ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Adalah Enigma, teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya.

“Enigma”, sebuah teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya.

Mereka adalah orang-orang berbahaya, sering berdiri sebagai lawan dengan tujuan masing-masing. Bukan jenis persahabatan yang lazim, bukan pula persaudaraan cengeng mengikat. Akan tetapi lebih menyerupai rekan seperjuangan dengan harga diri. Itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dimengerti para ksatria yang telah melewati pertarungan bersama. Masing-masing memiliki senjata mematikan. Maka bayangkanlah jika mereka tidak pernah bersatu?

Assosiasi Budjang Lapok, terbentuk secara tidak di sengaja. Ketika cerita itu disajikan, waktu melambat perlahan. Di suatu malam penuh bintang di sebuah lepau nasi, seorang lelaki jalan berlengak-lengok menggunakan sebuah syal. Bayangkan menggunakan syal di negeri tropis! dan di lepau nasi! Bayangkan betapa kuat kepercayaan diri orang ini. Seseorang tertawa mengejek, Laksamana Chen. Pemuda dengan syal menantang mendatangi, beberapa orang merapat. Terjadi dialog, diakhiri dengan jabat tangan. Pemuda bersyal itu kelak dikenal sebagai Tuan Takur, dan sekeliling mereka satu persatu adalah Barbarossa, Mister Big, Tabib Pong, Santiago, Penyair, Profesor Gahul dan Amish Khan. Mas Jaim kelak bergabung belakangan. Embrio pun dientaskan, mungkin diantara mereka sebelumnya sudah bertemu dipersimpangan sejarah kehidupan akan tetapi itulah awal cikal-bakal Assosiasi Budjang Lapok sebagai organisasi terbentuk. Dan itu dua tahun yang lalu.

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Tuan Takur adalah paling berjiwa muda di antara anggota ABL. Tanpa disadari  memiliki sifat semurni seorang remaja.  Seorang anak dapat bersikap kepala batu, dan batu itu alangkah keras. Jikalau sekali-kali dipukul akan terasa kekuatannya. Dan ia tidak menyadari kalau terkadang itu bisa sangat menjengkelkan. Tuan Takur terkadang tanpa sadar suka menyombongkan diri, menikmati hal-hal kecil seperti menceritakan diri sendiri. Akan tetapi Tuan Takur memiliki kualitas terbaik seorang sahabat yaitu memiliki kesetiakawanan tinggi, berhati lembut, pemaaf. Kali ini Tuan Takur terlibat pula dalam kampanye datang dan pergi bagaikan badai di kota Bandar. Sekali datang berhembus dasyat membawa lesus berwarna hijau di Januari, kemudian ekor puting beliung yang berwarna kuning di Maret, kemudian prahara berwarna merah pada awal April. Setiap ekor panjang berwarna dahsyat itu mengeluarkan suara gemuruh bagaikan Guntur tak mau berhenti. Iya, Tuan Takur segera menikah.

X

Awal tahun ini. Gundukan rendah bara berdenyut bagaikan jantung hewan raksasa. Sesekali percikan api keemasan menjilat keluar dan mengalir cepat pada permukaan kayu sebelum lenyap ke dalam celah-celah putih panas. Sisa-sisa api unggun yang dibuat Amish Khan dan Laksamana Chen untuk memanggang ayam memancarkan cahaya remang disekeliling area, menampakkan tanah berbatu, beberapa semak kelabu bagaikan timah, dan sekumpulan cemara di kejauhan, kemudian kegelapan. Barbarossa duduk, kaki diselonjorkan kearah gundukan bara. Mata Mister Big terlihat mengantuk bercakap dengan Professor Gahul. Di seberangnya Mas Jaim merajang bawang. Tuan Takur menarik dalam-dalam tembakau linting, sementara Penyair di buai alam mimpi sarungan diatas papan. Sudah lewat tengah malam, ayam belum juga matang. Suasana hening sesaat. Pohon berderit nyaring, membuat Tuan Takur ingin menggaruk telinga. Assosiasi sedang berkemah di kaki gunung, setelah suara nyaring tersebut sisa-sisa pohon itu tidak bersuara. Bahkan bara pun terbakar dalam kesunyian. Tiba-tiba Tuan Takur meloncat, “Mereka tidak akan menganggu kita.” Ia menunjuk kearah pohon yang tadi bersuara nyaring.

