CERITA CINTA

Kepolosan yang mewarnai cinta sejati tak akan pernah bisa diulangi. Ketika lenyap, ia pergi untuk selama-lamanya.

Pada mula

tatkala yang manis dan pahit menyatu

tak ada ketergesaan yang mengeruhkan air

manusia-manusia tak bernama, tak berwatak dan, tak bermasa depan

X

Tahun 1911

Aku menangisi ketidakmampuanku dalam ilmu hitung. Sial, sebegitu sulitnya Aljabar ini. Takdir telah membawaku, putra kebanggaan Azeri berada di sekolah, sekolah dari penjajah kami. Sejak Perjanjian Gulistan, Rusia mengambil Azerbayzan dari Persia dan memasukkan ke dalam kekaisaran Rusia. Takdir pula yang mengalahkan kenyataan dalam sejarah keluarga. Biasanya seorang putra Azeri hanya belajar pada seorang Hoja (guru). Harus aku akui, bahwa aku cukup cerdas. Mahir berbahasa Arab, Farsi, sedikit-sedikit bahasa Turki serta jagoan dalam ilmu Fiqh, Mantiq dan Hadist. Sesuatu hal yang tak bisa kubanggakan disini, di sekolah yang sepenuhnya Rusia. Hilanglah, kebanggaanku.

Aku harus terbata-bata mengeja huruf Cyliric (Aksara Rusia), ini semua karena Hoja. Ialah yang sepatutnya disalahkan sepenuhnya, sifat lembut dan tenang ibuku telah meledak menjadi kemurkaan dan putus asa ketika aku membisikkan ajaran Hoja, “Ibu. Hoja berkata kepadaku. Perempuan itu adalah makhluk kelas dua.” Kemudian, ibu meratap getir kemudian memelukku. Pada hari itu ia meyakinkankan ayahku segera untuk mengirimkanku ke sekolah. Sikap semacam ini sesungguhnya bukanlah sifat ibuku, karena baginya Rusia adalah penjajah. Ayahku, hanya bisa pasrah, setidaknya ibuku telah memperlihatkan kepadaku pada hari itu, bahwa kata-kata Hoja yang kuceritakan kembali padanya, tak lebih dari omong kosong belaka, sama sekali tidak berdasar. Akhirnya ia tersenyum puas.

Mendidik anak-anak beradab, cerdas demi ibu Russia.” Adalah motto sekolah. Disini kami harus berpakaian seperti Orang Barat. Tidak ada tabu, tidak ada yang sakral disini. Guru-guru biasanya sinis kepada anak-anak Azeri melebihi dari ras Russia, bahkan Armenia sekalipun. Mereka kerap menyindir, bahwa kami beranak sebegitu banyak sehingga akan kesulitan memberi makan anggota keluarga. Betapa sekolah “beradab” ini begitu “tidak beradab.” Aku lebih menyukai pelajaran dari Hoja, meski beberapa ajarannya sinting. Setidaknya, ia lebih jujur.

“Sekolah tidak menerima murid yang telah menikah.” Rata-rata, kami bangsa Azeri menikah di usia 14-16 tahun. Lebih cepat dibandingkan orang Russia atau Armenia, aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk ketika Hasan setiap sebelum guru masuk harus menyuap anaknya dengan kembang gula untuk tidak memanggil ayah di sekolah. Hasan menyukai sekolah, ia tidak ingin dikeluarkan. Walau ia tidak bekali kemampuan belajar yang baik. Ia sudah tinggal kelas sebanyak tiga kali, dan disusul anaknya Haydar, masuk ke sekolah. Untunglah, kami dibekali tubuh yang ramping dan kecil. Walaupun lebih berumur sewaktu masuk sekolah dibandingkan orang lain. Kami, putra Azeri bisa menipu guru yang tidak mengetahui berapa usia kami sesungguhnya. Sewaktu malam, di pengajian Hoja aku bercerita kepada teman-teman. Mereka tertawa senang dan berkata, “orang Russia hanya di bekali otak yang kecil.” Setidaknya itu adalah kepuasaan, mengolok-olok para guru yang merendahkan kami (Azeri) di siang harinya.

