GUGATAN KAMI

Kita harus belajar dari pada kasus Putri, 16 tahun. Bagaimana kecerobohan menempatkan standar moral menjadi hukum berdasarkan praduga, membuat seorang memilih mengakhiri hidup karena malu dituduh menjual diri. Negara dalam keikutcampuran dalam susila secara tidak langsung telah membunuh seorang anak manusia, seorang manusia berarti keseluruhan dunia bagi orang-orang yang menyayanginya. Sudah hilangkah rasa kasih sayang diantara kita? Menerapkan etik dengan dingin, memberi label, mengumumkan kepada khalayak tanpa rasa bersalah, sedikitpun.

Ketika perjanjian Hudaibiyah sedang disusun, ada kepingan peristiwa menarik. Saat itu Rasulullah S.A.W mendiktekan ketentuan-ketentuan dari perjanjian tersebut kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau memerintahkan Ali untuk menulis: “Atas nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Wakil dari pihak Quraisy, Suhail bin Amr, mengatakan bahwa ia tidak mengerti apa arti kata “Maha Pengasih” (Ar-Rahman) itu. Ia berkata, “Tulis saja Dalam namaMu ya Allah, seperti kebiasaan kita.” Awalnya Ali segan untuk menyetujui permintan Suhail itu, namun Rasulullah S.A.W memerintahkan Ali untuk menulis sesuai dengan keinginan Suhail. Menariknya disini, meski Nabi menyetujui permintaan Suhail, adalah selain perbedaan tauhid antara muslim yang menyembah Allah S.W.T yang Esa dengan Quraisy yang meyakini ada anak-anak Allah seperti Latta, Uzza, Hubal dan sebagainya, ada perbedaan pola pandang melihat Allah S.W.T. Allah yang kita sembah adalah IA Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu kita selalu mengucapkan Bismillahirahmanirrahim, sebelum melakukan sesuatu. Hari itu, di Hudaibiyah Nabi menyetujui permintaan Suhail demi menegakkan perdamaian, selayaknya kita hari ini mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Sebuah kisah menjelaskan. Ketika Aisyah dan rombongan Rasulullah S.A.W dalam perjalanan menuju Madinah dan Aisyah tertinggal di perjalanan karena beliau mengambil kalungnya yang tertinggal, saat itu Aisyah r.a naik ke dalam tandu sehingga tidak terlihat berada di dalam atau tidak. Selang waktu, muncul Shafwan ibn Al-Mu’athal yang tertinggal dari rombingan. Ia mengenali Aisyah dan mengantar pulang Aisyah dengan menuntun untanya agar dinaiki. Tetapi di Madinah, Abdullah ibn Ubay, menyebarkan fitnah tentang Shafwan dan Aisyah. Kabar itu tersebar ketika Aisyah jatuh sakit. Aisyah tidak diberitahu oleh ibunya karena takut menjadi terguncang. Kabar bohong sangat menusuk Rasulullah S.A.W . Suatu hari, Rasulullah mendatangi Aisyah ke rumah Abu Bakar memintanya mengaku dan bertaubat. Bagaimana bisa Aisyah diminta mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan, beliau menangis seraya menjawab, “Kesabaran yang indah, Allah sungguh akan menolong dari apa-apa yang kalian sifatkan.” Surat Yusuf ayat 18. Setelah kejadian itu Rasulullah tidak pernah keluar rumah. Beberapa hari kemudian turunlah wahyu Surat An-Nur 11-22.

