KURANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

LingakaranSeiring bertambah umur disadari bahwa apa yang kita miliki dimasa lalu semakin sulit dijaga, lazimnya segala sesuatu yang tua memiliki biaya perawatan tinggi. Dan jika ia mampu melewati tantangan segala zaman maka ia akan disebut klasik, kenapa? Karena sesuatu yang klasik itu bertahan di sepanjang masa. Disitulah apa yang kuno tak akan hilang, menyibak tipuan kasat mata bahwa dunia akan selalu menjadi muda, padahal bumi ini telah lama ada, yang dikemas dan dikatakan sebagai yang baru, justru tak pernah diciptakan kembali.

X

Assosiasi Budjang Lapok tak luput dari pasang surut zaman, setelah berpolemik dengan Wali yang tak menemukan solusi. ABL menemukan senjanya sendiri, dimana para anggota semakin jarang bersama berbagi kisah di lepau nasi. Penyair yang ekspresionis secara jelas mengungkapkan kekecewaan atas ke-tidakbela-an ABL dalam perang opini dengan wali, sedang beberapa anggota lain (mungkin) merasa malu dengan organisasi bercap menyedihkan ini, begitulah pikiran sang Ketua Barbarossa.

Akhir-akhir ini sering Barbarossa duduk sendiri di lepau nasi, sedang sejawat setia Mister Big sibuk menyiapkan acara pernikahannya diseperempat awal tahun depan. Dan celakanya, dalam kesendirian tersebut, terlalu banyak orang mampir memberi nasehat. Bukannya Barbarossa anti-kritik akan tetapi ia kesal dengan kata-kata yang diawali, “Jika saya dulu.” Apalagi, “Kalau saya.” Dalam ia merasakan ada kesombongan dalam memberi nasehat, padahal belum tentu ia tidak bahagia dan belum tentu yang memberi nasehat lebih berbahagia dibandingkan dirinya, padahal setiap orang memiliki kondisi unik tak berulang pada orang lain, yang terlihat hanyalah yang tersurat seperti kebenaran belum tentu bersama khalayak ramai.

Ada yang kurang.

Kemana lagi Barbarossa bercerita, ia teringat Partner in Crime yang sedang magang ilmu pertabiban dinegeri Selatan Bandar, Tabib Pong. Dalam gundah ia mencoret-coret kertas lontar dengan tulisan cakar ayam, sedari dulu Barbarossa memang terkenal dengan tulisan burik, “Pong, sekarang Assosiasi semua sibuk tak menentu, sering aku makan nasi sendiri di lepau nasi. Jadi Pong, beginilah aku, begini-begini saja.” Dan surat itu pun terkirim ke Selatan.

XX

Ditempat lain, masih di Bandar. Hiduplah si Penyair, berbeda dengan Barbarossa yang glamour si Penyair ini terlalu tenang, terlalu acuh. Jikalah ada dalam sekumpulan orang dimana sepanjang percakapan seseorang tidak pernah bicara, itulah dia si Penyair. Berbeda dengan sikap masyarakat Bandar yang suka berbual-bual, Penyair cenderung menjaga jarak dengan sekitar. Jika dikritik ia akan tersenyum sepanjang waktu, kalau dinasehati ia tidak bersuara. Sayangnya tidak semua orang menyukai tabiat Penyair, apalagi ketika ia terlihat begitu lepas berbicara dalam forum ABL, segera si Penyair dicap sombong dan pilih-pilih kawan.. Entah siapa yang mengawali maka Penyair pun dijauhi, dalam setiap kenduri ia dijauhi, tidak dicakapi. Polah paling bodoh yang dapat dilakukan oleh orang tolol adalah meng-embargo bicara seorang pendiam, Memang dunia ini parodi menggelikan, sikap apapun pasti melahirkan rasa tidak suka, baik maupun buruk.

Setelah berbulan-bulan tindakan embargo itu dilakukan barulah si Penyair sadar, entah karena dia tidak peka atau terlalu banyak bergaul dengan kitab. Di kenduri terakhir, si empunya hajatan tidak tahan dan memberitahu, si Penyair terkejut dan langsung menyadari bahwa ia memang sulit berkawan. Dan ia merasa memang Assosiasi yang paling mengerti dirinya.

XXX

Disuatu malam dilepau nasi, akhirnya datang balasan surat dari Tabib Pong. “Jadi begitu Barbarossa? Tapi tenang bulan depan aku mengambil pakansi, nanti aku temani kau makan tiap hari.” Barbarossa tersenyum senang dan melipat surat, dan tak dinyana Penyair sudah duduk didepan tersenyum.

“Tidak marah lagi Penyair?”

“Siapa bilang beta marah, beta hanya punya sedikit teman di dunia fana ini. Buat apa pula beta marah-marah. Mana yang lain?”

“Yang lain sudah menemukan surga, Oh ya Si Pong bulan depan pulang.” Barbarosa menyodorkan surat ke Penyair.

“Syukurlah, setidaknya bertiga lebih baik dibanding berdua. Apa kata orang-orang kalau kita hanya makan selalu berdua, tahulah pikiran orang zaman sekarang. Sudah tak benar semua.”

Barbarossa dan Penyair tertawa lepas.

XXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to KURANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: DENDANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: PERKASA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  8. Pingback: MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  9. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  10. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  11. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  12. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  13. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s