“Sekolah terbuka kepada putra dan putri Kekaisaran Russia.” Sebenarnya tidak! Sekolah memang terbuka bagi seluruh ras Russia, tapi tidak semua orang Armenia. Apalagi orang Azeri, sepertiku. Hanya mereka yang berasal dari keluarga terkemuka yang di terima dan tidak semua juga yang mendaftarkan diri kesekolah. Beberapa lebih memilih madrasah yang dikelola Hoja. Bagaimanapun sesuatu yang telah berjalan ratusan tahun lebih terbukti dibandingkan sesuatu yang baru, syukurlah ayah memiliki tanah yang dijadikan tambang minyak oleh Rusia sehingga aku bisa bersekolah. Diam dan pelan aku mulai menyukai sekolah, karena sekolah ini menggabungkan antara anak lelaki dan perempuan. Memang tidak ada perempuan Azeri yang bersekolah, tapi ada anak-anak perempuan Russia dan Armenia. Meski mereka sombong, tapi setidaknya ada pemandangan yang menyegarkan disini.

Tahun ini, dengan susah payah aku naik kelas. Setidaknya, aku memiliki kebanggaan. Azeri pertama yang tidak (belum) tinggal kelas!

X

Musim Panas 1912

Marina Shevsenko. Kepala Sekolah Menengah Ganja (Kota di Azebayzan sekarang) berdehem dan ruangan kelas menjadi sunyi. Orang ini memiliki pendapat bahwa mengenakan atribut keagamaan melanggar kebijakan sekolah, yang mengharuskan pelajar untuk menghadiri kelas dalam pakaian sekuler. Siapapun yang kedapatan tidak akan diizinkan masuk lagi kecuali menanggalkan, sebenarnya kebijakan ini berlaku umum. Para murid putih juga tidak diizinkan memakai kalung salib, akan tetapi tentu sasaran utamanya adalah kami (Azeri) yang kerap membawa kupiah, tasbih. Darah para Azeri selalu panas dan diam-diam selalu memberontak, jika memiliki kesempatan.

“Satu-satunya cara menyelamatkan peradaban adalah melalui kemajuan dan tatanan,” Ujar Marina berkeliling kelas, aku menyembunyikan peci dalam baju. Sedangkan Hasan memasukkan tasbih di dalam kantong. Ia diam tepat di depanku, pantatku menciut ketakutan. Ia menatap mataku, nenek Rusia ini begitu menakutkan sehingga aku menunduk.

“Ali Murtaza! Apa itu di dalam bajumu.” Jika tidak mengingat nenek moyangku adalah pengelana gurun pasir yang tangguh maka aku akan kencing di celana mendengar suara bak halilintar itu. Ia menarik paksa bajuku dan menemukan peci yang ku sembunyikan.

Ia menatapku dan tersenyum. “Kamu pikir kamu adalah seorang muslim yang taat pada Turki atau Persia dengan mengenakan ini ya?”

Gurat-gurat cemas mencuat di dahiku. Aku ingin berkata iya, tapi aku takut.

“Kamu salah jika berpikir seperti itu. Azerbayzan adalah tetap bagian dari kekaisaran Rusia bahkan jika pegunungan Ural telah tercabut. Nah, Ali atas pikiran naifmu itu! Kamu layak ditindak. Sekarang sufi kemasi barangmu!”

Aku tidak menjawab. Mataku berkaca-kaca, aku dikeluarkan dari sekolah di hari pertama tahun kedua, pikirku. Di saat aku mulai menyukai omong kosong ini.