Allah S.W.T membela harkat dan derajat kaum perempuan, Surat An-Nur ayat 11-22 merupakan konsep moral luhur Islam berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kata bahwa perbuatan mereka itu membawa akibat buruk bagi kamu, bahkan itu adalah mem­baikkan. Setiap orang akan men­dapat hukuman dari sebab dosa yang dibuatnya itu. Dan orang yang mengambil bagian terbesar akan mendapat siksaan yang besar pula. Mengapa setelah mendengar berita-berita bohong itu orang­-orang yang beriman, baik laki laki ataupun perempuan, tidak meletakkan sangka yang baik terhadap dirinya, mengapa tidak mereka katakan bahwa berita itu adalah bohong belaka? Mengapa mereka menuduh tetapi tidak mengemukakan empat orang saksi; kalau mereka tidak mengemukakan saksi-saksi itu, mereka adalah pembohong belaka dalam pandangan Allah. Kalau bukanlah kemurahan Tuhan Allah dan kasih rahmat­Nya kepada kamu di atas dunia ini dan di akhirat kelak, niscaya kamu akan ditimpa oleh azab yang amat besar karena berita yang kamu siarkan itu. Ketika kamu sambut berita itu dari lidah ke lidah, kamu katakan dengan mulutmu perkara yang samasekali tidak kamu ketahui; kamu sangka bahwa cakap­cakap demikian perkara kecil saja, padahal dia adalah perkara besar pada pandangan Allah. Alangkah baiknya ketika kamu mendengar berita itu kamu kata­kan saja: Tidak sepatutnya kami membicarakan berita bohong ini. Amat Suci Engkau ya Tuhan, berita ini adalah bohong besar belaka ! Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan meng­ulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui beriman. Dan telah dijelaskan oleh Tuhan ayat-ayatNya kepada kamu! Dan Tuhan Allah adalah Maha Me­ngetahui dan Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah menge­tahui. Dan sekiranya tidaklah karena Kumia Tuhan Allah atas kamu beserta rahmatNya, dan kalau sekiranya tidaklah Tuhan Allah itu Penyantun dan Penyayang (binasalah kamu). Wahai orang-orang yang ber­iman, janganlah engkau turuti jejak langkah syaitan, karena syaitan hanya menyuruhmu berbuat kejelekan dan kemungkaran. Kalau bukanlah Kurnia Allah kepada kamu dan rahmat­Nya, tidak seorang jua pun di antara kamu yang bersih (dari dosa), tetapi Tuhan Allah mem­bersihkan siapa yang dikehen­dakiNya. Dan Allah Maha Men­dengar dan Mengetahui. Dan janganiah bersumpah kaum yang mampu dan berkelapangan, bahwa mereka tidak akan membantu lagi kaum kerabat yang hampir dan yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Tetapi hendaklah mereka memberi maaf dan ulurkan tangan. Tidak­kah kamu suka jika Allah mem­beri ampun kepada kamu? Dan Allah adalah Maha Pemberi Ampun dan Maha Penyayang. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Surat An-Nur ayat 11-22 memberi peringatan, tidak boleh menuduh seorang perempuan tanpa ada empat orang saksi, apalagi hanya berdasarkan praduga belaka? Maka sungguh zalim, ketika kita manusia menjatuhkan vonis hanya berdasarkan praduga belaka. Tidakkah ada rasa kasih sayang di hati kita, sehingga dengan mudah mencemarkan nama baik seseorang? Harus diingat bahwa apabila nama seseorang cemar sekali, maka cemarlah selamanya. Pembunuhan karakter sebagai akibat fitnah adalah lebih kejam dibandingkan pembunuhan sesungguhnya, kasus Putri telah menampar kita dengan telak, jangan sampai terulang.

Mungkin kita lupa, atau memang pura-pura lupa. Bahwa Rasulluah S.A.W melakukan hukuman rajam, hanya sebanyak tiga kali. Itu pun, atas permohonan sendiri. Orang-orang tersebut telah diminta bertaubat, ia bertaubat dan mendapatkan ampunan. Ketika orang-orang tersebut bersikeras tetap untuk dijatuhkan hukuman kepada mereka, barulah hukuman rajam dilakukan atas diri mereka. Betapa Rasulullah S.A.W sangat berkasih sayang. Mengapa itu hilang di diri kita? Beberapa orang berkata, kita tidak hidup sezaman dengan Rasulullah S.A.W. Orang-orang sekarang berbeda dengan zaman Madinah, apakah kita juga sudah lupa? Bahwa pada zaman itu sedang bertransformasi dari masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat Madinah. Sekarang memang bukan zaman yang sepenuhnya Madinah, akan tetapi tidak pula sepenuhnya Jahiliyah.