“Memang siapa mereka?” Tanya Mister Big.

“Mereka ada disekeliling kita.” Tuan Takur kembali duduk menarik nafas.

Kelewang "Amish Khan"

Kelewang “Amish Khan”

Amish Khan menaikkan alis, “Berat kawan kita, nanti kita beri siraman rohani.”

Assosiasi tertawa terbahak, suasana sepi terhapus. Penyair terbangun menggosokkan mata.

“Mari kita makan, ayam sudah matang.”

XX

Pedang "Tuan Takur"

Pedang “Tuan Takur”

Tuan Takur adalah keturunan pandai besi terkemuka di Bandar, akan tetapi ayahnya berhasil menjadi regent di sebuah kenegerian di Barat Daya Bandar atas usaha sendiri. Menjadi kalangan bangsawan terkemuka. Namun terlepas dari segala gelar yang diraih, ia berusaha setidaknya menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah seorang santun, rendah hati dan tidak memanfaatkan kedudukan yang dimiliki. Hasilnya kadang berhasil, kadang gagal. Memiliki dua kepribadian bertolakbelakang dalam satu jiwa membuat Tuan Takur memiliki kemampuan berubah-ubah setiap saat. Akan tetapi terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki ia tetap menjunjung nilai-nilai prinsip kehormatan. Sejujurnya, dia lebih layak di posisi tersebut dibandingkan kebanyakan lingkaran para regent lain di Bandar, berpakaian mewah namun berkelakuan seperti Babi. Ketika Raja Bandar berganti, para regent juga berganti. Ayah Tuan Takur mengundurkan diri secara terhormat, namun bagi Tuan Takur sendiri dunia tak akan pernah sama. ABL sendiri selalu menganggap Tuan Takur sebagai anggota penting secara disini semua orang sederajat. Bergabunglah maka anda akan dibantai dengan kata-kata berbisa, semakin keras pukulan maka semakin kuat kasih sayang yang ada. Namun  ada sikap-sikap unik muncul tanpa Tuan Takur sadari muncul pada dirinya, bermacam sikap tersebut dianalisis oleh Tabib Pong sebagai Post Power Sydrome.

XXX

Sebuah pikiran yang tak terbantahkan bahwa menyusun kepingan memori tidak lebih mudah di bandingkan membangun sebuah cerita. Tentu apapun itu, tiada kemampuan penuh menyeluruh menghindarkan dari ketidaksukaan padanya, apalagi sebuah kisah tentang mereka. Ada hal-hal yang tak terpahamkan disini, mengugah emosi para penikmat dan mengundang kecaman dari para kritikus.

