NARSIS YANG BERBEDA

Narsissus putra Cephissus

Narsissus putra Cephissus

Akar lama telah berlalu kerap menghilang ketika sejarah tidak menceritakan semua, sangat (mungkin) terjadi sebuah legenda menjadi hikayat terkutuk. Mungkin belum diketahui, dan sudah saatnya diketahui. Ini dimulai zaman dahulu di Selatan Yunani, negeri yang tak akan dijumpai dimasa kini, melainkan hanya puing-puing. Pasar yang luas, terkenal dengan hasil sutra. Diberkati dengan air dari sungai dan anak sungai, penuh dengan karunia hasil bumi yang baik, damai dan sejahtera. Dibangun di daerah pegunungan, Kota yang sangat megah itu bernama Thebes, kota ini berdiri digerbang Yunani. Tapi tahun-tahun perdamaian dan kemakmuran itu tak berlangsung lama.

Invasi Persia ke Yunani (480–479 SM)

Invasi Persia ke Yunani (480–479 SM)

Kota Athena ikut campur terhadap kekuasaan Persia di Asia Kecil, akibatnya terjadilah perang antara Kekaisaran Persia dipimpin oleh Darius I melawan negara kota Athena yang kecil. Secara luar biasa, pasukan Athena berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Marathon pada 490 SM. Sepuluh tahun kemudian, Xerxes, putra Darius, berniat membalas kekalahan ayahnya. Xerxes memimpin pasukan besar menuju Yunani. Pada 480 SM, raja Sparta Leonidas bersama sekelompok prajurit menahan pasukan Persia di celah sempit Thermopilai, di Thessalia, selama tiga hari sebelum akhirnya pasukan Sparta pun dikalahkan. Ini memberi waktu bagi Athena untuk mengevakuasi rakyatnya ke pulau Salamis dan Peloponnesos. Persia memaksa orang Thessalia dan Boiotia (termasuk Thebes) untuk menjadi prajurit Persia. Kota Athena pada akhirnya dengan mudah ditaklukan namun kota itu sudah kosong karena sebagian besar penduduknya sudah melarikan diri.

Perang Yunani - Persia di teluk Salamis

Perang Yunani – Persia di teluk Salamis

Di bawah pemimpinan jenderal Themistokles dari Athena, pasukan Athena beserta Sparta dan sekutu mereka berusaha menghadapi armada Persia di Salamis. Pertempuran laut yang luar biasa, terjadi di Teluk Saronik, di sana armada Yunani berhasil menghancurkan dan menenggelamkan banyak sekali kapal Persia. Setelah kalah, Xerxes membawa sisa-sisa armada laut meninggalkan Yunani. Beberapa jenderal bersama sepasukan prajurit ditinggalkan di Yunani untuk berhadapan dengan pasukan Yunani di darat. Pasukan Yunani sendiri dipimpin oleh jenderal Pausanias dari Sparta. Pada 479 SM, sisa-sisa pasukan Persia diluluhlantakan di Plataia, dan jenderal terbaik Xerxes, Mardonius, terbunuh dalam pertempuran.

Kemenangan di Plataia menyelamatkan kemerdekaan Kota-Kota di Yunani dari penjajahan Persia, akan tetapi baik Athena maupun Sparta tidak akan pernah lupa akan pengkhianatan Thebes, meskipun terpaksa memihak Persia hukuman segera ditetapkan. Jenderal Pausanias dari Sparta menuntut setiap anak laki-laki Thebes yang dilahirkan pada tahun-tahun perang Persia harus dibunuh, kubu Athena tidak membantah. Dan ketika hukuman dijatuhkan, jerit para ibu membahana ketika bayi-bayi Thebes dilempar ke dinding benteng, yang sudah agak dewasa ditombak diluar benteng bersama pilu para bapak.

