MUSAFIR

Semua berawal dari pergi dan berakhir pada pulang. Hingga mendapati jatuh dan tak bisa bangkit lagi, tersesat dan tak tahu jalan pulang. Tiap-tiap langkah terlewat adalah sejarah. Dibalik diam ada syair, dalam gerak ada zikir. Ada saat zikir-zikir mulai patah-patah, mata perlahan tertutup, kemudian lelahnya lidah terhenti jiwa yang terlelap. Sebuah perjalanan adalah sebuah pengulangan yang berulang-ulang. Di saat jasad hadir kembali ke ruang dimana waktu (dulu) pernah hadir.

Sebuah perjalanan bukanlah sesuatu yang suci, ketika ia menolak merindukan pahala, atau sekedar menakuti dosa. (Mungkin) segala hasrat telah menghilang, dunia ini tak lebih dari butiran debu. Sebuah kota bisa sangat mengejutkan, ketika seorang pemaaf tak mampu memaafkan khianat diri sendiri, maka seolah jalan-jalan ini seolah berabad lalu dikunjugi, ketika itulah matahari pagi membakar sebuah rindu. Sebuah rindu yang telah dimakamkan berkali-kali, namun rindu itu menolak untuk mati. Di dalam setiap harinya rindu itu muncul, dalam beragam bentuk rupa. Berubah-ubah, menyerang getaran hati, terpendam menyesakkan.

Setiap manusia, setiap musafir memiliki cerita tersembunyi, bahwa sebenarnya hidup mampu menebus ketidakmurnian yang lain. Pahit tapi ironis, pasrah juga menyimpan gairah. Ia yang sunyi, terasing di antara lalu lalang, siap menjangkau peta yang berbeda, zaman yang lain meski tak selamanya didukung. Disitu ada rindu yang sunyi, dimana diharapkan hadir yang bajik.

XXXXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to MUSAFIR

  1. Pingback: Membeli Burung Kakaktua | Cerita Humor Umum | KETAWA.COM | kocokocak.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s