MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Satu masa telah terlewati, benci dan rindu (pernah) merasuk di kalbu. Apa yang terjadi di masa lalu? Pasti ada banyak cerita, bukankah setiap orang memiliki satu dua cerita yang tak akan di bagi dengan orang lain.

Ada Apa Dengan Cinta Tembang legendaris

Ada Apa Dengan Cinta
Tembang legendaris

Ketika lagu-lagu popular di masa sekolah (dulu) menjadi tembang lawas (sekarang) dapat dipastikan perjalanan waktu seperti singa. Dulu (kita) merasa waktu adalah musuh orang muda, sekarang (kita) juga merasa tak terlalu dekat padanya. Selalu hidup merupakan repetisi, berjalan pelan dari hari ke hari. Manusia ditakdirkan untuk hidup, termasuk menjumpai diri dimasa lalu. mengingat setiap langkah dan keputusan yang pernah dilakukan dimasa lalu. Terkenang akan segala kebodohan yang pernah dilakukan, sesuatu yang membuat menangis sepuluh lalu, (akan) membuat tertawa di hari ini.

Ini adalah cerita ketika mereka bukanlah mereka yang sekarang, Assosiasi Budjang Lapok (mereka) lebih dari satu dekade lalu. Para pemuda tanggung yang duduk di bangku sekolah, belum saling akrab satu sama lain sebagai kesatuan. Salah! Jika membayangkan mereka tercipta dengan karakter sekarang, benih-benih (mungkin) ada, tetapi itu masih merupakan jalan panjang ke depan. Misteri yang para pelaku sendiri tidak tahu.

KOMPLOTAN

Pemeran :

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu), menjelang jam istirahat sekolah. Matahari bersinar terang, debu naik ke angkasa, siang yang gerah. Disebuah lorong sekolah yang membatasi perpustakaan dengan kakus. Tiga sosok anak manusia mengendap-endap melihat kiri kanan, situasi aman lalu berselonjoran di lantai, asal. Aljabar selalu membosankan bagi mereka, daripada menghabiskan waktu di kelas lebih baik menyegarkan pikiran sejenak. Begitulah kelakuan Amish, Barbarossa dan Pong (belum menjadi tabib).

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

“Aku selalu kesal melihat si abang Gahul dari kelas inti itu!” Barbarossa memainkan jarinya.

“Mengapa begitu bos?” Tanya Pong.

“Wajahnya yang sok, rambut panjang yang disisir rapi. Dan kalau berjalan, seolah-olah sekolah ini miliknya.” jawab Barbarossa.

“Lalu hubungannya dengan kita apa best?” Amish bingung dengan jalan pikiran teman sekomplotan, tidak ada yang salah dengan abang Gahul itu, asal tidak melaporkan ke guru tindakan mereka cabut pelajaran, maka tidak menjadi masalah bagi mereka.

Ksatria Baja Hitam Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Ksatria Baja Hitam
Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Sontoloyo kalian!” Maki Barbarossa. “Venus teman-teman! bukankah itu yang sangat aku inginkan! Aku merasakan bahwa pesona palsu abang Gahul telah menarik dia, menjauhkan Venus melihat ketampanan sejati milikku. Apakah kalian ingin melihat teman kalian ini menderita dengan sebuah cinta tak berbalas? Aku tidak menyangka kalian setega itu.” Tubuh Barbarossa bergetar ketika menyebutkan kata Venus.

Pong dan Amish saling memandang, sejatinya diantara mereka tidak ada bos. Jika Barbarossa dipanggil “bos” karena ia senang dipanggil begitu, jika saja mereka telah sedikit dewasa maka mereka akan menertawai betapa “hiperbola” teman mereka tersebut. Tapi tunggu dulu, saat ini mereka masih remaja tanggung, kepala mereka masih disesaki ide-ide tentang kesetiakawanan, entah itu baik atau buruk.

MTV Selalu diikuti Barbarossa

MTV
Selalu diikuti Barbarossa

“Abang Gahul masih sangat hijau dan tolol, hahaha.” Barbarossa tertawa. “Yang kita butuhkan hanya ancaman. Amish!” Panggil Barbarossa dengan gaya.

“Siap bos!” Jawab Amish tapi lidahnya dijulurkan, mengejek.

“Tolong sampaikan pada pesanku pada abang Gahul.”

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan si Pong?”

“Goblok, diantara kita bertiga kamu yang paling preman! Ancamlah dia supaya jangan melirik-lirik Venus.”

“Kalau aku preman, pasti kepalamu yang aku pecahkan pertama. Karena mengatai aku goblok, dasar goblok!” Balas Amish.

“Lebih goblok lagi kamu! Prinsip nomor satu yaitu jangan pernah sekalipun meninggalkan teman, apalagi berniat memecahkan kepala teman.” Barbarossa mengaruk-garuk kepala karena kesal.” Barbarossa kesal. “Tolonglah Amish” Kemudian suara Barbarossa melembut.

“Selalu aku, selalu aku. Iya aku lakukan.” Roman Amish kesal, tapi menuruti.

