik. Mau tak mau sebagai kepala Klan Abu menasehati Imam agar tidak terpengaruh pada lingkungan dan fokus pada pendidikannya saja. Ia mengiyakan, tak lama nenek ke dapur.

Abu melanjutkan membaca buku, Imam masih memandangi Abu. Bosan ia bertanya, “Berapa umur abang?”

“29.”

“Uztad kami ada yang berumur lebih muda, tapi sudah S3. Abang sendiri?”

“Masih S1.”

“Oh, harusnya abang sudah Professor.”

Touche! Kadang-kadang anak-anak memiliki ketidaksengajaan dalam mengusik, rasa ingin tahu mereka adalah semangat yang bernilai emas. Abu melipat buku, dan balik bertanya, “kenapa Imam bilang begitu?”

“Karena abang tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang kecil. Bukankah semakin tinggi ilmu semakin luas pula capaian pikirannya?”

Abu tertawa mendengar kata-kata sepupu saya itu.

“Tidak seperti itu juga Imam. Semua orang memiliki,” suara Abu terputus memikirkan padanan yang tepat. “Aha, keunikan tersendiri yang tidak terikat pada tingkatan pendidikan mereka.”

Kemudian Imam mendekat, dan berbisik. “Ini di antara dua laki-laki bang, rahasiakan dari nenek. Apa yang abang lakukan jika pada keadaan Imam?”

Sontoloyo. Hati kecil Abu tertawa cekikan. Akan tetapi berubah serius, ini adalah tantangan yang di lemparkan seorang laki-laki, tak peduli usia, tak peduli tingkatan pendidikan. Seorang laki-laki meminta saran dari laki-laki lain yang dianggap berpengalaman, ini wajib di seriusi. Abu berpikir keras.

“Pertama, bebaskan pikiranmu. Kamu tidak perlu mengikat dirimu dengan apa yang di percaya oleh orang-orang di sekelilingmu, jika hatimu menolaknya. Kedua, jaga jarak. Dalam keadaan seperti belantara seperti Imam alami sekarang. Jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh dengan siapapun sampai mereka membuktikan mereka layak. Ketiga, yang paling penting adalah jangan percaya siapapun!”

Abu tidak berharap Imam mengerti, tetapi Imam membalas, “kenapa Imam harus percaya kata-kata abang? Bukankah abang mengatakan jangan percaya siapapun?”

Abu tertawa, senang dengan antusias ini. “Tentu kamu harus percaya, karena kita keluarga. Dan keluarga itu akan membela disaat menang atau kalah, dan bahkan keluarga tak peduli bahwa Imam benar atau salah sekalipun. Apapun masalahmu, kami tetap mengirimkan bantuan.”

“Jika Imam yang berpaling?”

“Maka Imam bukanlah bagian rumah bernama keluarga.”

Ia menghapus air matanya, tersenyum senang. Kemudian bergumam, “keras kepala” seraya memukul-mukul kepalanya.

“Percayalah Imam, Tuhan menyukai mereka yang keras kepala.”

“Kenapa?”

“IA jarang mengubah mereka.”

Imam menyalami Abu, seringai lebar dimulutnya. “Keluarga” Abu menebak itu yang muncul di kepalanya, seseorang sebaiknya memiliki sandaran yang menerimanya di saat sulit sekalipun. Itulah sifat dan makna dari kata keluarga sesungguhnya. Abu masuk ke kamar, untuk melanjutkan membaca. Cedera seperti ini bisa disembuhkan, dia akan memiliki semangat kuat dan hati yang ceria lagi. Dia tidak akan melupakan kesedihannya, tapi itu tidak menjadikan hatinya dirundung kegelapan, justru akan mengajarkan dirinya kebijaksanaan.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s