Adalah ia putra Cephissus memiliki paras sangat rupawan diantara semua anak laki-laki Thebes, sehingga Jenderal Themistokles dari Athena merasa iba memohon pengecualian kepada sekutu Sparta. Jenderal Pausanias sudah terlalu lelah berperang menyetujui. Maka terampunilah ia satu-satunya putra Thebes generasi itu, Narcissus. Segala sesuatu memiliki sebab akibat, jiwa para orang tua yang menyesali kematian putra-putra mereka, membentuk kebencian pada dunia, pada Persia, pada Sparta dan pada Athena. Sebuah penyakit berawal dari pikiran, Bangsa yang dulunya perkasa tidak berdaya dan berkecil hati. Ketika mereka yang dibenci terlalu kuat ia pun beralih, membentuk api kepada satu-satunya anak yang selamat dari tragedi, Narcissus. Dan disinilah legenda ini bermula.

Tak seorang pun menyangka, bahwa ini adalah awal dari pertunjukkan tragis yang terjadi belasan tahun kemudian. Akan tetapi dunia selalu menyisakan pengecualian, Liriope ibu Narsisus merasa khawatir, terlalu banyak kemalangan menimpa Narcissus kecil. Mulai dari jatuh ke dalam sungai, racun yang disajikan dalam makanan semua seolah dilakukan dengan sengaja. Siapa dan apa? Terkadang kedengkian tak memiliki wujud, akan tetapi terasakan. Sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tiada. Meskipun Narsisus terus selamat, akan ada masa keberuntungan itu habis. Saat itu di kota Thebes hiduplah seorang nujum ternama, Tiberias. Liriope datang padanya membawa Narsisus bertanya, “Apakah anakku dapat hidup sampai tua?”

Nujum itu memandang Narsisus menjawab, “Bisa, asal dia tak mengenal dirinya sendiri.” Awalnya kelegaan pada Liriope mendengar jawaban Tiresias kemudian kebingungan akan tafsir kata-kata sang nujum, sejak hari itu Narsisus seolah tidak melihat, mendengar apapun dan tidak mengatakan apapun. Sampai lama sekali ramalan itu seakan-akan tidak mempunyai arti apapun.

Tahun demi tahun berjalan, orang datang dan pergi di Thebes. Kota yang dulu sempat lenggang kembali ramai, perlahan orang-orang mulai melupakan tragedi Thebes. Ketika Narsisus berumur enam belas tahun semakin terlihat jelas keelokan rupa putra Cephissus ini. Ia disukai oleh banyak anak muda dan dicintai oleh banyak gadis, akan tetapi Narsisus mengacuhkan mereka. Penduduk Thebes berkata, ia terlalu sombong, tidak mau memperhatikan orang lain. Apa yang dialami di masa kecil membentuk ia tidak mempercayai apapun, ia menyukai berjalan-jalan di dalam rimba, sendirian.

X

Matahari petang memetakan bayang-bayang panjang dan sempit pada perbukitan rendah dan jauh di Barat menerangi permukaan sungai sehingga cakrawala tampak seperti bayangan emas bergelombang. Sambil menunduk di bawah pohon yang tumbuh di sana-sini rimba, Narcissur menegadah menatap ke sela daun, melihat bintang senja yang menghiasi langit bagai permata.

“Narcissus.”

Echo seorang peri hutan

Echo seorang peri hutan

Sambil mengerutkan kening, Narcissus bergeser ke samping. Ia terguncang melihat sumber suara itu. Echo!!! Kenapa aku harus bertemu dengannya pikirnya. Ada ketakutan di lubuk hatinya, ia menahan untuk memperlihatkan itu dan menjawab, “Iya Echo.”

“Aku senang akhirnya kamu menjawab panggilanku. Tahukah kamu? Selama ini aku selalu menunggu kamu membalas perkataanku selama ini.” Echo adalah seorang peri hutan, memiliki paras lonjong. Terkenal sebagai peri paling cantik di rimba tepi Thebes tempat Narcissus biasa bersunyi diri, Echo adalah kesayangan dari Dewi Athena.

