MENGENANG BUNG HATTA SEORANG PEMIMPIN TELADAN

Bung Hatta (Berdiri nomor dua dari kanan) dalam pose bersama pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda

Bung Hatta (Berdiri nomor dua dari kanan) dalam pose bersama pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda

Bung Hatta adalah salah seorang di antara para perintis kemerdekaan. Semenjak masih menjadi pelajar sekolah MULO di Padang, beliau telah menceburkan dari dalam gerakan pemuda “Young Sumateranen Bond” dan setelah pindah ke Batavia (Jakarta-sekarang) melanjutkan sekolah di Prins Hendrik School, beliau tetap aktif dalam gerakan pemuda dalam ruang gerak dan horizon yang lebih luas. Sesudah tamat di PHS Betawi, pada tahun 1921 beliau berangkat ke negeri Belanda dengan tujuan meneruskan pelajaran pada Handels Hooge School di Rotterdam, sampai selesai.

Bung Hatta, disamping melanjutkan belajar di negeri Belanda bergabung dan melakukan kegiatan-kegiatan dalam gerakan pemuda yang terkemuka yaitu “Indische Vereniging” yang kemudian menjelma menjadi Perhimpunan Indonesia, di Belanda yang pada saat itu menjajah Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia dalam gerakan “Perhimpunan Indonesia” menempatkan diri sebagai duta negeri ditengah bangsa-bangsa dunia. Mereka menerbitkan majalah bernama “Indonesia Merdeka”. Perhimpunan Indonesia aktif memperkenalkan cita-cita dan perjuangan rakyat Indonesia di luar negeri.

Pemuda Hatta kemudian dipilih sebagai ketua, bukan karena beliau adalah seorang orator ulung, tapi karena tulisan-tulisannya yang tajam dan berbobot, ditambah beliau adalah seorang administrator ulung. Pemerintah Belanda menyorot kegiatan-kegiatan Perhimpunan Indonesia. Pada tanggal 27 September 1927, pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap Hatta bersama tiga tokoh pemuda lainnya, Nazir Pamuncak, Ali Sastroamidjojo dan Abdul Majid Djojodiningrat. Mereka ditahan selama lima bulan.

Pada tanggal 8 Maret 1928, Hatta dan kawan-kawan dihadapkan ke muka Mahkamah di Den Haag dengan tuduhan menghasut. Dua advokat Belanda, yaitu Mr. Duys dan Mr. Mobach, kemudian diperkuat nona Weber, dengan sukarela dan cuma-cuma menawarkan diri sebagai pembela, karena mereka berpendapat, seperti dijelaskan dalam surat mereka kepada Hatta dan teman-teman, “tindakan yang diambil terhadap tuan dan teman-teman tuan oleh alat-alat pengadilan sangat memalukan negeri Belanda”.

Pengadilan memutuskan bahwa mereka berempat dibebaskan dari tuduhan. Walaupun Hatta sudah mempersiapkan pembelaannya (sudah dicetak menjadi buku, 85 halaman, berjudul “Indonesia Vrij”), tapi tidak sempat diucapkan, hanya diserahkan kepada hakim untuk dimasukkan dalam arsip, seolah-olah pembelaan itu telah diucapkan. Sesudah keluar dari penjara, kemudian bung Hatta melanjutkan studi sampai selesai menjadi sarjana ekonomi, pada bulan Juli 1932 beliau kembali ke tanah air untuk menyumbangkan dharma bakti langsung ke tengah-tengah kancah perjuangan kemerdekaan.

Bung Hatta hanya dalam masa lebih-kurang satu setengah tahun berjuang ditengah-tengah rakyat, kemudian pada tanggal 25 Pebruari 1934, beliau ditangkap oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dikenakan hal “exorbitante-rechten”, dibuang pada mulanya ke tanah merah (Boven Digul). Sesudah setahun ditempatkan di “sarang malaria” itu, barulah kemudian dipindahkan ke Banda Neira selama enam tahun, kemudian tatkala pemerintah Hindia Belanda mengakhiri riwayatnya pada bulan Januari 1942, Hatta dipindahkan ke Sukabumi dan bebas di zaman Jepang.

