MENCARI BELERANG MERAH

Semesta

Semesta

Pernahkah kita menyadari ketika menatap bintang-bintang di angkasa. Bahwa sebenarnya mereka telah meledak jutaan tahun yang lalu. Cahaya mereka masih tetap ada.

Kapan? Bagaimana? Mengapa? Itulah sederetan pertanyaan yang kerap ditanyakan orang kepada dirinya, seriap kali dihadapkan pada sebuah keadaan. Kejadian dalam waktu berbeda-beda penjelmaannya, bergantung pada tempat kejadian berlaku. Di dunia luar kejadian itu berupa perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perpindahan tempat dalam ruang itu tak harus terputus. Berbeda dengan dunia dalam. Kejadian dalam jiwa, yang merupakan pengalaman batin, tidak bisa serbaterus. Ia bisa melompat-lompat, seperti dalam mimpi. Pemikiran pun dapat melompat. Syarat untuk peristiwa adalah urutan waktu, tapi itu belum cukup, untuk menjadikan peristiwa itu. Karena apabila tapi tidak terjalin hubungan dan penjalin tersebut adalah sebab-akibat. Hukum Kausalitas.

Peristiwa mengubah satu kejadian menjadi kejadian yang lain. Perubahan mengemukakan yang berubah. Dengan sendirinya dibaliknya tesembunyi sesuatu yang dalam perubahan itu tetap keadaannya, yang dapat menjelma dalam berbagai rupa, inilah yang dinamakan hakikat.

Datangnya peristiwa ada beberapa keadaan yang datangnya berturut-turut dalam waktu. Waktu adalah syarat bagi peristiwa. Tanpa adanya waktu tidak ada peristiwa. Perjalanan waktu memungkinkan adanya keadaan pertama, disusul keadaan yang kedua. Tanpa perjalanan waktu keadaan pertama tetap adanya. Gerak menjadi ada karena waktu. Surga digambarkan sebagai tempat tanpa peristiwa karena disitu waktu berhenti.

“Mengapa aku selalu kalah?”

“Karena engkau memilih diam!”

Setiap pilihan, gerakan, nafas sekecil apapun yang manusia ciptakan, dimana andil-Nya hadir mempengaruhi alam semesta. Dan janganlah heran apabila sebuah keputusan kecil yang engkau lakukan sekejap mempengaruhi kelak, keseluruhan hidupmu.

“Diam itu tak terkalahkan!”

“Kata siapa? Seseorang dinilai bukan dari kekalahannya di masa lalu. Melainkan dari keberhasilannya sekarang atas kehancurannya di masa yang lalu?”

Akan tetapi neraka? Aku berusaha memahami bahwa ALLAH, terlepas dari segala keagungan-Nya, tidak merasa hina untuk menciptakan hal semacam itu. Sehingga aku, bagaimana mungkin merasa hina melihatnya. Bukankah, tidak ada substansi sekecil apapun di alam raya ini tercipta tanpa andil-Nya.

“Maka katakanlah padaku, diriku sendiri. Kemanakah kau ingin kuantar.”

“Aku ingin pergi ke kota Rasul, demi mencari maqam cahaya dan belerang Merah.”

(Mungkin) Benar! Aku harus bergerak, dalam langkah yang sedikit lebih panjang. Karena aku yakin, dan harus meyakini! Gerakkan aku ini, akan menguncangkan alam semesta. Sahabat, aku telah memutuskan untuk menempuh jalan untuk mencapai tujuan, sebuah bukit terjal yang menjadi penghalang (nanti) biarlah menjadi renungan dalam mencapai tujuan.

Bait Al Hikmah, 18 Syawwal 1434 H (bersamaan 25 Agustus 2013)

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s