“Aku sudah tua Echo. Tidak selamanya aku menghindarimu.” Narcissus terganggu, ia menyipit menentang wajah Echo yang selama ini ia hindari. Bagaimanapun seorang peri adalah seorang peri, mereka dikarunia paras mendekati sempurna. Pertemuan pertama mereka ketika Narcissus menyelamatkan Echo secara tidak sengaja dari panah seorang pemburu. Ia mengusir pemburu itu ketika hendak menangkap Echo, dan sejak itu ia selalu diikuti peri hutan tersebut apabila memasuki rimba.

Echo mendekat cepat, Narcissus mundur perlahan sampai jarak mereka sangat dekat, “Apakah kamu membalas cintaku?” Ia terkejut, di Yunani cinta adalah merupakan hal suci, ia berwujud kepercayaan tertinggi seseorang kepada seseorang lainnya, ia terkesima. Bagaimana mungkin itu semua diserahkan Echo bulat-bulat kepadanya, meski sudah mengaku tua Narcissus saat itu masih berumur enam belas tahun.

Narcissus tertarik, kemudian kedua matanya tiba-tiba melihat wujud sejati Echo. Ia ketakutan melihat dalam sepersekian detik dari mulut Echo keluar taring-taring besar. Peri adalah makhluk kuno, mereka berusia jauh lebih panjang dari manusia sejenis makhluk sihir yang diciptakan khusus melayani para Dewa-Dewi. “Tidak!” Narcissus tidak ramah, bagaimanapun ada selisih usia cukup jauh diantara mereka dan Narcissus tidak cukup gila untuk menerima cinta dari perempuan yang lebih tua, bahkan melebihi usia kakek neneknya.

“Tidak ada yang pernah menolakku!” Echo marah kemudian membujuk, “terimalah cintaku Narcissus, kelak kau akan diberikan keabadian. Aku adalah kesayangan Athena, apapun keinginanku akan dikabulkan olehnya.”

Dewa-Dewi Yunani, Narcissus membenci mereka. Kemana mereka ketika bangsa Persia menyerbu? Hanya bersembunyi di liang terdalam Olympus, setelah Yunani merdeka atas usaha sendiri mereka menuntut pengorbanan setiap tahun. Narcissus berpikir, mungkin mereka tak terlalu berkuasa. Hanya berumur lebih tua dengan pengetahuan purba, membuat mereka mampu memaksakan keinginan pada manusia, akan tetapi tak lebih. Kelak mereka juga akan mati, membusuk ditanah. “Aku tidak tertarik, yang aku inginkan adalah jauhi aku!” Tidakkah Echo berpikir, bahwa berumur panjang bukan berarti bernasib baik. Menyaksikan orang-orang yang kita cintai tua dan mati, setiap dekade harus membangun hubungan dengan manusia lain. Itu menyakitkan.

Echo mendengus, berkacak pinggang, “Sungguh kau manusia sombong! Bagaimana  caranya engkau hidup kelak menanggung kemurkaan Athena? Aku tawarkan sekali lagi kebaikan hatiku padamu.” Suara Echo melembut diujung.

Zeus, Athena, Apollo, Ares atau Dewa-Dewi lain selalu mendapatkan keinginan mereka. Membujuk, mengancam, mengutuk itulah terjadi sepanjang zaman. Narcissus muak dan berkata lantang, “Tidak!”

“Hati-hati Narcissus!” Echo memperingatkan menangis seunggukan berbalik tanpa melihat kebelakang. Betapa cinta seorang perempuan bisa sangat membahayakan.

Narcissus menjatuhkan diri, “apa yang telah aku lakukan?” Menantang peri kesayangan Athena, Dewi terkuat Olympus sama saja dengan mengundang malapetaka. Malam memperlihatkan bintang-bintang menghiasai langit bagai beludru. Dilubuk hati paling dalam, Narcissus merasakan ketakutan kuat menderat jantung.

XXX

Artemis adalah Dewi perburuan, alam liar, alam liar, perawan, dan perbukitan.

Artemis adalah Dewi perburuan, alam liar, alam liar, perawan, dan perbukitan.