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

“Aduh kalian, tak bisakah kita sedikit beradab? Mengancam itu tindakan barbar!” Tanya Pong.

Lonceng tanda istirahat berbunyi.

“Pong, Amish kalian tidak tahu betapa berartinya Venus untukku, “tolong laksanakan saja!” Barbarossa menatap halus menyuruh Amish pergi.

Amish beranjak pergi, tinggallah Barbarossa dan Pong.

“Tunggu saja Pong sesaat lagi kita akan berjaya, begitu aku mendapatkan cinta Venus. Kalian akan berkenalan dengan teman-temannya yang cantik. Dan kau Pong bisa melepaskan diri dari Hera yang possesif, cari pacar baru.” Barbarossa menarik nafas panjang. Ayo kita ke kantin Pong!” Ajak Barbarossa tiba-tiba.

“Kenapa tidak menunggu Amish dulu?”

“Memang kamu sanggup berlama-lama disini?” Ares balik bertanya. “Bulu hidungku sudah keriting disini mencium bau tak sedap.”

“Kau sendiri mengajak rapat rahasia di dekat kakus sekolah, ya pasti bau.” Pong tertawa.

Barbarossa pun tertawa ngakak, mereka berangkat ke kantin meninggalkan Amish yang melaksanakan permohonannya. Pong pun mengangguk, mereka pergi. Dan lupa dengan prinsip-prinsip kesetiakawanan yang tadi indah dibicarakan.

XI

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Sebuah penyakit dari pikiran, Amish pikir dia seorang pemberani. Dan dimana penyakit muncul, dikuti hal-hal buruk. Catatan hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan berani dalam anggapannya, demi kesetiakawanan. Ia rela menerjang siapa saja, siapa saja. Kali ini tugasnya adalah “melenyapkan” abang Gahul. Namun, ia beruntung hari itu. Abang Gahul tidak ada di kelas, keluar kata teman-temannya, segera bergegas ia kembali ke lorong tadi. Ia tidak menemukan dua sahabatnya, pasti ke kantin pikirnya. Dan benar saja, dua sahabatnya sedang makan mie, amboy enaknya. Baru hendak duduk dan melaporkan kepada Barbarossa, Pong bangun dan mengajak pergi. “Best Friend, aku belum makan.” Keluhnya.

“Ayo cepat kita bergegas, sebelum Hera menemukanku disini.” Pong buru-buru. Ia takut ditemukan oleh pacarnya yang possesif. Jika ia sudah “ditemukan” maka dapat dipastikan ia akan dikuasai dan terpisahkan dari komplotan ini.

Tamiya (Mobil) Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Tamiya (Mobil)
Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Pikiran Barbarossa terbelah, ia ingin mendengarkan hasil “pekerjaan” Amish. Tapi ia iba dengan Pong. Kasihan pikirnya, tidak ada yang lebih malang dari Pong diantara mereka, memiliki kekasih yang selalu ingin menempel padanya, untung mereka tidak sekelas. Pacar teman mereka yang satu ini tidak memiliki rupa yang elok, bahkan menurutnya Pong bisa mendapatkan yang jauh lebih baik, celakanya itu disadari juga oleh Hera. Kecemburuan dan rasa takut kehilangan membuatnya selalu mengawasi kemana pun sang “kumbang” pergi, dan itu mengesalkan! Hera memiliki kelakuan ratu, mampu mengusir semua lalat penganggu dari Pangeran Pong. Itu tidak masalah, tapi jika dipisahkan juga dengan teman se-partai Pong malas. Grup ini terlalu asyik. Ia selalu berlari setiap memiliki kesempatan, padahal Amish dan Barbarossa berulang kali menyarankan Pong untuk memutuskan Hera, tapi dasar Pong berhati lembut. Ia tak sanggup. Saran-saran beracun dari Amish dan Barbarossa juga yang membuat Hera membenci mereka berdua.

Akhirnya Barbarossa memilih Pong, dan berbisik. “Amish selesai makan kami tunggu di tempat biasa ya.”

“Sama nenek sihir takut. Itu ngaku preman? Oh ya, abang Gahul tidak ada dikelas tadi.” Amish kesal dan mengejek.

“Besok kan bisa.” Timpa Pong sementara wajah Barbarossa kecewa.

“Tidak ada besok kalau kalian tidak menemaniku makan sekarang.” Amish menunjuk dengan garpu.

Barbarossa gamang, tapi Pong menarik tangannya, mereka bergegas. Amish Khan meracau sendirian, tapi tak lama kemudian Hera datang. Matanya mencari-cari Pong, ia melihat Amish menundukkan wajah, pura-pura khusyuk makan, sampai Hera beranjak pergi. Ia menarik nafas panjang, mengusir kesal ia mengeluarkan kaleng tembakau. Melinting dan menghisap dalam-dalam di kantin sekolah, hanya Amish Khan yang berani.

