SURGA

Dimana penglihatan gagal, bumi bisa memberi kabar

Dimana penglihatan gagal, bumi bisa memberi kabar

Sebenarnya aku, seperti juga para leluhurku.

Sama seperti semua orang juga.

Menginginkan surga, yang diriwayatkan dipenuhi kebun-kebun besar.

Dialiri oleh sungai-sungai susu, dipenuhi bidadari.

 

Namun, suara batinku menjerit.

Menghina dan meracau, bisakah engkau?

Durjana buduk tak tahu diri, haus akan nafsu duniawi.

Menikmati diam-diam setiap basah-kuyup dipelabuhan biru.

 

Sebenarnya aku, bukan seperti disangka.

Sama seperti semua orang juga.

Memiliki nafsu angkara, namun aku tak kuasa menahannya.

Menceburkan diri dalam godaan-godaan tak berbatas.

 

Tak lebih dari selangkangan berkurap ini.

Pernah dengan tegas menolaknya, menghina pengagumnya.

Akan tetapi hari ini merasa gusar, cemas dan takut.

Malu-malu merindukannya, surga.

 

Bait Al Hikmah, 8 Sya’ban 1434 H (bersamaan 17 Juni 2013)

 

Maka tidaklah bagus merenungkan terlalu kesalahan masa lalu. Jika kita tidak bisa saling memaafkan apa yang telah dilakukan masing-masing kita, tak akan ada perdamaian antara kita.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s