XXXX

Tuan Takur terkenal dengan gerobak. Sebenarnya itu adalah sebuah kereta kukuh ditarik oleh kuda-kuda terbaik dari Arabia. Membuat kereta kuda itu dinamakan gerobak oleh Amish Khan adalah karena dibelakang terdapat bak terbuka yang dapat mengangkut hasil bumi dari perkebunan ayah Tuan Takur, unik dan tiada dua bahkan Laksamana Chen menyebut sepatu roda. Kita patut memahami pemikiran Tuan Takur senior dalam mendidik junior, agar menjadi pribadi kuat dan tahan banting sebagai pengganti kelak. Maka, itulah mengapa Tuan Takur sangat mengidolakan ayahnya. Semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang pula angin berhembus, itu hukum alam. Pada saat Tuan Takur senior menjabat sebagai regent sebagai seseorang yang naik kelas, maka segera pula memancing ketidaksukaan banyak pihak, hati manusia memiliki banyak cabang. Cabang terbusuk adalah Iri dan dengki. Tuan Takur terkena imbas. Desas-desus beredar di Bandar, Tuan Takur adalah seorang playboy. Entah penghitungan dari langit, kabar burung menyebutkan bahwa ia memiliki 69 kekasih. Perangai berubah setiap saat ditambah reputasi buruk membuat Tuan Takur terkucilkan. Keberuntungan Tuan Takur adalah menemukan ABL, sebuah Assosiasi dimana setiap anggota sangat mencintai diri masing-masing tidak mampu ditipu dengan selentingan kabar tak jelas. Setiap orang di ABL memiliki masalah masing-masing, tak ada waktu memikirkan catatan buruk Tuan Takur tersebut. Waktu kelak membuktikan bahwa Tuan Takur lebih banyak menghabiskan waktu bermain-main bersama ABL sehingga dapat dipastikan kabar tersebut tak lebih dari fitnah belaka.

Sudahkan disebut bahwa Tuan Takur ini seorang pemberani? Jika belum ingatkan. Mungkin para pembaca belum mengetahui bahwa setiap anggota ABL adalah seorang pendekar, masing-masing memiliki ilmu silat mumpuni. Satu-satunya orang yang pernah menantang seluruh ABL seorang diri adalah dia, “kalian semua lawan aku!” Hasilnya Tuan Takur babak belur. Semangat dan keberanian itu patut diacungi jempol. Seusai laga biasanya Tuan Takur hanya bergumam, “kalian beraninya cuma main keroyokan.” Biasanya pula ABL malah menertawakan Tuan Takur.

Sewaktu ayah Tuan Takur mengundurkan diri sebagai regent, dalam sehari ada beberapa kali Tuan Takur menantang seluruh anggota ABL, saat itu Tuan Takur bersedih dimana kata-kata penghiburan tiada berguna. Dalam hal ini Laksamana Chen paling bersemangat, Tuan Takur dihajar habis-habisan. Pada duel terakhir, Tuan Takur berbicara pada diri sendiri, “Mereka semua baik ya, padahal aku masih luka tapi ia menghajarku tanpa ampun.” Setelah hari itu, Tuan Takur menemukan ketenangan melebihi penghiburan seribu kata.

XXXXX

Semua akan pergi memilih jalan masing-masing untuk menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Begitu juga teman yang lain. Bukan berpisah tapi memulai perjalanan baru. Bukan berakhir, tapi mengawali sesuatu yang baru. Memang mendengar itu rasanya kita akan kesepian, tapi begitulah kenyataannya.

XXXXXX

Palu "Mister Big"

Palu “Mister Big”

Pada hari yang berbahagia tersebut seperti telah disepakati sebelumnya Barbarossa menjadi pendamping Tuan Takur pada acara akad nikah. Amish Khan, Laksamana Chen dan Mister Big terlihat dikeramaian. Astaga, ceramah Tuan Kadi hari itu sangat panjang. Menjelang akad nikah dilaksanakan tidak ada anggota ABL lagi yang hadir. Tabib Pong, Penyair dan Mas Jaim sama sekali tidak terlihat batang hidungnya,  raut kekecewaan terlihat jelas di wajah Tuan Takur. Meski begitu putra kebanggaan ayah itu maju dengan gagah berani menghadap pak penghulu. Lafadz akad nikah yang diucapkan merupakan yang paling jelas, lantang dan paling penuh keyakinan di antara semua anggota Assosiasi yang telah menikah. Tuan Takur Senior menitikkan air mata bahagia, “anak ayah memang selalu membanggakan.”