“Mulai hari ini dan seterusnya, kamu duduk di samping Malena.” Sambungnya, kiamat urung terjadi. Tapi duduk di samping Malena, orang Armenia? Bangsa Armenia adalah bangsa yang tidak di sukai oleh kami (Azeri) atau Rusia sekalipun. Mereka adalah bangsa tua dan licik, mereka jarang mandi sehingga badan mereka berbau busuk. Begitulah desas-desus, kami (Azeri) bahkan menghindar jika harus berada di dekat mereka. Di tambah lagi, kami bangsa Azeri tidak terbiasa berdekatan dengan perempuan bukan muhrim. Terjajah, tentu bukan alasan melupakan hukum Islam. Ingin rasanya membantah Marina Shevsenko ini, akan tetapi pasti dengan segera  ia akan menuduhku menganut pandangan kolot. Aku masih mencari alasan.

“Cepat Ali! Atau kau akan aku pulangkan ke orang tuamu!”

Aku kalah dan menurut.

X

Masih di tahun 1912

Malena

Malena

Desas-desus yang menyatakan orang Armenia berbau bangkai adalah salah total! Sebegitu salahnya, sehingga siapa yang menyebarkannya sampai ke pengajian Hoja selayaknya di kutuk. Keharuman macam apa ini? Hidungku merasa asing, campuran wangi bunga yang sama sekali aku tidak mengingatnya, terasa akrab namun asing. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung sesaat, sel-sel dalam otak pun berputar cepat. Aha, inilah penyebabnya kenapa dihembuskan desas-desus bahwa mereka berbau bangkai, karena kami (Azeri) terlalu lemah akan aroma parfum mereka. Sangat tidak sesuai sunnah! Menganjurkan perempuan mengenakan parfum berwarna tapi tidak berbau keras. Aroma perempuan asing.

Malamnya aku bercerita kepada Hoja, selepas mengkaji kitab. Aku terkejut melihat ia terkekeh, “Berhati-hatilah dengan kuda betina itu, Ibnu Usman. Sebelum kau menyadarinya, tiba-tiba saja kau telah menungganginya dan dia akan berlari kencang melintasi gurun pasir dengan kau terikat di punggungnya.”

Betapa salahnya Hoja, dan betapa hanya sedikit yang ia ketahui tentang dunia luar. Raut masam di wajahku menandakan ketidakpercayaan. Aku memperhatikan Hoja melihat perubahan raut wajahku dan mengangguk dengan seulas senyum simpatik penuh pengertian. Ketika aku berjalan menuju gerbang madrasah, kurasa aku mendengar bisikan Hoja di telingaku, “Hati-hati, berhati-hatilah Ali.” Tapi itu hanya lamunanku belaka.

X

Tahun baru 1913

Ali dan Malena, kami duduk di bangku bersebelahan dan bercakap-cakap. Rasanya seakan-akan kami adalah sepasang teman dekat yang saling mempercayai. Akhirnya aku tahu,  Malena tidak sepenuhnya Armenia, ayahnya adalah orang Georgia, ibu Armenia. Meninggal tak lama setelah ia dilahirkan. Ia dan ibunya dijemput oleh paman Armenia, kemudian di sekolahkan disini. Selama ini ia bisa menangani persoalannya sendirian, menjahit baju sendiri. Sebagai yatim ia tak menyerahkan dirinya pada nasib misterius yang (mungkin) kejam. Entah mengapa di matanya, aku melihat kesedihan tapi bukan tidak bahagia. Murid-murid Armenia lebih membenci kami (Azeri) dibandingkan kami tidak menyukai mereka, Malena dijauhi karena duduk di sebelahku, aku merasa beruntung terlahir sebagai Azeri, meski memiliki mulut tajam tapi kami memiliki urusan sendiri, aku tetap bisa bergaul dengan sesama Azeri tanpa dianggap najis. Bahkan Hoja yang paling keras sekalipun hanya berkata, “Orang Georgia? Aku dengar, Sultan Mamluk yang terkenal Baibars adalah keturunan Georgia. Ia mengalahkan Mongol dalam pertempuran menentukan di Ain Jalut beberapa abad silam. Bagus itu.” Hoja melanjutkan cerita pada dinasti-dinasti Islam bersinar di masa lalu, aku hanya takzim, aku merasa Hoja juga belajar dari ceritaku, sebagaimana aku belajar dari ceritanya.

