BUKAN MANUSIA ZAMAN INI

Zaman ini, adalah zaman para motivator. Seberapakah pentingnya mereka? Ketika kau merasakan kegagalan yang pahit sekalipun. Apa perlunya mereka? Mungkin ada, tapi tak lebih dari sedikit. Hanyalah pengobat sementara tanpa solusi paripurna, pernahkah kita berpikir bahwa kebijaksanaan dari pola pikir sendiri akan lebih baik. Sesuatu yang lebih dalam, lebih terpadu, lebih berkesimbungan dilahirkan dari sebuah pemikiran filosofis, mungkin muncul dari diri, mungkin dicerahkan oleh para bijak.

Lhokseumawe. Dua puluh dua tahun, disebuah masjid dikala isya’. Abu terlambat dan masbuk di jajaran belakang, seingat Abu sudah raka’at keempat. Imam telah salam, disamping Abu ada seorang tua juga masbuk. Mungkin Abu tidak khusyu’ sehingga terkesima dengan kekhuyu’an orang tua tersebut, meski sama-sama masbuk Abu memutuskan untuk mengikuti gerakan shalat orang tersebut. Selesai salam, orang tua tersebut memandang wajah Abu dengan sebuah keusilan atau mungkin keingintahuan.

“Kamu pura-pura bodoh atau memang bodoh?”

“Abu tidak tahu.”

Ia tersenyum puas, dan disitulah pertama kali kami berkenalan. Dan orang tua tersebut adalah Tengku Salek Pungo.

Banda Aceh. Dua puluh delapan tahun. Beberapa orang bijak memang tak terganti, meski kita pernah berusaha keras mencari, meski kita membangun sebuah perpustakaan sekalipun, tak pernah ada yang mampu menyamai. Tempat bertanya yang paling baik adalah tempat bertanya yang membiarkan pikir kita sendiri menemukan jawaban.

Sekarang, saat ini. Abu mencoba mengingat dialog-dialog ringan pada masa itu. Sebaik-baik pembelajaran adalah melalui dialog. Dialog mempertajam, merangkumkan dan memberi contoh tepat guna, jika kita berpikir.

“Abu, dunia itu bulat atau hampa?”

“Jelas bulat tengku.”

“Kamu yakin?”

“Tengku curang!”

“Persepsi Abu.”

Segala sesuatu memiliki persepsi tersendiri, seorang lawan (mungkin) akan melihat musuh kita sebagai kawan. Akan tetapi kawan kita (mungkin) tidak melihat musuh kita sebagai lawan.

“Abu, tahun ini bagaimana usiamu?”

“Bertambah tengku.”

“Bukannya berkurang?”

“Tengku terlalu filosofis.”

“Abu yang terlalu curiga.”

“Tengku kanak-kanak.”

Setiap manusia, atau jika boleh dispesifikkan kepada laki-laki akan tetap kanak-kanak seberapapun umur. (Mungkin) itulah alasan mengapa lebih banyak laki-laki baku hantam antara sesama laki-laki dibandingkan kaum perempuan. (Mungkin) itu pula alasan mengapa laki-laki lebih suka bermain dan berolahraga. (Mungkin) pula itu alasan mengapa laki-laki, lebih ….

“Saya telah sarjana tengku.”

“Terus, apakah kamu menjadi lebih pintar?”

“Tidak tahu tengku.”

“Katanya sarjana, kok tidak tahu?”

“Sampai Profesor pun saya bukan tandingan tengku.”

“Saya SR tak tamat Abu.”

Bumi beserta isi adalah bagian kecil dari alam semesta. Bagi manusia ternyata bumi yang bergaris cakrawala ini ternyata sangat luas. Ada banyak hal yang masih misteri bagi insan. Maka jangankan pengetahuan langit yang dituliskan pada kitab suci, manusia pun bahkan tak mengerti siapa dirinya.

“Abu, kamu terlalu banyak membaca buku Barat.”

“Apa salahnya Tengku? Jangan penjarakan imajinasi saya!”

“Tidak salah. Tidak salah lagi Abu, kamu murid saya paling bodoh.”

“Tak apalah saya murid paling bodoh, asal Tengku mengakui saya sebagai murid.”

“Tahukah Abu, kamu adalah murid yang paling saya sayangi.”

“Kenapa bisa begitu Tengku?”