Cambuk "Prof.Gahul"

Cambuk “Prof.Gahul”

Tuan Takur dikelilingi oleh Amish Khan, Barbarossa, Laksamana Chen serta Mister Big pun duduk disudut masjid ketika para undangan sudah berangsur pergi. Mereka membuka surat dari Professor Gahul. “Tuan Takur, kamu adalah seorang lelaki sejati. Saya bangga kepadamu. Salam Professor Gahul.” Hari ini adalah hari yang cerah, akan tetapi wajah Tuan Takur terlihat sedikit hambar. Mengapa yang lain tidak datang?  Apakah inti kami sedang diguncang?

XXXXXXX

Perisai "Tabib Pong"

Perisai “Tabib Pong”

Pada sebuah tempat di kota Bandar. Tabib Pong tertidur sangat pulas, ketika matahari mengenai wajahnya ia menggosokkan mata. Sayup-sayup terdengar azan Dhuhur, terkejut ia terbangun. Celaka! Ia memukul dahinya keras, melewatkan pernikahan sahabat bukanlah hal terburuk yang pernah ia lakukan. Tabib Pong merasa sangat bersalah, ia mengutuki kelalaian ini. Semalam ia mengobati seorang pasien yang terinjak kuda, luka orang tersebut sangat memilukan. Tabib Pong mengobati pasien tersebut hingga azan Shubuh. Kelelahan ia tertidur. Takdir Tabib Pong tidak bertemu dengan Tuan Takur.

Katana "Mas Jaim"

Katana “Mas Jaim”

Sedikit lebih pagi, Mas Jaim memacu kuda menuju tempat acara akad nikah Tuan Takur. Kudanya berpacu dengan waktu, ia baru bekerja sebagai kurir pada perkebunan dipinggir kota Bandar. Selesai melaksanakan tugas ia bersegera. Semua berjalan lancar, sampai tiba-tiba sebuah gerobak buah muncul memotong. Tak ayal, kuda Mas Jaim menghantam gerobak tersebut. Dengan sigap ia melompat ke arah rerumputan di samping namun nahas bagi Mas Jaim. Ketika mencoba berdiri, kepalanya berkunang-kunang dan tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan.

Busur "Penyair"

Busur “Penyair”

Sehari sebelumnya di lain tempat, Penyair  mengendarai kuda poni pelan kearah Kerajaan Bandar. Ia dalam perjalanan pulang dari tugas mengantarkan hasil cukai pasar ke ibu kota Kekhalifahan. Saat ini musim hujan sedang menyirami seluruh negeri, meski begitu hujan deras disertai petir menyambar tidak menghalangi ia untuk tetap maju. Sayang, segala keteguhan hati itu ternyata harus berhadapan kenyataan bahwa jembatan putus di perbatasan negeri Bandar akibat arus air terlalu keras dari arah gunung. Kuda poni milik Penyair memang tidak dapat berlari kencang, tapi memiliki ketangguhan melewati sungai. Namun tetap saja ia harus menunggu sampai aliran  sungai tersebut berkurang, jika memaksakan Penyair dan kudanya akan terseret ke lautan. Sambil memaki sekali dua kali, ia mundur mencari penginapan terdekat, seraya berharap dapat gemuruh air segera berakhir. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Penyair baru memasuki Bandar setelah Ashar. Akad nikah Tuan Takur telah berakhir.

XXXXXXXX

Keris "Barbarossa"

Keris “Barbarossa”

Malam hari di kota Bandar. Barbarossa gusar terhadap kelakuan teman-teman yang tidak dapat berhadir pada akad nikah Tuan Takur, “Kalian harus meminta maaf! Tidakkah kalian menyadari bahwa kalian bertiga telah melanggar tradisi. Apapun alasannya kalian telah mengecewakan kami dan Tuan Takur!” Bagaimana bisa, ia menjadi satu-satunya anggota ABL yang belum menikah hadir dalam acara Tuan Takur. Ada kemungkinan ia menikah berikutnya, maka saat itu ia cemas tiada pendamping bagi dirinya. Laksamana Chen hanya menggelengkan kepala, sedang disisi lain Tabib Pong, Penyair dan Mas Jaim menunduk meringkuk di lepau nasi.