Kembali pada Malena, ia sangat suka bermain boneka. Ia merajut boneka sendiri, dan kadang-kadang membawanya ke sekolah. Aku berpikir apa ini? Kalau saja aku tidak mengingat cerita Hoja bahwa Rasullullah (saja) tersenyum melihat Aisyah bermain kuda-kudaan maka ia akan aku larang. Tapi, sudahlah bahkan kadang-kadang aku membantu menyembunyikan jika Marina Shevsenko melakukan razia. Konyolnya lagi, ia menamakan bonekanya, “Sonja.” Dan laki-laki Azeri sejati tidak pernah (ingin) mencampuri urusan perempuan, sampai.

“Papa, papa! Ini Sonja sakit!” Malena mencubit lenganku, tergelak kemudian memajukan tubuhnya ke dekatku. Aku hanya mengenyitkan dahi, sial dadaku bergetar hebat.

“Coba papa lihat, oh mungkin Sonja terlalu lama di dalam tas jadi dia sakit.” Aku terbawa suasana, tapi masih mampu realistis.

“Ih, papa curang. Sudah dibilang tidak boleh menyebutkan kalau Sonja ini adalah boneka. Bagi kita, dia adalah makhluk hidup. Titik!” Malena memasang wajah merajuk.

Apa-apaan ini, kapan kesepakatan terjadi? Alih-alih membantah mulutku berkata, “Iya deh memang papa yang salah.”

“Begitu dong, itu baru papa Sonja.” Ia tertawa nyaring atas perkataannya sendiri, dan entah mengapa aku mengangguk setuju. Hidup dibagi kepada empat fase : langkah; rezeki; pertemuan dan; maut. Dalam hal ini cinta adalah pertemuan, tidak ada cinta tanpa pertemuan. Pada titik ini aku merasa dipertemukan dengan takdir tanpa disengaja, “Sonja” adalah nama yang sepenuhnya Eropa, bukan Arab bukan pula Farsi. Begitukan nasib keturunanku kelak?

X

Awal 1917

Cinta adalah kekonyolan, membuatmu melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Hoja tertegun dengan pertanyaanku, “Dapatkah lelaki Muslimin menikahi seorang ahli kitab (Nasrani)?” Terlintas di kepalaku, laki-laki seperti Hoja Nashruddin tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Orang sepertinya adalah seorang lelaki dengan integritas tinggi, dan sialnya di dunia ini hanya sedikit orang seperti dia. Ia telah memberi nasehat kepadaku hampir di sepanjang hidup. Itu sebabnya, ia berarti bagiku, bahkan aku lebih dekat kepadanya dibandingkan kedua orang tuaku, dia adalah tempat dimana aku menceritakan rahasia-rahasia terdalam di hidupku, yang tak akan aku bagikan kepada orang lain.

“Tidak adakah perempuan muslimah lain yang menarik hatimu wahai ibnu Utsman? Sehingga pilihanmu jatuh kepada perempuan Georgia itu?” Wajah Hoja terlihat sangat sedih ketika aku menggelengkan kepala.

“Secara hukum Fiqh diperbolehkan asal berada dalam daulah Islamiyah,” ia terdiam. Aku mencoba mengira apa kata selanjutnya keluar dari mulutnya, ia melanjutkan. “Jika itu memang keinginanmu maka akan kita jadikan.”

“Bagaimana jika kedua orang tuaku tidak menyetujui?”

“Biar Hoja Nashruddin yang menjelaskan kepada mereka.”

“Bagaimana jika keluarga Malena menolak?”

Senyum keceriaan kembali di wajah Hoja, ia terkekeh. “Ali kamu adalah putra Azeri, kita bangsa yang perkasa. Kita akan culik dia dari keluarganya, jika mereka melawan maka akan kita singkirkan mereka untuk selama-lamanya. Apapun akan aku lakukan untuk keinginanmu itu! Kau bisa mempercayai untuk menyimpan rahasia manapun, lebih rapat daripada engkau menyimpannya. Kami adalah sahabat-sahabatmu. kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.” Kadang-kadang aku merasa Hoja bukanlah guru agama yang baik, tapi dia adalah guru terbaik.