PREMANISME

Pemeran :

(Mas) Jaim

Amish (Khan)

Geng Hitam dan Figuran lainnya

Aku laki-laki yang memiliki banyak kelemahan, pikirnya. Telinganya tak mendengarkan suaranya sendiri. Ia agaknya mendengarkan suara ribut orang-orang di kantin. Memesan ini dan itu, ia merasakan suaranya terlalu kecil sehingga diabaikan. Biasanya ia tak mengindahkan jangkauan suaranya serta tak ambil pusing dengan notasi. Hanya kali ini ia merasa mengkhianati harmoni. Namun kala kesialan menimpa ia merasa terhibur melihat seorang dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan singlet cap bangau. Menghirup dalam lintingan tembakau di tengah kantin. Benar-benar seorang yang tak bermasa depan, berpotensi menjadi seorang tukang nasi bebek kelak. Tak peduli apapun. Orang tersebut merasa terperhatikan, tersenyum kemudian datang padanya.

“Amish.” Katanya seraya mengulurkan tangan.

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Dengan terbata ia menjawab, “teman-teman memanggilku, Jaim.” Baru kemudian ia sadar belum memberikan tangan, mereka bersalaman. Amish memperhatikan Jaim sebentar, merasa tak menarik ia kembali ke sudut kantin melanjutkan sebatang tembakau lagi.

Ketika mengalihkan pandangan, saat itu ia merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia berhenti berdetak. Ia melihat geng hitam, kelompok yang ia benci. Memeras dan memukuli siapa yang mereka anggap layak. Aliran darah disekujur tubuh menjadi dingin, jantung terasa berhenti berdetak ketika sang ketua tersenyum melihatnya, dan menuju ke arahnya.

Hallo Jaim, sudahkah kamu membayar upeti hari ini?” Seringai jahat dari ketua geng hitam diikuti tawa enam orang pengiringnya.

“Ah. Aku tidak punya uang.” Keluh Jaim.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sang ketua menendang Jaim hingga tersungkur, suasana kantin mendadak sepi. Ia merangkak mencoba untuk bangkit. Sang ketua menarik rambut Jaim yang harga dirinya berserakan di lantai. Orang-orang hanya diam saja menyaksikan kejadian tersebut, dalam hati Jaim merasa terluka amat sangat.

“Haiyaaaaa… Haiyaaaa…” Sang ketua menikmati menindas Jaim.

“Tidak ada kebahagian yang dijaga dengan menginjak-injak kehormatan orang lain.” Tiba-tiba Amis sudah di depan mereka, menendangi enam penjaga ketua. Meludahi mereka satu persatu dan telah berhadapan dengan ketua geng hitam. Mata mereka bersiborok. Amish tak pernah berpikir panjang, maka segera ia menjotos muka ketua geng hitam, tak ayal ia tersungkur. Segera Amish meludahinya, memberikan tanda keramat di wajah orang tersebut.

Terhina, ketua geng hitam bangkit. Ketika seolah akan membalas, ia berbalik melarikan diri. Gerombolannya mengikuti di belakang. “Kelak segala penghinaan ini akan kami balas berlipat.” Mereka masih sempat melontarkan ancaman.

“Banyak orang hanya bisa berbicara, tanpa pernah berbuat.” Amish tertawa terkekeh sambil memegangi perut.

“Terima kasih.” Suara Jaim pelan.

“Santai best. Kita teman.” Amish memukul bahu Jaim.

Jaim tersenyum. Dalam pukulan keras itu ia merasakan uluran tangan yang di sodorkan dengan tulus, yang tak pernah ia rasakan sampai saat itu. Sebuah persahabatan, sebuah kepercayaan kerap tak terduga menyelesaikan hal yang tak terduga.

PERPUSTAKAAN

Pemeran :

(Tuan) Takur

Penyair

(Profesor) Gahul

Beberapa orang menyebutnya orang bijak, pujangga, kakek, dan ada juga yang menambahkan kakek-segala-tahu. Seorang anak muda dengan kualitas orang tua, namun sekuat tenaga menyembunyikan itu semua agar tak menjadi olok-olok. Namun sayangnya bakat muncul seperti alergi, ia otomatis timbul  seperti jerawat di wajah orang tersebut. Di siang yang menggelegak ini, di salah satu sudut paling sepi sekolah ini, perpustakaan. Takur (belum bergelar “Tuan”) mencari orang tersebut, pikirannya  dipenuhi dengan ketidakmampuan mengatasi masalah. Ia perlu pendapat seorang ahli, dan reputasi orang tersebut telah mendahului sehingga tidak dapat tidak (pasti) mampu memberi solusi padanya. Masuk ke dalam perpustakaan ia melihat hanya ada satu orang, ia terlihat membaca kitab, membolak-balik seolah memperlakukan harta. Pipi tirus dan wajah dipenuhi jerawat, tidak salah lagi. Ini adalah orang kondang yang sering menjadi puja dan puji para guru. Takur mendekat, namun orang tersebut berpaling, mengisyaratkan penolakan. Ia tidak suka diganggu ketika di dalam dunianya. Sungguh lucu bila Takur bersikap defensive dan menyerah, itu bukan tipe karakternya.

