SEBUAH KOTA BERAGAM CERITA

A MONKEY AND PULPYMasa lalu mungkin bisa salah diingat, sebenarnya masa lalu juga berubah bersama masa depan. Meski setiap orang memiliki satu dua cerita lampau yang tak perlu diketahui orang lain. Akan tetapi, selalu ada yang berbeda jika harus ke kota ini, sebuah kota dimana aku merasa terikat olehnya. Sudah berjalan dua tahun, keadaan kota berubah sedikit. Jadi inilah tempatnya, dan disini suasananya sama sekali tidak berubah. Ketika aku mulai memasuki kota ini, sesuatu yang hangat menjalari tubuhku. Ada perasaaan hangat yang terus aku tekan, untuk pertanyaan itu aku sudah menemukan jawaban yang tepat.

Sebelum semua menjadi terlalu bijak, biarkanlah aku mengenang sesaat. Ketika aku bukanlah aku yang sekarang menjejakkan kaki pertama kali di kota ini. Sebuah kota yang jalan-jalannya lebih aku ketahui ketimbang tempat aku dilahirkan. Ketika aku bertemu dengan orang-orang di kota ini, aku menjadi banyak tertawa dan juga bertengkar dengan mereka. Yang aku alami biasa-biasa saja, tapi aku merasa senang. Aku tahu jalan hidupku tidak menggariskan aku biasa senantiasa selalu bersama mereka, aku pun paham bahwa kelak aku akan pergi. Tapi berada di antara mereka begitu menyenangkan. Dan aku bahagia bersama mereka. Itu bukanlah berarti aku tidak bahagia di tempat lain, akan tetapi tiap ketenangan memiliki cita rasa sendiri, dan kota inilah yang telah membentuk sebahagian besar diriku.

Hari ini. Sejujurnya aku tidak tahu, apakah sudah menjadi seseorang yang lebih baik ataukah lebih buruk. Namun jika aku mengingat, betapa bertahun lalu sebelum tiba di kota ini sungguh aku tidak mengetahui banyak hal, terlalu banyak malah. Di kota ini aku belajar memahami ketidaksempurnaan manusia, bahwa ada butir-butir hikmah belum terceritakan dalam segala kitab. Beberapa mengatakan itu kedewasaan, beberapa lagi berkata gejala ketuaan. Entahlah, mungkin aku sudah tidak memiliki ambisi menegakkan sebuah kebenaran sebagai sesuatu yang kaku.

Mungkin aku tidak akan menceritakan semua. Belum, ini belum selesai. Masih jauh di ujung sana tempat yang ingin kudatangi. Di sini, di kota ini adalah sebuah persimpangan jalan yang telah menempatkanku hari ini.

Lhokseumawe, 22 Februari 2013

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s