Syukurlah, anggapanku terhadap kegagalan tidak lebih mengada-ada. Segalanya berjalan lancar, Hoja mengatur segalanya bagiku. Aku dan Malena dinikahkan di Madrasah Ganja, dengan tata cara Islam sesuai dengan syarat Hoja.

Hari itu terasa sangat indah, sementara dunia menggelinding dibawah dengan hembusan angin kencang.

X

8 Maret – 8 Nopember 1917.

Perangko Azerbayzan

Perangko Azerbayzan

Revolusi Rusia dimulai, Tsar diturunkan. Rusia Kaukasus dimana Azerbayzan tergabung didalamnya jatuh. Sistem Administrasi dimana Armenia, Azerbayzan dan Georgia pecah. Pada Maret 1918, konflik etnis dan agama antara Armenia-Azeri di Baku dimulai. Pada tanggal 26 Mei 1918 setelah masalah carut marut. Faksi Azerbayzan menarik diri dan memproklamirkan kemerdekaan Republik Demokratik Azerbayzan. Tak lama kemudian pecah perang Armenia-Azerbayzan pada musim panas 1918. Pertempuran sendiri masih berlanjut di Karabakh sampai tahun 1919, pertempuran memuncak sampai dengan 1920 sampai Jenderal Samedbey Mehmendarov mengusir tentara Armenia dari Karabakh.

X

Maret 1920

Azerbaijan Democratic RepublicTerlihat jelas Soviet Rusia akan menyerang Azerbayzan. Vladimir Lenin berkata, “Invasi harus dilakukan karena Uni Sovyet tidak akan bertahan tanpa pasokan minyak dari Baku (Ibu kota Azerbayzan).” Aku tidak menyukai politik, bagiku itu semua adalah omong kosong belaka. Akan tetapi aku mengkhawatirkan Malena yang sedang hamil muda. Aku memiliki kekhawatiran seorang calon ayah sebagaimana layaknya. Tekadku sudah bulat, kami harus mengungsi. Sebenarnya aku memilih Persia di Selatan, akan tetapi Malena menolak keras. Baginya negeri Timur terlalu asing, aku berkata bahwa aku adalah orang Asia, dan selayaknya anakku menjadi Asia. Ia menangis dan berkata aku bukan Asia, melainkan Azeri dan anaknya harus menjadi Eropa. Akhirnya aku mengalah, paman Melena menjemput ia ke Georgia. Hanya dia dan calon bayinya, aku tidak diizinkan ikut. Aku adalah Azeri, dan tidak ada tempat bagi Azeri di Utara. Malena memegang pipiku menenangkan, “Sabarlah Ali. Jika keadaan sudah membaik, kami akan menjemputmu.” Malena pergi dengan kereta terakhir, ketika keluargaku pulang ke Persia, aku menolak ikut. Aku akan bertahan.

Mei 1920

Tentara Merah memasuki Azerbayzan

Tentara Merah memasuki Azerbayzan

Tentara XI Russia memasuki Ganja, gelombang tentara merah yang didukung gerilyawan Armenia dan Georgia datang bagaikan air bah. Aku, Hasan bersama Tentara Republik Demokratik Azerbayzan menjaga jembatan Ganja yang menjadi pintu masuk. Wajah-wajah kami diselimuti debu, mata menghitam karena kurang tidur. Suara terompet dan genderang menyiagakan segenap para prajurit. Bagaikan binatang buas yang tengah menunggu mangsa Tentara XI Rusia telah berhadapan di seberang sungai. Hasrat membunuh mereka membuat mereka selalu tenang dan bergairah. Terlepas dari usaha terbaikku untuk tetap tenang, aku tak mampu mengendalikan rasa takutku. Mereka terlalu banyak!

Ditengah hari, kami mendapati pemandangan musuh kami telah bersiap masuk. Serdadu-serdadu tumpah ruah menuju jembatan, aku menyapu dengan karaben. Namun gelombang datang demi gelombang, lapisan langit debu merebak.

