SANTIAGO SANG PELAUT

Percayalah bahwa dunia ini, dunia yang tak memberi tempat lagi kepada semua harum kembang pemenuh dahaga rohani adalah sebuah nihil yang indah. Ketika pelita padam, ada yang tak menjadi bekas. Sebuah cerita akan kembali, sebuah lakon dari masa terdahulu bisa hadir hari ini. Setiap adegan kehidupan adalah peristiwa yang hadir dari ketiadaan.

 

Bahwa melakukan apa yang harus dilakukan, maka tiada akan ada sebuah sesal. Sebuah tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan. Bukanlah sebuah kesialan, ini berkah. Ada rindu yang menggebu, ketika tak lama bertemu. Maka lupakanlah, dan biarkan waktu memberikan kekuatan mengepakkan sayap-sayap kecilnya lagi.

Mungkin aku telah jauh, maka biarkanlah aku mengembara jauh menghapus luka dan siksa. Jangan sesali kenyataan ini, tak ada senyum palsu. Bahkan ketika seluruh dunia palsu. Sesal tak akan arti karena semua telah berganti. Mungkin salahku melewatkanmu, tak memperjuangkanmu, maka celalah aku. Namun, tiada sesal.

Karenalah aku itu, Santiago sang pelaut. Memaklumatkan menafikan segala gahar dunia, membuang jauh rasa benci dan iri pada dunia. Tiada ingin lagi terlibat dalam dunia, di mana yang luhur katanya diperjuangkan, ketika yang busuk tersebar. Karena aku, Santiago sang pelaut. Yang terbusuk dari yang paling busuk. Tanpa harapan dan juga rasa takut. Akan mengasingkan diri. Disana, tak ada tahun baru, waktu tak hadir, juga perbuatan. Bahwa disana, tafakur adalah bersyukur.

XXXX

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti abu //
This entry was posted in Cerita, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to SANTIAGO SANG PELAUT

  1. Suka membaca puisi ini. Santiago sang pelaut bebas seperti angin. Jangan-jangan dia memang hanya sesosok angin..

  2. santiago, sosok pelaut yang sedang belajar mentransformasikan nilai2 humanis dan religus ke dalam roh dan jiwanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s