LALAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Dapatkan seorang (atau sekelompok) lelaki bertambah tua hanya dalam beberapa hari? Atau apakah itu karena dia sudah tua, tetapi tertutup oleh gairah yang menyembunyikan betapa tuanya ia. Sebuah cermin hanya akan selalu menyajikan kejujuran tanpa syarat, dan itu bersifat mutlak hingga akhir zaman. Menjelaskan dengan rinci bahwa mengurung diri dalam keadaan nyaman sebagai kanak-kanak adalah sangat berbahaya. Enggan melepaskan diri dari itu merupakan kelalaian. Dan sebagaimana  kita tahu bahwa setiap petaka selalu berawal dari sebuah kelalaian.

Sayangnya Assosiasi Budjang Lapok telah kehilangan banyak waktu, Betapa sekumpulan orang diusia yang sama berkumpul selalu bersama bisa menjadi presensi naif. Aktor-aktor seperti Barbarossa, Laksamana Chen, Mister Big, Penyair, Amish Khan, Tuan Takur, bahkan Professor Gahul sekalipun jika berkumpul bersama tidak akan melihat satu sama lain menua, karena apa yang mereka lihat adalah sebuah ruang hampa, yang berhenti dititik waktu yang sudah lama berlalu.

Hal ini baru dirasakan ketika tepatnya Mister Big memperingati usia yang kedua puluh sembilan, tahun terakhir dikepala dua, sebelum menuju tiga. Tahu-tahu segenap punggawa ABL sudah penghujung era duapuluhan.

“Merayakan kepala dua yang terakhir, semoga sisanya berkah dan bermanfaat. Amin.” Mister Big berucap sendiri. Suasana lepau nasi sesudah ulang tarawih menjadi hening, Barbarossa membolak-balik kaleng tembakau, Penyair mencongkel-congkel hidup dengan alasan kemasukan nyamuk dan Laksamana Chen hanya memainkan alis.

“Selamat Mister, setelah Laksamana Chen kau adalah orang kedua yang menjejakkan kaki diangka dua puluh sembilan.” Barbarossa tertawa dengan gaya yang khas.

“Takdir ini tidak bisa didiamkan.” Sambung Laksamana Chen.

Penyair mencoba menjadi bijak, “Tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi.”

“Aduss Penyair, usiamu baru dua puluh delapan. Tapi gaya bicaramu seolah sudah hidup seabad. Pantas saja kamu tak laku-laku.” Sentil Barbarossa.

“Macam kamu sudah saja sobat, kalau itu kejadiannya tak disini kita.”

“Orang-orang disini sudah pada tua-tua, tapi kelakuan masih saja sepert kanak-kanak! Hadew!” Laksamana Chen memegang rambutnya. “Santiago bulan sembilan ini menikah, Amish Khan bulan sebelas ini, Professor Gahul tahun depan. Apakah kita begini terus?” tambah Laksamana Chen memainkan jarinya.

“Kenapa harus panik? Masih ada Tuan Takur, dan masih ada Tabib Pong. Santai sajalah menyikapi hidup.” Lagi-lagi Penyair mengelak.

“Beta pikir, engkaulah yang paling bijak Penyair diantara Assosiasi kita ternyata masih kanak-kanak juga. Tidakkah kau melihat rambutku dan juga rambutmu sudah menipis, lihatlah cermin! Sebuah lukisan bisa menipumu, tapi cermin itu selalu jujur. Jujur bahwa kita sedang memasuki paruh baya.” Tumben ketua Assosiasi, Barbarossa berkata gusar.

“Sudah-sudah. Daripada bertengkar tak tentu arah. Besok aku mengundang kalian semua untuk berbuka puasa bersama memperingati hari ulang tahun ku yang ke dua puluh sembilan.” Sungguh bila dipikirkan maka ada banyak sengketa yang berakhir di meja makan, sebuah kearifan kuno yang dipahami leluhur, dan diberi nama kenduri.

“Begitu baru enak, besok jangan di lepau nasi tapi rumah makan.”

“Sadar wajah om Barbarossa.” Sentil Laksamana Chen.

“Usia boleh bertambah, tapi jiwa harus tetap muda dong.” Balas Barbarossa.

“Asal jangan umur bertambah tua, tapi jiwa masih kanak-kanak.” Fatwa Penyair.

“Sedari tadi berdebat tak tentu arah, jadi tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun buatku.” Semua terdiam, tertawa dan menyalami Mister Big. Selamat Ulang Tahun Mahaguru-nya Barbarossa, Kakekguru-nya Penyair dan Ulimate man-nya Laksamana Chen. The Almighty Mister Big. Akankah tahun depan kita akan bertemu pada tanggal yang sama ini, dengan situasi yang sama. Semoga kita tidak termasuk kepada kaum yang lalai. Amin.

XXIX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI

 

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to LALAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

  1. Pingback: CIDUK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  2. Pingback: UNDANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Pingback: LINGKARAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  4. Pingback: PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  5. Pingback: KURANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  6. Pingback: HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  7. Pingback: DENDANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  8. Pingback: PERKASA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  9. Pingback: ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  10. Pingback: ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  11. Pingback: MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  12. Pingback: BAYANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  13. Pingback: MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  14. Pingback: BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  15. Pingback: ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  16. Pingback: EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  17. Pingback: BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  18. Pingback: VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK | FROM KOETARADJA WITH LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s