“Allahu Akbar!” Aku berteriak ketika peluru menembus bajuku, aku terjatuh ke dalam air dan tidak mengingat apa-apa lagi.

31 Mei 1920

Uni Soviet menaklukkan Republik Demokratik Azerbayzan. Pada akhirnya, para Azeri tidak menyerahkan kemerdekaan 1918-1920 dengan cepat dan mudah. 20.000 gugur berjuang dari penaklukkan Rusia. Dan dengan segera Uni Sovyet mendirikan Republik Azerbayzan Sosialis Soviet, dan lebih mudah karena di dukung oleh kebanyakan Bolshevik adalah ideologi popular di kalangan pekerja industri di Baku. Sejak hari itu Azerbayzan menjadi bagian Uni Sovyet.

X

1 Shawal 1412 H – 4 April 1992

Semalam aku merasa mual dan jatuh sakit. Aku mengigil, tubuhku bagaikan terpanggang api. Aku meneguk tiga teko air dan tertidur. Aku melewatkan shalat Ied tadi pagi, rasa sakit itu telah sirna, tetapi aku merasa begitu lemas dan didera firasat buruk akan datangnya bencana. Aku terduduk di tepi ranjang. Kemudian aku tertawa, mengingat kata-kata Marina Shevsenko dulu.

“Kamu salah jika berpikir seperti itu. Azerbayzan adalah tetap bagian dari kekaisaran Rusia bahkan jika pegunungan Ural telah tercabut. Nah, Ali atas pikiran naifmu itu! Kamu layak ditindak. Sekarang sufi kemasi barangmu!”

Sekitar enam bulan lalu, Azerbayzan memperoleh kemerdekaan dari Uni Sovyet. Pada akhirnya tidak ada yang abadi, bahkan kerajaan Sovyet yang seolah akan berumur ribuan tahun itu rontok. Aku sangat senang membayangkan, Marina Shevsenko meratap di kubur. Tapi ada yang abadi, kata-kata Hoja. Guruku Hoja Nashruddin.

“Kami adalah sahabat-sahabatmu. kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.”

Nashruddin Hoja

Nashruddin Hoja

Dia adalah benar-benar anjing pemburu. Bagaimana caranya dia datang ke lokasi pertempuran dan membopong tubuhku yang terluka melewati segala barikade tentara Merah menembus perbatasan Azerbayzan masuk ke Iran (Persia) dan mengantarkan aku ke keluargaku ke Teheran. Jika seluruh ungkapan terima kasih yang ada di dunia ini harus kuucapkan kepadanya, maka itu tidaklah cukup. Setelah itu ia menghilang untuk selama-lamanya, tidak pernah terlihat lagi. Aku berusaha mencarinya, namun akhirnya menyerah. Mungkin Hoja bukanlah manusia biasa, mungkin dia adalah seorang Aulia. Sebagaimana sifat Aulia, maka lebih baik ia misterius.

Di Taheran Iran, aku melewati tahun-tahun yang panjang. Menikah dan berketurunan, sebagai manusia ekonomi aku berhasil. Usaha toko sepatu yang aku rintis berkembang pesat, akan tetapi selama bertahun-tahun itu pula aku masih memikirkan Malena. Waktu telah lama berlalu sejak kejadian itu, aku membayangkan Malena, anak kami terperangkap dalam konfik yang paling mengerikan. Sering dalam mimpi buruk, aku membayangkan mereka terperangkap dalam kobaran api dan betapa seringnya aku berharap ada disana untuk berbagi kepedihan dengan mereka. Sewaktu Uni Sovyet masih ada, berulang kali aku mencoba masuk. Sayangnya aku dikenali sebagai pemberontak, dan negeri Tirai Besi tertutup untukku selamanya. Semua itu adalah kenangan yang menyakitkan. Aku terus berusaha memendamnya.

