DIREBUT KABUT KELAM

direbut kabut kelam

direbut kabut kelam

Tak ada yang kembali, ini sudah sewajarnya dalam hidup. Betapa segalanya berubah, aku berusaha mencari jawaban teka-teki yang tak ingin aku pecahkan. Segalanya terasa tidak jelas, seakan-akan ini tak lebih daripada mimpi tak jelas.

Mengapa juga ada perubahan? Bukankah kekacauan menyertai setiap perubahan besar. Apakah itu kehilangan, keheranan, ketakutan atauhkah iri hati.

Dimanakah engkau kini, penjagaku. Seperti mimpi memangut, hanya terjamba bayangan hari. Aku yang engkau lambai pada suatu hari, bersama embun bersama kuntum. Engkau yang selalu gelak, memanggut. Direbut kabut kelam.

Aku tidak bisa (harus) mengakhiri sesuatu yang harusnya lama aku akhiri. Bila memikirkan sesuatu yang tak bisa aku ubah, bertambah kesedihanku. Dalam harap dan doaku, dari abu terbitlah bara. Mata pedang yang patah terperbaharui, dan yang tak bermahkota kembali menjadi raja.

Menuju kilau cahaya.

Bait Al Hikmah, 3 Syawal 1434 H (bersamaan 10 Agustus 2013)

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s