HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

ASSOSIASIBerapa orang tokoh seri Assosiasi Budjang Lapok yang kalian ketahui? Satu orang? Sepuluh orang? Jika dari semuanya, nama yang satu ini tidak ada. Tolong kalian mengingat baik-baik! Diantara mereka ada seorang lelaki, sifatnya tenang, dingin penuh perhitungan dan kejam. Orang-orang di luar ABL mungkin tidak menganggap serius dia, terlihat pendiam akan tetapi pada orang itu tidak ada satu pun anggota ABL berani mencari pasal. Ahli tipu daya dengan kemampuan untuk melihat kebenaran tanpa tertipu, selalu berpikir tenang bahkan dalam perdebatan yang sebenarnya (mungkin) tak ia pahami, itulah dia. Laksamana Chen.

“Aku benci hal-hal yang rumit, jadi kalian jangan membicarakan hal rumit, kepalaku pusing!” Itu pertanda Laksamana Chen sedang memiliki banyak pikiran, entah di kedai obat, entah di perguruan silat. Tidak ada yang berani menanyakan sebab-musabab, dan itu pertanda segenap anggota ABL harus mengganti pokok pembicaraan ke arah lucu-lucu dan menghibur, walaupun ABL merupakan organisasi egaliter, dalam kondisi begini tidak ada yang bantahan semua langsung mengikuti, setidaknya hingga hari ini. Semacam ada hukum tak tertulis bahwa masuk ke ABL harus mendapat persetujuan Laksamana Chen, tanpa tendeng aling-aling. Dia yang seumur hidup tak pernah menjejakkan kaki keluar dari kota Bandar ini menjadi orang pertama menguji anggota baru ABL.

Baru-baru ini, anggota ABL terbaru, Mas Jaim kebanyakan berbual-bual sambil tertawa bersama anggota ABL lain, Laksamana Chen sedang kumat asam lambung dan tidak tahan, ia berkata, “Tatap mata saya Mas Jaim!” Kemudian melambai-lambaikan lima jari ke mata Mas Jaim, “Mas Jaim ingat ya, jangan terlalu banyak bicara!” Mimik Laksamana Chen sangat serius, Mas Jaim terdiam, mata kosong dan akhirnya mengangguk-angguk. Semenjak hari itu Mas Jaim menjadi anggota ABL yang paling pendiam, sewaktu Laksamana Chen hadir.

Pernah ada yang melawan, “Sejak bergabung di ABL ini, aku menjadi terlalu mudah marah, ini mungkin karena aku adalah sasaran olok-olok kalian, terutama kau! Laksamana! Paruhmu paling tajam! Aku adalah seorang pangeran, ingat itu! Kepala aku meledak-ledak tahu.”

Laksamana Chen menunjuk hidung sendiri.

“Jadi aku yang kau salahkan Pong? Bukan yang lain? Baiklah kalau begitu aku minta maaf.” Laksamana Chen dengan serius menjulurkan tangan kepada Tabib Pong, ketika tangan mereka terjabat, ia tertawa terbahak-bahak senang. Tabib Pong terdiam. Ia tahu atau kelak akan tahu selama tiga bulan kedepan akan menjadi sasaran olok-olok dangan julukan baru, “Pangeran meledak-ledak.”

Seorang paling berani di ABL, Tuan Takur pun khilaf. “Silahkan kritik aku teman-teman! Terutama Laksamana Chen, karena aku menyadari menjadi sukses itu tidak muluk, yaitu berani menerima masukan dari orang lain sehingga menjadi pribadi lebih baik.”

Pada detik ini biasanya orang-orang digrup lain akan tersenyum, memuji dan menyanjung sang Pahlawan, maka tepat sebelum sang Patriach Barbarossa melakukan hal lazim itu, Laksamana Chen datang menyambar, “apa kritik-kritik! Hari ini bilang A, besok bilang B. Macam kami tidak tahu kau siapa! Kamu itu masih labil, belum siap menerima masukan dari kami. Sudah nikmati saja nasi lepau ini, selepas itu pulang terus tidur.” Selesai berbicara Laksamana Chen bersiul-siul.

“Dangkal!” Kemudian Tuan Takur pun berkaca-kaca dipojokan.

Satu lagi, Laksamana Chen ini senang ke pasar, melihat-lihat barang-barang terbaru. Dan bila ingin kesana, orang yang selalu diajaknya adalah Mister Big. Kelucuan pertama, entah apa kejadian di pasar, Mister Big selalu membeli barang yang katanya hendak dibeli Laksamana Chen, sedang ia pulang dengan tangan hampa. Kelucuan Kedua, besoknya Laksamana Chen pergi ke pasar sendiri, dan dapat membeli barang yang mirip dengan harga lebih murah. Paling lucu adalah fenomena ketiga, Mister Big selalu mau diajak ke pasar. Bisa dibayangkan betapa kuat sugesti orang ini.