“Apakah kamu orang bijak yang memiliki banyak nama?” Ia menantang khas, sebuah sikap yang kelak masih ditemui ketika ia sudah dewasa.

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Tanpa memalingkan wajah dari kitab yang ditekuni ia menjawab, “beta menyukai syair. Dan bercita-cita menjadi Penyair, karena kata adalah doa. Engkau boleh menyebut beta dengan sebutan Penyair.”

“Takur.” Ia menarik tangan kanan Penyair dan menjabatnya. Suasana tegang, jantung Takur berdegub kencang dan Penyair diam misterius. Dan inilah detik-detik kebenaran.

“Aku memiliki masalah. Menurut teman-teman yang lain kamu adalah orang bijak, dan mungkin kamu bisa menjadi menemukan solusi untukku.” Langsung pada tujuan, khas Takur. Penyair tersentak kaget karena sebuah cerita mendadak. Ia menutup kitab, mendengarkan.

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

“Beberapa hari lalu, Venus meminta aku menemuinya di belakang sekolah ketika pelajaran usai. Aku menemuinya, di sana ia menyatakan cinta kepadaku. Aku diam, persis kamu sekarang.” Takur memegang kepala menunduk. “Aku pikir, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa. Lihatlah dia! Dia adalah yang tercantik di sekolah kita! Rasanya aku tidak percaya, tentu ada banyak lelaki lain yang menyukainya. Tiba-tiba, aku merasa tidak sepadan dengannya. Kemudian aku menolaknya.” Kata-kata Takur seperti bel meraung-raung kemudian diam.

“Terus.”

“Aku menyesal. Aku terburu-buru mengambil pilihan. Siapa yang tidak menyukai Venus? Bahkan kamu sendiri pasti tidak akan menolak perempuan secantik dia.”

“Dia bukan tipe beta,” Penyair menyiratkan wajah tersinggung. “Lalu apa urusan beta dengan masalah engkau?”

“Aku ingin kamu memberi saran, agar aku bisa merebut hatinya kembali. Harga dirinya terluka, dalam beberapa hari ini aku berusaha menemuinya untuk meminta maaf. Ia menghindariku. Bantu aku.” Pada hari yang paling frustasi Takur menjumpai, dan berkenalan dengan Penyair.

“Beta tidak mengerti perempuan. Tidak paham tentang cinta.” Bahkan Penyair membuang wajah kearah jendela.

“Tapi orang-orang bilang kamu tahu segalanya, bahkan kamu sampai dijuluki kakek-segala-tahu. Kenapa masalah seperti ini tidak tahu!” Takur terperanjat, emosinya mengelegak dan memukul meja.

Bahasa Indonesia Kitab (Pertama) dari Penyair

Bahasa Indonesia
Kitab (Pertama) dari Penyair

Sekali lagi Penyair miris mendengar penjelasan itu, jika saja masalah cinta semudah itu maka Takur tentu tidak susah payah untuk menemuinya, ingin ia membalas keras. Namun keibaan menahan kuat keinginannya. “Julukan adalah sekedar julukan teman, beta tidak mengetahui segalanya.”

Suasana hening, ternyata ada yang memperhatikan percakapan mereka berdua sedari tadi dari pintu perpustakaan. Ketika ia mendekat terdengar suara langkah yang bergema dalam kesepian ruangan. Ia tersenyum, wajahnya tenang, bersisir rapi. Ia memperkenalkan diri santun, nama terkenalnya adalah abang Gahul.

“Ini adalah kasus cinta yang ekstrem.” Abang Gahul dengan suara berat, itu seakan ikut merasakan penderitaan Takur, sekaligus bersimpati pada Penyair. “Tiga tahun aku mendalami masalah cinta, baru kali ini aku menjumpai hal semacam ini.”

Takur dan Penyair saling berpandangan. Satu bingung sedang satu lagi dongkol dilibatkan dalam masalah orang lain.

“Tapi jangan khawatir. Besok, sepulang sekolah aku mengadakan kursus cinta. Mungkin tidak sepenuhnya bisa mengatasi masalah kalian, namun bisa sedikit memberikan pencerahan.” Ia merogoh kantung, mengeluarkan dua lembar kertas diberikan kepada mereka.

Undangan Kursus Cinta oleh abang Gahul ; Demi kebaikan dan kebesaran sekolah. Aku, abang Gahul mengadakan kursus cinta. Merupakan kelas terbuka bagi mereka yang berkromosom XY. (Kelas kromosom XX menyusul). Tertanda abang Gahul.

Penyair terperangah seperti penonton awam tersesat dalam teori relativitas, sedang Takur girang bukan kepalang, rasanya ia ingin meloncat dari tempat duduk dan berdiri di atas meja mahoni kuno berusia puluhan tahun milik perpustakaan sekolah dan berteriak kencang, “Ini dia solusi yang aku cari!” Ia menyalami abang Gahul, menepuk-nepuk punggungnya. Dan hari itu adalah awal persahabatan antara Tuan Takur dan Profesor Gahul di kemudian hari.