Bukan jenis kecantikan yang dipuja-puja penyair. Gadis ini lebih penting daripada wanita biasa, membuatnya menjadi objek misteri, kekaguman dan memikat. “Aku belum pernah bertemu seseorang sepertimu.” Keheningan yang terasa menekan menyelimuti rimba, Narcissus bisa mendengar detak jantungnya. Bahkan tak terdengar lagi suara burung pagi itu. Seorang perempuan menyandang busur diikuti seekor rusa jantan bernyanyi riang seraya berlari kecil dipinggir sungai. Seorang wanita muda yang cantik, pakaian yang dipakainya hanya sepanjang lutut, baju tersebut bordiran dibagian lututnya, dan baju yang pendek membuat ia mudah berlarian. Narcissus mendekati perlahan, hasrat yang dimiliki mengalahkan segala rasa takut. Perempuan tersebut menghentikan nyanyian melihat Narcisus. Terhenyak dan kepala dimiringkan, Narcissus memandang perempuan yang memiliki tubuh tinggi dengan pinggul dan payudara kecil tersebut. Dahinya yang tinggi menunjukkan dirinya adalah seorang Dewi yang angkuh. Ia mencondongkan tubuh kearah perempuan tersebut, mencoba mengingat, ia berbisik, sangat lirih, “Artemis?” Dalam kebudayaan Yunani Artemis adalah Dewi perburuan, alam liar, alam liar, perawan, dan perbukitan.

Ketika Narcissus memanggil, spontan Artemis mengangguk. Kemudian ia memucat, dan mulutnya terbuka disusul tangannya menutup. Ia takjub sekaligus takut, mengoncang tubuh seakan baru terjaga dari mimpi buruk, “Siapa kamu? Mengapa kamu serupa diriku?” Sebelum Narcissus menjawab, Artemis menggerakkan kaki-kakinya yang panjang dan berlari. Narcissus bimbang kemudian berharap Artemis menoleh sekali ke belakang. Sebelum menghilang dibalik pohon, Artemis berhenti, berbalik dan tersenyum kepada Narcissus. Kemudian menghilang, Narcissus tersenyum bahagia, “Kita akan bertemu kembali.”

Ia tahu cintanya berbalas.

Afrodit adalah Dewi cinta, kecantikan dalam kebudayaan Yunani

Afrodit adalah Dewi cinta, kecantikan dalam kebudayaan Yunani

“Berhati-hatilah pada siapa kau jatuh cinta, karena takdir memiliki ketertarikan aneh terhadap keluarga kami.” Narcisuss berbalik, ia melihat seorang perempuan lain yang tak kalah cantik dari Artemis. Bahkan mungkin melebihi, namun kecantikan yang dipancarkan perempuan tersebut terlihat begitu dewasa. Narcissus terdiam, ia merasakan dibalik keanggunan menyeluruh dari wanita tersebut luka mendalam akibat pengkhianatan, tipu daya dan intrik. Ia menundukkan kepala, kecantikan perempuan tersebut akan menarik seluruh pria bahkan Dewa Yunani saling baku hantam tersebut malah membuat Narcissus takut, bukan sejenis rasa takut kepada yang mengerikan akan tetapi lebih kepada rasa takut pada kelam. Seumur hidup, hanya kali ini ia merasa inferior terhadap seseorang.

Entah bagaimana perempuan tersebut sudah memegang pipi Narcisusus sementara tangan yang satu lagi menyibak rambut pirang anak tersebut, ia tersenyum merasakan ketakutan didasar diri pemuda Thebes tersebut, “jangan takut Narcissus karena aku Afrodit datang untuk menyelamatkanmu.” Afrodit adalah Dewi cinta, kecantikan dalam kebudayaan Yunani. “Putraku Eros berkata padaku, bahwa seluruh kuilku di seantero Yunani dipenuhi oleh para dara yang mendamba untuk kau persunting, saranku pilihlah salah satu diantara mereka. Maka kau akan mendapatkan kebahagiaan.”