“Tolong sampaikan permohonan maaf kami kepada Tuan Takur.” Mas Jaim membuka suara.

“Beta memang tidak bisa, beta sudah berusaha tapi jembatan putus.” Sahut Penyair.

“Dalam hal ini, akulah yang paling bersalah.” Aku Tabib Pong.

“Sudahlah, kita ini sudah seperti saudara. Sesama saudara harus saling memaafkan, yang penting kalian harus menjelaskan ketidakhadiran kalian langsung ke Tuan Takur. Jangan sampai kalian dicap sengaja memboikot pernikahan dia.” Laksamana Chen mencoba bijak.

“Tentu tidak Laksamana Chen, beta rasa Tuan Takur cukup memahami bahwa kami yang tidak hadir bukan karena disengaja. Sekarang dia sudah menikah, jelas ia sudah dewasa.” Suasana hening di lepau nasi itu. Ketika dirasakan seolah malaikat lewat, beberapa remaja berkuda berkonvoi menggunakan sambil berteriak-teriak girang. Ujian Sekolah Kekhalifahan baru saja berakhir, generasi baru telah hadir. Penyair menatap rombongan itu dan berkata, “lihatlah anak-anak itu! Masihkah mengingat bahwa kita pernah seperti mereka, hari ini kita mengatakan mereka terlihat dungu. Akan tetapi siapa tahu? Kelak mereka semua akan mengalahkan kita.” Anak-anak tumbuh sangat cepat, mereka tumbuh besar setiap hari. Setiap menit dan setiap detik

Sekali lagi sepi menguasai mereka. “Mereka tidak datang?” Tanya Tabib Pong. Amish Khan, Mister Big dan Tuan Takur malam ini tidak hadir ke lapau nasi.

“Buat apa hadir ke lepau nasi kalau sudah ada yang memasakkan Pong?” Bukan menjawab Mas Jaim malah meracau. Semua yang rutin sekarang mulai berganti.

“Atau sekarang mereka menjadi suami-suami takut istri?” Praduga kejam Barbarossa.

Tombak "Laksamana Chen"

Tombak “Laksamana Chen”

Laksamana Chen tersenyum melengos. Mulutnya diruncingkan ke atas. Sebuah gaya khas meragukan kata-kata Barbarossa. Kemudian ia cekakan. “Ya sudahlah tidak usah dipikirkan terlalu! Kita makan nasi ini saja sebelum dingin. Tokh semua orang memiliki urusan masing-masing yang tak perlu orang lain tahu. Ingat itu!” Dunia tak akan pernah berubah jika kita tak bergerak, dunia selalu berganti setiap hari begitupun manusia.

Mereka tertawa, dan keheningan yang biasanya timbul ditengah percakapan kembali menyerang mereka, celah yang terbentuk akibat keletihan, keakraban, dan kebalikannya akibat sekian banyak pertentangan yang telah diberikan mereka yang sebelum ini telah menjadi kehidupan seiring sejalan tanpa pertentangan.

XXXXXXXXX

Maka ABL telah siap menyambut kesendiriannya selaku organisasi, dan kedamaian yang dialaminya sekarang justru ketika satu demi satu punggawa meninggalkan mereka. Ketidakhadiran suara-suara anggotanya, saling sahut menyahut termasuk suara mereka sendiri. Menjadi alunan nina bobo yang selama sementara bisa menghapus rasa takut menghadapi masa depan. Ya, masa depan! Adalah Enigma, teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya. Hari ini Assosiasi mengabaikan masa depan dan minum secangkir teh serta bersuka ria selagi mereka memiliki kesempatan untuk menikmati dunia ini, (selagi bisa) bersama-sama.

XXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  8. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  9. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s