KURSUS CINTA

Pemeran :

(Profesor) Gahul

(Tuan) Takur

Penyair

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Ketua Osis dan Figuran lain

Pada waktu yang ditentukan, selepas pulang sekolah. Tampak Ketua OSIS,  Takur, Komplotan Barbarossa, Amish, Pong yang entah dari mana mendapat kabar tentang kursus cinta. Penyair juga hadir! Dan sekelompok anak kelas lain. Mungkin mereka penasaran dengan kursusnya abang Gahul, atau mungkin mereka menganggap cinta itu merupakan hal penting untuk diikuti kursusnya. Satu hal yang pasti aku semakin menyukai kelompok ini, menjadi sangat cinta karena mau menampung ide-ide gila seperti ini pikir abang Gahul. Sebagai Event Organizer, Takur adalah orang yang dipercaya mengelola acara. Setelah perkenalan mengesankan kemarin, mereka langsung akrab. Ya promosi (tambahan), ya mengatur set bangku termasuk menjadi moderator bahkan merangkap notulen.

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Kelas dimulai ketika abang Gahul memasuki ruangan dengan langkah anggun, kemudian ia berkata, “Tidak boleh ada peserta tambahan setelah aku memulai materi, dan aku tidak menerima interupsi!” Katanya tegas. Dengan mengeluarkan sejumlah catatan abang Gahul mulai memasang aksi, ia mulai bereaksi didepan sedang Takur sebagai notulen disampingnya.

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh, terima kasih saya ucapkan atas kesedian teman-teman mengikuti kursus yang mungkin hanya sekali ini. Maaf membuang waktu kalian yang amat berharga tapi yakinlah ini semua akan berharga bagi kalian,” seperti semua acara formal pasti harus diawali basa-basi yang membosankan.

“Apa itu ilmu Cinta?” Abang Gahul memandang peserta dengan gayanya yang khas sambil memandang kearah para peserta.

“Ilmu untuk bercinta,” seperti biasa Barbarossa sok tahu.

“Cinta ya cinta,” Amish menerka.

“Ssttt!” Menarik telunjuk kebibirnya, “sudah kukatakan sebelumnya, tanpa interupsi!” Abang Gahul mengingatkan.

“Tapi itukan berbentuk pertanyaan Don?” Protes Pong.

“Pertanyaan yang hanya aku yang boleh menjawabnya, mulai sekarang kunci mulut kalian semua!” Perintah pak dosen mata kuliah ilmu cinta.

“Kalau ada yang keberatan silahkan tinggalkan ruangan ini, atau aku yang pergi!” Tegas abang Gahul, ia ternyata tidak main-main.

Ketua OSIS mengeleng-gelengkan kepala tanda tunduk pada peraturannya, sedang yang lain tersenyum tanda setuju.

Album Bintang Lima Dewa. Lagu Terbaik, Risalah Hati.

Album Bintang Lima Dewa.
Lagu Terbaik, Risalah Hati.

“Ilmu cinta adalah cara untuk melupakan seseorang yang kita sukai apabila ia memang bukan jodoh kita.” Hadirin termasuk Takur kecewa dengan pernyataan abang Gahul, katanya kursus cinta mengapa sekarang disuruh melupakan? Aneh bin Ajaib. Penyair mulai bosan, diam-diam mengeluarkan kitab dari dalam tas, dan mulai membaca sejarah negeri-negeri di atas angin sejak zaman kegelapan sampai kebangkitan.

“Sedang untuk menarik perhatian lawan jenis yang diperlukan adalah pengalaman bercinta,” demi menjaga ritme abang Gahul terpaksa mengendurkan tekanan.

“Yaitu bagaimana melihat tingkah laku seseorang perempuan akibat tindakan dan usaha yang telah kita lakukan!” Wajah peserta kembali antusias.

“Perempuan adalah makhluk pemalu mereka tidak akan mengatakan terus terang menyukai kita, untuk itu kita sebagai laki-laki harus membaca tanda-tanda tersebut.”  Katanya memandang ke depan.

Kali ini dahi Takur yang berkerut, sepertinya teori abang Gahul tidak cocok dengan kondisinya. Barbarossa dan Amish tertawa terbahak dan menunjuk-nunjuk Pong, mengingat kasusnya (dengan Hera).

“Itu semua ada ilmunya, itu semua ada prosesnya.” Tambahnya, sekaligus memprotes hadirin yang riuh.

“Itu semua adalah inti orang bercinta dan atau dimabuk cinta,” abang Gahul tersenyum girang, hadirin fokus kembali.

“Menurut pengalaman bercinta orang-orang yang aku teliti, selama perempuan tidak pernah melanggar janjinya berarti bagi kita laki-laki selalu masih ada harapan,” semangat abang Gahul berkobar-kobar!

“Walaupun ia berkata ketus, walaupun seolah ia tidak memperhatikan kita. Tataplah matanya teman karena perempuan menilai laki-laki dari kekuatan  matanya,” abang Gahul membuat tanda V diwajahnya.