Narcissus menjilat bibir, permintaan tersebut membuat ia gelisah, “Dewi, aku memutuskan untuk menolak, baik apakah ini sebuah saran ataukah paksaan”

Afrodit tertawa renyah seperti menggoda, “Narcissus engkau masih muda, kamu tidak mengetahui bahwa betapa keelokan rupa itu sungguh berbahaya. Karena kamu, para dewa takut akan menimbulkan perpecahan di antara para manusia, bahkan para Dewa. Narcissus, kau percaya pada Dewa-dewa?”

“Dewa yang mana? Kalian begitu banyak?”

“Yang mana saja. Semuanya. Apakah kau percaya ada kekuatan yang hebat daripada kehendak manusia?”

Narcissus berpikir sejenak, keberanian terurapkan sedikit demi sedikit. “Barangkali kalian memang ada, aku pernah melihat Artemis dan anda hari ini. Tapi jika memang kalian pantas disebut Dewa, aku tidak menghormati kalian karena membiarkan Persia menjajah Yunani.”

“Pada akhirnya Yunani mengalahkan Persia. Dan itu mungkin adalah instrument para Dewa, apakah engkau tidak memikirkan itu?”

Narcissus tertawa, “Kurasa bisa saja, tapi bagaimanapun pastinya mereka tidak peduli apakah kami hidup atau mati. Tentu saja tidak, untuk apa? Kalian Dewa.”

Afrodit tampak cemas, ia menarik diri. “Jadi engkau tidak menganggap dirimu bertanggung jawab kepada siapapun kecuali dirimu sendiri?” Afrodit menatap Narcissus selama beberapa detik, “Keelokanmu mengundang petaka, dan pikiranmu membawa malapetaka suatu hari. Dan pada hari itu aku sekalipun tak dapat menolongmu.”

“Afrodit, apakah aku orang yang jahat?”

Afrodit menggeleng, dan menghilang.

XXXX

Ares adalah Dewa Perang

Ares adalah Dewa Perang

Aula Olympus. Malam itu, Ares gelisah. Mustahil baginya benar-benar rileks, mengetahui beberapa jam lagi Apollo akan kembali. Mengetahui pentingnya Artemis bagi saudara kembarnya. Menggunakan Artemis untuk kepentingannya akan mengundang pertempuran dengan Dewa Matahari seperti yang pernah dialaminya sebelum ini. Sekaligus ia berharap segera menyingkirkan Narcissus yang menjengkelkan, ia cemburu karena Afrodit selalu menyebut nama anak muda tersebut. Kedua pikiran itu menyebabkan ketegangan dari kepala sampai pangkal tulang ekornya. Semenit berlalu, semenit lagi. “Kuharap Apollo tidak segera kembali.”

Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Perang dan kerajinan

Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Perang dan kerajinan

“Ah, disitu rupanya,” sebuah suara berkata dibelakangnya, ia berbalik dan melihat Athena masuk. Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Perang dan kerajinan. Seorang wanita yang mengenakan baju perang, lengkap dengan perisai. Pada namanya kota paling makmur di Yunani dinisbatkan. Salah satu Dewi paling berpengaruh di Olympus sekaligus saingan paling dibenci oleh Ares.

“Dasar licik, meninggalkanku untuk menunggu kepulangan Apollo dan membiarkanku kelak akan menahan murkanya.” Lelaki itu mengenakan celana hitam dan jaket berkancing satin merah gelap bertepi jahitan emas. Rambutnya yang panjang tertutup Helm perang membuat tampak sangat tampan bahkan mulia.

“Ada apa Ares? Seorang Dewa Perang takut kepada Apollo.” Athena menggeleng nakal, matanya menggoda. “Kita tidak menunggu Apollo melainkan Artemis.”

“Jika ia pulang?”

“Ia tidak akan pulang dalam waktu dekat, Echo mengatur kereta matahari milik Apollo tergelincir di Afrika, dan tentunya akan membakar kulit mereka. Bagusnya itu akan membuat Apollo kerepotan dan tidak bisa kembali cepat ke Olympus.”

Untuk pertama kali, Ares tampak terkejut. Kemudian sebelah bibirnya tertarik keatas. “Tentu saja seharusnya aku sudah tahu. Kamu begitu berbahaya, dan aku bersyukur tidak menjadi musuhmu saat ini.”

