ISTANA KOSONG

Istana KosongMenjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka mencolok satu sama lain : Nobunaga, gegabah, tegas, brutal ; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks ; Ieyasu, tenang, sabar penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak.

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Kisah ini merupakan kisah tentang laki-laki yang “menunggu” burung berkicau.

X

Tokugawa Ieyasu

Tokugawa Ieyasu

Ieyasu kini berusia tiga puluh tahun dan sedang pada masa kejayaannya. Provinsinya dipenuhi harapan akan kemakmuran serta keinginan untuk memperluas wilayah, demikian hebatnya, sehingga para pengikut, baik tua maupun muda, para petani, para penduduk kota amat bersemangat. Mikawa (Provinsi Ieyasu Tokugawa) mungkin bukan tandingan Kai (Provinsi Takeda Shingen) dalam hal kekayaan namun dalam hal tekad, provinsi itu tak kalah sedikit pun.

 

Shingen “Si Kaki Panjang” kemarin masih bertempur melawan marga Uesugi penguasa Provinsi Echigo di perbatasan utara Kai, hari ini ia mengancam Mikawa.  Ketika perbatasan Kai dan Echigo tertutup salju, pasukannya yang berkekuatan 30.000 didesak untuk segera mewujudkan cita-citanya memasuki ibu kota. Jalan paling mudah adalah menggilas Mikawa.

Ketika ancaman kian mendekat. Sekutu keluarga Tokugawa, kepala keluarga Oda mengirimkan surat kepada Ieyasu :

“Rasanya lebih baik jika Tuan tidak melakukan konfrontasi frontal dengan pasukan Kai. Aku berharap Tuan tetap tabah jika situasi menjadi genting dan Tuan terpaksa mundur dari Hamamatsu ke Okazaki. Kalaupun kita harus menunggu hari lain, aku yakin hari itu tak lama lagi.”

Ieyasu menjawab, “sebelum meninggalkan benteng Hamamatsu, lebih baik kita patahkan busur kita dan keluar dari golongan samurai!” Menerima balasan kurir Oda Nobunaga dan sang penasehat Toyotomi Hideyoshi bergumam mengenai kekeraskepalaan Ieyasu. Satu di antara tiga sekawan yang tidak terpahami. Dalam pandangan Nobunaga maupun Hideyoshi, provinsi Ieyasu adalah merupakan wilayah garis pertahanan. Ia dapat direbut kembali dikemudian hari, atau bertualang mencoba meraih wilayah baru. Tapi bagi Ieyasu, Mikawa adalah rumah. Perkara rumah adalah masalah hati, dan hati itu, terutama hati Ieyasu tidak bisa diubah semudah mewarnai ulang kain. Ieyasu menantang! Meski aliansi tak sepaham, Ieyasu tidak mengharapkan bantuan,  tak perlu belas kasihan bahkan oleh sahabat sekalipun!

Ieyasu meneruskan persiapan dan berangkat menuju medan pertempuran, tanpa sokongan garis belakang. “Kadang-kadang aku merasa terlalu keras pada diriku, untuk menghilangkan perasaan bersalah atas apa yang aku lakukan. Dan ini adalah yang paling menyedihkan dari kisah ini.” Pikir Ieyasu.

Satu per satu, seperti sisir dipatahkan, laporan tentang kekalahan berdatangan. Shingen telah menyerang Totomi, saat bersamaan benteng-benteng di Tadaki dan Lida tidak mempunyai pilihan selain menyerah, di garis depan pertempuran, tak ada sejengkal tanah yang tidak diinjak-injak oleh pasukan Kai. Keadaan menjadi lebih buruk, ketika pasukan bantuan Ieyasu dibawah pimpinan Heihachiro Honda dipergoki oleh pihak musuh di sekitar sungai Sernyu, pasukan Tokugawa mengalami kekalahan total dan di paksa mundur ke Hamamatsu. Laporan yang membuat pucat semua orang di benteng, namun tidak Tokugawa. Di dera kemalangan dan penderitaan di usia muda, ia menjadi laki-laki yang tak membesar-besarkan kekalahan sepele, (bahkan) menganggap hal itu tidak ada apa-apanya.