“Dan apabila kita sudah berusaha maksimal, tapi gagal juga maka yakinkan diri kalian bahwa dunia ini tidak selebar piring atau selebar kertas buku segi empat,” benar-benar perumpamaan terburuk yang pernah didengar, bahkan Amish yang paling barbar sekalipun merasa aneh.

“Paling tidak disaat kita tua, kita tidak menyesal karena pernah berusaha mendapatkan perempuan yang kita harapkan berada disisi kita saat itu.” Abang Gahul menutup materinya dengan bangga dan melirik kearah Takur, gilirannya menjadi moderator.

“Baiklah teman-teman sekarang waktunya sesi tanya jawab. Karena waktu sudah terlalu siang dan saya sudah mulai lapar. Maka pertanyaan dibatasi hanya satu saja, kepada panelis silahkan menujuk tangan!”

Beberapa orang menunjuk tangan, mata abang Gahul tertuju kepada Pong, seorang bangsawan seperti dirinya, pasti memiliki pendapat brilyan.

“Silahkan saudara!”

“Jadi apa maksud kursus cinta ini?” Wajah Pong memendam kejengkelan terhadap kursus cinta yang dianggap sudah membuang waktunya.

Maka bukan abang Gahul, kalau tidak bisa menguasai keadaan.

“Pertanyaan yang bagus saudara,” ia tersenyum. “Untuk menjawabnya saya akan menggunakan perumpamaan pohon pisang.” Seperti lagu Nia Lavenia saja, lihatlah pohon pisang jika berbuah hanya sekali.

“Kumohon abang Gahul jangan memakai perumpaan jadul itu. Itu sudah sangat zaman dulu, bahkan pada satu dekade sebelum hari ini.” Pikir Pong, ia terjangkit kemalasan kembali. Tak ingin menimpali (lagi).

“Pohon pisang bila ditebas dengan parang tumpul maka ia akan roboh, luarnya sehat tapi didalamnya hancur,” ia menarik nafas.

“Itulah yang dinamakan kematian roh!” Kata-kata abang Gahul menggelegar seperti filem horor.

Nokia Seri Awal Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

Nokia Seri Awal
Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

“Karena ia tidak akan bisa bangkit kembali, bandingkan apabila ia tertebas habis?” abang Gahul kembali mengajukan pertanyaan yang hanya boleh ia jawab. “Mungkin ia akan buntung, tapi disisa tubuhnya akan muncul tunas baru yang akan besar kembali.” Suara abang Gahul begitu syahdu.

“Maksud kursus cinta adalah sebagai laki-laki kita harus mengejar perempuan yang kita cintai dengan sekuat tenaga namun bila gagal jangan layu seperti pohon pisang mati roh. Bangkitlah!” Hari ini abang Gahul adalah bintang podium.

Wajah Pong tersenyum mengejek, para panelis terlihat tidak puas. Semua, kecuali Takur. Dilihat dari track record adalah suatu keberanian bagi abang Gahul untuk membuka kursus cinta. Walau ini hanya sekali dan tidak mungkin terulang untuk kedua kalinya, sungguh beruntung aku hari ini bisa mengikuti petuah empu Gahul. Pikiran Takur menari-nari dalam kursus singkat ini.

“Sudah kau catat semua ini sahabatku?” Tanya sang superstar kepada notula.

Celaka! Aku lupa! Keasyikan mengikuti materi membuat aku lupa menunaikan kewajibanku yang utama, dengan berat hati Takur menggelengkan kepala.

Alien Workshop Kostum resmi Tuan Takur

Alien Workshop
Kostum resmi Tuan Takur

“Tak mengapa sahabat,” abang Gahul memegang bahu sahabatnya tersebut.

“Sudah kuduga kursus ini terlalu istimewa sehingga semua orang terpana, besok berikan laporan tertulis padaku dan tolong wawancarai peserta tentang hasil materi hari ini. Kelas bubar!” Perintahnya.

Satu persatu peserta keluar, sembari keluar Barbarossa berbisik kepada Amish. “Bro, lupakan permintaanku untuk mengancam orang ini. Ternyata ia cacat mental.” Amish cekikikan, sedang Pong hanya bersenandung, “lalalala.”

Keesokan harinya, Takur mencoba mewawancarai seluruh peserta. Tidak ada yang mau berkomentar, kecuali penyair yang menulis pada secarik kertas. “Sejarah selalu berulang.” Nah lo, bahkan sampai satu dekade berikut. Baik (Profesor) Gahul maupun (Tuan) Takur tak kunjung paham maksud Penyair.

EKSTRA

Pemeran :

(Laksamana) Chen

(Mas) Jaim

(Mister) Big

Keharuman pasir dan laut lebih menyegarkan daripada tidur panjang. Tapi, angin Barat, angin paling ganas, berhembus dengan kecepatan maksimum. Bila ia mengamuk menjadi monster puting beliung. Permukaan air laut naik, dan suhu menjadi panas. Itulah kira-kira isi kepala pemimpi yang hampir gila karena frustasi. Seharusnya aku tidak terlalu cepat lulus sekolah, dan terjebak di sini tanpa arah yang jelas. Tahun lalu ia lulus, dan celakanya tidak lulus dalam ujian sekolah tinggi kerajaan. Menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, ia bangun terlalu siang. Si bungsu merasa menjadi sasaran uji coba nasehat semua sanak keluarga. Ia bosan, dan memutuskan untuk mengikuti les ujian kerajaan. Bersama mereka yang juga tidak lulus ujian kerajaan tahun sebelumnya, dan juga mereka yang masih bersekolah namun sudah  mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah tinggi kerajaan.