Disegala zaman, sebaik-baiknya adalah keputusan yang memiliki unsur kasih sayang didalamnya. Kesalahan kita yang paling utama adalah tidak mampu menangkap essensi daripadanya. Padahal orang-orang terbaik di zaman lalu telah memberikan teladan. Tidak hanya kepada sesama muslim, akan tetapi melingkupi seluruh manusia. Siapakah yang tidak mengenang Shalahuddin Al-Ayubi yang namanya masyur di Timur dan Barat? Ketika merebut kembali Yerussalem dari tangan pasukan Salib, Salahuddin menampilkan kebijakan dan sikap adil. Masjid Al-Aqsa dan Masjid Umar ibn Khattab dibersihkan tetapi Gereja Makam Suci tetap dibuka serta kaum Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah di dalamnya. Salahuddin berkata, “muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain.” Sangat kontras dengan yang dilakukan pasukan salib di awal penaklukkan kota Yerussalem, sejarah mencatat kota tersebut digenangi darah dan mayat dari penduduk muslim yang dibantai. Sikap Salahuddin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan dan contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam. Padahal tidak ada pasukan yang lebih kejam dari Pasukan Salib, padahal saudara perempuan Salahuddin dibantai dalam perjalanan haji dari Damaskus menuju Mekkah oleh pasukan Reginald de Chattilon. Jadi mengapa kita tega menghakimi seorang anak manusia yang masih berumur 16 tahun, kemana rasa bersalah ketika kita semua sepakat untuk berdiam diri? Tidakkah kita mengingat bahwa perasaan seorang itu sama, baik dia adalah seorang raja maupun rakyat jelata? Seseorang harus berbicara sebelum ini lalu bersama angin, ada yang salah disini dalam menerjemahkan hukum. Ketika hukum meninggalkan keadilan, itu harus diluruskan!

Baik oknum Wilayatul Hisbah maupun oknum wartawan harus mendapat hukuman yang setimpal. Atau aturan penerapan Syariat Islam di Aceh hanya menjadi olok-olok semata. Apakah kita juga sudah melupakan kasus lain beberapa tahun lalu? Ketika tiga oknum Wilayatul Hisbah memerkosa seorang perempuan yang mereka tangkap. Lucunya, sampai sekarang pelaku utama belum tertangkap. Betapa institusi ini tidak bercermin dari masa lalu. Jika ingin dipertahankan maka institusi ini harus dibersihkan, dibina dengan sebaik-baiknya pembinaan. Jika tidak, maka bubarkan saja, hentikan campur tangan Negara dalam kesusilaan! Dari pada harus melihat kesewenang-wenangan oknum seperti ini. Salah satu prinsip keadilan adalah lebih baik membebaskan pelaku yang bersalah, dibanding harus menghukum orang yang tidak bersalah. Cukup Putri menjadi korban terakhir, jangan sampai ada lagi.

XXXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to GUGATAN KAMI

  1. abangpay says:

    Setiap tindakan jika bukan sesuatu yg baru dalam artian meniru atau merujuk pada kejadian yang sudah lampau, maka harus dipelajari kembali, apa yg sebenarnya terjadi, bagaimana cara yg benar melakukannya, apa dasarnya dan tata cara penerapannya.

    Kenapa? Untuk menghindari intepretasi baik golongan tertentu maupun pribadi tertentu.

    Karena jikalau peraturan itu seumpama pedang, tergantung yang mengayunkannya, tak bisa kita hanya duduk diam dan berharap semoga benar nasehat orang-orang tua kita: “hukum itu bagai pedang bermata dua, dia akan terkena sendiri..”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s