Lebih dari seperempat jam berlalu sebelum pintu terbuka. Artemis menyelinap masuk, kaki-kakinya yang bertelapak lembut tidak menimbulkan suara. Ia melangkah melewati Ares dan Athena, dia melompat ke sofa dan duduk disana. Ia mulai dengan mengambil apel dan mengigit manja. Masih tidak menatap ia berkata, “Aku bukan pesuruh yang datang dan pergi atas panggilan kalian. Dan aku sudah memutuskan tidak ikut dalam rencana kalian. Aku akui tertarik padanya, ia memiliki ketampanan tidak biasa. Bahkan melebihi Dionysus Dewa Anggur.”

Mmh. Suara gesekan lidah Ares semakin nyaring ketika ia berkosentrasi. Ia murka namun menahan diri.

“Aku tidak pernah menganggap begitu duhai Artemis. Kami hanya memohon bantuan darimu sedikit.” Kemudian Athena tersenyum manis, “baiklah jika engkau tidak membantu kami lebih lanjut, Artemis engkau adalah Dewi perkasa malah kami berterima kasih kamu telah merepotkan diri untuk masalah yang tidak penting ini.” Cuping Artemis kembang kempis, senang dengan pujian Athena.

“Yang ingin aku ketahui, apakah ia tertarik padamu?”

Artemis geram sekaligus geli. “Tentu saja, apakah kalian meragukan aku? Dia tertarik padaku seperti aku tertarik padanya. Kupikir aku jatuh cinta kepadanya, rambut, mata, tubuhnya mengingatkan aku pada diriku sendiri. Kami memiliki banyak kemiripan meskipun ia lelaki,” Artemis terdiam sesaat, “dan aku adalah seorang Dewi. Aku berpikir akan meminta Zeus menikahkan aku dengan Narcissus.” Matanya berbinar senang.

Ares mengenyit, ia mencengkram bangku. Athena tersenyum, “baik sekali Dewi pilihanmu, aku yakin Zeus akan menyetujui. Sayang saat ini ia sedang berada di Mesir, sepulangnya nanti engkau boleh mengajukan hal tersebut. Dan kupastikan akan mendukungmu.” Kalau saja yang berbicara bukan Athena, maka Ares akan mengamuk. Sudah cukup kecemburuannya karena Afrodit selalu membicarakan Narcissus, ditambah lagi ia akan dibawa ke Olympus, menjadi suami Artemis. Artemis yang belum memilih suami sampai saat ini. Tapi Athena selalu memiliki rencana. Mata Artemis berbinar-binar senang, ia bangkit dan menciumi Athena.

“Sebaiknya aku tidur sekarang, terima kasih kakak.” Ia melambaikan tangan dan masuk ke kamar, melewati Ares yang bermuka masam.

“Lihatlah Athena! Sekarang keadaan semakin kacau!”

“Tidak Ares, semua terkendali. Yang kita lakukan hanyalah segera melenyapkan Narcissus dan memanipulasi berita kematiannya sehingga tidak ada seorangpun yang tahu.”

“Kalau saja kau mendengarkan saranku dulu, bunuh saja! Apa sulitnya, ia hanya manusia biasa.”

Athena menatap Ares keheranan, “itu sangat tidak elegan.” Ia menggelengkan kepala, “percayalah kepadaku. Sekarang aku akan mencari Echo, ia adalah kepingan terakhir dari rencana hebat milikku.”

Ketika Athena beranjak pergi, Ares berkata, “kau hendak apa?”

XXXXX

Hal yang pertama disadari Narcissus adalah perbedaan pada warna-warna. Sejak ia jatuh cinta kepada Artemis. Bongkah-bongkah batu di langit tampak semakin bagus dari sebelumnya. Detil-detil rimba yang tadinya tertutup dari matanya sekarang tampak tajam dan jelas sementara yang tadinya menonjol tampak meredup. Setiap hari ia merasa senang berkeliling rimba dan berharap segera bertemu dengan Artemis. Di suatu hari ia keluar dari rumah dan bernyanyi riang. Suasana tiba-tiba hening didalam rimba, ia merasa ada yang tak biasa. Ia memutar tubuhnya, ia melihat Artemis disebelahnya, “Kamu cantik dan aku suka.” Narcissus merayu.