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

“Untuk apa terlalu cepat menamatkan bangku sekolah, jika selepas itu kita tidak tahu hendak kemana.” Dalam hal ini Barbarossa kampret, tetangganya benar. Namun menjadi tidak benar ketika ia termakan bujuk rayu Barbarossa, “tenang Chen. Nanti sepulang sekolah kita bersama-sama ikut les, tokh aku tahun ini aku juga akan lulus.” Pada awal kesempatan memang mereka berdua mengikuti les, tapi cepat dan tepat Barbarossa mulai mangkir, meninggalkan dirinya sendiri dalam ruang empat kali empat ini. Sialan! Disinilah ia sekarang, mengikuti jam pertama les. Mata pelajaran Aljabar, dan merasakan ahli pada bidang ini. Setidaknya itu adalah penghiburan sedikit bagi jiwa yang sedang kusam ini. Tapi tak dinyana, dalam berjalannya waktu berlalu, rupanya kepala kalengnya cepat juga menangkap ilmu.

Spica (Nintendo) mainan wajib (Laksamana) Chen

Spica (Nintendo)
mainan wajib (Laksamana) Chen

Justru pria beraut manis manja yang duduk di depannya dan berpenampilan layaknya orang pintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran, ternyata lemot bukan main, namanya Jaim. Dia masih sekolah, mereka sudah berkenalan beberapa hari yang lalu. Jaim muncul ketika Barbarossa sudah tidak mengikuti les lagi, setidaknya ia memiliki teman baru. Jaim ini sangat naïf dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kita menipu dan mengatakan kiamat besok, ia pasti akan bergegas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki, bahkan meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya hitam dan putih adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus diteliti. Namun meskipun begitu, hatinya baik luar biasa. Ia penolong yang ramah. Pernah seorang ibu menangis kehilangan anaknya, Jaim menemani membantu mencari dan meninggalkan kegiatan yang sedang ia lakukan, segera tanpa pikir panjang.

“Aku mau pulang, kepala aku pusing. Aku mengantuk dan ingin tidur.” Ketika tentor Aljabar keluar, menjelang Ashar. Waktu istirahat, ia mempersiapkan diri pulang.

“Masih ada mata pelajaran bahasa asing. Jangan pulang dulu Jaim.” Chen merasa bosan jika Jaim terlalu cepat pulang, tapi Jaim bergegas. Mengucapkan salam, mengulang kata capek, pusing dan tidur lalu pergi. Bimbang, Chen memutuskan  tidak mengikuti pelajaran bahasa asing. Ia tidak ingin pulang dulu, tiba-tiba ia mengingat laut. Apa salahnya melihat matahari tenggelam, dan disitulah Chen menghabiskan hari, menatap bayang-bayang merah di angkasa sembari bernyanyi kecil.

Kejadian itu bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu).

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Pada hari yang sama sebuah kapal berlabuh di pelabuhan Bandar. Seorang pemuda tanggung turun dari geladak, ia tersenyum. Seolah-olah ada sumur yang dalam di balik matanya, terisi berabad-abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang dan tenang. Tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini, seperti matahari yang bercahaya di atas daun-daun paling luar sebuah pohon besar, atau riak-riak telaga yang sangat dalam. Entah ya, tapi rasanya seakan-akan sesuatu tumbuh di tanah. Bisa dikatakan tertidur, atau merasakan dirinya sendiri, sebagai sesuatu di antara ujung akar dan ujung daun, di antara ada dan tiada. Hari ini Big pulang ke Bandar, setahun lalu ia menyelesaikan sekolah di negeri Tulang Bawang. Ia berencana mendapatkan penghidupan yang lebih baik disini, kepingan terakhir telah hadir.

Sejak hari itu, perlahan dan pasti masing-masing individu yang memiliki latar belakang berbeda berkumpul membentuk pola teratur yang berantakan, kelak dinamakan Assosiasi Budjang Lapok.

MEMORI

Pemeran :

Assosiasi Budjang Lapok (ABL)

Sekarang, di lepau nasi kota Bandar. Setiap hari ada pemandangan yang sama, ABL hadir dan berkelakar namun waktu yang menjadikannya berbeda. Ketika mereka berkumpul bersama-sama tanpa memikirkan kejadian buruk yang (mungkin) bisa saja menimpa, seolah itu akan meracuni kebahagian yang sudah ada ditangan mereka. Namun ada sesuatu yang menggusarkan mereka, baru-baru ini kekhalifahan mengumumkan bahwa tingkat kelulusan di Kerajaan Bandar adalah yang paling rendah di antara 33 Federasi Kerajaan, itu adalah tamparan keras bagi mereka yang pernah mengecap nikmat bangku sekolah di Bandar. Kerajaan Bandar, juara satu tapi dari bawah.