Sang Patriach pun tak luput, pernah entah terkena angin apa ia bergumam sendiri, kebetulan ada Laksamana Chen, Mister Big dan Penyair, “Aku berbeda dengan orang lain. Aku suka dengan perempuan berkulit putih, tinggi, berambut hitam tebal, wajah oval, pakaian modis dan kalau bisa anak saudagar kaya.” Ia tertawa girang, kemudian menambahkan, “itu baru type aku, cocok menjadi istri, di luar itu bukan type aku.”

Dalam lepau nasi penuh sesak itu, seperti tersengat Laksamana Chen duduk tegak, tersenyum kemudian bertepuk tangan. “Ada ya? Yang punya type seperti itu? Ternyata kamu, saya tidak menyangka.” Ia mengeleng-gelengkan kepala, memberi kesan takjub.

Barbarossa tidak mengerti tambah semangat, “tentu ada dong Laksamana, kalau dicari pasti ketemu type seperti itu.” Mata mengawang-awang, cekikikan.

“Bukan tentang pencarian Barbarossa, type kamu itu berbeda dengan orang kebanyakan, seperti aku, Mister Big atau Penyair. Kalau type kami, hitam, gemuk, rambut acak-acakan dan kemana-mana mengenakan daster.” Laksamana Chen memasang wajah serius, Mister Big dan Penyair ingin membantah, namun mundur dengan satu delikan dari Laksamana Chen.

Barbarossa tak kunjung mengerti, tertawa dan mengejek, “ternyata begitu type kalian, sungguh kasihan.” Ia mengeleng-gelengkan kepala, lalu menambahkan volume tertawa, senang.

“Iya, kalau kamu membayangkan bahwa kamu satu-satunya laki-laki normal didunia ini! Apa yang kamu sebut tadi itu adalah type semua laki-laki! Asal sebut saja, seolah-olah berbeda dengan kebanyakan orang. Sebelum berbicara, berpikir dahulu!” Laksamana Chen membetulkan rambut, sekejap tawa hilang diwajah Barbarossa.

Maka yang paling cerdik di ABL adalah Amish Khan, ia yang bertampang berandalan itu tak pernah berhadapan vis-à-vis dengan Laksamana Chen, belum-belum ia memproklamirkan diri sebagai sekutu setia, pinang dibelah dua dari Laksamana Chen. Mereka mempunyai persamaan kepentingan selalu menyerang sang ketua, Barbarossa pada setiap kesempatan muncul. Satu lagi kesamaan mereka, yaitu menyukai cerita kocak, ringan dan lucu-lucu.

Mengenai lucu-lucu, maka yang kena adalah Penyair. Seseorang yang memiliki jiwa puisikal (mungkin) kurang mampu menyerap sesuatu yang kocak, jika ada kelucuan Penyair adalah yang terakhir mengerti, cenderung kebingungan. Biasanya ia diam, semua berlalu dengan biasa hingga Laksamana Chen kumat. Suatu ketika Amish Khan bercerita tentang seorang banci tak terawat jatuh dalam sumur, semua anggota ABL tertawa kecuali Penyair.

“Kenapa tidak tertawa Penyair? Bukankah cerita pinang sebelah saya lucu?” Tanya Laksamana Chen. Heran melihat penyair, hanya bersemangat ketika membicarakan sesuatu hal serius.

“Beta tak merasa kisah itu kocak, apakah lucu kita menertawakan kisah seorang anak manusia malang jatuh ke dalam sumur?” Penyair adalah penyair, membawa nilai-nilai ideal kemana pun ia berada.

“Aduh Penyair!” Laksamana Chen menutupi muka dengan kedua tangannya. “Itulah akibat terlalu banyak bergaul dengan kitab, semua hal dibawa serius. Lama-lama kamu nanti jadi kutu buku.” Anggota ABL serentak tertawa, akan tetapi Penyair masih bingung.

“Aku bercanda Penyair, kamu bukan kutu buku tapi robot berdasi! Semua tahu, seperti perpustakaan berjalan.  Ingin tahu sejarah tanya penyair! Ingin tahu niaga tanya penyair! Apalagi Ingin tahu syair tanya penyair!” Lagi-lagi anggota ABL lain tertawa terbahak, bahkan Amish Khan sampai memukul-mukul meja. Penyair masih bingung.