Pipi Artemis bersemu dadu, “Sekarang kau menggodaku.” Artemis mengeluarkan gelak kecil.

“Barangkali aku harus memanggilmu Putri saja, Putri Artemis.” Narcissus mengucapkan lagi, menikmati rasa kata-kata itu dilidahnya.

“Kau tidak bisa memanggilku seperti itu,” kata Artemis, lebih serius. “Aku bukan seorang putri.”

“Kenapa tidak? Ayahmu Zeus. Bagaimana mungkin kau tidak jadi putri? Gelarnya adalah Raja Para Dewa, sudah pasti kau bisa disebut putri.”

“Bukan berarti ‘putri’.” Sela Artemis. “Tidak ada persamaan antara putri manusia dan putri dewa.”

“Bukankah sama saja?” Tanya Narcissus.

“Tidak sesederhana itu.” Artemis tampak tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, mengundang kekecewaan di wajah Narcissus.

“Sebuah perbedaan kecil saja sulit ditemukan jalan keluar, bagaimana bisa kita menikah?”

Artemis terkejut, “Berani sekali kamu Narcissus! Kita baru bertemu dua kali sudah mengajak menikah. Kamu manusia dan aku dewi, jelas perbedaan antara kita, kamu bahkan belum menjadi kekasihku.” Artemis tersenyum nakal melihat wajah Narcissus.

“Oh, sama sekali tidak mungkin ya?”

Dan Artemis tertawa lagi, “mungkin saja, namun pasti syaratnya berat. Sebagai Dewa tertinggi, ayahku pasti menolak seorang menantu yang tidak layak. Untuk itu kau harus membuktikan diri.” Narcissus tercengang, harapan yang tadi meredup hidup kembali.

“Apa syaratnya?”

Artemis mendekatkan bibir pada telinga Narcissus, membisikkan sesuatu. Setelah selesai Narcissus menaikkan alis dan menatapnya dengan ekpresi merenung. Rasa ngeri yang dingin menusuk Narcissus.

XXXXXX

“Kekuatan para Dewa dan Dewi Olympus bersandar pada sihir, dengan pengetahuan itu mereka dapat hidup lebih panjang daripada manusia. Selama mereka tidak sakit atau ada yang membunuh maka mereka bisa hidup sampai ribuan tahun. Zeus selaku Dewa terkuat bisa menerima manusia biasa masuk grup elit ini, apabila manusia tersebut membuktikan diri. Sihir terkuat adalah memanggil spirit, sebenarnya tidak sulit asalkan memiliki tekad yang kuat. Maka dengan mantra yang kuajarkan ini panggilah spirit yang hidup di sungai perbatasan Thebes dengan rimba. Jika orang-orang bergunjing maka nafikan, rahasiakan hal ini. Dengan kemampuan pikiran yang engkau miliki pasti akan berhasil. Dan tentunya Zeus pasti senang menerima dirimu sebagai menantu.”

Cinta bisa saja menjadi kutukan yang sangat mengerikan. Membuat buta akan kesalahan terbesar sekalipun dalam sifat seseorang. Keesokan harinya, Narcissus memanggil spirit di sungai. Tak lama kemudian, ia menjadi bahan pergunjingan. Narcissus gila, ia mencintai dirinya sendiri dengan memanggil pantulan bayangan sendiri. Orang-orang Thebes berkumpul disekeliling Narcissus mengingatkan, tapi ia tak terpengaruh. Ia tak puas-puasnya memandang ke dalam air, kemudian saat ia membungkukkan badan untuk membisikkan mantra yang diajarkan oleh Artemis. Ia terus mengulang hal yang sama, berulang kali.

