NGANGKANG STYLE

Ngangkang Style“Sebuah prasangka yang benar-benar menyinggung siapa pun yang berhati luhur dan mulia adalah prasangka syahwat sebagai dasar hasrat manusia”

Terus terang ada keraguan mendalam menyikapi tindakan Pemko Lhokseumawe yang akan melarang perempuan mengangkang di Sepeda motor. Timbul pertanyaan, apakah sudah cukup lengkap pengetahuan kita tentang aturan tersebut? Tentang apa yang menjadi pertimbangan? Tentang sebab dikeluarkan? Karena sebagai manusia rasional, sebaiknya melengkapi reaksi dengan pola pikir komprehensif, agar menghasilkan reaksi terukur, bukan hanya semata gejolak reaksioner semata.

Ketika lembaga formal bicara moral, merumuskan norma serta malah menjadikannya hukum secara resmi, mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah, atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum maka dengan serta merta menghilangkan esensi norma yang sejatinya selalu berkembang dengan kesepakatan-kesepakatan masyarakat.

Menetapkan standar moral berdasarkan praduga bahwa perempuan yang duduk mengangkang saat di sepeda motor membentuk tubuh sehingga mengundang birahi adalah penerapan etik yang dingin, memberi label buruk adalah sangat aneh. Ketika umara mengatur nilai yang sangat detil, mengambil alih peran ulama mengurusi hukum agama, seperti melewati batas atau malah jangan-jangan produk kolaborasi, ketika umara melupakan perannya meningkatkan kesejahteraan, melarikan diri dari substansi malah masuk ke ranah moral. Apa pentingnya mengatur cara perempuan duduk diatas kenderaan bermotor? Bukankah sudah jelas itu merupakan tanggungjawab orang tuanya, atau wali jika ia sudah tidak memiliki orang tua, atau suaminya jika ia telah menikah, ataukah tidak ada pekerjaan lain di dunia sehingga masuk ke dalam rumah tangga orang, ironi ketika banyak peran besar tidak dilakukan dengan baik, akan tetapi hal tidak penting dibesar-besarkan.

Siapapun dia yang berpikir akan sangat terganggu dengan irasionalitas di balik keluarnya aturan ini, sangat tidak substansial, sangat tidak penting mengatur cara orang duduk. Kita boleh lupa, akan tetapi sejarah mencatat Aisyah r.a memimpin perang Jamal dari atas unta. Sejarah Aceh mencatat Laksamana Malahayati melakukan pertempuran satu lawan satu melawan Jenderal Cornelis de Houtman digeladak kapal tanggal 11 September 1599, kita mengenal dibelakang hari ada para pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia sampai bahkan Pocut Baren. Atau jika kita lebih jauh meneliti lagi timeline sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam dulu pernah selama 59 tahun dibawah pemerintahan 4 Sultanah yaitu ; Sultanah Safiatuddin (1641-1675), Sultanah Naqiatuddin (1675-1678), Sultanah Zaqiatuddin (1678-1688) dan Sultanah Zainatuddin (1688-1699). Satu hal yang langka di dunia muslim, karena hanya sedikit para perempuan yang pernah menjadi sultanah antara lain, Sultanah Syajaratul al-Daur yang memimpin kerajaan Mameluk di Mesir dan Sultanah Raziah di Delhi India dan bahkan pada zaman keemasan Pasai terdapat seorang ratu perempuan yang bernama Sultanah Nahrasiyah. Tanah ini sangat banyak melahirkan perempuan yang agung (grande dame), jadi apakah menurut kita kebijakan ini tidak terlihat mengada-ada?