Ieyasu memimpin pasukan keluar benteng Hamamatsu, maju sampai ke desa Kanmashi di tepi sungai Ternyu, dan menemukan perkemahan pasukan Kai. Setiap posisi berhubungan dengan markas besar Shingen, seperti jari-jari mengelilingi naf. Ieyasu pun berdiri di bukit dengan tangan terlipat dan melepaskan desahan kagum.Biarpun dari kejauhan, panji-panji di perkemahan utama Shingen terlihat jelas, kata-kata ucapan Sun Tzu yang tersohor, dikenal kawan maupun lawan.

“Cepat bagaikan angin, hening bagaikan hutan, bergairah seperti api, diam seperti gunung”

Diam seperti gunung, baik Shingen maupun Ieyasu tidak mengambil tindakan selama beberapa hari. Dengan sungai Ternyu di antara kedua perkemahan, musim dingin bulan dua belas semakin dingin.

XX

Ieyasu bukan lawan yang ringan, meski ia bermaksud memperlihatkan begitu. Tapi dalam pertempuran berikut, segenap kekuatan marga Takeda akan berhadapan dengan segenap kekuatan marga Tokugawa, mereka saling menggempur dalam satu pertempuran yang menentukan seluruh perang. Bayangan mengenai pertempuran itu justru memacu semangat tempur orang-orang Kai, begitulah watak mereka. Shingen memerintahkan putranya, Katsuyori menggerakkan pasukan mereka melawan Benteng Futamata (seberang sungai Ternyu) dengan perintah tegas tidak membuang-buang waktu. Ieyasu sendiri membawahi barisan belakang, tapi pasukan Takeda yang selalu berubah formasi kembali membentuk susunan baru dan mulai mendesak dari segala sisi. Sepertinya, sekali saja Ieyasu mengambil langkah keliru, ia terputus dari markas besarnya di Hamamatsu.

Salah satu prajurit Takeda mengibarkan cercaan, pasukan Tokugawa dikalahkan dan kocar-kacir. Benteng Futasama jatuh, pasukan Tokugawa dipimpin Honda Haihachiro mundur. Setelah itu pasukan utama Shingen melintasi dataran Lidani dan mulai memasuki bagian timur Mikawa.

“Ke Lidani!” Demikian bunyi perintah yang menimbulkan perbedaan pendapat di antara

Takeda Shingen

Takeda Shingen

jenderal-jenderal Shingen. Beberapa merasa was-was karena pasukan Oda telah tiba di Hamamatsu, dan tidak ada seorang pun mengetahui jumlah mereka. Shingen duduk di tengah para Jenderal. Matanya terpejam, ia mengangguk-angguk ketika mendengar pendapat anak buahnya, lalu berkata hati-hati, “semua ucapan kalian masuk akal. Tapi aku yakin bala bantuan marga Oda tak akan lebih besar dari empat ribu orang. Kalaupun sebagian besar pasukan Oda menuju Hamamatsu, orang-orang Asai dan Asakura yang telah aku hubungi sebelumnya akan menyerang Nobunaga dari belakang. Selain itu, sang Shogun di Kyoto mengirimkan pesan kepada biksu-prajurit, mendesak mereka untuk segera angkat senjata. Orang-orang Oda bukan ancaman bagi kita.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang, “Sejak semula keinginanku adalah memasuki Kyoto. Tapi kalau aku melewati Ieyasu begitu saja sekarang, pada waktu kita berpaling ke Gifu, Ieyasu akan membantu orang-orang Oda dengan menghadang kita di belakang kita. Bukankah paling baik kalau Ieyasu dihancurkan di benteng Hamamatsu, sebelum orang-orang Oda sempat mengirimkan bala bantuan memadai?”

Pada malam hari, laporan mengenai pergantian arah pasukan Kai sampai di benteng Hamamatsu. Tepat seperti perkiraan Shingen, hanya ada tiga ribu orang di bawah Takigawa Kazumasu dan Sakuma Nobumori bala bantuan dari Nobunaga. “Jumlah yang tak ada artinya,” komentar kecewa para Jenderal Tokugawa, Ieyasu tidak memperlihatkan kegembiraan maupun ketidakpuasan, ketika laporan demi laporan berdatangan, sebuah rapat perang dimulai. Tidak sedikit Jenderal Ieyasu yang manganjurkan untuk mundur sementara ke Okazaki, dan mereka mendapat dukungan para komandan Oda.