Ketika petang menjelang penduduk Thebes kesal dan putus asa membujuk Narcissus dan pulang satu persatu. Narcissus masih saja setia memanggil-manggil. Memanggil spirit adalah sihir terkutuk yang dihindari oleh Penyihir manapun, spirit adalah sebuah kehendak yang  memiliki wajah kejahatan sekaligus kebaikan. Namun Narcissus tak pernah tahu. Menjelang malam, tiba-tiba spirit merasa kesal. Sebuah tangan muncul dari dalam sungai, Narsissus tersenyum ia mencari Artemis disekeliling. Artemis muncul dari balik pohon mendekati Narsissus, semakin dekat wajahnya semakin pudar berubah menjadi Echo! Ia dijebak!

Narcissus terkejut, menjadi lebih terkejut lagi ketika tangan tersebut menarik dirinya kedalam sungai. Semua yang ia lihat sembari meluncur ke dalam sungai, dalam detik yang singkat ia tersadar bahwa momentum melarikan diri adalah berenang sekuat mungkin ketepi sungai. Ia mencoba sekuat tenaga menembus lingkaran spirit yang memeluk tubuhnya di dalam air. Tapi ia melemah, putus asa dan kehabisan tenaga. Ia melayang-layang didalam air, perasaan terakhirnya adalah penyesalan, dan pikiran terakhirnya adalah Artemis. Selang satu jam kemudian, sungai melemparkan tubuh dengan wajahnya yang pucat membayang dipermukaan air yang tenang.

Kematian Narsissus

Kematian Narsissus

Ketika Afrodit tiba, semua peri hutan meratap sedih mendapati Narsissus tak bernyawa lagi. Yang paling berduka adalah Echo, ia tak menyadari rencana Athena adalah untuk membunuh Narcissus. Ia duduk disamping Narsissus dan tak henti-hentinya menangis sampai tertidur.

“Sudah aku katakan sebelumnya Narsissus, betapa keelokkan rupa akan mengundang petaka.” Sedih, ia mengucapkan sepatah dua patah kata. Tubuh Narsissus tidak terlihat lagi, ditempatnya sekarang tumbuh sekuntum bunga yang berbau harum. Kemudian hari bunga ini disebut dengan Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae). Afrodit pun menghilang.

Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae)

Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae)

Keesokkan harinya, Echo terjaga dan mendapati bunga tersebut. Ia tak dapat menahan kepedihan hatinya, ia dijanjikan oleh Athena apabila Narcissus dapat memanggil spirit, maka spirit tersebut akan mengubah Narsissus menjadi peri bukan membunuhnya. Kecewa, terkhianati sekaligus mengkhianati ia berjalan tak tentu arah ke dalam rimba dan akhirnya meninggal karena duka cita mendalam. Orang-orang Yunani kuno mempercayai bahwa suara Echo masih dapat didengar, apabila berjalan ke dalam hutan atau pengunungan. Bila berteriak, suara peri cantik itu akan mengulangi kata terakhir dari kalimat yang diucapkan.

Berhati-hatilah pada siapa kau jatuh cinta, karena takdir memiliki ketertarikan aneh terhadap kita.

XXXXXX

Narcisuss adalah subyek yang sangat popular dalam seni Romantik. Dalam psikiatri Freudian dan psikoanalisis, terminologi narsisisme merujuk pada tingkat self-esteem yang berlebihan, suatu kondisi yang biasanya adalah bentuk dari ketidakmatangan emosional.

Afrodit dianggap sebagai Dewi yang menghukum Narsissus, Eros atas perintah ibunya melepaskan anak panah cinta ketika Narcissus membungkuk untuk minum, ia melihat bayangan wajahnya sendiri dan jatuh cinta. Menyebabkan kematian Narsissus.

Artemis, saudara kembar Apollo. Dewi Olympus yang diketahui tidak menikah sampai peradaban Yunani kuno berakhir.

Athena dan Ares, selamanya menjadi musuh dalam kebudayaan Yunani kuno.

XXXXXXX

Sebuah cerita mengerikan, semoga tidak terulang  = Penulis

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to NARSIS YANG BERBEDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s