Kita mungkin lupa, di dunia ini, manusia adalah manusia. Ketika manusia melakukan tindakan keji seperti memperkosa dan membunuh apakah ia masih layak dinamakan manusia? Tetap ia manusia yang berhak untuk dimaafkan, benar perilakunya adalah iblis. Dan jangan lupakan pula merupakan hak dari pihak yang dirugikan melihat ia dihukum apabila tiada permaafan dari apa yang dilakukan, dan wajib itu semua harus melalui proses pengadilan. Dan jika seseorang dianggap bersalah, lalu ia dibakar, apakah yang membakar itu juga manusia? Tetap yang melakukan itu juga manusia, akan tetapi ia telah meninggikan dirinya lebih dari tuhan. Mengapa? Karena hanya Allah S.W.T yang berhak mengahzab bakar, itupun di neraka bukan di dunia. Satu orang manusia adalah keseluruhan dunia, bagi mereka yang mencintainya, karena itu agama mengajarkan kasih sayang.

Sebuah prasangka yang benar-benar menyinggung siapa pun yang berhati luhur dan mulia adalah prasangka syahwat sebagai dasar hasrat manusia, apalagi seolah membicarakan surga padahal mengincar neraka, sebuah aturan yang tidak jelas muaranya akan menodai keadilan dan banyak mudharat. Efek yang paling mengerikan dari hukum ini adalah ketidakmampuan Negara menjadi hakim sehingga mengundang pihak-pihak yang bersimpati kepada peraturan ini menjadi hakim, maka terciptalah chaos dan lahirlah anarki, ketika seseorang yang belum tentu bersalah dihakimi oleh orang banyak, maka disitulah perilaku barbaric terlihat jelas. Wajah Islam penuh kasih sayang tercoreng oleh perilaku oknum masyarakat, diawali pola pikir penguasa yang bahkan tidak mengerti agama mendalam, tidak tahu esensi akan tetapi membawa-bawa nama agama.

Salah satu prinsip keadilan adalah lebih baik membebaskan pelaku yang bersalah, dibanding harus menghukum orang yang tidak bersalah, apalagi jika hukuman itu dijatuhkan hanya untuk hal remeh-temeh, tak penting, tidak jelas secara agama sekalipun apalagi secara hukum dan cenderung dungu, peraturan tentang cara duduk yang disebut ngangkang style.

XXXXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to NGANGKANG STYLE

  1. karangsati says:

    baru tau saya kalau model duduk begini akan masuk ranah hukum segala. hahaha…

    • tengkuputeh says:

      Yang lebih lucu lagi adalah ketika saya mencari dokumen pendukung tentang duduk menyamping berkuda ternyata ditemukan, yaitu di Eropa. Yang saya sebut Eropa ini adalah ketika mereka dalam abad kegelapan (The Dark Ages) Dalam buku ‘The Young Lady’s Equestrian Manual’, tahun 1300-an di Inggris. Jadi peraturan aneh ini dibuat untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam memberikan pelayanan publik semata. Sayangnya ada beberapa orang ‘pintar’ terbodohi untuk mendukung peraturan ini, dan ironisnya lagi mereka sampai sekarang hanya sekedar mendukung tanpa pemikiran yang komprehensif sama sekali.

  2. Aulia says:

    padahal ini hal sepele, tapi kini jadi kompleks😀

  3. karangsati says:

    eh tapi saya suka ngeliat cewek kalo duduk dibonceng motor/sepeda menyamping. gaya jadul gitu, malah elegan keliatannya gitu hehehe… tapi kalo naik sendiri masak menyamping duduknya, malah jadi bahaya ya

    • tengkuputeh says:

      Saya sepaham dengan Kang Karang, duduk menyamping itu lebih baik, jika kondisi memungkinkan😀
      Intinya bukanlah lebih baik duduk menyamping atau mengangkang, namun sebuah peraturan yang Katanya untuk menghormati wanita. Tapi kenapa banyak wanita yang protes? Karena pada dasarnya manusia tidak suka diatur dengan peraturan yang sebenarnya tidak perlu.😀

  4. acehstory says:

    di tempat saya (pidie jaya) tidak ada wanita duduk ngangkang, dan juga tidak ada orang melarang karena peraturan semacam hanya masalah kondisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s