Hanya Ieyasu yang tak tergerak, tetap keras untuk bertempur. “Apakah kita mundur tanpa melepaskan satu anak panah pun, sementara musuh menghina provinsiku?” Ieyasu cukup paham bahwa ia tidak mungkin mengantungkan diri selalu pada sekutu, ia hanya boleh mempertaruhkan segala nasib pada kekuatan sendiri, bukan orang lain.

XXX

Di daerah Hamamatsu ada sebuah daratan yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, lebarnya lebih dari dua mil, sedang panjangnya tiga mil-Mitagahara. Menjelang fajar pasukan Ieyasu meninggalkan Hamamatsu dan mengambil posisi di sebelah Utara, sebuah tebing terjal. Disanalah mereka menanti pasukan Takeda.

Pasukan Tokugawa membentuk formasi sayap bangau, sepintas mereka tampak seperti pasukan besar, tapi sesungguhnya garis kedua dan ketiga tidak memiliki kekuatan. Ieyasu dikawal oleh segelintir prajurit yang nyaris tak berarti apa-apa. Resimen mereka terlihat kacau balau, ditambah terlihat jelas bala bantuan Oda tak ingin bertempur. Lawan mengatahui hal itu! Suara Shingen menggemuruh, tak terperdaya oleh gertakan Tokugawa ia membentuk formasi seperti ikan, dan bergerak maju kearah pasukan Tokugawa, diiringi genderang perang.

Ieyasu terpesona menyaksikan gerakan pasukan Shingen, dan bagaimana pasukan itu bereaksi atas setiap perkataan yang diberikan, dikondisi terjepit ia berujar, “jika aku sempat mencapai usia setua Shingen, aku berharap mampu menggerakkan pasukan besar setrampil dia biarpun hanya sekali. Setelah melihat bakatnya sebagai pemimpin pasukan, aku enggan melihatnya terbunuh, walaupun ada yang menawarkan untuk meracun dia.”

Sekigahara BattleDebu yang diterbangkan oleh musuh dan orang-orang mereka mencapai langit. Hanya pantulan matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat. Pasukan Mikawa dan Kai telah saling maju, berhadapan. Pertempuran pecah dan suasana kacau balau. Dalam menit saja garis pertahanan Sakai Tadatsugu musnah ditangan pasukan Kai. Dengan bangga pasukan Kai melepaskan teriakan-teriakan kemenangan. Ieyasu berdiri di atas bukit, mengamati pasukannya. Kita kalah, ia menyadari kekalahan yang telak.

“Sakuma Nobumori dari marga Oda digulung habis. Takigawa Kazumazu terpaksa mundur sambil kocar-kacir, dan Hirate Kazumasa terluka. Tinggal Sakai Tadatsugu yang masih bertempur gagah berani. Takeda Katsuyori menggabungkan pasukannya dengan korps Yamagata dan mengepung sayap kiri kita. Ishikawa Kazumasa terluka dan Nakane Masateru serta Aoki Hirotsugu tewas. Matsudaira Yasuzumi memacu kudanya ke tengah-tengah musuh dan menemui ajal disana. Pasukan Honda Tadamasa dan Naruse Masayoshi mengincar pengikut Shingen dan berhasil menembus jauh ke dalam barisan musuh. Tapi kemudian mereka dikepung oleh beberapa ribu prajurit, dan tak seorang dari mereka kembali dalam keadaan hidup.”

Tiba-tiba Tadaihiro meraih lengan Ieyasu, dan dengan bantuan jenderal-jenderal lain, menaikkannya ke atas kuda. “Pergi dari sini,” setelah Ieyasu duduk di pelana dan kuda berlari menjauh, Tadahiro dan para pengikut lain menaiki kuda masing-masing, lalu mengikuti junjungan mereka. Hujan salju mulai turun mempersulit gerak mundur pasukan. Pasukan Kai membidik prajurit-prajurit musuh yang melarikan diri, melepaskan tembakan ditengah-tengah salju yang jatuh. Bagaikan gelombang pasang, pasukan Tokugawa mundur ke Utara. Tapi karena kehilangan arah, korban pihak mereka kembali berjatuhan. Akhirnya semua orang mulai mendesak ke satu arah, ke Selatan.

