IBLIS NAMEC VS MANUSIA SAIYA

Ini bukan hanya pertarungan hidup dan mati. Ini adalah pertarungan akan kehidupan, meski aku enggan mengatakan ini pertarungan. Ini hanyalah ilusi. Aku yang berkali mati mampu bangkit kembali. Asalkan kepalaku utuh, maka ragaku mampu membentuk kembali tanpa harus bola naga. Merasakan lelah akan permainan ini, tiada lagi hasrat akan kemenangan. Untuk itu aku pergi.

Manusia Saiya, mungkin kau kecewa akan kepergianku ini. Menyampahkan kutuk untukku, sebegitu angkuhku, hingga tiada butuh senjata yang piawai, tak butuh pula cinta yang terpenuhi dan kemenangan yang telak. Mungkin ini angkuh, tapi, sekali lagi ini adalah satu sikap yang melepaskan diri dan mengambil jarak batin.

Orang Saiya ketahuilah, kekuatan terbesar yang engkau miliki adalah kemampuan menahan penderitaan amat sangat, untuk menjadi lebih kuat disetiap kesembuhanmu. Pukulanku, yang menghabiskan nyaris semua kekuatan yang kumiliki, akan membuatmu sekarat. Namun yakinlah, bahwa itu akan membuatmu semakin kuat. Engkau yang mampu untuk mati dan membutuhkan bola naga, tak lama lagi akan menjadi Manusia Saiya Super.

Engkau akan sembuh orang Saiya, semakin digdaya. Kelak, engkau akan menghadapi lawan yang lebih kuat dariku. Dan engkau akan merasakan bahwa kekuatanmu semakin tak terjangkau lagi. Aku pun mungkin akan sembuh, namun ketahuilah bahwa kemampuanku. Sekeras apapun aku berlatih tidak akan berkembang lebih jauh lagi.

Aku yang menghilang dari hadapanmu, seberapa lama aku mampu. Layaklah engkau membenciku. Ada saat kita berlatih bersama, menghadapi lawan yang sama. Harus meninggalkanmu. Dengan khianat, dengan culas. Melupakan perjuangan kita melawan pangeran Saiya. Menafikanmu.

Sudah seharusnya engkau lepas dari bayang-bayangku. Menjadi dirimu sendiri yang utuh dan menyeluruh. Kelak, engkau akan menyadari maksud tindakanku. Tak perlu terlalu segera, waktu akan mengajarkan semua yang engkau butuhkan. Mungkin akan sangat lama, mungkin bahkan setelah engkau mengakhiri hidupku. Mengakhiri segala ilusi kehidupanku, meskipun sekalipun. Aku akan sabar menanti.

XXXXXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s