“Karena kamu adalah yang paling bodoh.”

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, tindak tanduk yang harus dilakukan dengan sepenuh tekad dan kerendahan hati. Karena ilmu diibaratkan pedang, sebuah pedang harus terus diasah disepanjang usia. Berhenti menuntut ilmu diibaratkan sebuah pedang yang menunggu kematian, menumpul dan menjadi rongsokan. Ilmu adalah pedang.

“Abu, siapakah pemegang pedang terbaik?’

“Yang mahir dan ahli.”

“Kemahiran dan keahlian tidak menjadi baik tanpa keadilan.”

“Saya paham, maksud Tengku keadilan adalah yang terbaik.”

“Pemegang pedang yang adil baik, tapi yang terbaik adalah yang penyayang.”

Dunia ini dapat berjalan karena kasih sayang, sebaik-baiknya keputusan adalah yang dimana ada unsur kasih sayang di dalamnya, sebaik-baiknya hubungan adalah yang berkasih sayang, sebaik-baiknya manusia adalah yang berkasih sayang. Dunia ini terbentuk karena kasih sayang.

Lhokseumawe, dua puluh tujuh tahun. Abu dipanggil pulang ke Banda Aceh, selesai masa bakti di kota petrodollar Aceh, sebuah kepulangan sementara ke kampung halaman, Banda Aceh. Kelak, pasti akan diperintahkan pergi (lagi). Abu pamit.

“Tengku, dapatkan saya tanpa guru?”

“Saya tidak tahu Abu.”

“Tengku, dapatkah kita bertemu kembali?”

“Saya tidak tahu Abu.”

“Maukah tengku menggunakan Handphone?”

“Tekhnologi membunuh insting Abu, kamu tahu prinsip saya.”

“Tengku keras kepala!”

“Itu adalah hal yang paling saya tidak tahu.”

Ketidaktahuan adalah muasal dari segala ilmu pengetahuan, jika kita berpikir. Dengan mengaku tidak tahu, manusia mencari tahu akan segala sesuatu. Dan semenjak hari dimana Tengku Salek Pungo mengaku tidak tahu itu, Abu belum pernah bertemu lagi beliau. Memang, ada beberapa kali Abu ke kota Lhokseumawe, namun langkah belum mempertemukan kami sejak itu.

Medan, hari ini. Dua puluh delapan tahun. Sebenarnya, ada banyak hal yang Abu akui tidak Abu tahu. Ada sangat banyak tentang kehidupan di mana dasar keputusan tidak ada. Beberapa orang menganggap Abu telah bijak sehingga timbul jumawa, beberapa orang menganggap Abu naïf, sehingga timbul rasa ketersinggungan, beberapa orang menganggap Abu emosional sehingga memacu sikap pemarah, hal ini memunculkan sebuah kerinduan kehadiran beliau. Semoga Allah memberikan umur yang panjang dan berkah kepada beliau.

Tengku Salek Pungo adalah seorang yang dekat dengan masa lalu, kerap dilupakan namun sebenarnya menyimpan sejuta pelajaran kepada kita di masa sekarang, seorang radikal di zaman yang menolak radikalisme. Karena ia, adalah bukan manusia zaman sekarang.

#Teruntuk orang tua yang bangga disebut bangka,

Teruntuk tengku yang mengaku “salek pungo”,

Teruntuk kepala yang terbuat dari batu,

Teruntuk bagi seorang guru yang penyayang,

Rindu hadir dan salam rindu padamu.

Medan, Senin dini hari, 15 Oktober 2012

 

“Apa kau mengingat kejadian saat usiamu dua puluh dua? Ada setengah lusin almanak berganti. Disana ada jarak, lembar-lembar kelender silih berganti adalah tanda, waktu berjalan. Apa yang akan kau lakukan saat gagal mewujudkan impian? Menjadi lemah dan beralasakah? Padahal mungkin keadaan tak seburuk yang dipikirkan. Masa depan jelas tak dapat diperkirakan, sebuah hukum mutlak yang perlu dingatkan pada segala zaman. Sekuat apapun engkau mencoba, kau tak akan mampu kembali kemasa lalu. Maka hadapilah masa kini, dengan gagah berani.”

XXII-XXIII-XXIV-XXV-XXVI-XXVII-XXVIII

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s