“Tahun ini adalah sepuluh tahun kita menyelesaikan sekolah, sepertinya asyik jika kita mengingat kejadian lalu. Sedang apa kita saat itu.” Kata Penyair.

“Setuju.” Mister Big tersenyum.

“Sebelas tahun bukan? Tahun kemarin iya sepuluh tahun.” Barbarossa masih acuh.

“Aduh.” Tabib Pong memegang kepala. “Sudah sebelas tahun ya.”

“Iya sudah sebelas tahun. Waktu itu kita semua belum terlalu saling kenal. Kira-kira dulu siapa yang paling di gilai wanita ya.” Penyair bersemangat sekali, mengingat ia tak terlalu mengenal para anggota ABL saat-saat itu.

“Barbarossa.” Tabib Pong. “Pertanyaan selanjutnya.”

“Siapa yang paling gigih mengejar wanita?” Penyair nyengir.

“Itu aku.” Jawab Pong tenang.

“Yang paling digilai wanita itu Pong, aku mana ada.” Barbarossa membantah.

“Aku sendirian kalau begitu, siapa kenal aku nun jauh disana.” Mister Big.

“Aku polos dan cupu yang kerjanya sekolah dan belajar.” Barbarossa.

Laksamana Chen menguap.

“Ya, kan benar Laksamana. Aku paling rajin sekolah.” Barbarossa.

“Iyalah lain apa mau bilang.” Laksamana Chen mendelik nakal.

“Aku baik, polos, penurut dan disiplin.” Barbarossa semakin tidak tahu diri.

“Barbarossa hanya berbicara tentang diri sendiri. Yang sudah jelas kita semua tahu bagaimana dia waktu sekolah.” Bantah Tuan Takur.

“Amish Khan yang paling preman. Di eranya, ia paling ganas, tanya Professsor Gahul kalau tidak percaya, dia saksinya.” Mas Jaim buka suara.

“Bukannya Mas Jaim yang pernah menjadi saksi keberingasan Amish?” Profesor Gahul membalikkan pertanyaan Mas Jaim.

Mereka tertawa terbahak bersama.

“Apa banyak tertawa semua. Pong kamu ingat Hera? Sekarang dia sudah punya dua orang anak.” Amish Khan membuka cerita lama.

Barbarossa merasa dia yang tahu kejadian di masa lalu memegang perut seraya menunjuk wajah Tabib Pong yang masam. “Kamu masih ingat Amish, dulu dia selalu lari melihat Hera. Untunglah sekarang ia selamat.” Tambahnya.

“Apa banyak omong best? Venus sekarang sudah punya anak satu. Ingat itu!” Amish menjulurkan lidah kepada Barbarossa.

Sekejap wajah Barbarossa memerah, Tabib Pong tertawa girang. Diam-diam Penyair melirik Tuan Takur yang hanya diam, hanya saja wajahnya menghijau.

“Sebuah generasi sudah berlalu, dan tidak lama lagi giliran kami yang mengirimkan anak-anak kami ke sekolah untuk sekolah. Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong apa lagi?” Laksamana Chen kumat sifat bijaknya.

“Apa memangnya?” Tanya Penyair.

“Ya kawinlah! Bodoh kok dipelihara?” Amish Khan diatas angin.

“Kenapa cuma kami bertiga? Kenapa Profesor Gahul dan Mas Jaim tidak disebut?” Bantah Barbarossa.

“Kalau Profesor sudah punya calon. Tidak lama lagi.” Laksamana Chen mengkode Profesor Gahul yang tersenyum senang. “Kalau Mas Jaim, maafkan saya lupa.” Ia mememegangi mulut tertawa, kemudian menyalami Mas Jaim.

“Permohonan maaf diterima.” Jawab Mas Jaim diplomatis.

Sekali lagi, mereka tertawa bersama, hari yang gembira.

Sudah sebelas tahun, keadaan kota ini berubah sedikit. Jadi ini tempatnya. Sudah sebelas tahun berlalu, dan disini suasananya sama sekali tidak berubah.  Padahal banyak sekali yang kita alami kalau kita menenggok ke belakang

XI

Mungkin manusia menjadi dewasa ketika mampu mengatasi dirinya sendiri. Bahwa hidup adalah sebuah jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan baru, seolah tidak akan pernah habis. Bahwa selalu ia memiliki hasrat, namun membendung dengan akal sehat. Ketika memilih, tak tahu apa yang akan terjadi disisa hidup. Mungkin dihinggapi gentar dan bimbang, namun siap. Sebuah pengakuan bahwa dalam hidup berkecamuk betul ketidak-betulan yang tak jelas arahnya, absurd.

Hormatilah masa lalu, kau tidak pernah mengetahui bagaimana masa lalu mempengaruhi dirimu.

XI

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s