“Kakek, kakek. Ada tamu.” Si kecil Fatima masuk ke dalam kamar, aku mencoba untuk bangkit dari ranjang tapi tidak sanggup. Seorang perempuan masuk didampingi seorang laki-laki, dari pandanganku dia adalah seorang tiga puluhan yang menawan, kedua matanya sewarna madu. Rambutnya hitam pekat. melihat wajahnya jantungku berhenti berdetak. Wajahnya mengingatkan aku dengan seseorang yang aku pikir tidak pernah akan aku lihat lagi, Malena.

Ia bergegas dan memelukku, ia menangis. Ada kedekatan abadi seolah tercipta antara aku dan dia. “Kakek, perkenalkan aku Sonja.” Sonja nama itu pernah bergema ditelingaku puluhan tahun yang lalu, kemudian ia menghapus air matanya dan memperkenalkan laki-laki disebelahnya, “Ini Dimitri suamiku.”

Aku seolah sudah tahu arah pembicaraan, namun hanya satu kata yang keluar dari mulutku, “Malena?”

“Iya kek, saya Sonja cucu dari Malena. Sonja Murtaza cucu kakek juga.” Sekilas ada kelegaan dari wajahnya ketika mengungkapkan kata-kata terakhir, ataukah ini hanya imajinasiku saja? Aku mengengam tangannya dan mengelus perlahan.

Sonja bercerita, neneknya Malena, istriku tercinta. Malamnya tiba di Tbisi (Georgia) dan tinggal ditumah adik ayahnya, melahirkan ayahnya, Kahka. Keadaaan kaukasus begitu kacau saat itu, sehingga tidak ada kabar dari Azerbayzan. Setelah keadaan aman, ia mencoba mencari tahu keberadaanku. Namun tidak ada kabar yang pasti, beberapa mengatakan aku telah tewas pada pertempuran Ganja. Malena yang cantik akhirnya menikah lagi, dengan Joseph seorang sektretaris Partai Komunis Georgia (hatiku terbakar cemburu), namun ia menyesal mengapa meninggalkan aku dalam keadaan yang kacau. Pada tahun 1960-an Kahka, anakku. Bertemu dengan Haydar putra Hasan yang masih menetap di Azerbayzan, dari Haydar diketahui bahwa aku diselamatkan oleh orang tua gila bernama Hoja, dibopong melewati hujan peluru menuju Selatan dan menghilang. Malena dan Kahka mencoba masuk ke Iran, namun negeri Tirai besi menutup pintu. Baru ketika Uni Sovyet bubar, pintu terbuka. Sayangnya baik Malena maupun Kahka telah tiada. Sonja sebagai satu-satunya putri Kahka masih memiliki harapan, melalui jaringan koneksi ia mencoba mencari kabar diri tentangku, dan akhirnya kami bertemu.

“Ia selalu mengenangmu,” bisiknya. Air mata menetes  di kedua pipiku. “Dan aku juga selalu mengenangnya, tidak pernah sekalipun melupakan dirinya, dan juga ayahmu.”

Aku mengingat pertemuan pertama kami. Aku sempat sedikit takut kepadanya karena harus duduk di samping orang Armenia, yang diceritakan Hoja berkelakuan seperti hantu.

“Waktunya makan!” Fatima mengejutkan sekali lagi.

Aku mempersilahkan Sonja dan suaminya untuk menuju ke ruang makan ditemani Fatima. Aku mengatakan akan menyusul setelah berpakaian layak, Dimitri ingin membantu aku berdiri namun aku bercanda kepadanya, “Ali Murtaza, pantang menerima bantuan seorang Rusia.” Keningnya berkerut, namun aku menepuk punggungnya dan berkata bahwa aku hanya bercanda.

Setelah mereka beranjak pergi, aku berpakaian terbaik yang aku miliki. Sebelum keluar aku berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah ridha atas takdir yang telah ditetapkan kepadaku. Maka ya Rabb ridhailah hamba-Mu ini.”

Sekarang semuanya selesai. Aku senang kau berada disini bersamaku. Di saat-saat terakhir ini, cucuku Sonja.

X

Kita hanya tahu sedikit tentang nenek moyang kita, sungguh, bahkan kita yang bisa menyebutkan nama-nama mereka beberapa generasi sebelumnya.

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s