UDIK INVATION

SIEGE OF BAGHDAD 1528Dasar orang udik! Dasar anak kampung! Pernah mendengarkan kalimat tersebut? Atau pernah mengucapkan? Tidak salah memang. Saat ini zaman kota , segala yang bernama udik, kampung identik dengan keterbelakangan.

Disekolah kita diajarkan bahwa orang kota lebih berpendidikan, berkecukupan namun kecendrungan induvidualistis sedangkan orang yang tinggal di desa memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, hidup sederhana namun memiliki rasa social yang tinggi. Mungkin benar, namun tidak mutlak.

Walau begitu saat ini semakin banyak orang dari desa yang mencari penghidupan di kota, persepsinya adalah kota menjanjikan peluang. Cerita-cerita kegagalan para perantau tertutup oleh keberhasilan segelintir orang.

Adakah kota lebih baik dari desa? Kota menjanjikan kenyamanan dalam hidup, semuanya tersedia asal punya uang. Mottonya “ Ada uang ada barang”. Namun kota juga memiliki penyakit, yaitu kekotaannya itu sendiri.

Belajar dari masa lalu, lihatlah bagaimana bangsa Indo German menghancurkan Romawi Barat, bangsa Arab menghapuskan Kerajaan Persia yang berusia ribuan tahun, Mongol/Tatar membumihanguskan Baghdad ibukota kekhalifahan Abbassiyah, bangsa Turki mengalahkan Kekaisaran Byantium dan memduduki ibukotanya Konstantinopel dan menganti namanya menjadi Istanbul.

Menurut Ibn Khaldun “Kebudayaan yang kalah akan mengikuti kebudayaan pemenang” dan tentu saja penaklukkan bangsa Mongol/Tartar terpaksa dikecualikan dari teori ini. Kita bisa melihat bagaimana penakluk Mongol/Tartar yang meluluhlantakkan Baghdad akhirnya memeluk agama Islam melalui Takudar atau lebih terkenal dengan Muhammad Khan dan di lain tempat cucu sang penakluk “Jenghis Khan” yaitu Kubilai Khan memilih mengikuti budaya Cina dan mendirikan Dinasti Yuan.

Keberhasilan orang-orang dengan tingkat kebudayaan yang “dibawah rata-rata” itu sendiri disebabkan kedinamisan kebudayaan tersebut menyerap segala kebaikan yang ada pada kebudayaan yang lebih tinggi. Sebaliknya kebudayaan yang sudah merasa tinggi akan mengalami kemandegan dalam kemajuan hingga akhirnya mengalami pembusukan dari dalam.

Lihatlah bagaimana dengan cepat Kesultanan Turki Usmani meniru dengan cepat segala keburukan Kekaisaran Byzantium, hingga akhirnya memggerogotinya hingga lumpuh sedikit demi sedikit. Ataupun Khalifah Abbasiyah meniru gaya Metropolis dengan segala penyakitnya kisra Persia hingga akhirnya mereka diluluhlantakkan oleh Pasukan Tatar (Mongol).

Apakah kota seburuk itu? Tentu tidak! Karena kota mampu menyerap semua unsur dunia dalam satu kesatuan, tanpa melihat batasan Negara, kultur kebudayaan dan lain-lain paham kosmopolitan menyatukan berbagai ragam manusia sebagai sebuah kesatuan. Di dunia modern disebut toleransi, kemampuan memberi sekaligus menerima.

Kota dan Desa adalah dua sisi mata uang, keduanya memiliki sisi baik dan sisi buruk, keduanya melengkapi satu sama lain. Namun mengapa kita sering kali hanya mengikuti segala sesuatunya berdasarkan sisi buruknya saja? Itulah pertanyaannya, mampukah kita menjawabnya. Maka lihatlah, bacalah, rasakan kemanfaatan untuk kelak menjadi I’tibar.

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s