Di zaman Jepang, beliau tidaklah menjauhkan sama sekali dari kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan waktu itu, seperti bersama-sama Bung Karno memimpin “Poetera” (Pusat Tenaga Rakyat Indonesia), yang tujuan lahirnya membantu peperangan Jepang, tapi dapat dimanfaatkan untuk mengeratkan hubungan dengan rakyat dan menanamkan keyakinan pada mereka hak sesuatu bangsa mengatur diri sendiri.

Ketika Jepang menyerah kalah pada sekutu dan bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, maka Soekarno dan Hatta adalah dwitunggal yang mempunyai otoritas cukup memaklumkan kemerdekaan itu. Hatta terpilih menjadi Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Dalam periode pergolakan dan perjuangan sambil penyusunan Republik Indonesia, Hatta senantiasa memainkan peranan sebagai penggerak, penyusun, konseptor, dinamisator.

Pada saat-saat yang mengancam keselamatan negara, seperti ketika pemberontakan PKI di Madiun (1948), demikian juga ketika masa transisi di zaman Republik Indonesia Serikat, Hatta langsung memegang pimpinan sebagai kepala pemerintahan (Perdana Menteri). Sebagai pimpinan beliau mempunyai pendirian yang tegas. Jika satu kali Hatta mengatakan “tidak”, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengubah menjadi “ya”, demikian juga sebaliknya.

Ketika Presiden Soekarno melaksanakan Demokrasi Terpimpin, yang memberi angin kepada PKI, Hatta memperingatkan bahwa gagasan itu akan menimbulkan bencana kepada Negara. Beliau mencoba meyakinkan Soekarno, tetapi tidak berhasil, maka beliau tidak segan-segan meletakkan jabatan Wakil Presiden, sebab kalau beliau berusaha menggerakkan rakyat menantang politik Soekarno, pasti akan terjadi perpecahan bangsa yang membawa akibat yang sangat fatal.

Dalam buku “Demokrasi Kita”, Hatta melukiskan tindakan Soekarno yang jauh menyimpang dari garis demokrasi yang diinginkan rakyat, diantaranya : “Apapun yang terjadi sekarang ialah krisis daripada demokrasi. Atau demokarasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki, lambat laun akan digantikan diktatur. Ini adalah hukum besi daripada sejarah dunia. Tindakan Soekarno yang jauh menyimpang dari dasar-dasar konstitusi adalah akibat daripada krisis demokrasi itu”.

Potret kepemimpinan Hatta senantiasa kelihatan dari sikapnya yang tegas, tekadnya yang bulat, tidak bergoncang, tidak bisa dipengaruhi dan siap serta menghadapi akibatnya.

Dalam salah satu tulisannya mengenai pemimpin, beliau berkata : “Tanggungan pemimpin tidak ringan dalam pergerakan. Dan nasibnya jauh dari biasa. Siapa yang tidak mempunyai iman yang teguh dan watak yang tetap serta urat syaraf yang kuat, susah bagi dia menjadi pemimpin. Di sini dia dipuji dan diikut, disana ia dicela dan dinista. Di sini  ia diakui sebagai pahlawan, disana ia diteriakkan sebagai pengkhianat dan penjahat. Sekarang ia dikatakan dia penghasut yang berbahaya, besok ia disembah-sembah sebagai orang besar penolong bangsa. Ia bernama penjahat dan si penghasut selama ia berada dalam golongan oposisi. Tetapi, ia pahlawan dan jempol, setelah pergerakan yang dianjurkannya beroleh kemenangan dan ia sendiri memegang tampuk kekuasaan negeri”. (Daulat Rakyat, 10 September 1933).

Setelah Bung Hatta meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada tahun 1956, sampai beliau dipanggil illahi pada tanggal 14 Maret 1980, dalam masa kurang dari 24 tahun, beliau menjadi rakyat biasa, tanpa kedudukan dan jabatan resmi.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s