Laksamana Chen mengambil wajah serius, “biar aku permudah. Hidup ini sekali-kali kita perlu tertawa, untuk melepaskan beban terhadap dunia. Itulah Humor!” Akhirnya Penyair menganguk-angguk, paham dan sejak hari itu Penyair belajar humor.

Professor Gahul “acap” luput terkena paruh tajam Laksamana Chen, jarang bergabung di lepau nasi bersama, sibuk penelitian. Apalagi Santiago sang pelaut, hampir tak pernah pulang lagi ke Bandar, tambah lagi sejak menikah Santiago belum pernah berbual-bual lagi bersama Assosiasi.

Itulah Assosiasi Budjang Lapok (ABL), pada awalnya mereka adalah individu yang berjalan sendiri-sendiri. Namun, suatu rantai yang tidak terlihat telah mengikat mereka. Sedikit pertengkaran tidak akan mampu merusak persahabatan mereka. Saling menerima kekurangan seraya saling melengkapi, itulah essensi dari persahabatan.

X

Disini, semua terasa menyenangkan bagi Laksamana Chen, hingga di suatu malam berangin. Di sebuah lepau nasi, hanya bertiga. Barbarossa, Laksamana Chen dan Mister Big terhanyut dalam hening. “Jadi kita begini-begini saja? Setiap hari di lepau nasi, tidak ada kemajuan! Ini sudah tidak bisa dibiarkan!” Laksamana Chen melihat kearah kedua temannya, Mister Big mengangkat bahu tak paham. Barbarossa memandang balas, mata mereka bertemu menunggu reaksi lanjutan.

“Kegilaan ini harus berhenti! Sudah saatnya kita berhenti bermain! Kalian tidak berpikir untuk mencari pasangan hidup? Menikah.

“Apa macam membicarakan pernikahan? Biasanya berbicara serius sudah sakit kepala. Masuk jin ya Laksamana?” Barbarossa membalikkan kata-kata Laksamana Chen selama ini, tepat dimuka.

“Kamu lebih muda dariku, makanya tidak paham.” Belum pernah Laksamana Chen semarah ini, dia yang biasa bercanda selalu terjebak dalam tawa sehingga ketika serius pun dianggap sedang main-main. “Aku pulang!” Laksamana mengeluarkan koin dari kantong kain, kemudian bergegas diikuti suara ejekan Barbarossa, “Jeeeh, itu saja merajok.” Dalam kondisi biasa Laksamana Chen berbalik, membalas pantun tersebut. Akan tetapi ini adalah keadaan tak biasa, ia terus pulang.

Mister Big bergeser dan bersuara pelan, “sepertinya kali ini Laksamana serius.”

“Benar, Pak Tua itu serius.” Barbarossa menghirup dalam-dalam tembakau linting.

“Terus?”

“Apanya terus? Aku paling kehilangan kalau Pak Tua itu menikah, tapi sudahlah mungkin sudah waktunya dan itu pun demi kebahagiaan dia juga, sepatutnya kita juga berbahagia.” Barbarossa mengambil gelas dan minum.

Seraya menyalakan tembakau linting, Mister Big berseloroh. “Tidak secepat itu juga kali, mana mungkin secepat itu ia menikah. Jangan terlalu berlebihan Barbarossa. Sekarang Laksamana belum melakukan apa-apa, belum juga punya calon.”

Tapi Barbarossa hanya bilang, “Aku kenal Pak Tua itu lama, ketika ia sudah mulai bergerak maka hasilnya tak akan lama.” Tampaknya, itulah yang terjadi.

XX

Roda pun berputar yaitu roda yang disebut nasib, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun yang bisa mengubahnya dan tak seorang pun bisa lolos darinya. Hari hari kemudian seolah berlalu seperti biasa, anggota ABL kembali dalam tawa, canda dan ceria. Tiga bulan kemudian Laksamana Chen datang ke lepau nasi dengan mata berbinar, senyum merekah. “Aku telah menemukan surga.”

Hidup manusia dilecut waktu, empat bulan kemudian sebuah undangan dilemparkan ke Assosiasi, undangan pernikahan Laksamana Chen. Meski akan menikah, Laksamana Chen tidak kehilangan selera humor dengan menabuhkan kata-kata, “WAJIB HADIR!!!” Malam menjelang pernikahan tersebut terjadi gempa bumi di Kerajaan Bandar, terjadi kegemparan sesaat. Kemudian malam kembali tenang.

XXX

HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOKDi pagi yang cerah itu. Laksamana Chen didampingi Amish Khan disisi kiri. Ketika Laksamana hendak maju menghadap Tuan Kadi ada sedikit cameo. Karena kelamaan duduk, kram. Untung Amish Khan cekatan memijat, sehingga langkah pun gagah. Ketika ijab qabul lancar diucapkan, maka kegembiraan membuncah ke langit. Anggota ABL di sudut jauh senyum-senyum.