Ieyasu, yang baru lolos dari mara bahaya menoleh ke belakang, dan tiba-tiba menghentikan kuda. “Kibarkan panji-panji. Kibarkan panji-panji dan kumpulkan orang-orang,” ia memerintahkan. Malam mulai dekat, dan hujan salju semakin lebat. Para pengikut Ieyasu berkerumun di sekelilingnya , dan membunyikan sangkakala. Sambil melambai-lambai, perlahan para prajurit kalah itu mulai berkumpul.

Namun korps di bawah Baba Nobufusa dan Obata Kazusa dari Kai mengetahui pasukan utama musuh berada disana, lalu mendesak dengan panah disatu sisi dan senapan disisi lain. Mereka hendak memotong jalur mundur Ieyasu.

“Tempat ini berbahaya, tuanku. Sebaiknya tuan segera mundur,” Mizuno Sakon mendesak Ieyasu, kemudian berpaling kepada orang-orang, ia memerintahkan, “lindungi yang mulia, Aku akan menyerang musuh. Siapa saja yang ingin mengorbankan nyawa bagi yang mulia, ikuti aku.”

Sakon langsung menerjang kearah musuh, tanpa menoleh. Sekitar tiga puluh orang prajurit menyusul, memacu kuda masing-masing untuk menantang maut. Hampir seketika ratapan, teriakan, benturan pedang dan tombak bercampur dengan deru angin yang menerbangkan salju, membentuk pusaran raksasa.

“Sakon tidak boleh mati!” Teriak Ieyasu. Sikapnya tak seperti biasanya. Para pengikut berusaha mencegahnya dan meraih kekang kudanya, tapi ia menepiskan mereka dan waktu mereka bangkit, Ieyasu telah terjun ke tengah pusaran. Penampilannya menyerupai setan.

XXXX

Sambil memikul beban kekalahan, pasukan Ieyasu berbaris dan kembali ke kota benteng yang diselimuti salju. Satu penunggang kuda masuk, di susul satu lagi, kemudian berikut dan orang kedelapan Ieyasu sendiri. Ketika junjungan mereka terlihat pasukan di dalam benteng melompat-lompat kegirangan lupa diri.

Ieyasu  darah menempel di pipinya, dan rambutnya acak-acakan. Ia memerintahkan dayang menyiapkan makanan, setelah makanan tersaji ia segera meraih sumpit, tapi tidak segera makan malah berkata, “Bukalah semua pintu ke serambi.” Setelah ruangan dibuka, samar-samar terlihat sosok-sosok prajurit yang sedang melepas lelah diserambi, begitu Ieyasu selesai ia memerintahkan Amano Yasukage dan Uemura Masakatsu untuk bersiap-siap menghadapi serangan musuh. Komandan-komandan lain mulai gerbang utama sampai pintu utama ke ruang duduk, pikiran Ieyasu bercabang. Ia kurang pengalaman menghadapi Shingen, juga kekuatan. Biasanya ia mengatasi keterbatasannya dengan membuat konspirasi. Dan Shingen, adalah jenderal matang, tidak akan mempan.

Bendera Tokugawa

Bendera Tokugawa

Diambang kematian Ieyasu mengingat sejak berusia lima tahun, Ieyasu tinggal bersama marga Oda, lalu dengan orang-orang Imagawa, berpindah-pindah dalam pengasingan di provinsi-provinsi musuh. Sebagai sandera, saat itu ia tak pernah mengenal kebebasan. Mata, telinga, dan jiwa sandera tertutup, dan jika ia tidak berusaha sendiri, tak ada yang menegur maupun memberi semangat padanya. Walaupun demikian, atau justru karena terkungkung sejak kanak-kanak, Ieyasu menjadi sangat ambisius. Ia tak memahami perasaan kasih sayang yang sering dibicarakan orang lain. Ia mencoba mencari perasaan dihatinya, dan hanya mendapati perasaan itu bukan hanya sedikit, melainkan benar-benar tipis. Ketika Oda Nobunaga mengalahkan Yoshimoto Imagawa, ia merasa saat itu telah datang. Melepaskan diri dari Imagawa dan bersekutu dengan Oda, ternyata hari ini Takeda Shingen datang, ia tak sanggup mengungsi lagi, tak ingin ia mengulangi perjalanan hidup yang getir dan mengalami kesengsaraan seperti dahulu. Tapi bagaimana? “Jika aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, maka lebih baik aku tidak memiliki apapun.”

Ieyasu keluar, para komandan walaupun dengan suara bernada tegang berusaha menenangkan Ieyasu dan membesarkan hatinya. Ia memahami dan mengangguk-anguk penuh semangat. Tapi ketika hendak bergegas kembali ke pos masing-masing, ia memanggil mereka, “biarlah semua pintu mulai dari gerbang utama sampai ruang duduk dalam keadaan terbuka.”

Strategi nekat macam apa ini? Perintah itu bertentangan dengan prinsip-prinsip pertahanan paling mendasar, pintu-pintu besi di semua gerbang telah di tutup rapat. Pasukan musuh telah mendekati kota benteng, mendesak maju untuk menghancurkan mereka. Ieyasu menambahkan seraya tertawa, “dan aku tidak sekedar ingin pintu gerbang benteng dibuka. Aku ingin lima atau enam api ungun dinyalakan di depan gerbang. Selain itu, api unggun juga harus berkobar di dalam tembok. Tapi pastikan kita tetap siaga sepenuhnya. Jangan bersuara dan amati gerak maju musuh.”

Mereka menjalankan perintah itu sesuai keinginan Ieyasu. Setelah mengamati pemandangan itu, Ieyasu kembali kedalam.

XXXXX

Tak lama kemudian, pasukan Kai dibawah pimpinan Baba Nobufusa dan Yamagata Masakage tiba di dekat selokan pertahanan, siap melancarkan serangan malam. Yamagata tampak terheran-heran. Baba pun merasa curiga dan menatap kearah gerbang musuh. Di sana, di kejauhan, ia melihat nyala api unggun, baik di dalam maupun di luar. Dan semua gerbang terbuka lebar. Mereka menghadapi gerbang tanpa gerbang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengusik.

Yamagata berkata. “Sebaiknya kita habisi saja mereka. Musuh begitu bingung, sehingga mereka tidak sempat menutup gerbang.”

“Jangan, tunggu,” Baba memotong. “Ieyasu adalah seorang penuh siasat, tentunya ia menunggu kita menyerang dengan tergesa-gesa. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada benteng ini, dan dia yakin akan kemenangannya. Ia memang masih muda, kurang pengalaman, tapi dia Tokugawa Ieyasu. Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, agar tidak membawa aib bagi marga Takeda dan malah menjadi bahan tertawaan di kemudian hari.”

Mereka telah mendesak sedemikian jauh, tapi akhirnya kedua jenderal itu menarik mundur pasukan mereka.

Di dalam benteng, mimpi Ieyasu dibuyarkan oleh salah seorang pembantunya. Ia segera berdiri. “Aku tidak mati!” Ia berseru dan melompat gembira. Seketika ia mengirimkan pasukan untuk mengejar musuh. Tapi, sesuai dengan reputasi mereka, Yamagata dan Baba tetap menguasai diri di tengah kekacauan. Mereka mengadakan perlawanan, menyulut kebakaran di sekitar Naguri, dan menjalankan sejumlah maneuver brilian.

Orang-orang Tokugawa mengalami kekalahan besar, tapi tidak salah kalau dikatakan bahwa mereka telah memperlihatkan keberanian. Bukan itu saja, mereka berhasil menggagalkan rencana Shingen maju ke ibu kota, dan memaksanya mundur ke Kai. Banyak yang menjadi korban. Dibandingkan keempat ratus korban jiwa di pihak Takeda, pasukan Tokugawa kehilangan jauh lebih banyak prajurit. Korban di pihak mereka berjumlah seribu seratus delapan puluh jiwa.

Orang bijak yang memupuk kebijaksanaan dapat tenggelam di dalamnya. Memiliki banyak jejak (akan) lebih mudah diserang dibanding yang memiliki banyak kelemahan, jejak berserak akan terpetakan, dirunut ulang. Padahal si pembuat jejak besar kemungkinan telah melupakan apa yang ditinggalkan. Mendesak sedemikian jauh, tapi pada akhirnya (terpaksa) menarik mundur segalanya. Gerbang tanpa gerbang.

XXXXXX

KATALOG SEJARAH JEPANG

  1. LAST GENTLEMAN
  2. ASHURA

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to ISTANA KOSONG

  1. Pingback: BANGSAWAN PANDIR | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s