Ini adalah perjamuan terakhir, ini adalah perpisahan kami. Menunggu para hadirin lain pulang, di dalam ruang sakral itu anggota ABL cekikikan dan bergurau layaknya kanak-kanak. Tuan Takur mendorong kesana-kesini, Penyair bertindak sebagai security dadakan, sedang Amish Khan meniru gaya undangan perempuan yang memamerkan gaun baru, aneh-aneh dan sangat lucu. Suasana ini tidak didapatkan jika yang menikah bukan Laksamana Chen, raja lucu-lucu. Sampai suasana sepi, tiba saatnya untuk mengucap salam perpisahan dan berpelukan.

“Kamu luar biasa.” Professor Gahul.

“Inilah yang dinamakan sejarah.” Penyair.

“Aku tahu kamu pasti ingin cepat-cepat pulangkan?” Barbarossa.

“Jangan berubah Laksamana.” Mister Big.

“Sekutu saya.” Amish Khan.

“Jangan terlalu menjaga wibawa di depan istri.” Mas Jaim.

“Jangan lupa pemanasan, agar tidak kram.” Tuan Takur.

Ketika anggota Assosiasi pulang, Nyonya Chen berbisik, “Siapa mereka bang?”

“Mereka mungkin terlihat seperti kumpulan orang bodoh. Tapi jangan tertipu, mereka adalah orang-orang terbaik.” Nyonya Chen cemberut. “Tentunya setelah kamu, surgaku.” Tambah Laksamana Chen, pipi Nyonya Chen bersemu dadu.

XXXX

Ada yang menyedihkan sekaligus ada yang menyenangkan melepaskan seorang sahabat. selepas ini dunia tak akan lagi sama, Assosiasi telah kehilangan “filter” alias penyeleksi terbaik yang pernah mereka miliki. Ada yang hilang dalam rutinitas lepau nasi selepas akad nikah Laksamana Chen, hari itu menjelang panggilan shalat Jum’at.

“Detik-detik pembubaran ABL.” Seloroh Barbarossa.

“Jangan!” Teriak Mas Jaim, dia masih tiga bulan bergabung, keakraban ini begitu berarti. Sayang jika hancur. Amish Khan, Professor Gahul dan Mister Big sudah memiliki rencana masa depan jadi tidak alasan membantah.

“ABL tinggal kenangan?” Tanya Penyair sekali lagi.

Ketika semua kebingungan, Tuan Takur bersuara. “Kalian bisa melihat tadi pagi. Ia mungkin mempunyai banyak teman-teman lain, tapi dari sorot matanya aku bisa melihat. Assosiasi yang paling diharapkan, yang paling berharga. Mata itu jendela jiwa.”  Biasanya, ini adalah saat-saat Laksamana Chen turun tangan, mematahkan semua kata-kata romantik. Ia benci segala omong kosong gombal tahi minyak itu, akan tetapi kali ini Laksamana Chen tidak ada. “Jadi, sungguh sangat disayangkan jika apa yang telah kita bangun ini hancur! Jangan! Meski relevansi bisa hilang, ABL itu institusi! Jangan bubar!” Tuan Takur berapi-api berorasi.

Barbarossa tersenyum cerah, “mungkin kelak kita bisa berganti bentuk dikemudian hari.”

“Evolusi.” Tambah Mister Big.

“Bersalin rupa.” Timpal Penyair.

“Entahlah.” Mas Jaim.

“Kupu-kupu.” Amish Khan.

“Transformasi.” Professor Gahul.

Saatnya akan tiba, tentang kemungkinan-kemungkinan dihadapi kelak. Namun jika dipikir mendalam, ini sebuah bukanlah akhir. Melainkan adalah awal dari tingkatan berikut. Banyak berhasil, beberapa gagal. Kita meyakinkan mereka mampu mengatasi apapun itu, karena cerita ini bukan kisah sembarang orang, (Akademi) Assosiasi Budjang Lapok. Jika terselip keraguan, singkirkan segera! ABL adalah legenda.

XXXXX

Ketika semua terasa akan hilang bersama lentera malam di lepau nasi dinyalakan, tiba-tiba Laksamana Chen hadir, tepat di malam pertama masih bersenda gurau bersama. Ternyata, alasannya adalah belum berani menginap di rumah mertua, owaaaaalah. Dan waktu melambat perlahan.

XXXXXX

 

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Sangat jarang saya menemukan sebuah blog yang informatif dan menghibur seperti ini…

  2. Pingback: DENDANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: PERKASA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  8. Pingback: MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  9. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  10. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  11. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  12. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  13. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s